
Dari kejauhan Rafka melihat seorang wanita yang tidak asing untuknya ketika ia melangkah memasuki lobi apartemen. Wanita itu baru saja keluar dari lift dan tampak mengusap mata lalu sedikit mendongak seperti berusaha menelan kembali air matanya. Rafka mempercepat langkahnya karena perasaannya tidak enak bahkan setengah berlari menghampiri wanita itu.
"Mama!" Rafka memegang lengan mamanya dan menatapnya.
Mama Rafka menunduk dua detik kemudian ia membalas tatapan Rafka dengan mengulas senyum tipis yang dipaksakan.
"Mama sudah mau pulang?" Meski mamanya menyembunyikan tangis dari Rafka tapi ia tetap tahu, ia tidak bisa dibohongi hanya dengan senyum palsu seperti itu.
"Mama cuma nganterin dendeng balado aja kok buat makan malam kalian." Mama Rafka menghindari tatapan anaknya, ia sadar bahwa sekuat apapun menyembunyikan tangisan Rafka tetap akan mengetahuinya. Entah kenapa ia menangis hanya dengan bertemu dengan Bayu mantan suaminya. Ini sudah bertahun-tahun berlalu tapi ia tidak bisa melupakan rasa sakit yang Bayu lakukan tak hanya kepadanya melainkan juga pada Rafka dan Febi. Ia membesarkan dua anaknya seorang diri, setelah menikah lagi Bayu bahkan tak pernah menengok keadaan Rafka dan Febi lagi. Bayu sibuk dengan keluarga barunya apalagi sesaat setelah menikah Sandra melahirkan anak.
"Kenapa tidak menungguku, kita bisa makan malam bersama, Caramel juga senang jika Mama lebih lama disini."
"Rafka, di atas ada Papa kamu." Akhirnya ia menyerah, dari pada Rafka terkejut saat sampai di apartemen nanti sebaiknya ia memberitahu lebih dulu.
Rafka tidak tampak begitu terkejut, matanya hanya sedikit melebar mendengar kalimat mamanya, ia memang bukan orang yang ekspresif.
"Kenapa Mama pergi?" Rafka tidak terima jika keberadaan Bayu disana justru membuat mamanya harus mengalah dan pergi.
"Besok Mama kesini lagi kok, sekarang biar Papa kamu dan Sandra menikmati waktu mereka disini, Mama nggak mau keberadaan Mama justru akan mengganggu mereka." Ia berkilah padahal dalam hati ia tidak sanggup berada di ruangan yang sama dengan Bayu dan Sandra.
"Ma, jangan biarkan dia membuat Mama menangis lagi." Rafka mengusap lengan mamanya, ia juga merasakan kepedihan yang sama.
Mama Rafka menggeleng, "nggak kok, Mama pergi dulu ya."
"Biar aku antar." Rafka menarik tangan mamanya bermaksud untuk mengantar pulang.
"Mama sudah pesan taksi online." Mama Rafka menolak bukan karena tidak ingin diantar, ia memang sudah memesan taksi online sejak saat keluar dari apartemen Caramel barusan.
"Kenapa Mama tidak minta antar Pak Ryan aja kesini." Rafka tidak bisa membiarkan mamanya pergi sendiri dengan perasaan sedih seperti itu.
"Pak Ryan nganterin Febi ke rumah mertuanya, kamu tahu sendiri kan Febi belum lancar nyetir mobilnya."
Rafka mengangguk, "hati-hati di jalan Ma."
"Jaga sikap kepada Papa mu dan Mama Sandra, meski begitu mereka sudah berbaik hati datang kesini untuk melihat Arnesh."
"Aku tahu cara bersikap, Ma." Rafka kembali memasang wajah datar saat mamanya membahas Bayu dan Sandra lagi pula ia tidak pernah meminta mereka datang kesini. Mengapa baru sekarang mereka sok peduli, dari dulu kemana saja. Bayu tak pernah bertanggungjawab sebagai seorang kepala keluarga dan memikirkan kesenangannya sendiri.
Mereka berpisah di lobi apartemen, Rafka melangkah masuk ke lift pribadi berharap jika memang papanya dan Sandra sudah pulang ia tak akan berpapasan di jalan. Hubungan Rafka dan papanya tidak akan pernah baik seperti dulu lagi, meski demikian Caramel tetap akrab dengan mereka. Rafka mengerti kepribadian Caramel memang demikian, mudah akrab dengan orang lain.
"Yeay Papa datang." Caramel menyambut kedatangan Rafka di depan pintu lift yang terbuka, siapa lagi yang bisa mengakses lift tersebut jika bukan Rafka. Ia tengah menggendong Arnesh yang tiba-tiba bangun setelah beberapa menit digendong Sandra, mungkin karena Arnesh memang sudah puas tidur.
Rafka mengusap pipi Arnesh dengan telunjuknya dan memberi kecupan lembut di kening Caramel, itu sudah menjadi kebiasaannya saat hendak berangkat dan pulang kerja.
"Ada Papa sama Mama tuh." Caramel merendahkan suaranya, ia mengambil alih tas Rafka untuk meletakkannya di ruang kerja.
"Terimakasih sayang." Rafka melangkah melewati Caramel, ia berterimakasih karena Caramel membantunya menyimpan tas bukan karena kedatangan Bayu dan Sandra. Rafka tidak punya alasan untuk berterimakasih atas kedatangan mereka.
__ADS_1
"Rafka, kamu sudah pulang?" Bayu menyapa Rafka lebih dulu.
Rafka melihat dua gelas kopi yang masih mengepulkan asap di atas meja, berarti mereka baru saja tiba. Namun Rafka tak berharap mereka berlama-lama disini.
"Kamu mau kopi juga?" Bayu mengacungkan kopi kepada Rafka, ia menghirup aroma nikmat kopi tersebut sebelum menyesapnya perlahan.
Pertanyaan itu membuat langkah Caramel terhenti saat ia hendak masuk ke ruang kerja Rafka untuk meletakkan tas. Untuk beberapa saat Caramel menahan napas menunggu jawaban Rafka.
"Rupanya Papa menikmati peran sebagai orangtua baru sehingga lupa kalau aku tidak bisa minum kopi, pasti Papa juga lupa kalau Febi tidak suka coklat dengan memberinya brownies saat ulang tahunnya kemarin."
Caramel buru-buru masuk ke ruang kerja Rafka, ia merasa suasana disitu sudah mulai panas padahal mereka baru saja bertemu. Tiba-tiba saja AC di ruangan itu seperti tidak berfungsi. Caramel juga meletakkan Arnesh di atas box nya, ia tidak mau Arnesh menyaksikan betapa hubungan Rafka dan Bayu tidak baik-baik saja.
Sandra melirik kepada suaminya tidak berani melihat Rafka, ia takut memperkeruh suasana. Walau bagaimanapun ia juga menjadi penyebab renggangnya hubungan Bayu dan Rafka.
"Rafka." Caramel menyentuh pundak Rafka, "lebih baik kamu mandi dulu gih, aku udah siapin baju kamu juga."
Tanpa bicara apapun lagi Rafka beranjak dari duduknya masuk ke kamar sesuai permintaan Caramel, sebaiknya ia mendinginkan seluruh tubuhnya dengan guyuran air.
Wajah Bayu berubah pias, suasana berubah canggung dalam sekejap bahkan setelah Rafka pergi. Rafka telah membangun dinding pembatas yang tidak bisa ditembus Bayu bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Rafka tidak memperbolehkan Bayu maupun Sandra memasuki wilayahnya.
"Maafin sikap Rafka Pa, Ma." Caramel kembali duduk di sofa, ia sudah menduga kalau Rafka akan bersikap demikian kepada Bayu dan Sandra. Bagaimanapun hubungan Rafka dan papanya serta mama tirinya, Caramel berusaha menjadi penengah di antara mereka. Caramel harus menjadi AC di ruangan yang panas ini.
"Sifat Rafka sama seperti Papanya, keras kepala." Bayu nyengir menyembunyikan kekecewaannya karena sikap Rafka, ia meraih kopi buatan Caramel begitupun dengan Sandra.
Bayu menghirup aroma nikmat kopi dan menyesapnya perlahan, kehangatan seketika mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Engga kok, Pa." Caramel menggeleng, "aku bikinnya pakai mesin pembuat kopi." Ia menggaruk tengkuknya salah tingkah, sejak kapan Caramel pandai membuat kopi ia hanya pandai meminumnya.
"Wah kalian punya mesin pembuat kopi." Sandra membelalak kagum, ia tahu mesin pembuat kopi tidak lah murah.
"Rafka membelinya karena aku suka banget minum kopi."
Bayu meletakkan gelas kopinya yang sudah kosong, sesungguhnya minum kopi terburu-buru tidak lah nikmat tapi ia harus segera pergi sebelum Rafka kembali menusuknya dengan kalimat tajam seperti itu. Rafka memang jarang bicara tapi sekali kalimat yang keluar dari mulutnya maka itu berhasil menusuk hingga ke ulu hati.
"Papa minta maaf karena lupa kalau Rafka tidak bisa minum kopi, harusnya Papa tidak melupakan hal sepenting itu."
Caramel menggeleng pelan, "Kalian udah jarang ketemu jadi wajar Papa lupa, tapi setelah ini kalau masih lupa juga maka Papa wajib minta maaf." Ia tersenyum di ujung kalimatnya.
Bayu tertawa singkat mendengar candaan Caramel, sang menantu memang pandai mencairkan suasana. Caramel dan Rafka adalah dua manusia yang memiliki sifat saling bertolak belakang, seperti itulah mereka saling melengkapi. Seperti halnya Bayu yang tak akan pernah diterima kembali oleh Rafka sebaliknya Caramel menerimanya dengan tangan terbuka terlepas dari kesalahannya dimasa lalu. Meski dulu Caramel belum masuk di kehidupan Rafka, tapi Bayu yakin Rafka sudah menceritakan semuanya kepada Caramel.
Sebelum pulang mereka sekali lagi melihat Arnesh di kamarnya. Mereka mengucapkan salam perpisahan kepada sang cucu karena yakin pertemuan itu tak akan sering terjadi mengingat hati Rafka yang masih sekeras batu terhadap Bayu dan Sandra.
*******
Malam itu Caramel sengaja tidak menutup gorden karena langit sedang cerah sehingga ia bisa melihat sinar satu-satunya satelit bumi yang didampingi hamparan gemintang. Caramel duduk meringkuk memeluk lutut di depan jendela kaca yang menyajikan pemandangan indah kota Jakarta. Ia sengaja meluangkan waktu untuk melamun, haha itu terdengar konyol tapi ia memang tidak punya waktu untuk melamun karena disibukkan oleh urusan Caramel Sleepwear dan Arnesh. Kadang ia perlu waktu sejenak istirahat mengosongkan pikiran walau tidak mungkin. Pikirannya selalu diisi oleh pekerjaan, anak dan suami, selalu begitu. Pernikahan membuatnya tumbuh dewasa tak hanya usia melainkan juga cara berpikirnya.
"Kopi mu sayang." Rafka muncul dari belakang. Aroma kopi seketika memenuhi kamar bercampur dengan aroma Citrus dari humidifier di atas nakas. Rafka suka aroma kopi tapi sayang ia hanya bisa menghirup tanpa meminumnya.
__ADS_1
"Makasih ya." Caramel tersenyum mengambil kopi tersebut, ia hanya mendapat jatah kopi satu gelas sehari karena harus lebih banyak minum vitamin menyusui. "Langitnya bagus banget malam ini." Ia meraih pipi Rafka dan mengecupnya singkat sebagai tanda terimakasih karena sudah membuat kopi untuknya.
"Arnesh udah tidur?" Rafka melirik Arnesh di atas tempat tidur mereka yang baru saja terlelap setelah menyusu selama satu jam.
Caramel mengangguk, meski ia meletakkan box yang lebih kecil di kamar tapi Arnesh tetap tidur di ranjang mereka. Caramel tidak tega membiarkan Arnesh tidur di box nya sendiri.
"Tidak secantik kamu." Rafka duduk di samping Caramel di kursi yang tidak terlalu besar sehingga mereka berdesakan.
Caramel tersedak mendengar gombalan Rafka yang sangat receh, bahkan anak SMP jaman sekarang sudah tidak menggunakan gombalan seperti itu kepada pasangannya. Rafka seperti hidup di masa peradaban kuno dengan gombalan semacam itu.
"Ini masih panas jangan diminum sekaligus." Rafka mengambil alih gelas tersebut dan meletakkannya di lantai.
Wajah Caramel merah, ia jadi ingat momen pertama kali mereka bertemu, persis seperti ini. Rafka membuat Caramel tersedak dengan ucapannya. Tapi sungguh Rafka tidak bermaksud demikian.
"Sorry ya tadi aku nggak bilang dulu kalau Papa dan Mama Sandra datang." Caramel membenarkan posisi duduknya agak ke ujung agar Rafka lebih nyaman.
"Itu bukan kesalahan." Rafka menggeleng. "Aku tadi ketemu Mama di lobi, dia bilang kalau Papa dan istrinya datang jadi aku tidak terlalu terkejut saat sampai di apartemen."
"Mama baik-baik aja kan, tadi Mama buru-buru mau pulang bahkan sebelum liat Arnesh."
"Dia menangis." Pandangan Rafka sayu, ia paling tidak bisa melihat wanita yang disayanginya menangis.
"Semoga Mama nggak terlalu mikirin kejadian tadi."
"Kamu tenang aja, Mama selalu punya cara untuk bersenang-senang, setiap minggu Mama selalu ada acara arisan dengan teman-temannya." Rafka mengulas senyum tipis, ia mengalihkan pandangan pada langit malam di hadapannya saat ini.
"Mama kita sama." Caramel meletakkan kepala pada lengan Rafka dan memeluknya. "Aku pengen punya offline store Caramel Sleepwear." Pandangannya menerawang ke hamparan langit yang penuh bintang.
"Aku dukung kamu." Rafka menyentuh jari-jari lentik Caramel lalu menggenggamnya, "kamu bisa sebutkan tempatnya lalu aku akan membelinya."
Caramel terkekeh, Rafka mengatakan itu seolah hendak membeli makanan padahal bangunan di Jakarta tak ada yang murah. Caramel harus menguras tabungannya jika ingin membuka toko offline.
"Papa." Caramel tiba-tiba mengangkat kepalanya membuat Rafka terkejut.
"Hm? apa?" Rafka membelalak.
"Mulai sekarang aku harus panggil kamu Papa." Caramel mendekatkan wajahnya pada Rafka.
"Kenapa?"
"Karena kita udah punya anak." Tentu saja apalagi.
"Itu terdengar aneh."
"Ya aku juga ngerasa gitu, tapi walaupun Arnesh belum ngerti, aku mau dia cuma mendengar hal-hal baik dari kita."
"Oke, M ... Mama." Rafka gugup, ia biasa memanggil Caramel dengan nama atau sayang. Namun lebih awal lebih baik agar mereka terbiasa.
__ADS_1
Caramel tertawa pelan, benar itu memang terdengar aneh tapi ia harus menahan tawa jika tidak mau membuat Arnesh bangun setelah ia susah payah menidurkannya. Bayi dua bulan itu tidak terbiasa dengan berisik karena villa mereka di Bali sangat tenang beda dengan kota Jakarta yang penuh kesibukan.