Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Siapa sangka tempat penuh tanaman hijau itu berada di sebuah lobby mall, suasana alamnya sangat kental membuat para pengunjung betah berlama-lama mengobrol ngalor-ngidul hingga lupa waktu. Restoran yang terletak di Pacific Place itu sangat cocok dijadikan tempat reuni.


Odysseia menjadi pilihan tepat bagi teman seangkatan Rafka untuk tempat bertemu mereka setelah cukup lama tidak mengadakan reuni—satu tahun waktu yang terasa lama bukan apalagi bagi mereka para jombol—ups.


Seluruh mata tertuju pada kedatangan Rafka dan Caramel—itu terjadi karena beberapa alasan. Satu, ini pertama kalinya Rafka hadir pada acara reuni sejak lulus SMA, dua, karena Rafka menggandeng perempuan cantik di sampingnya padahal ia terkenal jomblo akut stadium lanjut dari dulu apalagi setelah usianya menginjak kepala tiga masih belum menemukan tambatan hati. Rafka memang tidak mengundang teman sekolahnya saat menikah kecuali Danu. Jadi mereka tidak tahu jika si jomblo akut sudah menikah. Alasan terakhir adalah, Rafka terlihat sangat tampan hingga mereka tidak mengenalnya. Tentu saja saat SMA Rafka tidak setampan itu, mungkin itu alasan mengapa Caramel tak pernah meliriknya walaupun ia sudah mengikuti si santan instan kemanapun.


Rama tak kalah terkejut bahkan ia lupa bagaimana cara mengedipkan mata. Napasnya tertahan melihat Caramel begitu mesra menggandeng tangan Rafka. Dada Rama memanas seperti ada bara api yang menyakitinya begitu hebat.


Adena mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Rama, ia bisa menangkap ekspresi terkejut sang suami. Adena kesal karena Rama sama sekali tidak bisa melupakan Caramel. Mereka sudah sering bertengkar hebat perkara Rama yang masih mengingat tentang mantan pacarnya.


"Rafka, ini elu kan!" Danu heboh saat melihat sahabatnya itu hadir di acara reuni—itu seperti keajaiban dunia.


"Kerasukan setan apa lu bisa dateng kesini?"


"Bukankah tempat ini sangat dekat, apa hubungannya dengan kerasukan?" Kening Rafka sedikit berkerut, ia memang minim ekspresi.


"Ah udah lah." Danu mengibaskan tangan, "temen-temen perhatian!" Danu menyeru, ia minta perhatian padahal sejak lima menit yang lalu mereka memang sedang memperhatikan Rafka.


"Ini Rafka Kalandra Pradipta dari IPS satu, kalian pasti lupa kan karena dia emang nggak pernah hadir di acara reuni kita." Danu mengenalkan Rafka kepada teman-temannya dengan bangga.


Suasana hening, semua orang tercengang melihat Rafka dan Caramel. Para lelaki melihat Caramel terpesona oleh kecantikannya.


Caramel tampil simpel dengan blouse putih dan jeans berwarna biru, Rafka menginginkannya tidak memakai baju yang mencolok. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Namun pesona Caramel selalu membuatnya mencolok secara alami.


"Gue inget." Seorang wanita yang mengenakan mini dress berwarna mint beranjak dari duduknya.


Saat melihatnya Caramel langsung teringat pada foto dengan bagian dada terbuka yang berada di galeri ponsel Rafka, ternyata itu adalah teman SMA Rafka. Caramel menatap tajam pada wanita yang kini berjalan menghampiri Rafka.


Caramel salfok pada dada wanita itu, bukan hanya di foto tapi di dunia nyata dadanya juga terlihat mengintip dari dress itu. Caramel mengepalkan tangannya, kenapa Rafka mengatakan lebih besar miliknya padahal jelas-jelas milik wanita itu lebih besar sekitar 3 nomor. Ah, sadar Car sadar!


"Seneng ketemu lu lagi." Wanita itu menarik tangan Rafka dan menjabatnya.


Tanpa sadar Caramel mengeratkan pegangannya pada lengan Rafka, ia ingat Rafka mengatakan tidak kenal wanita pada foto itu tapi kenapa ....


"Apa kita pernah bertemu?" Rafka dengan wajah datarnya menarik tangannya lebih dulu membuat senyum wanita di hadapannya itu seketika menguap terbawa angin.


Mendengar itu Caramel ingin melompat-lompat saking girangnya—andai ini bukan tempat umum.


Danu mendelik, ia segera mendapatkan tubuhnya pada Rafka dan berbisik, "itu Elsa yang pernah kita bahas di grub WA, cewek paling sexy seangkatan kita masa lu nggak tahu."


"Gue Elsa, kayaknya dari seluruh angkatan cuma lu yang nggak kenal gue." Wanita bernama Elsa itu tersenyum miring seraya membalikkan badan secara dramatis seperti pada film-film dengan gerakan slow motion. Bahkan Caramel tanpa sadar telah menahan napas selama gerakan itu terjadi, saat Elsa kembali ke tempatnya, Caramel langsung mengembuskan napas keras.


Suasana terasa canggung beberapa saat tapi Danu segera mengajak Rafka duduk bergabung dengan yang lain.


Tak butuh waktu lama Caramel bisa berbaur dengan yang lain, ia bukan orang yang kesulitan dalam hal itu. Sementara Rafka hanya diam dengan ekspresi wajah datar, orang-orang tak akan bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan.


Sebenarnya Rafka memang tidak memikirkan apapun, ia datang kesini hanya karena Caramel yang mengajaknya. Menurut Rafka ia lebih baik tinggal di rumah dari pada menghabiskan waktunya sia-sia disini. Lagi pula mereka sudah lama tidak bertemu, tak akan ada bahan obrolan yang bisa mereka bahas. Tak ada yang spesial, hanya bertanya anak mu sudah berapa? kerja dimana? gajinya cuma segitu? kenapa belum nikah? atau aku membeli mobil keluaran baru, tas ku limited edition cuma ada sepuluh di dunia dan segala kesombongan lainnya.


"Ternyata ini istri Rafka, butuh waktu tiga puluh tahun buat mereka ketemu." Ujar salah seorang wanita yang duduk tepat di hadapan Caramel.


"Tentu aja butuh waktu lama untuk menemukan yang terbaik." Balas Caramel dengan senyum manis.


Mereka memesan berbagai makanan Italia yang menjadi menu andalan di restoran tersebut. Biaya mengikuti reuni seperti itu tidak bisa dikatakan murah maka dari itu biasanya hanya mereka yang memiliki gaji besar. Pikiran Rafka tak pernah salah bahwa reuni ini hanya menjadi ajang menyombong diri.


Rafka tidak bisa mengalihkan pandangan dari Caramel, dari sekian banyak wanita cantik yang ada disana hanya Caramel yang terlihat di mata Rafka.


"Gue pangling banget lihat Rafka sekarang, sumpah dulu dia item dekil gitu eh sekarang jadi ganteng dan keren begini."


Rafka melihat seorang wanita yang telah mengatakan dirinya hitam dan dekil, otot wajahnya menegang mendengar hal itu. Rafka tak merasa dirinya dekil dulu, mungkin hitam iya.

__ADS_1


"Sekarang kau yang begitu." Balas Rafka.


Caramel mendelik mendengarnya dan otomatis memukul paha Rafka, ia tak menduga jika Rafka bisa mengeluarkan kalimat se-savage itu.


Ekspresi si cewek itu langsung berubah malu, ia memasang senyum palsu dan beranjak dari duduknya.


"Aku ke toilet dulu." Katanya, ia menenteng tas prada miliknya dan melenggang pergi. Kebanyakan wanita memang kabur ke toilet saat seperti ini padahal disana mereka hanya akan mencuci tangan dan menambah riasan di wajahnya.


Elsa menggantikan posisi duduk tepat di hadapan Caramel, sejak awal pandangannya memang ingin menggoda Caramel dan Rafka. Jika yang lain membawa ikut serta pasangannya, ia hanya datang seorang diri. Elsa terkenal di kalangan pria seangkatan Rafka apalagi sejak wanita itu bercerai dengan suami padahal usia pernikahan baru seumur jagung.


Para lelaki memberi ruang lebih untuk Elsa agar wanita itu betah berlama-lama berada di dekat mereka.


"Gue denger dulu lu anak SMA Cahaya Bangsa?" Elsa melemparkan tatapan pada Caramel.


Wah, kok tahu? apa gue se-terkenal itu dulu?


"Iya." Caramel mengangguk.


"Wah ternyata jodoh Rafka tuh di depan mata tapi kenapa lama banget ketemunya." Sahut yang lain.


"Kadang kita diuji dulu dengan orang yang salah sebelum akhirnya ketemu sama cinta sejati kita." Balas Caramel sengaja mengatakan dengan suara lantang, meja nya terletak tak jauh dari meja Rama. Caramel sudah melupakan perasaannya pada Rama dari dulu, tapi rasa sakit dalam hatinya masih terasa hingga saat ini.


"Gue setuju sama ungkapan itu." Tukas Elsa, ia menyunggingkan senyum miring pada Caramel. "Kadang yang udah nikah aja bisa cerai."


"Iya El, gue ikut prihatin soal perceraian lu." Kata wanita yang mengenakan dress merah selutut, ia mengusap lengan Elsa dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


Caramel menyembunyikan keterkejutannya, ternyata si Elsa sudah bercerai dengan suaminya. Insting Caramel sebagai istri mengatakan bahwa si Elsa frozen ini adalah wanita yang berbahaya.


Ngapain lu pake ngajak Rafka ke acara reuni, awas dia CLBK loh.


Dia ga pernah punya pacar kok.


"Mungkin aja Tuhan mau tulis cerita indah di balik ini semua." Lanjut Elsa, ia meninggikan dagunya dan melipat kaki dengan gerakan dramatis.


Elsa mengangkat sendok berniat untuk memakan spaghetti yang dari tadi berada di atas meja. Namun Elsa sengaja menjatuhkan sendok tersebut ke lantai. Suara logam menyentuh lantai terdengar bersamaan dengan pekikan Elsa.


Kini beberapa orang melihat ke arah meja Rafka.


Elsa melirik Rafka, ia berharap lelaki itu memberikan sendok baru untuknya.


Caramel mengalihkan pandangan ke arah lain, si frozen memang pantas diberi gelar ratu drama.


"Caramel mau makan ini?" Rafka menawarkan sepotong pizza untuk Caramel.


"Aku mau tiramisu." Caramel melirik tiramisu yang juga berada di atas meja bersama makanan lainnya.


"Kamu belum makan main menunya."


"Nggak apa-apa." Selera makannya memang aneh akhir-akhir ini, mie instan yang menjadi makanan favoritnya kini justru menjadi kesukaan Rafka.


Elsa terkejut melihat noda saus tomat pada pakaiannya, niat ingin mencari perhatian dengan sengaja menjatuhkan sendok justru membuat pakaian mahalnya terkena noda.


"Caramel, temenin gue ke toilet yuk." Ujar Elsa.


"Hm?" Caramel kebingungan, ia urung menyantap tiramisu. Mereka baru pertama kali bertemu, tapi Elsa dengan entengnya mengajak Caramel pergi ke toilet. Caramel memang mudah akrab dengan orang lain, tapi apa yang Elsa lakukan adalah bentuk dari perilaku sok kenal-sok dekat.


"Sebentar aja, baju gue kena saus nih." Elsa beranjak menunjukkan setitik noda pada dress nya.


"Kau bisa ajak yang lain." Sahut Rafka dengan nada dingin.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, cuma sebentar aja kan." Caramel ikut beranjak.


"Biasa pengantin baru nggak mau ditinggal walaupun sebentar." Canda Danu mengundang tawa teman-temannya yang lain sedangkan Rafka hanya melirik Danu sesaat.


Caramel dan Elsa berpapasan dengan wanita yang mengatakan Rafka dekil dan hitam tadi. Caramel bisa melihat bahwa wanita itu menambahkan lipstik pada bibir tebalnya yang sexy.


Kurang bagus lipstik nya, belum makan apapun udah touch up.


"Lu tahu nggak, katanya tas Prita itu Prada keluaran terbaru, belum masuk Indonesia." Kata Elsa setelah mereka berjalan cukup jauh memastikan wanita yang berpapasan dengannya barusan tidak bisa mendengar ucapannya.


"Prita?"


"Iya yang barusan lewat."


Bukannya itu Prada KW?


"Hebat dong dia bisa dapet sebelum tasnya resmi masuk Indonesia." Kata Caramel pura-pura terkejut, padahal tas seperti itu banyak ditemukan di online shop dengan harga di bawah 200 ribu. Bagi Caramel menggunakan tas KW itu bukanlah masalah besar, tapi jika diikuti dengan kesombongan itu baru memalukan.


Elsa mencuci tangan di depan cermin dan membasuh bekas saus tomat pada dress nya.


"Lu sama Rafka kenapa nikah diam-diam, bukannya apa-apa tapi zaman sekarang kan lagi banyak tuh kasus hamil duluan."


"Maksud lu apa?" Caramel melirik tajam pada Elsa, ia mengerti arah pembicaraan wanita itu.


"Engga maksud gue, Rafka tuh orangnya pendiam banget dan setahu gue dia nggak pernah punya pacar lah kok tiba-tiba dia nikah, gue bukan satu-satunya orang yang curiga sama pernikahan kalian .... " Elsa mengibaskan tangan dan meraih tisu untuk mengeringkan tangannya, "bisa aja Rafka sekarang lagi bertanggungjawab sama sesuatu yang nggak dia lakuin."


"Maksud lu apaan, ngomong yang jelas kagak usah muter-muter!" Caramel geregetan ingin menjambak rambut bergelombang milik Elsa yang terlihat baru saja ditata oleh hair do profesional.


"Lu bisa aja hamil sama cowok lain terus jadiin Rafka kambing hitam dan minta dia nikahin elu."


"Jaga ya mulut lu!" Caramel menarik rambut Elsa hingga kepala wanita itu terjengkang ke belakang. Emosinya memuncak saat Elsa mengarang cerita seperti itu, ia ingat betapa sakitnya ditinggalkan Rama karena lelaki itu justru menghamili wanita lain. Sekarang Elsa malah mengarang cerita yang membuat Caramel tak bisa memberi ampun.


"Lu apaan sih!" Elsa berusaha menyingkirkan tangan Caramel tapi tidak bisa.


"Elu cantik tapi sayang mulut lu nggak bisa dijaga, jijik banget gue dengernya, elu kalau suka sama Rafka nggak perlu nyari masalah sama gue karena Rafka selamanya nggak akan pernah jadi milik lu, sadar diri dikit jadi orang!"


"Kalian apa-apaan!"


Caramel menoleh ke arah pintu, ia melihat Rama berdiri disana. Elsa juga ingin tahu siapa yang datang tapi lehernya tidak bisa bergerak karena Caramel tetap menjambak rambutnya kuat.


"Caramel ada apa ini?" Rama melangkah menghampiri dua wanita yang sedang berseteru itu. Rama hendak memegang tangan Caramel yang sedang menarik rambut Elsa tapi Caramel lebih dulu melepas tangannya.


"Nggak usah ikut campur." Desis Caramel, ia menurunkan tangan—melemparkan tatapan membunuh pada Elsa dan melenggang pergi.


"Dasar pahlawan kesiangan." Gerutu Caramel seraya mempercepat langkahnya, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Caramel tidak mau membuat Rafka curiga.


Rafka melihat Caramel berjalan cepat menuju meja, ia bisa melihat wajah sang istri memerah entah apa sebabnya.


"Caramel, ada apa?" Rafka memegang tangan Caramel.


"Maksud kamu?" Caramel pura-pura tidak mengerti pada pertanyaan Rafka, walaupun sudah menyembunyikan kemarahannya tapi ternyata Rafka tetap mengetahui keadaannya.


"Ayo pulang." Ajak Rafka, ia tahu Caramel mulai tidak nyaman berada disini.


"Hm? tapi kan acaranya belum selesai."


"Nggak apa-apa, kita pergi ke tempat lain." Rafka menggenggam tangan Caramel, ia bisa membawa Caramel itu kemanapun asal jauh dari orang-orang yang membuat sang istri tidak nyaman. Lagi pula dari awal Rafka memang tidak berniat datang ke acara seperti ini.


__ADS_1


__ADS_2