Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Caramel selalu bersungguh-sungguh saat melakukan sesuatu yang ia sukai. Dari kecil ia memang terkenal dengan seseorang yang berpendirian teguh dan tidak main-main ketika sudah menyukai sesuatu. Walaupun terkadang kesungguhan itu bisa membuatnya sakit dan trauma hingga kini karena dulu mencintai Rama dengan berlebihan. Dah lah, jangan bahas itu mulu.


Sifat itu tidak luntur sama sekali hingga sekarang, Caramel bersungguh-sungguh saat mengutarakan keinginannya untuk memiliki brand piyama sendiri. Ia melakukan semuanya sendiri mulai dari riset pasar, mengamati pesaing di bidang piyama hingga mencari konveksi yang sesuai keinginannya. Caramel harus totalitas jika ingin mendapatkan hasil terbaik.


Dulu ia tidak pernah berpikir soal melakukan bisnis sendiri karena menganggap itu adalah hal yang merepotkan dan penuh resiko. Namun setelah berpikir cukup lama ia mantap melakukan ini. Ia harus berkembang setelah berhenti bekerja. Ia bukan orang yang suka rebahan tanpa melakukan apapun. Rebahan itu juga melakukan sesuatu. Begitu kata kaum rebahan saat membela diri.


"Kenapa dia sembunyi, kita jadi tidak bisa melihat jenis kelaminnya." Rafka mengeluh memandangi foto USG di tangannya. Rafka dan Caramel baru saja pergi ke dokter untuk USG setelah belum lama ini melakukan USG karena ia penasaran dengan jenis kelamin calon bayinya. Namun lagi-lagi itu tidak menghasilkan apapun karena posisi bayi yang terlalu telungkup.


"Udah lah, dokter bilang kan nunggu usianya dua puluh minggu dulu, kamu nggak sabaran." Caramel mengacak-acak rambut Rafka yang telah disisir rapi, ia lebih suka rambut suaminya terlihat berantakan.


"Apa karena kamu kecapekan?" Rafka meletakkan kertas foto di atas meja dan menatap Caramel. "Bukan kah itu bisa terjadi, kamu sibuk kesana kemari mencari konveksi pakaian."


"Kamu nyalain aku?"


Kok ngegas?


"Bukan begitu sayang." Rafka mengusap rambut Caramel, ia tidak mau cari gara-gara dengan harimau betina yang lelah karena menyetir mobil hingga Bandung perkara mencari penjahit yang pas.


"Udah lah, aku mau tidur aja." Caramel beranjak dari duduknya, menghentakkan kakinya sebelum melangkah meninggalkan Rafka. Ia benar-benar ingin tidur karena kecapekan setelah berjam-jam berdiri melayani nasabah.


Caramel tidak sabar ingin segera merampungkan persiapan launching produknya. Walaupun masih banyak hal yang harus ia lakukan sebelum memasarkan produknya tapi ia makin semangat. Ia tidak sia-sia pergi ke Bandung untuk menemukan penjahit yang pas di hatinya. Bukan nyari jodoh doang yang harus pas di hati, nyari tukang jahit juga gitu.


"Kamu mau kopi?" Rafka berdiri di depan pintu melihat Caramel yang sudah mapan di tempat tidur.


"Orang mau tidur ditawarin kopi, kamu gimana sih!" Caramel melempar bantal yang untung saja tidak sampai mengenai Rafka karena jarak tempat tidur dan pintu cukup jauh, bantal itu hanya terlempar sekitar 2 meter di depan Rafka.


Apa ini maksudnya? Rafka melihat bantal tersebut, apakah Caramel melempar bantal dengan maksud Sini Ka, nyusul aku ke kasur. Jadi suami memang harus peka bahkan lebih peka dari paranormal yang bisa meramalkan kejadian masa depan. Soal meramal Rafka ahlinya, itu memang pekerjannya.


"Belum mandi udah mau tidur?" Rafka mengambil bantal itu, melangkah dan duduk di pinggiran tempat tidur.


"Emang kenapa kalau aku nggak mandi? kamu nggak mau tidur sama aku karena bau?"


Kok ngegas terus sayang?


"Ya sudah jangan marah." Nada suara Rafka lembut, ia meletakkan bantal ke tempat semula dan ikut naik ke atas ranjang. Ia berbaring menyangga kepala dengan tangan dan menghadap Caramel yang memunggunginya. "Maafkan aku." Ia mengusap bahu Caramel lalu turun ke lengan. "Setidaknya ganti pakaian mu dulu agar lebih nyaman." Rayunya.


Caramel diam.


"Apa perlu aku bantu gantikan?"


Dih sok manis banget lu kayak kembang gula di depan sekolahan.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud menyalahkan mu, aku hanya tidak ingin kamu kecapekan." Rafka terus mengeluarkan jurus rayuannya, itu tulus keluar dari hatinya. "Ayo buka dulu jas nya." Rafka menarik jas kerja Caramel.


Caramel menurut membiarkan Rafka melepas jas yang melekat di tubuhnya sejak tadi pagi. Ia memang kegerahan karena masih dengan pakaian kerja ditambah selimut, ia sudah gila karena memakai selimut di sore yang panas ini.


"Apa yang ingin kau makan? biar aku buatkan."


Dah lah! emang suami idaman banget nih, nemu dimana lagi cowok kayak gini kalau bukan Rafka. Ada sih tapi di drakor.


"Mau tempe mendoan." Jawab Caramel. "Tapi yang di abang-abang."


"Okay!"


Caramel merasakan tempat tidur sedikit berguncang, itu berarti Rafka turun dari tempat tidur. Tanpa diminta dua kali Rafka berangkat demi memenuhi keinginan Caramel.


"Cepet banget." Caramel menyingkap selimut yang menutupinya memastikan apakah Rafka masih di kamar atau benar-benar cabut mencari tempe mendoan.


Sambil menunggu Rafka lebih baik Caramel mandi dari pada pura-pura tidur hingga Rafka kembali. Rafka benar Caramel tidak akan bisa tidur dengan nyaman jika masih mengenakan pakaian kerja.


Sementara itu Rafka mengayuh sepedanya mencari penjual mendoan pinggir jalan. Ia memilih naik sepeda dibanding membawa mobil karena akan terjebak macet saat sore hari seperti ini. Sekalian olahraga lagi pula ia tak pernah punya waktu untuk bersepeda di pagi hari sekalipun saat car free day.


Rafka menghentikan sepedanya di depan penjual gorengan, ia melihat tempe mendoan masih memenuhi etalasenya. Namun ia ragu melihat penjualnya seorang perempuan, ia ingat ucapan Caramel tadi mau tempe mendoan tapi yang di abang-abang. Jika Rafka membelinya, apakah Caramel akan tahu jika ternyata penjualnya bukan abang-abang tapi mbak-mbak.


******


Langit mulai gelap ketika Caramel selesai mandi, mengeringkan rambut dan mengganti pakaian yang menghabiskan waktu hampir 2 jam. Ia juga sempat luluran dan berendam, aktivitas mandi yang wajib ia lakukan setiap sore.


Namun Rafka tidak juga datang setelah Caramel menyelesaikan ritual sorenya. Sekarang Caramel mondar-mandir depan pintu dan sesekali mengintip keluar melalui lubang pintu.


"Papa kamu nyari mendoan ke Hawai kayaknya ya." Caramel bicara seolah-olah janin dalam perutnya bisa mendengar ucapannya.


Caramel menyambar ponsel di atas rak dekat pintu masuk dan segera menghubungi nomor Rafka. Ia takut terjadi sesuatu pada Rafka karena hingga langit gelap lelaki itu tak juga datang. Padahal Caramel ingat ada banyak penjual tempe mendoan dekat sini.


"Rafka, kamu dimana sih?" Tanya Caramel setelah Rafka menjawab teleponnya."


"Daerah Cempaka Putih." Jawab Rafka.


"Kamu ngapain sampe sana, deket sini juga banyak orang jual tempe mendoan kenapa jauh-jauh kesana, kamu sehat?" Caramel emosi, tidak habis pikir dengan Rafka yang bersepeda hingga kesana hanya untuk mencari tempe mendoan.


"Kamu bilang ingin tempe mendoan abang-abang, tapi dari lima penjual yang aku lihat semuanya mbak-mbak, Cara."


Caramel mendelik, menahan napas lalu— ia sudah ingin mengeluarkan jurus omelan tanpa jeda tapi kasihan Rafka. Caramel ingin tertawa tapi hatinya kesal dan geregetan pada Rafka. Bukan kah sudah biasa mereka menyebut pedagang pinggir jalan dengan sebutan abang-abang, begitupun bagi Caramel. Ia bermaksud ingin makan tempe mendoan pinggir jalan dan menyebutnya dengan abang-abang tapi bagi Rafka itu memiliki arti yang berbeda. Caramel ingin naik roket hingga menembus atmosfer dan menenangkan diri di planet mars yang katanya paling mirip dengan bumi.

__ADS_1


"Sayang, maksudku .... " Caramel mengambil napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, ia tidak mau meluapkan emosi ketika Rafka tak ada di hadapannya karena itu percuma. "Maksudku bukan literally abang-abang tapi pedagang pinggir jalan, walaupun yang jual mbak-mbak juga nggak apa-apa."


Rafka tidak segera menjawab, hanya terdengar deru kendaraan bermotor di seberang sana. Kini Caramel merasa bersalah, ia lupa kalau Rafka orang yang lugu dan polos. Seharusnya Caramel tidak mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan pengertian lain. Rafka harus bersepeda sejauh itu hanya untuk memenuhi keinginan Caramel.


"Aku jemput kamu sekarang." Caramel segera memutus sambungan dan meraih kunci mobil pada gantungan.


Keinginan Caramel makan tempe mendoan dengan saus kacang hilang sudah. Ia lebih memikirkan Rafka yang saat ini jauh darinya. Caramel memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalanan kota Jakarta.


Tidak terasa mata Caramel berair, saat ini lapar, kesal, sedih bercampur menjadi satu. Kenapa sih gue cengeng banget sekarang! Caramel mengomel dalam hati sembari mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


"Kenapa kamu bikin Mama baperan hah?" Caramel kembali bicara dengan janin dalam perutnya. Masih dalam kandungan udah dimarahin aja nih si mama.


Caramel spontan menginjak rem melihat sosok seperti Rafka, ia segera menepikan mobilnya untuk memastikan. Itu memang Rafka, Caramel tidak mungkin salah mengenali suami nya yang dari jarak 10 meter saja ia bisa melihat wajah tampan itu. Caramel turun menghampiri Rafka yang berdiri di depan gerobak penjual gorengan.


"Kenapa menyusulku?" Rafka mengacungkan bungkusan yang dipegangnya. "Aku sudah mendapatkannya." Ucapnya bangga sambil melirik abang penjual gorengan.


Caramel tersenyum lebar menatap Rafka yang masih mengenakan pakaian kantor, "makasih ya." Ujarnya dengan lembut. Aku nggak tahu kalau ada peramal cuaca seganteng ini, kamu lebih cocok jadi selebgram nggak sih?


"Lain kali aku akan lebih memahami mu." Gumam Rafka.


Caramel mengangguk, ia tidak sanggup lagi membalas ucapan Rafka karena takut tangisnya pecah. Aku tidak boleh menangis hanya karena sebungkus tempe mendoan.


"Ayo pulang, biar aku yang nyetir." Rafka menuntun sepedanya untuk dinaikkan ke bagian belakang mobil.


"Mau singgah di suatu tempat untuk makan?" Rafka menawari Caramel untuk berhenti di taman agar bisa lebih menikmati tempe yang sudah dibelinya.


"Nggak usah, aku makan disini aja." Tolak Caramel, selain perutnya sudah keroncongan ia tidak ingin para ABG melihat Rafka jika mereka berhenti di taman kota. Bukankah ini malam minggu, biasanya mereka berkeliaran di luar untuk sekedar nongkrong menghabiskan malam minggu. Apa ia berlebihan? tentu tidak ada salahnya menjaga suami sendiri.


"Mau?" Caramel menyuapkan sepotong mendoan kepada Rafka. "Enak banget kan, nggak sia-sia kamu kesini karena bisa dapet tempe terenak di dunia." Puji Caramel, walaupun terdengar berlebihan tapi setidaknya itu bisa menghibur Rafka. Caramel tahu Rafka lelah setelah seharian bekerja ditambah harus bersepeda hingga petang.


"Kamu suka?" Rafka tidak bisa menyembunyikan senyumnya bahkan pipinya bersemu kemerahan mendengar pujian Caramel. Ia sudah seperti remaja yang sedang kasmaran.


"Suka banget." Tukas Caramel tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh makanan.


"Pelan-pelan, kamu bisa tersedak, kita tidak punya minuman disini."


"Kamu mau makan malam apa, aku masakin atau sekalian makan di luar aja." Caramel harus membalas jasa Rafka dengan membuat masakan enak atau mentraktir makanan kesukaan sang suami.


"Aku ingin masakanmu." Jawab Rafka.


"Oke!" Tanpa ragu Caramel mengiyakan, ia sudah menduga kalau Rafka akan memilih makan di rumah. Walaupun masakan buatan Caramel tak bisa disebut enak tapi Rafka selalu menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2