
"Tiap kesini kenapa selalu hujan?" Caramel menengadah tangan pada air hujan yang mengalir melalui genting. Hujan baru reda siang tadi tapi malam ini ia kembali menggugur kota Bandung yang dingin. Caramel berpikir apakah ia membawa selimut cadangan karena malam ini pasti akan sangat dingin. Ia tidak mau sepulang dari liburan anak-anak justru sakit karena kedinginan disini.
Caramel menutup kepalanya dengan tangan sebelum berlari keluar dari toilet itu untuk kembali ke tenda. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba suasananya menjadi gelap gulita, Caramel berhenti seketika, harusnya ia tetap berlari sekencang mungkin agar hujan tidak membasahinya. Namun kakinya tak bisa digerakkan karena sejauh mata memandang ia hanya melihat warna hitam.
Caramel mundur hingga tubuhnya membentur salah satu pohon pinus. Ia mengepalkan tangannya untuk mengumpulkan keberanian meski itu sia-sia. Sungguh Caramel tak masalah dengan hujan yang akan membuat pakaiannya basah tapi jangan gelap. Selama tinggal di Kempinski Caramel tak pernah merasakan pemadaman sehingga ia lupa bahwa dirinya takut pada gelap. Namun sekarang ia seperti diingatkan kembali pada sesuatu yang mengerikan ini.
"Aaahh siapapun yang ada disini tolong kasih gue penerangan." Caramel mencengkram pakaiannya yang basah kuyup, tubuhnya gemetar karena kedinginan sekaligus ketakutan. Ia tidak mau memejamkan mata meski saat ini tak bisa melihat apapun. Ia takut jika tiba-tiba ada binatang buas yang menerkamnya. Walaupun itu kemungkinan yang sangat kecil karena ini adalah tempat wisata tapi saat takut ia jadi memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Singa jangan makan gue, dagingnya nggak enak sumpah, gue suka makan junk food soalnya." Caramel melihat ke atas langit yang sama gelapnya dengan bumi. Apakah mereka bekerjasama untuk mengerjainya, tapi siapa Caramel yang bisa membuat langit dan bumi harus bekerjasama untuk melakukan hal tersebut. Caramel hanya ibu dua anak dan istri yang selalu minta berbagai macam hal pada suaminya.
Dari kejauhan Caramel melihat cahaya yang perlahan semakin mendekat, meski samar ia bisa melihat bahwa itu adalah Rafka. Caramel tersenyum disela tangisnya yang payah, Rafka akan selalu menjadi lentera di tengah kegelapan bagi Caramel. Rafka sama sekali tak berubah sejak belasan tahun lalu ketika menolong Caramel membawa lilin di tengah ketakutannya pada gelap. Sekarang pun begitu, Rafka membawa penerangan bagi Caramel seperti yang ia lakukan dulu.
"Maaf aku lama." Suara Rafka terdengar samar di tengah guyuran hujan, ia melindungi Caramel di bawah payung di tangannya.
"Aku takut kamu nggak dateng." Caramel menghambur ke pelukan Rafka. Caramel menatap wajah Rafka lekat ingin merekam setiap momen ini dalam ingatannya. Ia tak akan mengulang kesalahan yang sama yakni tidak memperhatikan wajah seseorang yang telah menolongnya dulu. Kali ini Caramel akan mengingatnya bahwa Rafka selalu menjadi penyelamatnya dalam keadaan apapun.
Rafka membungkus tubuh Caramel dengan jaket tebal yang ia kenakan, "ternyata hal seperti ini terjadi juga." Gumamnya.
Caramel membenamkan wajahnya pada dada bidang Rafka. Rafka ingat ketika Caramel membeli jaket tebal yang panjangnya hampir selutut ini untuknya, alasannya adalah Caramel pernah melihat adegan drama Korea dimana cowoknya memeluk dan membungkus pasangannya dengan jaket yang ia kenakan. Dan sekarang Rafka melakukan itu pada Caramel. Rafka pikir kejadian seperti itu tak akan terjadi pada mereka.
"Ayo kembali, bajumu basah."
Mereka kembali ke tenda menggunakan penerangan dari flash ponsel Rafka. Hujan ini mengingatkan mereka pada saat kemping disini 5 tahun yang lalu. Hujan selalu menyambut kedatangan mereka.
"Mama okay?" Binar beranjak dari duduknya begitu melihat mama dan papanya datang, "baju Mama basah."
"Its okay sayang." Caramel tersenyum tipis, melalui cahaya temaram ia bisa melihat eskpresi khawatir Narel dan Binar yang membuatnya terharu.
"Kita nggak bisa mengeringkan rambut mu dengan hair dryer karena listrik mati total, pihak Pine Hill bilang akan berusaha memulihkan listrik dengan cepat." Rafka memberikan handuk pada Caramel untuk mengeringkan rambut.
Caramel mengganti pakaiannya yang basah sebelum lanjut mengeringkan rambut, semoga ia tidak masuk angin karena rambutnya tidak bisa segera kering. Selain tidak bisa hidup tanpa KFC, Caramel juga memiliki hubungan erat dengan hair dryer karena jika tidak segera mengeringkan rambut ia bisa masuk angin. Katakanlah Caramel lebay.
"Kalian takut nggak kalau gelap?" Tanya Caramel pada si kembar.
"Enggak, kan ada Mama dan Papa." Narel menjawab, lagi pula ini tidak bisa dikatakan gelap karena ada penerangan dari lampu emergency.
"Kalau gitu sekarang ayo tidur udah malem." Rafka menata bantal dan menggelar alas yang lebih tebal agar mereka lebih nyaman untuk tidur.
Narel dan Binar berada di posisi tengah diapit oleh mama papa mereka. Suara gemuruh hujan yang mengenai tenda terdengar seperti musik membuat mata mereka begitu berat ingin segera dipejamkan. Mereka tak akan mendapatkan suasana seperti itu saat di apartemen. Bahkan jika susah tidur Caramel sengaja memutar suara-suara hujan, sekarang ia mendapatkannya secara alami.
Ketika anak-anak sudah dirasa terlelap, Rafka bangun dari posisi tidur berpindah ke samping Caramel.
"Mau ngapain?" Bisik Caramel yang terkejut dengan Rafka, ia sudah hampir menuju dunia mimpi jika Rafka tidak memeluknya dari belakang.
"Mau tidur dekat kamu." Rafka ikut berbisik. "Kamu dingin kan?"
"Iya." Dada Caramel bergemuruh merasakan pelukan hangat Rafka. Tunggu dulu ini sudah bertahun-tahun berlalu tapi Caramel tetap merasakan getaran yang sama seolah ini pertama kalinya mereka tidur bersama. Caramel penasaran apakah Rafka merasakan hal yang sama, tapi ia tak pernah menanyakannya karena itu terdengar aneh jika diucapkan.
"Semoga airnya nggak merembes dari bawah."
"Enggak bakal karena kamu ahli bikin tenda."
Rafka mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Caramel sebelum memejamkan mata.
******
Aroma kopi menusuk-nusuk hidung terpaksa menarik Caramel ke dunia nyata setelah berpetualang di mimpi anehnya. Semalam Caramel bermimpi terjebak di tengah hutan dan ditolong peri kecil cantik yang memberinya jalan keluar. Mungkin itu karena Caramel terjebak gelap dan hujan semalam yang membuatnya jadi mimpi buruk.
__ADS_1
Siapa yang bikin kopi?
Mata Caramel terasa amat berat untuk dibuka meski aroma kopi begitu menggodanya. Badan nya pegal setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta kesini.
Samar-samar Caramel melihat sinar matahari menerobos masuk melalui resleting tenda yang sedikit terbuka. Dimana Rafka dan anak-anak? jam berapa ini?
Caramel memaksakan tubuhnya untuk bangun karena Narel dan Binar tak ada di sampingnya. Ia menyingkap penutup tenda, matanya menyipit karena sinar matahari begitu terang mengenai wajahnya.
Caramel lega melihat Narel dan Binar sedang berlari mengejar Zico bersama Kiara dan Riko. Pemandangan yang harus pertama kali lihat setelah bangun tidur selain Rafka adalah Narel dan Binar. Karena mereka sudah mulai tidur di kamar sendiri sejak usia 3 tahun maka hal pertama yang Caramel lakukan ketika turun dari tempat tidur adalah pergi ke kamar mereka.
"Pucet amat muka lu kayak abis opname."
Caramel mendongak mendengar suara Jane yang tiba-tiba muncul di dekatnya.
"Makan yuk, gue masak mie instan."
Caramel memutar bola mata, "kalau kata Mama gue, bikin mie instan itu nggak bisa disebut masak." Suara Caramel terdengar serak khas orang bangun tidur. Ia keluar dari tenda melangkah bersama Jane menuju alas yang telah digelar di depan sana.
"Kalau gitu lu nggak pernah masak dong."
"Enak aja, gue tiap hari masak."
"Kagak percaya gue apalagi ART lu pinter masak."
Caramel hanya tergelak, ia berbelok melihat kran air untuk mencuci muka barangkali ada iler kering di wajahnya yang akan mengganggu pemandangan.
"Gue beruntung dapet ART pinter masak kayak Mbak Yun, beban gue jadi lebih ringan." Caramel mengejar Jane setelah mencuci muka singkat tak sampai 10 detik, yang penting mukanya basah.
"Jadi menurut lu masak itu beban?"
"Beban banget Jane, tahu sendiri gue bikin mie instan aja kurang mateng, tapi untungnya Rafka menerima gue apa adanya."
Caramel tidak salah menyebut bahwa menyajikan mie instan tidak bisa disebut memasak karena ternyata Jane membuat mie instan dalam cup. Itu berarti Jane tinggal memasukkan air panas ke dalam cup mie tersebut, sama sekali tidak bisa disebut memasak.
"Mama udah bangun?" Rafka datang dengan wajah dan rambut basah.
"Kamu mandi?" Caramel melihat Rafka telah berganti pakaian.
"Iya."
"Dingin gini kamu mandi?" Caramel tak percaya Rafka mandi air dingin sepagi ini dengan suhu 16 derajat.
"Nggak begitu dingin kok."
Caramel menarik tangan Rafka untuk duduk di atas karpet bergabung dengan yang lain. Anak-anak yang tadinya berlari kesana kemari juga duduk manis menunggu makanan mereka.
Jane telah memesan sandwich dan susu coklat untuk sarapan anak-anak. Sedangkan pada orangtua makan mie instan yang mudah dibuat karena sejatinya di antara tiga bersahabat itu hanya Kayla yang paling bedah di dapur untuk membuat kue bukan memasak.
"Mama nanti aku sama Narel boleh naik ayunan disana nggak?" Binar menunjuk ke arah kiri yang sepertinya cukup jauh dari sini.
"Dimana?" Caramel mengingat dimanakah ada ayunan di sekitar sini.
"Aunty disana ada ayunan sama perosotan, deket cafe." Zico ikut menjelaskan.
"Abang udah dapat izin belum dari Mama Papa?" Caramel melihat Zico.
"Udah." Zico mengangguk.
__ADS_1
"Ya udah boleh, tapi habisin dulu sandwich nya ya."
"Yeay!" Narel dan Binar bersorak gembira, mereka melahap sandwich berisi daging dan sosis dengan semangat.
"Awas panas." Rafka menyodorkan satu cup mie untuk Caramel.
"Kamu makan apa? aku pesenin nasi aja ya."
"Nggak apa-apa aku makan mie." Rafka sudah cukup terlatih untuk makan mie jadi tak masalah jika sekali-sekali memakannya.
"Pucet amat muka lu, Car." Kayla mengucapkan kalimat yang sama pada Caramel.
"Lu orang kedua yang bilang gitu." Sepertinya sekarang Caramel membutuhkan cermin karena penasaran pada wajahnya, apakah sepucat itu?
Rafka menyodorkan ponselnya pada Caramel seolah mengerti apa yang sedang sang istri butuhkan. Lihatlah, Rafka adalah suami paling peka se-Jakarta.
"Kamu nggak apa-apa?" Rafka menyentuh kening Caramel tapi karena dari tadi memegang cup mie yang panas ia jadi tidak bisa merasakan apakah kening Caramel hangat atau dingin.
"Mungkin karena nggak pakai liptint sama bedak."
Rafka mengangguk, ia berharap Caramel tidak sakit karena semalam terkena hujan.
Mereka menikmati sarapan mie instan yang masih panas dengan teh hangat. Rencananya setelah ini mereka akan berkeliling di sekitar area Pine Hill karena cuacanya cukup bagus.
"Ke toilet bentar." Caramel meletakkan mie yang baru sedikit ia makan dan beranjak berlari ke toilet karena ada sesuatu mendesak dari dalam perutnya. Tentu bukan kupu-kupu terbang yang seperti cewek-cewek katakan saat menggambarkan perasaan cinta.
Begitu sampai di toilet Caramel langsung memuntahkan semua isi perutnya tanpa henti hingga mulutnya terasa pahit. Rupanya mereka yang mendesak Caramel.
Caramel sudah menduga kalau ini akan terjadi karena tidak mungkin ia tak masuk angin setelah kehujanan tadi malam.
"Sia-sia tuh pop mie." Caramel menggerutu, isi perutnya telah terkuras habis. Ia membersihkan mulut dan keluar dari toilet.
"Caramel."
Langkah Caramel terhenti mendengar suara itu, suara yang telah lama tidak didengarnya dan tak ingin ia dengar sampai kapanpun. Namun kenapa ada suara itu lagi.
Caramel tertegun melihat Rama berdiri tak jauh darinya. Tidak-tidak itu pasti bukan Rama. Caramel hendak mundur tapi seperti tadi malam kakinya seperti dipaku dan tidak bisa bergerak. Wajah itu membuat Caramel ingat kejadian 6 tahun yang lalu ketika Rama menerobos masuk ke apartemennya. Berani sekali Rama menampakkan diri di depan Caramel lagi setelah apa yang ia lakukan dulu.
Tubuh Caramel gemetar kehabisan tenaga setelah muntah-muntah barusan ditambah adegan saat Rama melecehkannya kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Kenapa kamu disini?" Suara Caramel hampir tidak keluar.
"Aku sudah bebas dari penjara dan tinggal disini."
Caramel mengangguk kaku, seharusnya mereka tidak pernah bertemu lagi sejak di pengadilan waktu itu.
"Jangan deket-deket." Desis Caramel ketika Rama kembali maju satu langkah.
"Aku cuma mau minta maaf karena waktu itu aku nggak sempet bilang maaf sama kamu, aku bener-bener minta maaf, setelah ini aku janji nggak bakal muncul lagi di hadapan kamu asal kamu maafin aku."
Caramel tersenyum kecut, untuk apa ia memberi maaf untuk Rama. Kesalahan itu tak pantas mendapat maaf darinya.
"Oke." Caramel mengangguk meski hatinya berkata tidak tapi ia harus membiarkan Rama mendapat maaf darinya jika itu bisa membuat Rama puas dan berhenti mengikutinya seperti dulu.
"Kamu sakit?"
Caramel hendak menjawab tapi ia mendengar suara Binar memanggilnya, ia menoleh ke kiri dan melihat Binar berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Udah nggak ada yang dibicarain kan, aku pergi dulu, aku harap kita nggak pernah ketemu lagi kalaupun kita nggak sengaja ketemu aku mohon bersikaplah seolah-olah kita nggak saling kenal."