Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Caramel ragu-ragu antara mematikan lampu atau tidak, tangannya terangkat untuk mematikan sakelar lalu turun lagi. Ia harus berani mematikan lampu jika ingin tahu apakah jar berisi origami itu bisa berpendar atau tidak. Namun jika ternyata tidak bagaimana? sedangkan Rafka tidak ada disini. Ah kenapa Caramel jadi sok berani begini menyuruh Rafka keluar segala.


Caramel membawa pulang origami tersebut dari rumahnya berserta dengan surat yang mulai usang walaupun tulisan di dalamnya tetap utuh. Caramel ingin tahu apakah origami itu sama seperti milik Rafka.


"Nanti kalau nggak bisa tinggal lari keluar kamar." Caramel bertekad seraya mengepalkan tangan.


Ctek!


Mulut Caramel terbuka, matanya melotot melihat kepada jar di tangannya. Ia tak percaya bahwa ternyata origami tersebut juga bisa menyala sama seperti milik Rafka. Kemana ia selama ini? Caramel tak pernah sekalipun membiarkan kamarnya gelap sehingga ia tidak tahu kalau ternyata origami itu bisa menyala.


"Kenapa Rama nggak pernah kasih tahu kalau origami ini bisa nyala dikegelapan?" Caramel belum berhenti mengagumi keindahan origami tersebut.


"Cara!" Suara Rafka membuka pintu.


Caramel segera meletakkan jar yang dipegangnya di atas meja rias dan keluar kamar setelah kembali menyalakan lampu. Caramel berharap Rafka tidak marah jika ia membawa hadiah dari Rama kesini. Entah kenapa dari sekian banyak barang yang Rama berikan kepada Caramel, hanya origami itu yang tak ingin dibuangnya. Caramel merasa origami tersebut berbeda dari pemberian Rama yang lain.


"Sate taichan nya sudah habis jadi aku beli sate kambing, kamu mau kan?" Rafka meletakkan bungkusan di atas meja makan. Aroma daging bercampur asap seketika menyeruak ke seluruh ruangan membuat air liur Caramel penuh.


"Mau kok." Caramel mengangguk beberapa kali, ia duduk manis di kursi meja makan selagi Rafka menyiapkan sate.


"Rafka." Panggil Caramel.


"Hm?" Rafka duduk di hadapan Caramel, makan satu tusuk sate kambing dengan bumbu kacang dan lontong.


"Kalau beli origami yang bisa nyala itu dimana?" Tanya Caramel.


"Itu bikin sendiri."


Caramel melongo mendengar jawaban Rafka, lalu apakah Rama juga membuat sendiri origami seperti itu?


"Apa nggak ada di toko alat tulis?"


"Tidak tahu." Rafka mengedikkan bahu. "Kamu mau bikin?"


"Eng ... nggak." Caramel menggeleng, ia melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


Mereka melanjutkan makan tanpa banyak mengobrol. Di antara mereka, Caramel yang selalu memulai obrolan sedangkan Rafka seringkali menjadi pihak pendiam. Rafka beruntung mempunyai istri yang banyak bicara dan banyak bertanya seperti Caramel. Rafka adalah penjawab pertanyaan yang baik, tak pernah bohong akan jawaban yang ia berikan.


"Ada saus kacang." Rafka mengulurkan tangannya mengusap sedikit saus kacang pada sudut bibir Caramel dengan ibu jari.

__ADS_1


Ya ampun! ini adegan pasaran yang salalu terjadi di film romantis. Kenapa terjadi sama aku padahal selama ini aku benci banget adegan mainstream begini. Caramel melongo untuk beberapa saat, ternyata kejadian yang sering ia sebut sebagai adegan pasaran di film berhasil membuatnya tegang dan gugup. Ayolah Car, ini cuma saus kacang di bibir, elu udah pernah ngelakuin yang lebih dari ini sebelumnya.


Caramel heran kenapa Rafka bisa makan sate tanpa belepotan sehingga dirinya harus berkali-kali mengusap sudut bibirnya sendiri agar Rafka tak perlu melakukan nya lagi. Caramel boleh punya wajah cantik tapi ia sama sekali tidak bisa melakukan yang namanya makan cantik.


"Ibu bawain sambal bawang dan cumi, besok kamu bawa bekal itu ya." Ujar Caramel, ia hanya perlu menggoreng ayam dengan tepung sebagai pendamping sambal besok pagi. Walaupun Caramel sudah membiasakan diri memasak, tapi tetap saja, sejatinya ia bukan orang yang gemar memasak jadi sambal buatan mamanya itu sangat membantu.


Caramel memasukkan origami yang dibawanya dari rumah ke dalam laci meja rias sebelum Rafka tahu. Walaupun mungkin Rafka tidak akan marah tapi tetap saja Caramel enggan mengambil resiko. Kemarahan Rafka waktu itu masih membekas di ingatan Caramel. Wanita itu tidak mau melihat Rafka marah lagi, cukup satu kali saja ia rasa.


"Kamu bikin salad?" Rafka masuk ke kamar membawa sekotak kecil salad buah dari kulkas.


"Enggak, itu aku beli sama Kayla, dia baru mulai bisnis jual salad." Kata Caramel tanpa melihat Rafka, ia sibuk mengoleskan berbagai macam produk kecantikan yang rutin digunakannya sebelum tidur. Caramel berpikir, menyenangkan juga jika ia mempunyai bakat memasak atau membuat kue seperti Kayla. Walaupun tidak lagi bekerja di kantor, Kayla bisa melakukan usaha di rumah dengan menjual makanan. Lalu Caramel, setelah berhenti kerja nanti, apa yang akan ia lakukan agar tetap mendapat uang.


"Mau?" Rafka mendekatkan sepotong buah stroberi berbalut mayonaise dan keju parut ke dekat mulut Caramel yang langsung disambut dengan senang hati.


Caramel tahu ia tak akan kekurangan uang walaupun sudah berhenti kerja, tapi ia sudah terbiasa memiliki penghasilan sendiri dari dulu. Apa ia harus memikirkannya dari sekarang? menjadi selebgram? atau YouTuber? ia memiliki wajah yang cukup cantik untuk menjadi selebgram. Haha, apa yang sudah ia pikirkan. Stop mikir macem-macem Car!


"Kalau kamu suka besok aku beli pesen lagi sama Kayla."


"Boleh." Rafka duduk di atas tempat tidur menyalakan televisi seperti kebiasaannya usai makan malam.


Caramel merasa beruntung karena Rafka bukanlah perokok, sehingga ia tak perlu ngomel dan terganggu dengan asap rokok. Beda dengan mama Caramel yang selalu mengomel setiap kali suaminya merokok di dalam rumah.


******


Pemandangan kota Jakarta pagi hari begitu indah dari lantai paling atas pusat kebugaran dan fasilitas fitness apartemen kempinski. Jadi selain olahraga, tempat ini juga menyediakan pemandangan yang begitu memanjakan mata.


Ini masih setengah 6 pagi, tapi Caramel sudah sampai di tempat gym tersebut tanpa Rafka. Sang suami masih tidur, Caramel sengaja pergi kesini sebelum masak. Ini demi menikmati pergi ke tempat gym tersebut sebelum ramai. Caramel tidak mau jika ia harus bertemu dengan Rama atau Adena disini, ia ingin olahraga dengan tenang.


Caramel mengatur kecepatan treadmill dan mulai berjalan cepat di atasnya. Entah sudah berapa lama Caramel tidak olahraga, tanpa disadari selama ini ia hanya sibuk bekerja hingga lupa meluangkan waktu untuk olahraga. Untung ia termasuk wanita beruntung yang tetap kurus walaupun tidak olahraga dan makan banyak.


"Aaa!" Caramel memekik saat ia hampir terjungkal dari treadmill jika saja tidak ada yang menangkap tubuhnya. "Astaga, ya Tuhan terimakasih!" Ia menghembuskan napas lega karena wajahnya tidak jadi menghantam benda keras di bawah sana.


"Kamu ngelamunin apa?"


Caramel segera menegakkan tubuhnya mendengar suara itu, ia menelan salivanya kuat-kuat melihat Rama. Siapa yang melamun? ia hanya ngantuk karena bangun sepagi ini demi menghindar dari laki-laki yang justru sekarang berada di hadapannya.


"Ngapain kamu disini?" Ketus Caramel.


"Ini fasilitas apartemen," Rama mengedikkan bahu, "lagi pula apa itu kalimat untuk seseorang yang udah nyelametin kamu dari musibah?"

__ADS_1


"Sejatinya bertemu denganmu adalah arti musibah itu sendiri." Tandas Caramel seraya berlalu meninggalkan Rama.


Caramel mendengus kesal, ia membuang napas keras setelah berjalan cukup jauh. Dasar kebo! lu lagi fitness malah mau molor. Caramel mengomel pada dirinya sendiri.


Ah, hampir saja wajahnya yang cantik itu mengenai treadmill. Caramel tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Wajah yang dirawatnya dengan sepenuh hati akan terluka oleh alat fitness tersebut. Caramel baru saja mendapat keberuntungan dan kesialan disaat yang bersama. Beruntung karena selamat dari musibah sekaligus sial sebab di penyelamat merupakan mantan calon suaminya sendiri yang dulu tiba-tiba menghilang akibat menghamili wanita lain. Oh sungguh miris nasib Caramel.


Sudah lah Thor jangan bahas itu mulu, bosen gue.


Caramel berpapasan dengan Adena, ia menunduk pura-pura tidak melihat wanita itu. Walaupun hati Caramel seperti teriris saat melihat istri Rama tersebut, tapi ia berusaha bersikap biasa saja. Bayangan Rama selingkuh tiba-tiba menghantui Caramel.


"Gara-gara ketemu orangnya jadi begini kan." Gerutu Caramel seraya menggelengkan kepala kuat berusaha membuang jauh pikiran tersebut.


Caramel membuka pintu kamar dan mendapati Rafka masih tidur pulas dengan posisi tidak berubah sejak terakhir kali ia melihatnya tadi sebelum pergi ke tempat gym. Rupanya semesta tak mengizinkan Caramel olahraga, wanita itu juga tidak keberatan, justru senang karena ia tak harus mengucurkan keringat karena olahraga.


Diam-diam Caramel mencium bibir Rafka dengan lembut, ini adalah cara paling manis membangunkan seseorang dari tidurnya.


Kening Rafka berkerut lalu matanya terbuka. Caramel menutup mulutnya menyembunyikan tawa karena telah menjahili Rafka dengan bibirnya yang dingin.


"Kenapa kau menciumku hanya sebentar?" Rafka menggeliat meregangkan tubuhnya sebelum duduk.


"Sebentar aja kamu udah bangun apalagi lama." Caramel menarik selimut untuk melipatnya. "Mandi gih."


"Kamu dari mana?" Rafka melihat Caramel mengenakan pakaian olahraga tapi tidak melihat jejak keringat disana. Biasanya saat ia bangun tidur, Caramel masih mengenakan piyama atau paling tidak ada bau asap di tubuh langsing tersebut.


"Mau olahraga di tempat gym tapi nggak jadi."


"Kenapa?"


"Ada Rama."


"Kamu langsung pergi setelah lihat dia?"


Caramel mengangguk, ia menarik Rafka agar beranjak dari tempat tidur.


"Udah, aku ngga apa-apa kok." Caramel mengerti isi pikiran Rafka.


"Lain kali kau harus bersamaku."


"Rencananya sih itu pertama dan terakhir kali aku kesana." Komitmennya untuk rajin olahraga pupus seketika setelah kejadian itu. Tidak lucu jika ia mencium permukaan treadmill yang bisa mengikis wajah cantiknya.

__ADS_1


Caramel merapikan tempat tidur dan membuka gorden sedangkan Rafka pergi mandi. Ia keluar kamar untuk menyiapkan sarapan setelah selesai membereskan tempat tidur.


__ADS_2