Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

Dalam hidup Caramel tak pernah ada kata menyerah jika ia telah menginginkan sesuatu. Caramel akan berjuang keras untuk mendapatkannya karena ia percaya semua hal yang ada di dunia bisa kita dapat bukan semata-mata karena keberuntungan melainkan atas usaha dan proses yang tidak mudah.


Pemandangan yang sekarang berada di hadapan Caramel adalah hasil dari jerih payahnya bersama Rafka—sebuah outlet berukuran 7 Meter persegi yang berada di antara deretan tenant fashion lain. Meski ruangan itu masih kosong tapi Caramel bangga melihatnya, ia tak pernah sebahagia ini melihat ruangan kosong.


"Seneng banget!" Caramel memeluk Rafka dari samping sangat erat, matanya bahkan berkaca-kaca karena terlalu bahagia. Mereka berjuang bersama-sama demi mewujudkan impian Caramel memiliki outlet sendiri.


Akhirnya setelah melalui perjuangan yang tidak mudah mereka berhasil menyewa satu outlet di south skywalk Pondok Indah Mall. Caramel menjual semua pakaian, tas dan sepatu branded miliknya demi menyewa outlet itu. Bahkan Caramel juga menjual perhiasan Tiffany & Co yang dulu sangat ia cintai. Caramel sadar bahwa jika menginginkan sesuatu maka ia harus berkorban, hal-hal di dunia ini tak bisa kita miliki sepenuhnya. Ah, sejak menikah Caramel jadi lebih bijak.


"Aku tidak sabar melihat Caramel Sleepwear terpajang disini." Rafka mengusap rambut Caramel menatap sang istri bangga. Tak ada yang lebih membahagiakan dari pada melihat senyum Caramel.


"Terus papan nama Caramel Sleepwear dipasang di atas sini." Caramel menunjuk bagian atas outlet yang nantinya akan menjadi toko Caramel Sleepwear.


"Kamu akan sangat sibuk."


"Tapi kamu dan Arnesh tetep prioritas ku." Caramel menggandeng tangan Rafka masuk ke outlet mereka yang masih kosong, bahkan kursi pun tidak ada. Nanti Caramel akan mengecat dindingnya dengan warna putih dan abu-abu, ia juga akan mengganti lantainya dengan granit putih bersih yang akan memberikan kesan mewah. Caramel sudah memiliki rancangan desain interior untuk toko tersebut.


"Karena selama ini kamu selalu penuhin kebutuhan ku jadi aku nggak berhak mengabaikan kamu, tugas utamaku tetep istri kamu dan Mama Arnesh."


"Maka aku harus lebih mengerti keadaan mu sebagai istri, Mama yang juga harus bekerja." Rafka melihat sekeliling bangunan yang tidak terlalu besar itu, ia juga ikut bangga karena Caramel berhasil menggapai satu mimpinya.


"Rafka." Caramel tiba-tiba berbalik membuat Rafka terkejut.


"Hm?" Rafka kikuk, kenapa Caramel menatapnya serius begitu.


"Kamu dilahirkan tanpa punya rasa egois sedikit pun." Tanpa sadar Caramel mengeratkan pegangannya pada Rafka. Sesungguhnya Caramel ingin menangis dari tadi tapi ia berusaha menahannya karena diluar banyak orang. Caramel bukan orang yang mudah menangis tapi begitu melihat bangunan kosong itu tiba-tiba membuatnya emosional.


"Mungkin karena anak pertama jadi aku terbiasa mengalah pada Febi sejak kecil."


Caramel mengangguk menelan salivanya berusaha menelan kembali air matanya, mengapa ia jadi cengeng begini. Ini belum apa-apa, bukankah terlalu awal untuk merasa terlalu senang.


"Dan karena anak tunggal aku jadi egois banget."


"Itu sebabnya kita dipertemukan." Rafka mengusap pipi Caramel yang basah. Bagi seorang pemalu dan kuper seperti Rafka, menikah dengan wanita yang dulu hanya ia cintai diam-diam adalah sebuah keajaiban. Dulu Rafka sempat berpikir ini hanya akan menjadi cinta sepihak hingga akhir hayatnya. Namun skenario Tuhan begitu indah mempertemukan Caramel dan Rafka di pelaminan.


Caramel tersenyum lebar mengusap air matanya kasar, meski telah menahannya sekuat tenaga air mata itu luruh juga. Itu tangisan bahagia yang akan Caramel ingat seumur hidupnya.


"Itu Mama." Caramel melangkah keluar toko melihat Mama dan Papa nya berdiri di depan sana. Mereka begitu semangat membawa Arnesh berkeliling PIM untuk pertama kalinya.


"Kayaknya popok Arnesh penuh, dia mulai gelisah." Ujar mama Caramel.


"Kalau gitu aku ganti di mobil aja." Caramel mengangkat Arnesh dari dalam stroller untuk mengecek popok si kecil. "Anak Mama kayaknya poop deh." Ia mencium pipi gembul Arnesh yang menggemaskan.


"Ya udah ayo buruan ke mobil." Ajak mama Caramel.


"Kalau gitu biar aku yang kunci pintunya." Tukas Rafka membiarkan Caramel menuju mobil lebih dulu agar popok Arnesh bisa segera diganti.


"Makasih ya Pa." Caramel mengulas senyumnya pada Rafka dan berlalu dari sana.


Sesampainya di mobil Caramel langsung mengganti popok Arnesh yang sudah penuh. Ia sudah menyiapkan semua keperluan Arnesh di dalam mobil karena mereka akan keluar cukup lama. Selain menyelesaikan urusan sewa toko, mereka juga sudah membuat janji makan siang dengan Indi dan Danu di mall tersebut.


Caramel mengusap pantaat Arnesh dengan tisu basah dan mengoleskan krim untuk mencegah ruam popok. Caramel kembali memakaikan celana Arnesh setelah selesai mengganti popoknya.


"Mama dan Papa ikut makan siang disini nggak?" Caramel menoleh pada papanya yang berdiri di samping mobil sedangkan mamanya memasukkan popok kotor Arnesh ke dalam kantong plastik.


"Nggak usah kami pulang aja." Jawab mama Caramel.


Rafka datang membawa dua paper bag di tangannya, "ini belanjaan Mama?" Ia menyodorkan paper bag tersebut kepada mertuanya.


"Loh iya, ada dimana?" Mama Caramel terkejut karena ia melupakan barang belanjaannya itu.


"Mama meninggalkannya di depan toko."


"Ya ampun, makasih ya Ka, Mama lupa." Ia menepuk jidatnya sendiri, "maklum udah punya cucu jadi pikun."


"Berarti minta ditambah cucu satu lagi." Timpal papa Caramel.

__ADS_1


"Siap Pa." Jawab Rafka cepat membuat Caramel mendelik kaget.


"Papa bangga sama kamu." Papa Caramel menepuk bahu Rafka dua kali dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.


"Ih apaan siap-siap!" Caramel protes, rasanya baru kemarin ia melahirkan mereka sudah membahas cucu lagi. Caramel memang ingin punya anak banyak tapi tidak secepat itu, Arnesh bahkan belum genap 3 bulan.


Mereka tertawa melihat reaksi Caramel. Karena Caramel anak tunggal maka mereka ingin punya cucu yang banyak darinya. Caramel sadar kalau menjadi anak satu-satunya itu kadang menyedihkan, tak ada saudara kandung yang bisa menemaninya tidur atau berbagai cerita saat di rumah.


"Ya udah kalau gitu Mama sama Papa pulang duluan." Mama Caramel bergegas menyampirkan tas selempang nya dan keluar dari mobil Rafka.


"Hati-hati ya kalian." Papa Caramel mencium Arnesh terlebih dahulu sebelum pergi.


"Oma pulang dulu ya sayang." Mama Caramel melakukan hal yang sama pada Arnesh. Meski sudah bersama seharian dengan Arnesh tapi mereka tak pernah merasa cukup.


"Ma, Pa hati-hati ya di jalan." Rafka mencium tangan mertuanya satu per satu.


Mereka berpisah di tempat parkir Mall. Caramel dan Rafka akan pergi ke PIM 3 untuk makan siang dengan Danu dan Indi. Jika Caramel memiliki banyak teman sampai ia bingung harus memenuhi janji untuk bertemu, lain hal nya dengan Rafka yang hanya memiliki satu teman. Caramel lebih banyak menolak janji bertemu dengan teman-temannya sendiri tapi tidak dengan ajakan Danu dan Indi karena ia sangat menghargai satu-satunya sahabat Rafka.


"Danu sama Indi udah sampe di Meradelima." Ujar Caramel pada Rafka yang mulai menjalankan mobilnya, ia melihat pesan singkat Danu pada ponsel Rafka.


"Kita akan sampai dalam waktu 5 menit." Balas Rafka masih fokus menyetir.


"Oke" Caramel meletakkan ponsel Rafka di kursi kosong di sampingnya. Ia duduk di kursi belakang bersama Arnesh yang berada di Carseat pemberian papa Rafka.


Beberapa waktu yang lalu Caramel meminta izin menggunakan carseat pemberian Bayu dan Sandra saat membawa Arnesh keluar naik mobil. Awalnya Caramel pikir Rafka tak akan mengizinkannya. Namun tanpa disangka Rafka langsung mengizinkan Caramel menggunakan baby carseat tersebut, hanya dengan anggukan tanpa kalimat apapun.


"Mbak Caramel!" Indi melambaikan tangan pada Caramel yang baru sampai bersama Rafka dan Arnesh di dalam stroller. Danu sudah memesan satu meja untuk mereka karena ia dan Indi sampai terlebih dahulu.


"Hai gimana kabar kamu?" Caramel memeluk Indi mencium pipi kanan dan kiri seperti kebanyakan wanita saat bertemu.


"Baik Mbak, aduh Arnesh udah gede tiba-tiba." Indi mencolek pipi Arnesh yang menggeliat di dalam stroller.


"Mas Rafka." Indi menjabat tangan Rafka.


"Ngapain lu pakai jaket disiang bolong gini." Danu heran melihat Rafka memakai jaket padahal matahari sedang terik, sore nanti juga ramalan cuaca mengatakan tak akan terjadi hujan. "Cacingan lu?"


"Aku udah pesen nasi kecombrang sama sayur asem." Danu mengabaikan kalimat Rafka yang mengejeknya cacing.


"Wah tahu aja lu kesukaan Rafka." Caramel tersenyum bangga pada Danu, tentu saja sebagai satu-satunya sahabat, Danu tahu makanan kesukaan Rafka.


"Dari zaman orde baru sampai sekarang nih Rafka masih aja setia sama sayur asem, nggak di rumah di restoran dia makannya ya sayur asem." Danu mulai mengoceh.


Rafka tidak bereaksi mendengar ucapan Danu, ia hanya melirik Danu sesaat tanpa berkomentar.


Meja mereka penuh dengan hidangan tradisional Indonesia dimana itu adalah makanan favorit Rafka. Nasi kecombrang, cumi cabai hijau, tempe oreg lengkap dengan serundeng hingga kerupuk udang. Tak hanya sayur asem, mereka juga mendapat tahu dan tempe bacem, ayam goreng dan sambal terasi yang sangat cocok dimakan bersama.


"Aduh baunya enak banget." Caramel menelan air liur melihat semua makanan yang tersaji di atas meja, ia tidak sabar menyantap mereka semua. "Walaupun aku cinta banget sama ayam KFC tapi tetep aja masakan kayak gini bikin nambah nasi terus."


"Setuju mbak, bikin gagal diet." Sahut Indi.


"Eh ngomong-ngomong gimana perawatan kamu di klinik itu?" Caramel mengambil sepotong paha ayam untuk Rafka.


"Makasih Ma." Ucap Rafka yang dibalas senyuman tipis oleh Caramel.


"Lumayan sih mbak, mulai kenceng lagi kayak dulu waktu masih perawan." Indi terkikik melirik Danu yang sebenarnya terpaksa menuruti permintaannya pergi ke klinik untuk mengencangkan perut setelah melahirkan. "Eh tapi kok Mbak Cara tahu?"


"Rafka yang ngasih tahu."


"Mas Rafka mau ngajak Mbak Cara kesana?"


"Ya tergantung aku nya sih, dia nggak maksa."


"Ya ampun iri banget punya suami kayak Mas Rafka." Indi sengaja melebih-lebihkan nada suaranya menyindir Danu.


"Oh kamu mau nikah sama orang kayak dia?" Danu menunjuk muka Rafka yang dari tadi diam menikmati makan siangnya.

__ADS_1


"Emangnya kenapa?" Indi menaikkan alis melihat Danu.


"Nggak bakal kuat punya suami Rafka, tingkahnya aja kayak robot begitu, di dunia ini cuma Caramel yang tahan sama dia." Danu nyerocos dengan mulut penuh makanan.


"Nah lu juga kan." Timpal Caramel.


"Ya beda lah gue kan cuma temen." Danu tidak mau kalah, ia memang hobi membully Rafka yang tidak pernah bersalah.


"Jangan salah Rafka lebih manis dari yang kalian kira, dan perkasa." Caramel sengaja berbisik saat mengucapkan kata terakhir.


"Oh ya?" Indi membelalak.


"Sudah-sudah, bicara yang lain saja." Akhirnya Rafka bersuara.


Mereka terdiam menuruti ucapan Rafka dan fokus makan di tengah keramaian restoran siang itu. Saat jam makan siang restoran-restoran memang akan ramai oleh pengunjung.


"Kayaknya Arnesh haus deh mbak." Indi melihat Arnesh yang mulai menekuk bibir bawahnya hendak menangis.


"Arnesh haus?" Caramel memutar badan melihat Arnesh yang merengek menendang-nendang stroller nya. "Mau nen ya?" Ia mengangkat tubuh Arnesh dari stroller terpaksa menghentikan makannya yang baru dua suap.


Rafka membuka jaketnya dan menyampirkan nya pada Caramel, "gunakan ini untuk menutupi Arnesh." Maksudnya bukan Arnesh tapi bagian dada Caramel yang akan terbuka saat menyusui. Itulah alasan mengapa Rafka mengenakan jaket meskipun cuaca terik. Rafka yakin Caramel akan membutuhkannya disaat seperti ini.


"Makasih ya." Caramel sempat terpana tapi ia menyembunyikannya karena malu pada Indi dan Danu padahal ia sungguh terpesona pada perlakukan Rafka kepadanya. Rafka memang tidak pandai mengucapkan kalimat romantis pada Caramel, tapi perlakukan kecil yang kerap ia tunjukkan membuat Caramel meleleh, terjungkal, melayang hingga ke planet Merkurius.


"Tuh Mas, lihat Mas Rafka perhatian banget sama Mbak Cara." Indi menyikut lengan Danu.


"Sayang, bukannya aku lebih perhatian sama kamu?" Danu meraih tangan Indi dan menggenggamnya.


"Apa sih Mas bisanya gombal doang." Indi segera melepaskan tangan Danu.


"Udah-udah jangan berantem." Caramel geleng-geleng melihat pasangan Indi dan Danu.


Sementara Caramel menyusui Arnesh, Rafka menyuapi Caramel agar sang istri tetap bisa makan siang.


"Baru beberapa minggu nggak ketemu Arnesh, dia udah kelihatan besar banget lo Mbak, beda banget sama fotonya waktu baru lahir." Ujar Indi.


"Mungkin karena Arnesh lahir prematur jadi kelihatan beda banget."


"Tapi kita semua bersyukur karena Arnesh tumbuh sehat dan normal."


Caramel mengangguk, baginya Arnesh adalah keajaiban karena bisa lahir selamat setelah dirinya terombang-ambing di lautan.


"Caramel Sleepwear kapan resmi dibuka?" Tanya Danu.


"Belum tahu pasti sih, tapi aku pengen buka secepatnya, udah nggak sabar lihat pengunjung yang bakal dateng nanti." Mata Caramel bersinar membayangkan toko Caramel Sleepwear akan resmi dibuka.


"Aku sama Danu pasti dateng dong Mbak."


"Bukannya kamu udah punya semua tuh koleksi Caramel Sleepwear?" Danu melirik tajam pada Indi yang sangat suka berbelanja—tentu saja itu sifat umum yang dimiliki perempuan.


"Ya tetep aja Mas, kita harus dateng, ya nggak Mbak?"


"Wajib sih, karena aku bakal ngeluarin banyak produk baru yang ekslusif launch di toko fisik, belum pernah ada di toko online."


"Duh jadi nggak sabar."


Danu bermuka masam melihat Indi antusias menunggu pembukaan toko Caramel Sleepwear, itu artinya ia harus siap-siap menguras isi dompetnya hingga kering.



Caramel: Rafka fotoin aku dong!


Rafka: baik sayang.


__ADS_1


Rafka: Jangan lupa pakai masker ya :)


Reader: Oke ganteng


__ADS_2