
Jane: Lu udah minum pil KB belum?
Kayla: iya gue lupa mau ingetin semalem.
Jane: tau nih, lu mau melar kayak si Kayla tuh.
Kayla: kenapa bawa-bawa gue Bebi?
Aku membaca keributan di grub chat yang beranggotakan Jane, Kayla dan aku si gadis–eh sudah bukan gadis lagi sekarang. Maksudku si wanita cantik dengan kaki jenjang dan kulit putih cerah seperti matahari di musim panas. Ah kenapa aku jadi melantur. Jangan-jangan pagi ini aku salah makan. Sayur asem yang ku buat dengan susah payah akhirnya dihabiskan oleh si robot. Aku senang sekali melihatnya makan dengan lahap setelah insiden salah–pakai–sampo itu. Aku ingin tertawa sambil guling-guling saat tidak ada Rafka disini, bisa-bisanya ia salah menggunakan sabun. Rafka membuatku sangat gemas!
Soal pil KB aku tidak akan meminumnya, umurku 28 tahun sedangkan Rafka 30 tahun, kami sudah sangat pantas menjadi orangtua. Kalaupun nanti badanku melar seperti Kayla saat hamil anak keduanya sekarang, itu urusan belakang, aku bisa diet setelah melahirkan. Aku akan diet ketat kalau memang badanku membengkak nanti.
Rafka juga tak membahas hal ini denganku, mungkin ia juga mau langsung punya anak. Atau paling parah sih dia tak kepikiran soal ini, robot mana tahu soal beginian.
Caramel: gue udah bikinin kalian keponakan semalem, ditunggu ya.
"Kita turun yuk." Ujar ku pada Rafka, aku meletakkan ponsel di atas meja. Si robot dari tadi serius menonton tayangan breaking news tentang cuaca yang makin sulit diprediksi.
"Mau kemana?" Rafka tidak melihatku, tuh kan aku memang tidak menarik baginya.
"Ya kemana kek nyari udara seger, disini mulu aku bosen." Aku mendengus. Seandainya Rafka tidak diam seperti itu dari tadi mungkin aku tak akan sebosan ini. Aku paling tidak bisa diam, aku harus mengobrol seperti kebiasaanku melayani para nasabah dan menjawab berbagai pertanyaan mereka. Sedangkan sekarang aku harus diam, memperhatikan dia yang sedang menonton layar datar di depan kami ini. Ah sungguh membosankan!
"Setelah tayangan ini." Katanya.
"Ya sudah aku turun dulu, aku tungguin di lobi ya, awas kamu lama." Aku beranjak lebih dulu.
"Cara!"
"Hm?" Aku menoleh, melihat Rafka.
"Pakai jaket."
Aku mendelik, "buat apa?" Aku nyaman dengan atasan crop bahan kaos dengan jeans boyfriend, kenapa aku harus pakai jaket.
"Nggg ... di luar dingin."
Aku tertawa mendengar ucapannya, apa dia bercanda? tapi wajahnya datar seperti lantai apartemen ini.
"Ini Jakarta bukan hutan pinus, atau jangan-jangan jiwa kamu masih ketinggalan disana."
__ADS_1
"Coba kamu begini." Rafka mengangkat tangannya ke atas, aku menirukan gerakannya walaupun tidak mengerti apa maksud ia memintaku melakukan ini.
"Ada apa?" Aku melihat ketiak ku, siapa tahu basah, ah tidak aku sudah memakai deodoran.
"Pakai jaket ini." Rafka meraih jaket yang ia letakkan pada sandaran sofa, ia beranjak dan memakaikan jaket tersebut padaku. Aku tercengang, ini seperti adegan pada film-film. Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Sungguh mainstream, tapi kenapa aku harus menahan napas, apa aku gugup? tidak-tidak, aku tidak boleh gugup di depan Rafka.
"Aku tidak ingin orang lain melihat sesuatu yang seharusnya tak mereka lihat." Katanya, begitu lembut menyentuh gendang telingaku. Aku terkesima memperhatikan bibirnya yang bisa mengeluarkan kalimat semanis itu, bahkan lebih manis dari Nutella yang aku makan tadi pagi. Robotku juga bisa romantis, aku ingin melompat ke pelukannya tapi terlalu gengsi.
"Ya udah aku pergi dulu." Tukas ku setelah Rafka selesai memasangkan jaket untukku.
"Iya." Rafka mengangguk.
Aku keluar melalui pintu biasa tanpa menggunakan lift pribadi, aku ingin menelusuri apartemen ini. Siapa tahu aku bisa mendapat tetangga baru. Memiliki apartemen mewah memang menyebabkan tapi apa artinya jika tidak ada tetangga yang bisa menjadi teman ngobrol.
Aku melihat seorang gadis kecil mengenakan jaket bulu berwarna merah muda sedang berlari di koridor. Gemas sekali melihat kaki kecilnya berlari seperti itu, aku ingin menggendong dan menciumnya berkali-kali.
"Ara tunggu Mama!" Aku mendengar seorang perempuan berteriak, ia berlari dari arah belakang. "Mbak tolong anak saya dong." Katanya.
Spontan aku berlari dan berhasil menangkapnya, ah berat juga si gembul ini. Ia tertawa dan menatapku karena digendong, mata nya mengingatkanku pada seseorang.
"Makasih ya Mbak." Perempuan itu ngos-ngosan mengambil alih bocah 4 tahunan ini dari tanganku.
"Ara, Mama kan udah bilang jangan keluar dulu tungguin Mama sama Papa, kamu nakal banget sih!" Sang mama mengomel, "kamu tuh udah besar nggak boleh nakal!" Ia memukul lengan anaknya cukup keras hingga bocah kecil bernama Ara itu menangis keras. Aku terkejut dengan sikap wanita itu, mengapa kasar sekali pada anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Wanita itu membawa Ara kembali masuk ke salah satu pintu tak jauh dari unit apartemen ku, hanya berjarak satu pintu. Mataku seperti ditusuk puluhan jarum, sakit, ingin menegur mama Ara tapi aku tak memiliki hak apapun.
"Aku pikir kamu sudah sampai di lobi." Suara Rafka membuatku mengerjap dan sedikit mendongak agar tak ada air mata yang lolos. Sejak kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang penuh kasih sayang, mama dan papa jarang sekali memarahiku. Melihat adegan barusan membuat dadaku nyeri.
"Kamu kenapa?" Rafka mengerutkan kening melihatku.
"Kamu pernah dipukul nggak sama orangtua mu?"
"Tidak."
Aku manggut-manggut, kami berjalan masuk ke lift untuk sampai ke lobi. Aku ingin makan sesuatu yang sangat pedas untuk menghilangkan suasana melow ini.
"Kenapa mereka bisa cerai?"
"Papa selingkuh."
__ADS_1
Kenapa nada bicara Rafka santai sekali, apa ia tidak terpukul dengan kejadian perpisahan itu.
"Kamu jangan selingkuh!" Aku menunjuk wajah Rafka begitu dekat sambil menyipitkan mata melihatnya.
"Aku bukan pria bodoh." Ia membalas tatapanku. "Papa pergi demi perempuan yang bahkan tidak lebih baik dari Mama."
"Kalau ada cewek yang lebih cantik dan sexy gimana?" Aku menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku tidak pernah memperhatikan cewek lain kecuali kamu."
Aku tertawa, mana ada cowok seperti itu, aku tidak percaya.
Kami keluar apartemen menuju taman dekat sini, banyak penghuni apartemen lain juga sedang nongkrong di tempat ini. Ada taman bermain khusus anak-anak dan juga kolam renang. Sedangkan kolam renang untuk orang dewasa ada di bagian lain, aku akan mencoba berenang disana lain kali.
"Tadi aku lihat anak kecil dipukul Mama nya sampai dia nangis, kamu jangan jadi orangtua seperti itu nanti." Ujar ku, kami menemukan satu kursi di bawa pohon palem yang rindang.
"Dimana?" Rafka menatapku serius.
"Waktu aku baru keluar tadi, anak itu lari di lorong."
"Anak seperti apa?"
"Anak cewek, umurnya sekitar empat tahunan, rambutnya dikuncir seperti ini." Aku mengambil sejumput rambutku menirukan gaya rambut bocah kecil tadi yang dikepang dua.
"Hanya Mama nya?"
"Ya." Aku mengangguk. Aku menurunkan tangan setelah sedikit merapikan rambutku yang tergerai. Kenapa pertanyaan Rafka aneh sekali, apa ia mengenal mereka?
"Apa mereka tinggal disini juga?"
Aku mengangkat bahu, "kayaknya sih gitu, aku baru pertama kali lihat mereka, kamu kenal?"
"Tidak." Rafka menggeleng samar, ia tampak menelan salivanya.
"Kenapa kamu kayak kaget gitu, atau jangan-jangan dia mantan pacar kamu?" Aku menatapnya penuh selidik.
"Aku tidak pernah punya pacar."
Aku mencibir, tidak masuk akal. Tadi bilang tidak pernah melihat wanita lain sekarang tak pernah pacaran. Mana ada cowok zaman sekarang yang tidak berpacaran, setidaknya Rafka pernah memiliki pacar satu kali. Kecuali kalau selama ini ia memang hidup di tengah hutan dan tak pernah bertemu wanita lain sebelum dijodohkan denganku.
__ADS_1