
Entah sudah berapa lama Caramel terdiam sejak kami masuk mobil dalam perjalanan pulang dari kantor polisi. Caramel yang biasa banyak bicara sekarang jadi murung, dari tadi ia hanya memandangi tetesan air hujan yang mengenai jendela membentuk titik-titik air di permukaan kaca.
Selama seminggu terakhir aku menemani Caramel, aku menyelesaikan pekerjaan dari rumah berjaga-jaga jika Rama atau istrinya mengganggu Caramel lagi. Aku mengerti bagaimana perasaannya saat ini, itu seperti luka lama yang kembali menganga lebar setelah ia bertemu Rama. Aku sudah mengajak Caramel untuk tinggal di rumah dinas. Namun Caramel tidak bisa menjawabnya, aku tahu ia begitu menyukai apartemen kami. Ini kali kedua aku mengajaknya pindah, tapi jawabannya tetap sama.
Asal Caramel bisa kembali ceria aku akan melakukan apapun, aku ingin melihat senyumnya lagi. Bahkan kini aku merindukan omelannya saat aku melakukan kesalahan.
"Lusa Danu mengundang kita ke acara ulang tahun Indi." Aku memecah keheningan, berusaha menarik perhatian Caramel.
"Oh ya?" Caramel menoleh kepadaku, ternyata usahaku menarik perhatiannya berhasil. "Kok kamu baru bilang?"
"Danu juga baru memberitahuku tadi pagi, bagaimana kalau sekarang kita ke Grand Indonesia untuk beli pakaian." Danu bilang wanita akan kembali ceria setelah diajak jalan-jalan atau berbelanja. Tak apa sedikit menguras kantong asal itu bisa membuat Caramel melupakan kesedihannya.
"Apa tema nya?"
"Selalu sama, dia nggak pernah pakai tema lain untuk acara ulang tahun keluarganya, selalu batik."
"Termasuk anak-anaknya?"
Aku mengangguk.
Caramel mendelik mendengar jawabanku, apa ku salah? atau ia tidak suka mengenakan batik tapi itu tidak mungkin, seragam kerja Caramel juga batik.
"Kenapa?" Aku bingung melihat ekspresi wajah kaget Caramel.
"Jadi waktu itu .... " Kalimat Caramel menggantung, ia membuatku penasaran saja, "jadi waktu kita ketemu di Pigeonhole Coffee kamu mau pergi ke acara ulangtahun Danu?"
Aku berpikir sejenak, "ya, itu ulang tahun Clara, anak pertama Danu."
"Ah!" Caramel memukul kepalanya sendiri lalu menekan dadanya. "Waktu itu aku berpikiran aneh tentang kamu karena pake batik."
Aku tertawa singkat, "maaf aku nggak ngasih penjelasan apapun sama kamu, karena kamu nggak bertanya."
Caramel mengangguk, "aku minta maaf karena pernah berpikiran buruk tentang kamu." Ia menggeser duduknya dan bersandar pada lenganku. "Apa kamu buru-buru pergi karena mau ke acara itu?" Tanyanya tanpa melihatku.
"Iya, kau tahu Danu cerewetnya minta ampun." Aku terkekeh.
"Aku nggak mau belanja, kita punya banyak baju batik di rumah." Katanya manja, istriku yang galak ternyata juga punya sifat manja. Danu bilang seorang wanita akan berubah lemah dan tak berdaya saat sedang bersama pasangannya, wanita mendadak tidak bisa membuka tutup air mineral tapi saat sendiri ia jadi bisa melakukan segala hal.
Ternyata Caramel tidak mau mengembalikan keceriaannya dengan belanja, "kita langsung pulang?" Tanyaku memastikan.
"Iya." Caramel mengangguk samar.
Aku menambah kecepatan mobil menembus derasnya hujan siang itu. Caramel dan aku punya pemikiran yang sama yakni ingin segera sampai rumah dan menghabiskan waktu disana. Rumah menjadi tempat paling nyaman bagi kami.
Tangan Caramel meraba dashboard dan menemukan kertas disana, ia membaliknya—itu adalah foto USG pertama bayi kami saat berusia 5 minggu. Jari Caramel meraba foto tersebut dan memandangnya lama.
"Mungkin Adena bener kalau aku nggak bisa ngerti perasaan dia karena aku belum punya anak." Caramel bergumam.
"Ucapan dia jangan terlalu dipikirkan." Balasku, aku tidak mau Caramel terlalu memikirkan ucapan Adena barusan. Aku hanya ingin kami menjalani hidup dengan tenang tanpa gangguan orang-orang dari masa lalu.
Caramel menghela napas berat, ia kembali meraba dashboard meraih ponselnya yang berada disana. Ibu jarinya bergerak lincah di atas layar datar ponsel.
"Aku sering mendengar lagu itu dimana-mana." Ujar ku saat mendengar suara lagu yang tidak aku ketahui judulnya dari ponsel Caramel, lagu yang sangat familiar di telinga.
"Ayo bikin." Caramel menegakkan tubuhnya menunjukkan ponselnya yang menampilkan dua orang berpegangan tangan di jalan.
"Bikin apa?"
"Bikin tik tok kayak gini."
Tik tok? Apa itu?
__ADS_1
"Bukankah tik tok itu suara sesuatu, jam dinding misalnya." Tanyaku polos.
Caramel mengubah posisi sepenuhnya menghadap kepadaku, "kamu beneran nggak tahu?" Tanyanya.
"Apa?" Apa yang tidak aku tahu?
"Tik tok itu aplikasi paling laris ditahun ini."
Aku ber-Oh dalam hati tidak berani menjawab, dilihat dari ekor mataku sepertinya Caramel kesal karena aku tidak tahu soal aplikasi tersebut. Aku tidak tahu tentang hal-hal kekinian karena terlalu fokus menganalisa iklim setiap hari. Menyajikan prakiraan cuaca kepada masyarakat perlu analisa mendalam untuk menghasilkan data yang akurat sehingga aku tidak bisa mengikuti perkembangan zaman.
"Kok kamu nggak tahu, Danu pasti tahu deh." Ujar Caramel lagi.
Benar juga, Danu memiliki pekerjaan yang sama denganku tapi ia tahu hal-hal yang sedang populer saat ini.
"Udah-udah nggak usah dibahas, lupain." Caramel mengibaskan tangannya meletakkan ponselnya kembali.
"Nggak jadi bikin tik tok?" Aku melirik Caramel sebentar, ia menggeleng.
Ia kembali meletakkan kepalanya pada lenganku, "nggak masalah kalau kamu nggak tahu tik tok, orang kayak kamu tuh langka tahu Ka."
"Apakah tik tok sepopuler itu?"
Caramel mengangguk. Belum selesai Instagram ku pelajari sekarang ada lagi aplikasi yang lebih populer. Apakah aku satu-satunya manusia yang tidak tahu tentang tik tok?
"Ayo mampir ke toko ramuan herbal di depan sana." Caramel menunjuk sebuah plang bertuliskan Ramuan Herbal Kakek Jono.
"Kau tidak boleh sembarangan minum ramuan." Kataku memperingatkan Caramel, ia sedang hamil mana boleh minum ramuan sembarangan.
"Cuma mampir, udah lama aku nggak kesini."
Aku menurut menepikan mobil di depan toko ramuan herbal milik salah satu nasabah di tempat Caramel bekerja. Caramel pernah menceritakan tentang kakek Jono beberapa kali, ia bilang kakek tersebut begitu baik kepada dirinya. Bahkan istri kakek sering membawakan makanan untuk Caramel. Istriku yang ramah dan pembawa nya yang ringan membuatnya mudah disukai orang.
Sesaat kemudian pintu terbuka sepenuhnya lalu muncul lah wanita paruh baya yang langsung tersenyum cerah setelah melihat Caramel.
"Kek, lihat siapa yang datang!" Katanya setengah berteriak.
"Gimana kabar Nenek?" Caramel memberikan pelukan hangat kepada nenek.
"Caramel, lama Kakek tidak melihatmu di bank." Kakek menyusul, bergantian memeluk Caramel. Aku canggung melihat interaksi mereka karena belum pernah bertemu kakek dan nenek yang sudah menganggap Caramel seperti cucu sendiri. Aku tersenyum samar, kadang orang asing yang bukan anggota keluargamu bisa begitu baik hingga hubungan kalian melebihi keluarga. Sebaliknya hubungan keluarga yang tidak terjalin harmonis akan terasa seperti orang asing—seperti papa dan aku.
"Ayo masuk." Nenek mengajak kami masuk, "ini suamimu?" Akhirnya setelah beberapa menit nenek dan kakek melihatku.
"Iya, kenalin ini suami Caramel namanya Rafka." Caramel menyentuh pundak ku.
Aku menjabat kedua tangan mereka memperkenalkan diri dengan sopan.
"Jadi kamu sudah berhenti kerja?" Nenek mengajak kami duduk di kursi yang berada di tengah-tengah ruangan. Toko ini lebih terlihat seperti rumah, hanya saja terdapat banyak bungkusan yang tertata di etalase. Begitu masuk ke ruangan, aroma khas herbal langsung menyapa indra penciuman ku.
"Saya cuti beberapa hari ini." Jawab Caramel.
"Kenapa?"
"Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di rumah." Jelas Caramel.
Caramel memutuskan untuk cuti paling tidak hingga video yang kini sudah tersebar dimana-mana sedikit mereda. Caramel juga butuh waktu untuk menyembuhkan diri, di balik wajah ceria nya, ia menyimpan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya.
"Saya akan mampir kesini setiap kali ada kesempatan." Caramel menghibur kakek dan nenek, ia begitu pandai melakukan itu.
"Kalian sudah makan siang?" Nenek melihatku dan Caramel bergantian.
"Oh udah Nek, jangan repot-repot bikinin kami makanan." Caramel tersenyum lebar, ia sudah tahu bahwa nenek pasti akan menyiapkan makanan untuk kami.
__ADS_1
"Kalau gitu, ayo ikut Nenek ke dapur, Nenek lagi coba bikin kue .... " Nenek melihat kakek dengan kalimat menggantung.
"Nastar." Sahut Kakek.
"Nah itu, ayo Cara." Nenek beranjak dari duduknya disusul Caramel.
"Kamu disini dulu ya." Ucap Caramel sebelum mengikuti langkah Nenek menuju dapur.
"Kamu mau lihat-lihat?" Tanya kakek, sepertinya ia tahu kalau aku penasaran pada ramuan herbal yang dijual kakek di toko ini. Mereka memiliki warna, bentuk dan aroma yang beragam.
"Kamu mau jamu khusus pria?" Kakek merendahkan suaranya bahkan ia mendekatkan wajahnya kepadaku.
"Hm? m ... maksud Kakek?" Aku mengernyitkan dahi.
"Maksud Kakek ramuan khusus pria agar kuat di atas ranjang." Ia berbisik.
Aku melongo melihat kakek nyengir setelah mengucapkan kalimat itu, aku sudah kuat di atas ranjang tanpa harus minum ramuan apapun. Bahkan aku dan Caramel bisa melakukannya sepanjang malam, ah bukankah aku tidak perlu menceritakan hal semacam itu?
"Oh tidak usah Kek." Aku ikut nyengir mengusap tengkuk ku yang tiba-tiba terasa dingin.
Kakek mengulurkan tangannya mengambil satu bungkusan kertas yang berada di atas etalase dan meletakkannya di atas meja, "tidak usah malu, banyak pengantin baru yang kesini dan beli ramuan ini." Katanya.
"Saya bukan malu, tapi saya memang tidak membutuhkannya."
Kakek tertawa sesaat lalu mengembalikan ramuan yang katanya bisa membuat pria perkasa di atas ranjang.
"Apakah Kakek juga menjual peralatan craft?" Aku beranjak melihat kertas warna-warni, spidol dan beragam yang tersusun rapi di salah satu bagian etalase.
"Ya, biasanya anak-anak muda yang datang kesini mencari kado anti mainstream untuk pasangannya."
Anti-mainstream? Aku mengingat kosakata tersebut, sepertinya Danu pernah mengatakannya padaku. Ah benar, itu adalah sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang. Rupanya koleksi kosakata ku kalah banyak dari Kakek tapi untung saja aku memiliki ingatan yang kuat.
Aku memiringkan kepala, aneh jika tempat ini menjual ramuan sekaligus peralatan kerajinan tangan tapi—ini justru memberiku ide. Sebentar lagi Caramel ulang tahun, aku akan memberinya kado anti mainstream juga.
"Kue datang!"
Aku menoleh mendengar suara Caramel, ia datang membawa nampan berisi kue berbentuk bulatan kecil berwarna kuning keemasan dengan keju di atasnya.
"Cobain deh, enak banget." Caramel menyuapkan satu kue ke mulutku sebelum aku bersiap-siap, tapi aku bisa mengatasinya dan langsung mengunyah kue khas lebaran tersebut.
"Iya." Aku mengangguk beberapa kali.
"Ini buat kalian bawa pulang." Tukas Nenek, ia meletakkan setoples nastar untuk kami bawa pulang.
"Nenek kenapa repot-repot sih, saya kan jadi enak, eh." Caramel terkikik menutup mulutnya.
"Bisa aja ya kamu." Nenek tertawa.
Kami pamit pulang setelah menikmati nastar dengan teh hangat buatan nenek. Bukan teh biasa melainkan teh dengan tambahan berbagai tanaman herbal yang sangat bermanfaat untuk tubuh, begitu kata kakek. Aku berharap tidak ada ramuan khusus pria yang kakek bilang tadi di dalam teh ku. Aku khawatir kakek akan menjahiliku, jika itu terjadi maka aku hanya akan membuat Caramel tersiksa—bukan tersiksa tapi kewalahan.
"Kenyang nggak sih makan nastar segitu banyak?" Caramel menyandarkan kepalanya pada bahuku saat aku mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang karena lalu lintas yang cukup padat.
Hujan telah reda menyisakan jalanan yang basah membuat para pengendara harus lebih hati-hati agar tidak terpeleset. Sesuatu yang ku sukai setelah hujan adalah, udara terasa lebih bersih dan segar seperti suasana pagi hari di pedesaan. Maka dari itu walaupun Jakarta sering diguyur hujan aku tidak akan mengeluh. Apalagi pemerintah sudah memperbaiki tata kota sehingga banjir tidak sesering dulu.
"Kamu kenyang?" Aku balik bertanya karena nastar tidak akan membuatku kenyang, aku seperti orang Indonesia pada umumnya—tidak kenyang jika belum makan nasi.
Tak ada jawaban lagi dari Caramel, tangannya jatuh ke pahaku, aku juga merasakan kepalanya lebih berat bersandar pada lenganku. Aku memperbaiki posisi kepala Caramel menyandarkannya pada sandaran jok di sampingku, ia sudah terlelap. Seperti bayi, ia tertidur setelah kenyang dan lelah menangis. Senyumku mengembang begitu saja melihat wajah tenang Caramel saat terlelap.
Aku menghentikan mobil saat sampai di lampu merah dan mengambil jaket di jok belakang untuk menyelimuti badan Caramel lalu menghadiahi kecupan singkat di keningnya. Tak lama lagi ia akan melahirkan anak kami, bertemu Caramel adalah keajaiban paling indah yang pernah aku dapatkan di dunia.
__ADS_1