
"Jadi Rama mau perkosa elu!" Jane terkejut mendengar cerita Caramel soal kejadian kemarin sore dimana Rama masuk apartemen Caramel dan melakukan pelecehan seksual. Jane mengepalkan tangannya menahan emosi, jika Rama ada disini ia pasti sudah menonjok hidungnya hingga berdarah.
Selama perjalanan Jane sudah penasaran alasan Caramel kabur dari rumah dan ingin segera berangkat ke Bali, rupanya bukan hal sepele. Untung saja Jane dan Doni telah menitipkan anak-anak ke neneknya.
"Ih pelan-pelan dong." Caramel menyumpal mulut Jane dengan perkedel kentang agar berhenti bicara.
Mereka sedang sarapan di salah satu kafetaria bandara Blimbingsari setelah 4 jam perjalanan dari bandara Soetta dengan transit selama satu setengah jam di bandara Djuanda.
Untung saja keadaan bandara cukup bising sehingga suara kencang Jane tidak mencuri perhatian orang-orang.
Jane mendelik mengunyah perkedel dengan perlahan jika tidak mau tersedak. Ia segera menyambar air di tangan Doni yang baru bergabung dengan mereka setelah membeli tiga botol air mineral.
Doni segera duduk melihat Jane dan Caramel bergantian karena merasa mereka sedang membicarakan hal penting.
"Pa, jangan kaget denger cerita Caramel." Jane memegang tangan Doni, ia mengedipkan mata pada Caramel agar melanjutkan ceritanya.
"Aku penasaran banget waktu kamu bilang kita harus berangkat ke Bali tadi malam." Ujar Doni.
"Sebenernya aku nggak pengen inget ini." Caramel menggeleng mengingat kejadian itu tapi ia sudah berjanji pada Jane akan menceritakan semuanya.
"Dia nggak sempet ngapa-ngapain kamu kan?" Tangan Jane yang lain menggenggam tangan Caramel, ia tak tahu jika masalahnya seserius ini hingga Caramel mengajak mereka pergi dengan cepat.
"Dia cium bibir gue." Pandangan Caramel menunduk, ia jijik mengingat itu. Keputusannya untuk menceritakan kejadian ini saat makan sepertinya salah, itu hanya membuatnya kehilangan selera makan.
"Wah benar-benar gila!" Jane geleng-geleng tak percaya, ia tahu selama Caramel dan Rama berpacaran mereka tak pernah melakukan hal sejauh itu. Rama memang terlihat seperti lelaki baik yang tak pernah macam-macam kepada Caramel.
"Tapi untungnya Rafka cepet dateng dan hajar Rama habis-habisan."
"Terus kenapa kalian berantem sekarang?" Tanya Jane.
"Rafka nuduh aku sengaja bawa Rama masuk."
"Kenapa kamu nggak jelasin ke Rafka kalau itu salah?" Timpal Doni.
"Udah." Balas Caramel cepat, "tapi dia bilang nggak masuk akal kalau Rama tahu sandi masuk apartemen gue."
"Tadi lu bilang Rama tahu sandi masuk apartemen waktu dia bantu lu bawa barang gue kan pas hari ulang tahun lu waktu itu." Jane menatap Caramel.
Caramel mengangguk, ia sudah menceritakan asal mula mengapa Rama bisa masuk apartemennya.
"Kenapa kamu nggak menjelaskan hal yang sama ke Rafka?" Giliran Doni menatap Caramel.
"Gue udah jelasin kalau gue sama sekali nggak bawa Rama masuk tapi dia nggak percaya, Jane coba lu ada di posisi gue, lu hampir diperkosa sama mantan pacar lu sendiri dan suami elu malah nuduh kalau itu disengaja, ya kali gue sengaja pengen diperkosa Rama, gue masih waras."
Jane mengangguk mengerti, ia mengusap punggung tangan Caramel melihat sahabatnya itu menahan tangis. Ia berpindah duduk di samping Caramel dan memeluknya.
"Cewek emang selalu mendahulukan perasaannya tapi dengan kamu pergi gini apa bisa nyelesain masalah kalian?" Sebagai lelaki yang telah cukup lama menikah, Doni memberi nasehat kepada Caramel. Ia dan Jane telah mengalami banyak masalah rumah tangga.
"Gue mau bikin Rafka sadar kalau kepercayaan dalam rumah tangga itu sama pentingnya dengan kasih sayang." Pandangan Caramel nanar, ia merasa hancur dan putus asa akan hal ini.
"Kejujuran juga nggak kalah penting Car, kamu harus sadar itu." Timpal Doni.
"Hanya karena dia selalu jujur bukan berarti dia boleh anggap orang lain nggak bisa dipercaya."
__ADS_1
Jane menepuk-nepuk meja agar suaminya berhenti memberi wejangan kepada Caramel. Jane tahu bahwa Caramel hanya butuh ketenangan dan dukungan dari orang-orang sekitarnya.
"Udah lu tenang dulu, jangan terlalu stress."
Bagaimana Caramel tidak stress memikirkan ini semua, ia memang belum menyelesaikan masalahnya dengan Rafka. Namun untuk sementara ini Caramel ingin pergi jauh karena terkadang jarak membuat sepasang manusia saling menyadari adanya perasaan cinta.
"Ayo makan lagi." Jane menarik piring miliknya dan melanjutkan makan.
"Gue ke toilet dulu." Caramel beranjak dari duduknya, ia menahan kencing sejak di pesawat karena malas bangun.
"Mau gue anterin nggak?" Tanya Jane, ia takut Caramel berbuat sesuatu yang buruk di toilet. Jane masih ingat persis bagaimana terpuruknya Caramel saat Rama tiba-tiba menghilang menjelang hari pernikahan mereka. Jane tidak ingin Caramel trauma untuk kedua kalinya karena perbuatan orang yang sama.
Caramel mengibaskan tangannya tanda bahwa ia tidak perlu ditemani.
Caramel mengaktifkan ponselnya kembali setelah diatur ke mode pesawat selama dirinya di perjalanan. Ia duduk di closet untuk buang air kecil sembari mengirim pesan kepada mamanya memberitahu bahwa dirinya sudah berangkat ke Bali bersama Jane dan Doni. Terdapat satu pesan dari Rafka dan puluhan panggilan tak terjawab. Panggilan terakhir masuk pada pukul 5 pagi, itu berarti sekitar setengah jam yang lalu.
Caramel, aku mohon jangan pernah berpikir untuk naik kapal untuk sampai ke Bali. Aku sudah pernah memberitahumu bahwa gelombang air laut sedang tinggi akhir-akhir ini, aku melarang mu naik kapal apapun alasannya.
"Dia nggak tidur semaleman?" Caramel meletakkan ponsel di wastafel setelah buang air kecil. Ia mencuci muka dan menyisir rambutnya yang berantakan. Jika tidak naik kapal apakah ia harus terbang untuk sampai ke Bali. Tak ada jalan lain, hanya kapal yang saat ini bisa membawanya ke Bali.
Caramel menatap pantulan wajahnya di cermin, matanya bengkak akibat menangis terlalu lama. Caramel mengoleskan liptint pada bibirnya yang pucat. Setidaknya ia terlihat lebih segar jika memakai sedikit riasan di wajahnya.
"Cuacanya bagus banget." Seru Jane saat Caramel kembali dari toilet, ia melihat matahari terbit cukup terang di ufuk timur.
"Grab kita hampir sampai, yuk siap-siap." Doni beranjak lebih dulu, ia telah menghabiskan satu porsi nasi kuning begitu juga dengan Jane.
"Lu nggak mabuk laut kan?" Jane melihat Caramel.
"Kagak lah." Jawab Caramel, ia tak pernah tahu bagaimana rasanya mabuk perjalanan.
"Makasih ya kalian udah mau temenin gue." Caramel melihat Jane dan Doni bergantian.
"Ya elah, kayak sama siapa lu pake makasih segala."
Mereka akan menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam menuju pelabuhan dari bandara. Doni telah memesan grab untuk membawa mereka ke pelabuhan.
******
"Rafka, kenapa elu biarin si Caramel naik kapal sih?" Danu melemparkan tatapan tajam kepada Rafka yang serius pada layar komputer di hadapannya. Mereka memang sedang bekerja keras menyelesaikan laporan sebelum hari libur.
"Ada apa?" Rafka melihat Danu dengan wajah datar, ia harus berkonsentrasi pada pekerjaannya walaupun sebenarnya ia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Rafka tidak bisa tidur semalam karena memikirkan Caramel tapi ia harus tetap kerja hari ini. Berdiam diri di rumah hanya akan membuatnya semakin teringat pada Caramel.
"Ka, lu kan tahu sendiri gelombang sekarang lagi tinggi, elu sendiri yang bikin pengumuman di tv kalau akhir tahun gelombang air laut lagi tinggi-tingginya dan lu malah biarin Caramel naik kapal ke Bali, emang lu kagak mampu bayarin tiket pesawat?"
"Dari mana kau tahu?" Rafka mengerutkan kening, ia sendiri tidak tahu apakah saat ini Caramel sudah sampai di Bali atau belum. Menghubungi Caramel pun percuma bagi Rafka karena wanita itu tidak mau menjawab teleponnya. "Aku sudah melarangnya naik kapal."
"Makanya lu liat IG story dia deh."
"Pinjam hp mu." Rafka meraih ponsel Danu untuk melihat Instagram. "Bagaimana cara untuk melihat story Caramel?"
"Gitu aja nggak tahu lu dasar manusia purba." Danu merebut ponselnya di tangan Rafka, jempolnya bergerak lincah dua detik kemudian ia menunjukkan foto Caramel dan Jane di atas kapal pada layar ponselnya.
__ADS_1
Rafka mengambil alih ponsel Danu untuk melihat foto tersebut lebih jelas, tampak Caramel mengenakan baju putih tanpa bawahan. Jemari Rafka menyentuh wajah Caramel pada layar, ia ingin menarik Caramel ke dalam pelukannya dalam waktu yang sangat lama.
Rafka bertanya-tanya apakah Caramel tidak membaca pesan yang dikirimnya semalam bahwa ia melarang Caramel naik kapal.
"Berapa ketinggian gelombang saat ini?" Tiba-tiba Rafka teringat pada ucapannya sendiri beberapa minggu yang lalu soal gelombang tinggi, ia juga ingat mereka pernah membahas soal itu pada rapat koordinasi. Sebagian besar wilayah perairan di Indonesia akan mengalami gelombang tinggi pada akhir tahun 2020.
"Mending sekarang lu ke kantor metereologi deh buat pantau ketinggian gelombang."
Rafka segera beranjak keluar ruang kerjanya menuju gedung sebelah untuk melihat sendiri ketinggian gelombang di perairan selat Bali.
"Permisi." Rafka masuk ke ruang metereologi setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ia jarang pergi kesini karena ini bukan bidangnya.
"Pak Rafka, ada yang bisa saya bantu?" Salah seorang pegawai beranjak menyambut kedatangan Rafka.
"Boleh saya lihat keadaan gelombang di selat Bali?" Tanya Rafka sopan.
"Tentu saja boleh, kami memang sedang memantau daerah tersebut." Pegawai tersebut mempersilahkan Rafka duduk.
"Apa gelombang sedang tinggi?" Rafka melihat layar komputer di hadapannya dengan serius, ia melihat warna merah di sekitar perairan selat Bali.
"Awalnya gelombang hanya mencapai dua meter, tapi angin kencang membuat gerakan gelombang tinggi akan terjadi begitu cepat menuju selat Bali."
"Dari sini?" Rafka menunjuk perairan sebelah selatan pulau Jawa.
"Benar Pak."
"Berapa lama gelombang itu akan sampai ke selat Bali?"
"Sekitar sepuluh menit, Pak."
Rafka mengangguk berterimakasih dan undur diri dari sana, ia harus segera menghubungi Caramel. Rafka tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Caramel. Ia biasa memberikan peringatan kepada masyarakat terkait cuaca ekstrem tapi kepada istri sendiri mengapa ia tidak bisa melakukannya.
"Halo."
Dada Rafka berdesir mendengar suara Caramel untuk pertama kalinya sejak pertengkaran hebat mereka semalam.
"Caramel, aku tahu kamu masih marah tapi sekarang tolong dengarkan aku, kamu percaya sama aku kan?"
"Ada apa?"
"Pakai pelampung mu sekarang, lakukan dengan perlahan jangan panik."
"Kenapa emangnya, orang-orang nggak ada yang pakai pelampung."
"Gelombang tinggi akan menuju perairan selat Bali dalam waktu kurang dari sepuluh menit, aku berharap kapal kalian bisa menahan gelombang tinggi itu tapi kau tetap harus pakai pelampung, tolong dengarkan aku kali ini saja." Suara Rafka gemetar. Rasanya ia ingin terbang membawa Caramel keluar dari kapal itu. "Simpan barang-barang penting di dalam tempat tahan air."
"Apa kapal ini bakal tenggelam?"
"Tidak Caramel, hanya untuk berjaga-jaga, aku harus memastikan kamu baik-baik saja."
"Kamu nggak usah khawatir."
"Yang terpenting kenakan pelampung dan jangan panik, kapten akan memberikan arahan kepada penumpang jika memang terjadi sesuatu yang buruk pada kapal."
__ADS_1
"Iya."
"Aku akan tutup teleponnya, kamu harus lakukan semua yang aku katakan barusan." Rafka memutus sambungan setelah Caramel mengiyakan ucapannya.