
Cahaya matahari mulai menembus melalui celah gorden yang tidak tertutup sepenuhnya menghasilkan berkas cahaya di atas tempat tidur. Matahari yang mulai meninggi tak membuat Caramel dan Rafka buru-buru bangun. Mereka bisa sedikit bersantai karena ini adalah hari libur.
Dua buah bantal guling terlempar ke lantai seolah tak dibutuhkan padahal biasanya Caramel tidak bisa tidur tanpa guling. Namun beda cerita ketika Caramel sudah menikah, ada guling hidup yang membuatnya melupakan si guling asli.
"Ka, bangun." Caramel menyentuh pipi Rafka untuk membangunkan lelaki itu padahal dia sendiri masih malas-malasan di atas tempat tidur, enggan meninggalkan selimut hangatnya.
Mata Rafka tetap terpejam tapi ia bergerak memegang tangan Caramel yang berada di pipinya. Mereka sama-sama malas untuk bangun karena lembur semalam. Kalian pasti mengerti maksud kata 'lembur' disini.
"Kenapa kau belum memakai bajumu?" Mata Rafka setengah terbuka dan menyadari bahwa tubuh Caramel hanya dibalut selimut tanpa pakaian apapun di dalamnya.
"Kenapa emangnya, aku suka dingin." Caramel merapatkan tubuhnya pada Rafka.
"Tapi kenapa kau ingin pergi berlibur ke tempat yang hangat?" Rafka tahu itu hanya akal-akalan Caramel untuk menggodanya.
"Lagi pula hari ini kamu libur." Caramel mengecup bibir Rafka singkat.
"Lalu kenapa?" Kini mata Rafka terbuka sepenuhnya karena terkejut mendapat ciuman tanpa pemberitahuan dari Caramel.
Bukannya menjawab Caramel justru tertawa melihat ekspresi polos Rafka yang membuatnya geregetan. Mengapa Rafka masih bisa membuat ekspresi polos seperti itu seolah-olah belum pernah melakukan hubungan suami istri.
"Aku tidak mau melakukannya pagi ini nanti kamu kelelahan, nanti siang akan banyak orang, mereka pasti langsung tahu kalau kamu kurang istirahat."
"Aku bisa tutupin pake make-up." Selalu saja ada cara Caramel untuk merayu Rafka. Caramel jadi penasaran apakah istri-istri di luar sana juga suka menggoda sepertinya.
"Jangan nakal." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya, sebenernya tanpa digoda pun Rafka sudah sangat menginginkan Caramel tapi ia menahannya karena nanti mereka akan mengadakan acara baby shower. Rafka takut tidak bisa mengendalikan diri jika telanjur melakukannya.
"Menurut penelitian melakukan hubungan suami istri dipagi hari dapat membangkitkan semangat." Caramel belum selesai melancarkan aksi memancing Rafka, jika umpan ikan asin tidak berhasil maka ia akan menggunakan umpan ikan tuna.
"Dari mana kau baca itu?" Rafka menatap Caramel mengusap anak rambut sang istri yang menutupi wajahnya.
"Apa itu penting?" Caramel menekuk bibir bawahnya kesal.
"Tentu saja penting, bisa saja itu artikel palsu."
"Ayo coba." Caramel meninggikan dagunya.
"Kenapa kamu nakal sekali, hm?" Rafka menahan punggung Caramel dan mengecup dagunya, tidak lupa memberi gigitan kecil karena Caramel sudah berani menggodanya.
Caramel memekik ketika Rafka menghisap kuat dagunya, "jangan, jangan itu!" Ia menahan kepala Rafka saat pria itu hendak turun ke lehernya. Caramel yakin Rafka akan meninggalkan bekas disana jika ia tidak mencegahnya.
"Kau bisa menutupinya dengan make-up." Ucap Rafka dengan napas memburu.
Caramel melenguh mencengkram punggung Rafka yang tertutup piyama biru muda—salah satu produk Caramel Sleepwear. Bukankah ini tak adil jika Rafka mengenakan piyama sedangkan Caramel tidak. Caramel tidak tahu kemana piyamanya pergi, ia tidak ingat apapun semalam. Mendadak amnesia setelah bersenang-senang dengan Rafka.
Rafka membungkam mulut Caramel dengan ciuman dalam dan panas. Sementara itu Caramel membuka kancing piyama milik Rafka.
"Kenapa lama sekali?" Rafka melepas ciumannya karena tidak sabar menunggu Caramel selesai membuka kancing piyama nya.
"Aku bakal perhatiin bagian ini lagi waktu produksi selanjutnya, supaya lebih gampang dibuka." Caramel terkekeh melihat Rafka membuka kancingnya sendiri. Ia bisa meminta bagian konveksi untuk membuat lubang kancing yang lebih besar agar mudah dibuka apalagi saat terburu-buru seperti ini.
Rafka melempar bajunya ke sembarang tempat lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda perkara kancing piyama.
"Sarapan roti sobek." Kata Caramel tidak terlalu jelas karena Rafka sedang menjelajahi bibirnya. Ia menyentuh bagian perut Rafka yang berotot hasil dari rajin olahraga. Caramel paling suka roti jenis ini, bahkan walaupun tanpa Nutella pun ia mau menghabiskannya meski itu tak akan pernah habis.
Ting tong Ting tong!
Caramel mendelik mendengar bel apartemen berdenting beberapa kali.
"Rafka." Caramel berusaha menghentikan Rafka yang tentu saja tidak mendapat respon apapun. "Rafka, ada yang dateng."
"Hm?" Rafka berpindah ke ceruk leher Caramel yang beraroma harum.
"Rafka, ada yang dateng!" Ucap Caramel lebih keras sambil menahan kepala Rafka.
"Siapa? kau membuat janji dengan siapa?" Rafka berangsur sadar dari gairah yang telanjur membara.
Caramel menggigit bibir dan menggeleng, ia tidak membuat janji dengan siapapun dipagi hari. Wajah Caramel panas memerah seperti tomat matang, bercampur antara gairah dan panik.
__ADS_1
Bel apartemen mereka berdenting sekali lagi. Rafka segera bangkit mencari piyamanya yang barusan ia lempar. Rafka buru-buru lari keluar kamar, bahkan ia mengenakan sepasang sandal yang tidak sama saking paniknya.
Sementara itu Caramel masuk ke kamar mandi mencari bathrobe, siapapun yang datang ia akan berpura-pura hendak pergi mandi.
Rafka membuka pintu dan mendapati dua sahabat Caramel yang membawa banyak barang di tangan mereka. Rahang Rafka mengeras, mengapa mereka datang sepagi ini, itu sungguh mengganggunya.
"Kok muka lu merah gitu, abis ngapain lu sama Caramel?" Jane menerobos masuk disusul Kayla.
"Sandal lu kok selingkuh? lagi populer sih sekarang sandal begitu." Ujar Kayla saat melewati Rafka.
Rafka menutup pintu dengan keras sambil melihat ke bawah, mengapa ia tak sadar jika sandal yang dikenakannya tidak sama. Jika bukan sahabat Caramel pasti Rafka sudah mengusir mereka berdua.
"Bukankah kalian datang terlalu pagi?" Rafka berbalik melihat Jane dan Kayla yang sedang meletakkan barang bawaan mereka di atas meja makan.
"Pagi apaan, jam lu mati?" Jane memperlihatkan ponselnya agar Rafka bisa melihat jam. "Bukannya Caramel sendiri yang bilang supaya gue dan Kayla dateng jam sepuluh?"
Rafka menyembunyikan keterkejutannya melihat jam di ponsel Jane menunjukkan pukul 10. Rafka pikir ini masih jam 7 atau paling siang jam 8. Rafka berdehem dan menelan salivanya berusaha menetralkan suasana hatinya.
"Caramel mana?" Tanya Kayla.
"Mandi." Rafka menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, "aku akan menyusul Caramel ke kamar mandi, kalian tahu kan dia tidak berani mandi sendirian." Ia setengah berlari meninggalkan Jane dan Kayla, tidak lupa mengunci pintu berjaga-jaga jika saja mereka akan ikut menerobos hingga ke kamar.
"Siapa yang dateng?" Caramel langsung mengajukan pertanyaan itu ketika Rafka kembali ke kamar. Ia telah menggunakan bathrobe putih yang selalu digantung di belakang pintu kamar mandi.
"Jane dan Kayla, ini pukul sepuluh sayang." Rafka memungut guling dan pakaian Caramel yang berserakan di lantai. "Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju sebelum mereka berpikir macam-macam."
"Aduh maaf ya, aku pikir ini masih pagi." Caramel jadi takut membuat Rafka marah akan hal ini.
"Sudahlah." Rafka tersenyum tipis, "cepat pergi mandi, biar aku yang membereskan ini."
Caramel mengangguk perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Rafka membereskan tempat tidur seperti semula, memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang cucian dan membuka gorden membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar mereka.
******
Sesuai permintaan Caramel dan Rafka dekorasi acara baby shower mereka bernuansa hijau dan putih dengan hiasan bunga monstera disela-sela balon. Warna hijau memberikan kesan segar dan hangat sekaligus. Acara tersebut akan dilaksanakan di balkon apartemen yang cukup untuk menampung seluruh tamu karena mereka memang tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga inti, kerabat dekat dan beberapa teman kantor.
Acara berdoa bersama dipimpin oleh Rafka berharap untuk kesehatan Caramel dan calon bayi di kandungannya. Berdoa agar saat waktunya persalinan nanti semuanya berjalan dengan lancar dan bayi mereka lahir dalam keadaan sempurna.
"Kita bakal ngadain permainan dengan balon ini." Caramel menunjuk belasan balon di tangan Danu, "Rafka bakal kasih pertanyaan, siapa yang jawab bener boleh tarik satu balon, nah di dalam balon ini ada satu hadiah yang berhak kalian dapetin."
Tamu undangan bersorak mendengar penjelasan Caramel, mereka bersemangat menunggu pertanyaan Rafka. Bahkan orangtua Rafka dan Caramel tidak mau kalah dengan mereka yang masih muda.
"Siapakah penulis novel Toto Chan?" Rafka membacakan pertanyaan pertama yang sudah ia catat pada tablet miliknya.
"Eh apaan tuh, gue aja baru tahu kalau ada judul novel Toto Chan." Tukas Jane, ia memang bukan penggemar novel apapun.
"Jane ketahuan tidur mulu waktu pelajaran bahasa Indonesia nih." Tawa Caramel puas melihat ekspresi kesal Jane.
"Yang tahu boleh angkat tangan."
Mama Rafka yang duduk di barisan kursi paling depan mengangkat tangannya.
"Silahkan Ma." Caramel mempersilahkan mertuanya menjawab pertanyaan Rafka.
"Tetsuko Kuroyanagi." Jawab mama Rafka dengan suara lantang.
"Bener nggak?" Caramel menoleh pada Rafka, bahkan walaupun Caramel yang memilih pertanyaan itu dari internet ia tak tahu apa jawabannya.
"Benar sekali Ma." Rafka menunjukkan layar tablet nya yang menampilkan jawaban dari google.
Tamu yang lain bersorak sambil memberi tepuk tangan kepada mama Rafka yang berhasil menjawab pertanyaan pertama.
"Mama boleh tarik satu balon." Caramel menuntun mertuanya ke dekat Danu untuk menarik salah satu balon.
Dengan senyum lebar mama Rafka menarik satu balon berwarna hijau.
__ADS_1
"Saya pecahin ya Tante." Danu bersiap memecahkan balon tersebut.
Satu kertas terlempar ke lantai saat Danu menusuk balon dengan jarum.
"Biar Rafka yang ambil." Rafka membungkuk mengambil kertas itu. "Wah Mama dapat SK-II Pitera Essence Street Art Limited Edition." Rafka mengambil satu kotak untuk diberikan kepada mamanya.
"Wah!" Para wanita bersorak, mulut mereka menganga mendengar hadiah yang mama Rafka dapatkan. Itu adalah hadiah yang diimpikan semua wanita, essence yang katanya bisa membuat kulit wajah sebening kristal. Eh tembus dong.
"Sebenernya Mama aku yang paling pengen nih produk baru dari SK-II." Caramel menggoda mamanya yang dari kemarin menunjukkan gambar produk tersebut kepadanya.
"Nanti Mama minta sama Papa." Mama Caramel menepuk bahu suaminya.
"Yuk pertanyaan selanjutnya." Kata Caramel setelah mertuanya kembali ke tempat duduknya.
"Tante boleh lihat nggak?" Jane berbisik pada mama Rafka.
"Boleh." Dengan senang hati mama Rafka memberikan kotak SK-II di tangannya kepada Jane yang langsung menjadi rebutan cewek-cewek lainnya.
"Guys jangan sampe pecah ya, itu belinya nggak pake daun." Canda Caramel.
"Siapa nama orang yang membuat Harry Potter kontak dengan dunia sihir untuk pertama kalinya?" Rafka membacakan pertanyaan selanjutnya tanpa menunggu para wanita yang penasaran pada hadiah mamanya.
Irene mengangkat tangannya dengan cepat, "Rubeus Hagrid." Jawabnya.
"Bener banget Irene." Caramel bertepuk tangan untuk Irene dan mempersilahkannya maju.
"Ya ampun gue belum siap!" Protes Jane.
"Fokus Jane." Tukas Rafka.
Irene menarik satu balon berwarna putih, tanpa diminta Danu langsung menusuk balon tersebut dengan jarum. Bukan hanya Irene yang penasaran dengan isinya, tamu undangan lain juga demikian.
"Irene mendapat dua voucher H&M masing-masing senilai 250 ribu." Ujar Rafka seraya memberikan dua voucher itu kepada Irene.
"Gue juga mau!" Seru Kayla, si penggila diskonan.
"Makanya lu jawab elah." Sahut Caramel geregetan karena dua sahabatnya tidak juga menjawab pertanyaan Rafka.
Pertanyaan demi pertanyaan diucapkan oleh Rafka hingga balon di tangan Danu habis. Karena tak banyak tamu undangan, mereka bisa saling kenal dan lebih menikmati acara.
Namun yang paling ditunggu-tunggu adalah memberitahu kepada semua tamu undangan jenis kelamin calon anak Caramel dan Rafka. Walaupun beberapa dari mereka sudah tahu tapi sebagian yang lain penasaran pada jenis kelamin bayinya.
"Kami sengaja pakai tema hijau dan putih supaya kalian nggak ada yang bisa nebak gendernya." Caramel memegang satu balon paling besar berwarna emas, di dalamnya terdapat tulisan boy yang merupakan jenis kelamin bayi yang dikandung Caramel.
"Buruan aku penasaran." Seru Febi yang merasa dikhianati karena mama nya sudah lebih tahu tentang itu tapi enggan berbagi dengannya.
"Hitung sampai tiga ya."
"Satu ... dua ... tiga!"
Duarr!! Kertas-kertas kecil berserakan di atas lantai balkon tapi yang menjadi perhatian adalah tiga balon berukuran lebih kecil yang terbang sesaat setelahnya. Mereka masing-masing membawa huruf B, O dan Y.
"Wah Mama dapet cucu cowok lagi." Febi bersorak memeluk mamanya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Selamat ya, Caramel dan Rafka semoga bayinya sehat terus sampai nanti waktunya lahiran." Meli memeluk Caramel memberi selamat.
"Jangan lupa siapin kadonya ya Aunty." Caramel mencium pipi Meli kanan dan kiri.
Tamu undangan yang lain bergantian memberi selamat kepada Caramel dan Rafka. Mereka juga mendoakan agar persalinan berjalan dengan lancar.
Acara diakhiri dengan menyantap makanan yang sudah disediakan. Sebagian makanan adalah masakan mama Rafka. Walaupun Caramel sudah memberitahu mertuanya jika mereka sudah memesan katering tapi mama Rafka tetap memasak. Ia bilang makanan rumahan jauh lebih lezat, mungkin karena itu Rafka lebih suka makanan rumahan karena sejak kecil ditanamkan kebiasaan itu oleh mamanya.
"Aku tidak sabar bertemu dengannya." Rafka mengelus perut Caramel.
"Pasti cakep dong kayak kamu." Caramel tersenyum lebar menatap Rafka, siapapun yang melihatnya saat ini pasti langsung tahu bahwa ia sangat memuja Rafka.
__ADS_1