Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Empat Puluh Empat


__ADS_3

"Rafka, lihat deh!"


Suara Caramel mengalihkan perhatian Rafka dari layar laptop miliknya. Rafka mendongak—menoleh pada sang istri yang entah berapa lama mematut diri di depan cermin setelah mondar-mandir dari walk in closet ke meja rias. Pemandangan yang hampir setiap hari Rafka saksikan saat Caramel memilih baju yang tepat untuknya.


Setiap pagi ketika hendak berangkat kerja Rafka mendapat giliran mandi terakhir tapi ia selalu selesai bersiap-siap terlebih dahulu. Rafka memaklumi bahwa wanita butuh waktu lama karena harus merias diri apalagi profesi Caramel mengharuskannya tampil menarik. Rafka tak pernah kesal apalagi marah, meski begitu Caramel telah berusaha menjadi istri yang baik dengan menyiapkan pakaian untuknya.


"Kenapa?" Rafka memperhatikan Caramel dari ujung rambut hingga kaki.


Caramel mengacak rambutnya frustrasi, ia menunjukkan resleting rok nya yang tidak bisa ditarik ke atas karena terhalang perutnya yang semakin membuncit.


"Kita harus membuat ukuran rok yang lebih besar, pasti tidak nyaman seperti ini." Rafka melangkah menghampiri Caramel, melihat saja membuatnya pengap apalagi Caramel yang menjalaninya.


"Nggak apa-apa deh hari ini dipaksa dulu, ayo bantuin." Caramel akan membeli rok span yang memiliki lingkar perut lebih besar nanti setelah pulang kerja. Tidak mungkin membelinya sekarang walaupun jarak Grand Indonesia sangat dekat dari apartemen nya tapi tak ada toko buka dijam segini.


"Hm, yakin?" Tanya Rafka terkejut, ia tidak mau rok sempit itu akan menyakiti Caramel maupun bayi mereka di dalam sana. "Bagaimana kalau—"


"Bayinya nggak akan kegencet, dia dilindungi selaput di dalam rahim ku." Caramel menepuk bahu Rafka meyakinkan sang suami bahwa tak masalah sedikit menarik paksa resleting tersebut.


"Kamu akan tersiksa jika berpakaian seperti ini hingga nanti sore." Rafka bisa membayangkan betapa tidak nyamannya pakaian yang kekecilan dan harus dikenakan seharian penuh.


"Ayo coba dulu." Caramel tetap pada pendiriannya untuk mengenakan rok tersebut, lagi pula ia sudah terbiasa mengenakan pakaian ketat yang membentuk tubuh.


Rafka mengalah, ia memegang resleting rok Caramel dan bersiap menariknya ke atas.


"Aku tahan napas ya, aku hitung sampai tiga terus kamu tarik ke atas."


"Um." Rafka mengangguk.


"Satu ... dua ... tiga yok!" Caramel menahan napas agar perutnya sedikit kempes bersamaan dengan itu Rafka menarik resleting ke atas.


Kreeek!


Rafka dan Caramel mendelik mendengar suara kain robek lalu saling berpandangan. Apalagi jika bukan rok Caramel yang robek, mereka melihat ke bawah. Rok ketat sebatas lutut itu robek sepanjang 10 centimeter membuat paha Caramel terlihat.


Ya ampun, malu banget! sama suami sendiri sih tapi tetep aja malunya nggak ketulungan.


"Aku nggak kerja deh hari ini!" Caramel langsung ngacir dari hadapan Rafka karena malu, ia masuk ke walk in closet dan menutup pintu.


Rafka melongo Caramel menghilang begitu cepat, tadinya ia ingin bilang kalau rok itu tak mungkin cukup walaupun dipaksakan. Namun Rafka tidak mau membuat Caramel tersinggung sehingga ia urung mengatakannya. Bukankah wanita paling sensitif soal bentuk tubuh dan semacamnya.


"Yakin kamu tidak kerja?" Rafka menempelkan kepalanya ke pintu yang menghubungkan walk in closet dengan kamar agar Caramel bisa mendengar suaranya.


"Nggak mungkin aku kerja pakai piyama kan?" Caramel membuka pintu, ia sudah mengganti pakaian kerjanya dengan kimono satin berwarna merah muda.


Rafka mengangguk, "nanti kita cari pakaian yang pas untukmu." Ia mengusap puncak kepala Caramel dengan lembut, "kamu hati-hati di rumah." Katanya lagi.


"Ayo aku anterin ke depan." Caramel menggandeng tangan Rafka, membawa paper bag berisi makanan buatannya. Caramel bangun pagi demi memasak bekal untuk Rafka, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk sang suami. Walaupun Caramel tidak tahu apakah rasanya akan enak di lidah Rafka yang penting ia sudah berusaha.


Ketika Caramel dan Rafka membuka pintu bersamaan dengan itu juga Rama keluar dari apartemen nya disusul Adena, mereka sedang mengangkut barang-barang ke tempat tinggal baru. Mereka saling melihat dengan suasana canggung enggan menyapa lebih dulu.


"Sana masuk." Rafka mengambil alih paper bag di tangan Caramel.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan." Caramel mengembangkan senyum manisnya.


"Iya." Rafka melangkah melewati Rama dan Adena begitu saja lagi pula urusan mereka sudah selesai. Rafka tidak punya alasan untuk bicara dengan mereka apalagi hanya sekedar menyapa, ia bukan orang yang pandai berbasa-basi.


"Cara!"


Caramel menghentikan langkah, menoleh kaku kepada Adena yang memanggilnya. Caramel menegang saat Adena menghampirinya, ia mencengkram piyamanya di dalam saku melirik kanan dan kiri bersiap-siap jika saja Adena menyerangnya lagi maka ia akan melawannya dengan barang apapun yang ada di sekitarnya. Caramel masih trauma dengan kejadian satu bulan lalu tersebut, apalagi Rafka tidak ada disini. Sebenarnya Caramel bisa saja melawan asal Adena tidak membawa senjata tajam.


"Hari ini kami mau pindah." Tukas Adena.


"Oh." Caramel mengangguk samar. Lalu apa?


"Makasih karena kamu berbaik hati mencabut tuntutan itu, makasih udah maafin aku."


Caramel menggeleng samar, ia bukannya memaafkan Adena.


"Mas Rama dan aku nggak akan ganggu kamu lagi, kami pindah ke Thamrin Residence."


Caramel mendelik, nggak kurang deket buk, itu sama aja kalian nggak pindah, jalan kaki dari sini juga bisa.


"Kok jauh?" Caramel memiringkan kepalanya, maksudnya demi kerang ajaib kok deket banget sih!


"Kami udah pilih yang paling deket biar nggak ribet bawa barangnya, itu juga sama strategisnya dengan Kempinski."


"Semoga betah ya." Jangan pernah kesini lagi.


"Iya." Adena mengangguk, ia berpamitan seolah berteman baik dengan Caramel, "ini kenang-kenangan dari aku, walau bagaimanapun kita tetangga, aku juga ngasih buat yang lain kok." Adena menyodorkan kotak berisi puding buah yang sudah dipesannya untuk para tetangga sebagai salam perpisahan.


Rama menyusul Adena, tadinya ia tidak ingin pamit tapi setelah beberapa saat melihat Caramel, ia ingin bicara sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan apartemen ini. Rama salah fokus pada perut buncit Caramel yang mulai terlihat, ia pikir Caramel bohong soal kehamilannya. Ternyata Caramel benar-benar telah melupakan Rama, itu adalah kenyataan pahit yang sekarang Rama rasakan. Kata-kata kejam yang Caramel ucapkan tidak bisa membuat Rama membencinya, Rama masih memiliki rasa yang sama sejak dulu.


"Selamat tinggal." Rama mengulurkan tangan.


"Ya." Caramel mengangguk tanpa membalas uluran tangan Rama, tangan kanannya sibuk memegang puding pemberian Adena.


Posisi tangan Rama masih menggantung di udara—kesepian tak ada yang menyambutnya seperti jomblo dimalam minggu.


"Kami pergi dulu Car." Adena menarik tangan Rama dan menggandengnya untuk menutupi rasa malu sang suami. Dari pada berlama-lama dengan suasana awkward begini, lebih baik mereka segera pergi. Lagi pula Caramel tidak nyaman dengan keberadaan mereka, Adena harus pengertian.


"Makan nggak ya?" Caramel masuk, meletakkan puding di atas meja makan. Aroma buah-buahan segar menguar saat Caramel membuka tutupnya, air liur langsung memenuhi rongga mulutnya. Penampilan puding itu sangat cantik bahkan mengalahkan Caramel yang hanya mengenakan piyama.


Caramel takut jika Adena memasukkan racun ke dalam puding tersebut karena dendam. Caramel bingung harus memakan puding itu atau membiarkannya saja sampai Rafka datang. Apa ia akan minta Rafka makan lebih dulu? tentu saja tidak, itu sama saja menjadikan Rafka sebagai percobaan.


"Telfon Kayla aja deh." Caramel bergegas pergi ke kamar mengambil ponsel untuk menghubungi Kayla. Caramel tidak akan makan puding itu dan sebagai gantinya ia memesan salad buah buatan Kayla, bukankah keduanya sama-sama buah.


"Ha—"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


"Ish kenapa nih si Kayla, tumben banget nggak aktif nomornya." Caramel membanting ponselnya ke atas tempat tidur karena bukan suara Kayla yang menyambutnya melainkan suara operator.


Caramel kembali mengambil ponselnya yang baru saja ia lempar. Ibu jarinya bergerak lincah di atas layar datar ponselnya mengirim pesan kepada Jane.

__ADS_1


"Kaga aktif juga, mereka berdua janjian apa gimana nih." Caramel mengomel, sekarang apa yang harus ia lakukan sendiri di rumah. Biasanya ia akan nonton film dengan Jane dan Kayla tapi sekarang mereka sama-sama tidak bisa dihubungi, awas saja kalau ketemu nanti!


"Mending gue kerja aja dari pada karatan sendirian disini." Caramel melompat menuju walk in closet mengambil kemeja yang tadi dibiarkan tergeletak bersama rok robek miliknya. Caramel menarik celana bahan hitam dari lemari, ia akan mengenakan celana untuk hari ini daripada bersikukuh mencoba semua rok yang sudah kekecilan untuknya.


******


"Caramel nggak sadar kalau hari ini ulang tahunnya?" Danu menarik kursi lebih dekat dengan Rafka, ia mendengarkan ucapan sahabatnya dengan seksama tapi tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


"Sepertinya tidak." Rafka menggeleng, pagi tadi Caramel sama sekali tidak menyinggung soal ulang tahun. Biasanya wanita akan bertanya ini hari apa? jika sang lelaki menjawab hari Senin maka ih kamu lupa ya sama hari ulang tahunku selanjutnya bencana akan menimpa lelaki itu karena lupa pada hari penting. Wanita memang suka bermain tebak-tebakan, jika salah maka lelaki akan menanggung akibatnya.


"Yakin lu?" Danu tidak yakin jika Caramel benar-benar lupa hari ulang tahunnya. "Lu kan orangnya nggak peka, mungkin Caramel udah ngode tapi elu nya nggak sadar."


"Saya yakin dia lupa." Tukas Rafka lagi penuh keyakinan.


"Ya udah deh gampang nanti gue beli balon-balonnya buat dia." Danu kembali mendorong kursinya seraya mengibaskan tangan, soal memberi surprise ia jagonya. Danu paling pandai membuat wanita meleleh seperti es krim di bawah terik matahari.


Rafka sudah membuat rencana kejutan ulang tahun untuk Caramel, nanti Danu yang akan membeli kue serta balon seperti kejutan pada umumnya sementara Rafka pergi ke tempat kakek Jono membuat kerajinan tangan untuk Caramel.


"Aku ingin kuenya berwarna coklat dan tidak banyak corak." Rafka menoleh pada Danu yang fokus pada komputer.


"Iya pokoknya lu serahin semuanya sama gue." Balas Danu, "gue punya toko kue langganan, pokoknya lu terima beres deh."


Rafka mempercayakan semua kepada Danu karena sepertinya kali ini sahabatnya itu bisa diandalkan. Rafka percaya karena Danu memiliki lebih banyak pengalaman soal ini dibandingkan dengannya. Danu memang ahli membuat wanita senang dengan memberi hadiah.


Sepulang kerja Danu langsung menuju toko kue langganan nya sementara Rafka pergi ke toko kakek Jono untuk membuat kerajinan tangan. Rafka sudah membuat janji dengan kakek Jono sejak tiga hari yang lalu.


Rafka, aku ke kantor kamu ya sekalian makan seblak deket sana.


Rafka mengangkat alisnya melihat satu pesan masuk dari Caramel, "kenapa mendadak ingin pergi ke kantor, padahal dia sedang di rumah?" Rafka mencoba tenang, ia menyelipkan earpods dan mendial nomor Caramel.


Rafka menginjak gas keluar dari area kantornya, masih menunggu Caramel mengangkat teleponnya.


"Kamu udah keluar?" Suara Caramel sedikit kabur oleh suara kendaraan bermotor.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin makan seblak, biar aku bawakan untukmu." Ucap Rafka.


"Nggak usah, kita makan disana aja ini aku lagi di jalan mau ke kantor kamu."


"Kamu nggak perlu keluar rumah sayang, aku yang akan membelinya."


"Tanggung lah, aku udah berangkat."


"Kenapa nggak bilang aja kalau kamu ingin makan seblak, jadi nggak perlu keluar."


"Ya gimana, beres kerjaan tiba-tiba aku pengen nyusul kamu."


"Bukankah hari ini kamu libur?"


"Sorry aku lupa bilang sama kamu kalau aku kerja tapi pakai celana."


Kini Rafka tidak bisa tetap tenang, rencana yang sudah ia susun dengan rapi harus diatur ulang karena ternyata Caramel tidak berada di apartemen. Bahkan sekarang Caramel dalam perjalanan menuju kantor Rafka. Siapa sangka jika Caramel akan tetap bekerja walaupun tak ada rok span yang pas di tubuhnya.

__ADS_1


"Sebentar, aku tutup dulu teleponnya." Rafka menekan ikon merah bergambar telepon pada layar ponselnya. Ia harus memutar otak mencari ide agar kejutan untuk Caramel tetap berjalan sesuai rencana.


__ADS_2