Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Melihat wajah itu lagi membuat Caramel teringat akan kejadian buruk yang telah menimpanya satu bulan lalu. Caramel menahan napas menekan emosi yang hampir meluap kala bertemu Rama. Perasaan Caramel campur aduk, ia tidak ingin bertemu Rama karena belum bisa melupakan semua yang telah pria itu lakukan padanya tapi di sisi lain Caramel juga ingin kasus ini cepat selesai. Caramel bersumpah akan menuntut Rama dengan hukuman paling berat.


Semua orang berdiri saat hakim ketua masuk ke dalam ruang sidang, Caramel didampingi pengacara telah siap di kursi di sisi kiri ruangan. Caramel mencari sosok orangtua Rama di deretan kursi pihak Rama tapi tidak ada. Setelah putus hubungan dengan Rama, Caramel memang tidak pernah bertemu lagi dengan dua orang yang dulu sangat dekat dengannya. Orangtua Rama memang sangat menyukai Caramel itu sebabnya mereka langsung mengusir Rama begitu tahu anak lelaki mereka menghamili wanita lain.


Rama membalas pandangan Caramel, tadinya ia menunduk saat melewati kursi para hadirin tapi sebelum mendekam di penjara ia ingin melihat wajah Caramel lebih lama. Rama tidak percaya pada dirinya sendiri karena berani melakukan sesuatu yang sama sekali di luar kebiasannya. Namun demi Caramel, Rama melakukan hal gila sekalipun.


Caramel tersentak melihat Rama menyeringai, ia langsung mengalihkan pandangan karena takut. Saat ini di mata Caramel, Rama terlihat seperti psikopat yang jauh lebih menyeramkan dari pada hantu apapun di film.


"Jangan melihatnya." Ucap Rafka pada Caramel sebelum ia duduk di depan deretan pengunjung sidang, ia berada disini tak hanya untuk mendampingi Caramel melainkan juga sebagai saksi. Rafka satu-satunya orang yang berada di tempat kejadian dan menyaksikan perlakuan Rama pada Caramel.


Caramel mengangguk pelan dan segera duduk di kursi yang telah disediakan.


Rama dengan baju tahanan duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan menghadap hakim ketua.


Beberapa saat kemudian Hakim memulai sidang atas perbuatan asusila yang Rama lakukan kepada Caramel satu bulan lalu. Polisi sudah mendapatkan semua bukti rekaman CCTV dari Rafka yang juga merupakan saksi di tempat kejadian. Beberapa tetangga juga bersaksi melihat Rama masuk ke unit apartemen Caramel.


Bukti rekaman CCTV sudah cukup kuat untuk membuat Rama dijatuhi hukuman. Polisi juga sudah melakukan interogasi kepada Rama yang sama sekali tidak melakukan pembelaan. Rama sudah tertangkap basah, tak ada gunanya lagi ia melakukan pembelaan. Saat ini Rama pasrah pada hukuman apapun yang akan ia dapatkan atas perbuatannya.


"Pada Agustus 2020 terdakwa Rama sengaja menunggu korban di koridor apartemen, dia juga mencari tahu pin masuk apartemen dengan kedok membantu korban membawa barang, terdakwa sengaja menyuruh Joni dan Anna untuk tinggal di apartemen yang letaknya bersebelahan dengan apartemen milik korban untuk mengawasi gerak-gerik korban dan suaminya, pada Desember 2020 terdakwa melakukan aksi nya dengan masuk ke apartemen korban."


Caramel memejamkan mata mendengar hakim membaca kronologi kejahatan Rama, ia masih ingat bagaimana Rama menciumnya secara paksa. Caramel mencengkram kursi yang didudukinya menahan perih. Mengapa Rama memberikan luka sedemikian dalam di hati Caramel. Tidak bisa kah Rama menyerah dan bertanggung jawab sepenuhnya pada Adena yang sudah ia nikahi tanpa memikirkan Caramel lagi.


"Terdakwa juga melakukan kekerasan terhadap korban yang saat itu sedang hamil dengan menjambak rambut dan mendorong korban ke pagar pembatas balkon lalu membawa korban ke ruang tamu untuk melanjutkan aksinya."


"Maaf Pak." Pengacara Rama melakukan tanggapan terhadap surat yang hakim bacakan, "Rama dan Caramel pernah menjalin hubungan selama delapan tahun, ini bukan murni perbuatan cabul melainkan karena mereka saling mencintai."


Caramel membelalak mendengar ucapan pengacara Rama, dari mana ia mengarang cerita seperti itu. Ayolah ini bukan sinetron, mengapa Rama dan pengacaranya membuat sidang ini menjadi dramatis.


"Benar kah saudari Caramel pernah menjalin hubungan dengan saudara Rama?" Hakim melihat ke arah Caramel.


Caramel tidak segera menjawab, ia menggigit bibir bawahnya menahan amarah. "Benar." Jawabnya dengan suara gemetar.


"Tidak mungkin tak ada perasaan di antara dua orang yang pernah menjalin hubungan sangat lama saat bertemu lagi."


Rama tersenyum miring, ia sudah gila karena tersenyum disaat dirinya berada di ujung tanduk.


"Maaf pembelaan anda ditolak karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terdakwa Rama kembali menjalin hubungan dengan korban, kami telah memeriksa ponsel keduanya."


Akhirnya setelah menahan napas selama beberapa detik Caramel bisa mengembuskan napas lega mendengar ucapan hakim.


Selanjutnya Rafka memberi kesaksian di depan hakim dan para pengunjung sidang, ia menceritakan semua detail kejadian yang disaksikannya saat itu. Selama memberi kesaksian Rafka menahan emosi sekuat mungkin apalagi ada Rama di hadapannya, ingin sekali ia menghancurkan wajah pria brengsek itu hingga tak berbentuk. Andai ini bukan ruang sidang pasti Rafka sudah melakukannya dari tadi.


"Saudara Rama Adi Pratama dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan denda uang sebesar 130 juta atas perbuatan cabul yang ia lakukan kepada saudari Caramel Indira Aditama." Hakim ketua membacakan putusan terhadap Rama setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan kesaksian dari Rafka.


Adena yang berdiri di antara pengunjung lain memejamkan mata hingga setetes kristal bening membasahi pipinya. Bagaimana ia menjalani kehidupannya setelah ini tanpa Rama. Ia harus membesarkan Ara tanpa sosok seorang Ayah. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Ara masih terlalu kecil untuk mengerti ini semua, Adena juga harus merahasiakan ini dari sang buah hati. Adena tidak mau Ara tahu kalau ayahnya pernah melakukan tindakan sekeji itu.

__ADS_1


Pihak Rama tidak mengajukan naik banding setelah mendengar putusan hakim. Rama juga tahu kalau ia tetap mengajukan naik banding itu hanya sia-sia belaka, semua bukti telah mengarah kepadanya bahwa ia memang bersalah.


Hakim ketua mengetuk palu tiga kali tanda bahwa sidang tersebut telah berakhir dan meninggalkan ruang sidang melalui pintu khusus.


Rama beranjak dari duduknya bersama dua orang petugas untuk meninggalkan ruang sidang.


"Caramel!" Rama berteriak hingga mengejutkan seisi ruangan, ia berlari menghampiri Caramel yang masih duduk di kursinya.


Caramel tertegun saat Rama berlutut dan memegang kedua tangannya, "Rama lepasin, kamu apa-apaan sih!" Ia berusaha menyingkirkan tangan Rama darinya.


"Caramel kamu masih cinta kan sama aku? kita udah pacaran delapan tahun nggak mungkin perasaan kamu hilang sepenuhnya."


"Lu harus terima kenyataan ini, takdir emang harusnya nggak pernah menyatukan kita, lu pantes dapet ini semua Ram." Ketus Caramel.


"Rama menyingkir dari Caramel." Rafka mendorong tubuh Rama dan segera menarik Caramel.


Petugas segera memborgol tangan Rama, tadinya mereka hendak membawa Rama keluar tanpa borgol karena pria itu tampak tenang dan tak akan ada perlawanan. Namun petugas tidak memberi ampun setelah Rama berbuat demikian pada Caramel.


Adena melihat kepergian Rama dengan hati perih, bahkan disaat terakhir pun Rama masih memikirkan Caramel bukan dirinya. Jadi selama ini Adena hanya memiliki raga Rama tanpa memiliki hatinya. Tadinya ia ingin memohon lagi kepada Caramel agar mencabut tuntunannya pada Rama seperti yang dilakukannya dulu. Namun karena Rama sama sekali tidak melihat ke arah Adena, ia enggan melakukan itu. Sudah sepantasnya Rama mendapatkan hukuman itu karena perbuatannya.


******


"Caramel!"


Rafka yang sudah siap di kursi kemudi ikut turun melihat Caramel tidak jadi masuk ke mobil. Ia berjalan mendekati Caramel bertanya-tanya siapakah sosok wanita yang sedang bicara dengan Caramel.


"Tante." Caramel terkejut karena bertemu ibu Rama disini padahal ia tidak melihatnya di ruang sidang tadi.


"Caramel, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena perbuatan Rama terhadap kamu, maaf seharusnya saya minta maaf dari awal dari 4 tahun yang lalu."


Caramel tertegun, ia terlalu kaget karena kedatangan ibu Rama secara tiba-tiba. Ia melihat mata ibu Rama berkaca-kaca menahan tangis. Caramel tahu betapa sakitnya perasaan ibu Rama atas perbuatan anaknya.


Ibu Rama mengajak Caramel duduk di salah satu kursi di depan kantor pengadilan agar mereka bisa berbicara lebih lama. Sebenarnya ia ingin menemui Caramel sejak lama sebelum kejadian pencabulan yang Rama lakukan. Namun ia terlalu malu untuk menemui Caramel. Hari ini setelah mengumpulkan keberanian akhirnya ia bisa menemui Caramel untuk meminta maaf.


Sementara itu Rafka bersandar pada mobil memperhatikan Caramel dan ibu Rama. Rafka tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, ia harus memberi ruang bagi Caramel bicara dengan ibu Rama.


"Cara, harusnya dihari kami tahu Rama menghamili Adena kamu juga harus tahu." Suara ibu Rama gemetar, ia masih tidak bisa melupakan betapa kecewanya ia kepada Rama saat itu.


"Tapi kenapa kalian nggak bukain pintu sama sekali waktu aku dateng kesana untuk nyari Rama, bahkan Tante nggak pernah nemuin aku satu kali pun buat ngasih aku alasan di balik menghilangnya Rama."


"Maaf Caramel, kami terlalu malu untuk menemui mu." Ibu Rama menunduk tidak berani menatap wajah Caramel.


"Kalian biarin aku nanggung sakit dan malu ini sendirian." Mata Caramel berkaca-kaca, ia masih ingat bagaimana keluarga Rama tidak memberinya kesempatan untuk menemui mereka sekedar memberitahu alasan Rama menghilang. Caramel hidup dalam rasa penasaran, bingung, malu dan sakit yang teramat sangat.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya sangat kecewa atas semua yang Rama lakukan, sejak saat itu juga kami memutus hubungan dengan Rama hingga akhirnya kami mendengar bahwa ia melakukan pelecehan kepada mu." Ibu Rama menggenggam tangan Caramel sangat erat dengan berderai air mata, ia tak tahu harus bagaimana untuk menanggung kesalahan Rama pada Caramel.

__ADS_1


"Aku udah maafin semuanya kok tapi bukan berarti aku bisa lupa sama apa yang Rama lakuin." Caramel mengerjapkan mata dan sedikit mendongak menelan air matanya kembali, ia tidak rela air matanya terbuang sia-sia. Walaupun Caramel sudah mencoba memaafkan Rama dan keluarganya tapi rasa sakit itu akan selalu bersemayam di hatinya.


Ibu Rama mengangguk dan mengusap air matanya kasar, "saya sangat menghargai itu Caramel."


"Tante nggak usah mikirin itu lagi." Caramel mengusap punggung tangan ibu Rama untuk menghiburnya, walau bagaimanapun hubungan mereka dulu sangat baik.


"Terimakasih Caramel, lain kali kita ngobrol lagi seperti dulu."


Caramel mengangguk, "kalau gitu saya pergi dulu Tante." Ia beranjak dari duduknya.


Ibu Rama melihat kepergian Caramel dan Rafka, ia terpaku hingga mobil yang membawa mereka benar-benar tidak terlihat.


******


"Aduh capek banget." Caramel melepas tali rambut yang dari tadi dikenakannya dan bersandar pada kursi.


Rafka mengulurkan tangan menghidupkan AC agar Caramel bisa duduk dengan nyaman. Ia benar-benar memperlakukan Caramel seperti ratu.


Caramel bisa bernapas lega setelah melalui proses sidang yang panjang hingga beberapa minggu. Akhirnya hari ini mereka bisa melalui sidang putusan dengan lancar.


"Dada ku dari tadi nyeri banget, kasihan pasti Arnesh haus." Caramel menekan dadanya yang terasa bengkak karena selama berjam-jam Arnesh tidak menyusu. Mereka meninggalkan Arnesh di apartemen bersama mama Caramel dan Rafka.


"Mau pumping?" Rafka menoleh pada Caramel sesaat, mereka juga membawa alat pompa ASI di mobil berjaga-jaga jika ASI Caramel penuh dan benar saja proses sidang kali ini berlangsung cukup lama dibanding sidang sebelumnya.


"Iya deh, jalan juga pasti macet." Caramel melepas seat belt dan berpindah ke jok belakang dengan gerakan cepat.


"Mau minum nggak?" Caramel menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutupnya pada Rafka dari belakang.


"Makasih." Rafka meneguk air hingga setengah bagian dan memberikannya kembali pada Caramel. "Mau mampir ke KFC?" Tanyanya saat mereka hendak melewati restoran KFC.


"Drive thru aja ya." Caramel ingin segera sampai di rumah, baru beberapa jam meninggalkan rumah Caramel sudah rindu pada Arnesh yang sekarang sudah bisa mengoceh dan merespon ucapannya.


Mereka singgah sebentar di layanan tanpa turun KFC makanan kesukaan Caramel sejak kecil. Bahkan Caramel bilang di setiap darah yang mengalir dalam tubuhnya mengandung ekstrak ayam goreng KFC.


"Pesan apa?" Tanya Rafka.


"Aku aja yang ngomong, majuan dikit Ka." Caramel sedikit menurunkan kaca jendela, "mbak saya mau combo super family yang crispy, puding empat sama winger."


Kantong ASI Caramel baru terisi setengah bagian saat mereka hampir sampai di apartemen. Caramel lekas membereskan semua peralatan pompa ASI nya, tidak lupa memasukkan kantong ASI di dalam tas khusus.


"Padahal rasanya penuh tapi keluarnya susah banget." Kata Caramel setelah kembali ke jok depan di samping Rafka.


"Tidak apa-apa, mungkin karena kamu kelelahan jadi susah keluar." Rafka mencoba menenangkan Caramel agar sang istri tidak makin stres.


Caramel menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata, sebenarnya ia ingin tidur dari tadi tapi karena harus memompa ASI ia tidak bisa melakukannya. Hari ini ia bisa tidur nyenyak setelah semua rangkaian persidangan telah usai, ia bisa fokus pada Arnesh dan Rafka.

__ADS_1


__ADS_2