
Caramel begitu bersemangat saat turun dari mobil ingin segera masuk ke Grand Indonesia. Ia bersikap seolah-olah pertama kalinya pergi ke pusat perbelanjaan yang hanya 5 menit dari apartemen nya itu. Padahal hampir setiap hari Caramel pergi kesini karena ada saja yang ingin dibelinya bahkan walaupun hanya satu barang.
"Pelan-pelan!" Rafka setengah berlari mengejar Caramel, ia baru saja turun dari mobil tapi wanita itu sudah tidak terlihat.
Caramel tidak seperti wanita hamil yang sering Rafka lihat, ia tetap lincah bergerak kesana kemari walaupun dengan perut buncit. Rafka ngeri setiap kali Caramel berjalan mengenakan high heels tapi Caramel selalu meyakinkan Rafka bahwa dirinya sudah biasa mengenakan high heels.
"Buruan!" Caramel menoleh ke belakang melihat Rafka yang jauh tertinggal.
"Aku ingin ranjang bayi yang besar agar aku bisa ikut tidur di dalamnya." Rafka menggandeng tangan Caramel membawanya masuk ke lobi Grand Indonesia yang cukup ramai.
Walaupun Caramel dan Rafka bisa jalan kaki dari apartemen ke Grand Indonesia tapi mereka membawa mobil karena akan belanja banyak keperluan.
"Tapi kan kamu berat, gimana kalau kasurnya ambruk?"
"Maka beli yang kuat." Rafka tidak merasa dirinya gemuk, 70 kg adalah berat idealnya.
"Tenang aja aku udah custom tempat tidur untuk bayi kita." Caramel menepuk-nepuk bahu Rafka.
"Lalu kenapa kita berhenti disini?" Rafka melihat beberapa ranjang yang dipajang di salah satu toko khusus tempat tidur bayi. Bukannya menjawab, Caramel justru melenggang pergi meninggalkan Rafka.
Rafka gemas, sepertinya ia harus menggunakan tali agar Caramel tidak meninggalkannya seperti ini.
"Rafka, warna putih estetik banget ya?" Caramel menyentuh satu ranjang dari kayu berwarna putih yang memiliki ukuran cukup besar, tak hanya bisa menampung bayi tapi orangtuanya sekaligus.
"Aku suka." Rafka mengangguk.
"Aku mau model kayak gini."
Ranjang itu menjawab kebingungan Caramel, ia sudah memesan tempat tidur untuk bayinya tapi belum tahu pasti seperti apa model yang diinginkannya. Akhirnya setelah pergi kesini, Caramel mendapat inspirasi.
"Mau beli pakaian juga?" Tanya Rafka.
"Iya dong."
"Bukankah kita sudah punya satu lemari pakaian bayi?" Rafka bukannya tidak tahu bahwa selama ini diam-diam Caramel mengumpulkan pakaian bayi yang dibelinya secara online.
"Kenapa, kamu takut isi ATM mu habis?" Caramel mencebik, maklum jika ia terlalu exited untuk membeli segala keperluan bayi karena ini pertama kalinya bagi mereka.
"Kau tidak akan pernah bisa menghabiskannya."
"Karena aku hemat kan?" Caramel tersenyum lebar, bukankah ia tipe istri yang hemat?
"Tentu saja kamu hemat." Rafka mengangguk menyetujui ucapan Caramel, "jika pengeluaran tidak lebih dari pendapatan berarti kamu hemat."
"Aku setuju sama kamu." Caramel manggut-manggut, Rafka memang suami idaman yang tidak pernah membatasi barang apa saja yang akan dibeli Caramel. "Aku mau bawa ini ke Bali." Caramel mengambil salah satu baju untuk bayi baru lahir dari gantungan. Itu adalah jumper berwarna biru lengkap dengan topi.
"Kenapa kamu mau membawanya ke Bali?" Rafka mengerutkan kening, Caramel tidak akan melahirkan di Bali.
"Lucu aja, aku pengen foto baju ini di pantai." Caramel memandangi jumper tersebut membayangkan sang bayi nanti mengenakannya.
"Kalian akan melakukan pemotretan di pantai?"
Caramel mengangguk, ia sibuk memilih pakaian lain dan memasukkannya ke dalam troli. Rafka hanya memilih beberapa pakaian karena ia tidak terlalu mengerti soal itu. Menurut Rafka bayi mereka akan terlihat tampan memakai apapun.
"Kita juga harus membeli ini." Rafka menunjuk satu alat pompa ASI di rak.
"Kamu tahu itu apa?"
"Ini alat pompa ASI."
"Kok kamu tahu?" Caramel menyipitkan mata melihat Rafka curiga. Jangan-jangan Rafka pernah nonton video mesum di YouTube! Tapi video mesum macam apa yang menampilkan alat pompa ASI?
"Dokter pernah menunjukkan alat seperti ini pada kita." Wajah Rafka tetap polos tidak sadar bahwa Caramel mencurigainya.
"Nggak usah." Caramel menarik troli yang sudah penuh barang belanjaan mereka. Baru sebentar Caramel sudah membuat troli belanja yang berukuran cukup besar itu penuh dengan berbagai macam peralatan bayi.
"Biar aku ambil troli lagi." Rafka menarik troli itu lagi untuk dibawa ke kasir dan mengambil satu troli lagi karena Caramel masih terlihat belum puas berbelanja.
"Iya." Sambil menunggu Rafka mengambil satu troli lagi, ia duduk di salah satu kursi tunggu karena kakinya pegal. "Ternyata gue nggak terbiasa lagi." Ia melepas high heels yang memiliki tinggi sekitar 7 cm tersebut.
Caramel memijit tumitnya sendiri, ia hanya berdiri kurang dari satu jam tapi kakinya sudah bengkak. Kakinya jadi tidak terlihat cantik lagi mengenakan high heels itu.
"Lu jahat ya sekarang!" Caramel mengomel pada high heels hitam yang dulu sering dipakainya karena ia merasa lebih percaya diri dengan high heels tersebut.
"Pakai ini."
Caramel melihat sepasang sandal jepit berwarna merah berada di hadapannya, ia mendongak demi melihat seseorang yang telah meletakkan sandal tersebut.
__ADS_1
"Jangan sok jadi pahlawan kesiangan, mending gue nyeker dari pada pakai sandal dari elu." Caramel sinis setelah tahu orang itu adalah Rama. Mall ini luas tapi kenapa Caramel harus bertemu dengan Rama.
"Dimana suamimu? kenapa dia menelantarkan istrinya yang cantik ini?" Rama tersenyum miring meledek Caramel.
Caramel beranjak mendekatkan wajahnya pada Rama, "Mendingan lu pergi sekarang, lu lupa pertama kali ketemu dia wajah lu yang gantengnya nggak seberapa ini dibikin penuh darah." Caramel menunjuk dada Rama dan menekannya, "gue penasaran apa yang bakal terjadi kalau elu nunjukin muka lagi di depan Rafka."
Rama menelan salivanya dengan susah payah tapi ia berusaha menyembunyikan ketakutannya, "lu bakal nyesel udah bilang gini sama gue." Ia menyingkirkan tangan Caramel dari dadanya dan berlalu dari sana.
"Satu-satunya penyesalan gue adalah kenal sama elu!" Caramel memaki pada Rama yang sudah berjalan jauh entah pria itu akan mendengarnya atau tidak.
Jika Rama berpikir Caramel akan tersentuh dengan sandal itu maka ia salah besar. Caramel kembali duduk dan menendang sandal jepit yang Rama bawa, ia bersandar pada kursi dan memejamkan mata untuk meredam emosinya. Caramel membuang rasa penasarannya mengapa Rama ada di Grand Indonesia saat ia juga disini. Ia tidak mau berpikir macam-macam lagi pula apartemen Rama dan Adena juga berada tak jauh dari sini.
"Pakai ini."
Caramel terkejut saat ada tangan yang menyentuh kakinya sekaligus mendengar dua kata itu lagi, ia hampir saja menendang orang yang telah berani memegang kakinya tapi tidak jadi setelah tahu jika orang itu adalah Rafka.
"Aku bilang apa, high heels tidak akan nyaman digunakan berkeliling mall." Rafka memasangkan sandal birkenstock pada Caramel, ia yakin sandal itu akan lebih nyaman dipakai karena alasnya yang empuk.
"Aku cuma pengen kelihatan cantik dengan high heels itu."
"Kamu cantik pakai apapun." Rafka beranjak setelah memasangkan sandal untuk Caramel.
Caramel menahan senyum, ia tidak boleh tersipu hanya dengan kalimat sederhana seperti itu. Namun begitulah Rafka mampu membuat Caramel melayang hingga ke angkasa hanya dengan kalimat sederhana. Rafka memang tak pandai mengucapkan kata-kata manis, ia hanya menggunakan hati tulusnya untuk memuji Caramel.
Rafka mengulurkan tangannya untuk membantu Caramel berdiri, "mau lanjut?"
"Iya." Caramel mengangguk.
"Itu sandal siapa?" Rafka melihat sandal yang tergeletak tak jauh dari kursi saat mereka hendak meninggalkan tempat itu.
"Nggak tahu aku juga." Caramel mengedikkan bahu pura-pura tidak tahu.
"Kelihatan masih baru."
"Punya orang gila kali." Ceplos Caramel, bahkan sebutan orang gila terlalu bagus untuk seorang Rama.
Rafka melihat sandal itu sekali lagi sebelum mereka masuk ke dalam lift menuju lantai atas.
"Orang gila itu pasti kaya." Walaupun itu hanya sekedar sandal jepit tapi Rafka tahu tak ada barang murah yang dijual disini.
"Aku mau Moolatte." Tukas Caramel mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau buka kado setelah pulang dari sini."
"Kau tidak sabar membukanya dari kemarin."
Tentu saja Caramel tidak sabar membuka kado sejak acara baby shower selesai tapi ia harus menyelesaikan urusan lain yang lebih mendesak. Ia dan Rafka mendapat banyak kado dari tamu undangan hingga walk in closet mereka penuh dengan kotak kado.
Mereka sampai di Dairy Queen salah satu tempat jajanan favorit Caramel saat ke GI. Rafka sampai hafal menu apa saja yang biasa Caramel pesan saat pergi kesini. Sebelum lanjut berbelanja mereka singgah sejenak disini sambil makan es krim dan minum kopi.
"Apa ini alasanmu?" Rafka melihat Caramel menyeruput kopi dingin hingga tinggal setengah gelas.
"Apa?"
"Ini alasanmu suka kopi?"
"Apa sih?" Caramel mengerutkan kening tidak mengerti arah pembicaraan Rafka, ayolah ia hanya ingin minum kopi dingin dengan tenang.
"Alasanmu suka kopi adalah karena kamu Caramel, kamu sudah manis jadi kamu perlu sesuatu yang pahit supaya seimbang."
Caramel melongo cukup lama bahkan tanpa sadar ia menjatuhkan sedotan stainless yang selalu dibawanya saat keluar hingga menimbulkan suara cukup keras. Untung saja suasana Mall sedang ramai sehingga tak ada yang menyadari itu.
Tuhan tolong bawa aku hilang dari sini, aku malu! Belajar dari mana dia menggombal seperti ini. Caramel menjerit dalam hati bingung harus menjawab apa. Dari mana hipotesis semacam ini muncul di pikiran Rafka. Apakah semua pejabat BMKG pandai berkata-kata manis?
"Kamu tidak apa-apa?" Rafka menyentuh pipi Caramel yang memerah, ia bingung karena Caramel tiba-tiba terdiam. "Caramel?"
"Hah?" Caramel mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha kembali ke dunia nyata.
"Ada apa?"
"Nggak apa-apa." Caramel menggeleng, pake nanya ada apa, jelas-jelas situ bikin hati eneng klepek-klepek.
"Kau menjatuhkan sedotanmu."
"Udah-udah biarin, aku minum langsung aja nggak usah pake sedotan." Bodo amat sama sedotan yang udah jatuh ke lantai, yang penting gue manis!
Mengabaikan ucapan Caramel, Rafka membungkukkan tubuhnya mengambil sedotan tersebut karena ia tahu Caramel tidak bisa mengambilnya sendiri. Dalam hal ini Rafka sebagai suami siaga akan melakukan sesuatu yang tidak bisa Caramel lakukan sendiri.
__ADS_1
******
Menjelang malam lampu-lampu kota mulai dihidupkan menjadi pemandangan paling indah jika dilihat dari atas. Jakarta tak pernah tidur, semakin malam justru semakin ramai. Kendaraan bermotor berjejalan di jalan seperti semut yang mengerubungi makanan.
Sinar rembulan gantikan sang mentari, berganti sift siang dan malam secara teratur. Pemandangan di atas langit tak kalah indah, jutaan bintang terhampar menemani bulan enggan membiarkannya sendiri.
Balkon apartemen yang biasanya selalu menjadi tempat favorit Caramel menjelang malam saat ini kosong. Caramel sedang sibuk membuka kado yang didapatkannya saat acara baby shower beberapa hari yang lalu. Caramel dan Rafka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka semua kado itu.
Rata-rata kado berisi pakaian bayi, peralatan makan hingga yang paling besar mainan mobil-mobilan dari Kayla. Caramel bisa memakai semua kado itu hingga 3 tahun ke depan.
"Minum susu dulu." Rafka menghampiri Caramel yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper usai membereskan kado yang sudah mereka buka. "Kau begitu semangat sayang." Rafka ikut duduk di atas karpet bulu.
"Makasih." Caramel meneguk susu hangat itu perlahan. "Udah dibuang semua?"
"Sudah." Rafka baru saja dari luar membuang kertas kado dan sisa dekorasi pesta yang sudah tidak terpakai.
"Aku juga udah masukin baju-baju kamu."
"Kamu yakin akan berangkat lebih dulu?" Rafka ingin melarang Caramel berangkat lebih dulu tanpanya tapi ia tidak mau egois hingga menghalangi pekerjaan Caramel.
Caramel mengangguk, "lagi pula kan aku nggak sendirian, ada Jane, Doni dan Lisa." Ia menepuk paha Rafka untuk menenangkannya, tak hanya Jane ia juga pergi dengan dua orang lainnya yang merupakan anggota tim Caramel Sleepwear.
"Tetap saja, aku khawatir kamu pergi tanpa aku." Rafka tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap Caramel.
"Aku bukan anak kecil, sebelum nikah aku juga udah biasa traveling sama Jane dan Kayla bahkan sampe luar negeri." Caramel lanjut memasukkan beberapa potong pakaian miliknya.
"Aku tahu." Rafka mengembuskan napas berat menatap Caramel yang sedang fokus melipat pakaian. "Biarkan aku memelukmu." Ia menarik Caramel ke dalam pelukannya, entah kenapa rasanya berat sekali berpisah dengan sang istri. Rafka akan menyusul 2 hari kemudian setelah Caramel berangkat. Membayangkan 2 hari itu Rafka jadi galau sendiri, itu akan menjadi 2 hari paling lama dalam hidupnya.
"Kamu kenapa sih?" Caramel tertawa memegang pipi tirus Rafka.
"Ini pertama kalinya kita berpisah selama menikah jadi—"
"Ini bukan berpisah." Caramel membungkam mulut Rafka dengan telapak tangannya. Kenapa Rafka menyebut liburan sebagai perpisahan. Tangan Caramel turun beralih menutup mulutnya sendiri saat menguap.
"Ayo tidur, ini sudah larut." Rafka mengambil gelas yang sudah kosong dan beranjak keluar walk in closet meninggalkan Caramel.
"Sebentar lagi, tanggung nih." Caramel memasukkan beberapa underwear miliknya ke dalam bagian koper yang lain dengan cepat. Ia juga membawa beberapa pakaian bayi yang disukainya untuk difoto nanti.
Caramel tidak membawa banyak barang, rencananya ia akan belanja banyak pakaian di Bali. Caramel begitu bersemangat membayangkan hangatnya pasir pantai pulau dewata.
Caramel melepas kunciran rambutnya dan duduk menghadap cermin, ia bersiap melakukan ritual malam sebelum tidur. Membersihkan riasan, mencuci muka dan memakai rangkaian skincare malam.
Rafka menunggu Caramel tidak sadar di atas tempat tidur, ia mengubah posisi terlentang, miring hingga tengkurap. Namun Caramel belum juga selesai.
Akhirnya Rafka menyerah, ia turun dari ranjang menghampiri Caramel yang masih setia duduk di depan meja rias.
"Tiba-tiba aku ingin makan mie instan." Rafka memeluk Caramel dari belakang.
"Ya udah besok pulang kerja mampir dulu ke warung langganan kamu makan mie." Caramel penasaran setelah ia melahirkan nanti apakah Rafka masih suka makan mie instan atau tidak. Dulu Rafka paling anti makan mie instan, tidak sehat katanya tapi sekarang ia justru sering makan makanan tidak sehat tersebut.
"Tidak masalah aku pulang telat?" Rafka mengangkat kepala, melihat pantulan wajah Caramel melalui cermin.
"Nggak apa-apa, makan mie kan sebentar doang."
"Tapi aku sudah bosan makan mie di warung itu."
"Aku dulu sering makan mie di What's Up Cafe, coba aja kesana pasti kamu suka." Caramel berbalik hingga berhadapan dengan Rafka.
"Kalau gitu ayo tidur." Rafka mengangkat tubuh Caramel dan menghempaskan nya di atas tempat tidur.
"Aku belum selesai tahu!" Caramel mengomel, ia hendak beranjak tapi Rafka lebih dulu memeluknya dengan erat.
"Biarin." Rafka mencium wajah Caramel dengan gemas, salah siapa ia dibuat menunggu lama hanya untuk tidur.
"Aduh duh, sakit." Caramel meringis sambil memegangi perutnya.
"Ada apa?" Rafka menghentikan aksinya mencium Caramel saat mendengar wanita itu mengaduh kesakitan.
"Lihat deh, anak kamu nih nendang aku kenceng banget." Caramel melihat perutnya yang bergerak-gerak.
"Sssshh sayang, ini Papa." Rafka mengelus perut Caramel tepat di tempat janin mereka bergerak. "Apa begitu sakit?"
"Enggak." Caramel menggeleng, "aku cuma bohongin kamu." Ia menjulurkan lidahnya dan buru-buru menutup seluruh tubuh dengan selimut sebelum Rafka berhasil menciumnya lagi tanpa ampun.
"Cara kenapa kamu selalu menjahili ku hm?" Rafka menarik Caramel dan memeluknya sangat erat bahkan ia hampir menindih tubuh Caramel jika tidak ingat kalau sang istri sedang hamil.
Halo kenalin Rafka Kalandra Pradipta, mari kita sambut dengan memberi banyak like dan komentar! terimakasih ❤️
__ADS_1