
Ctek! Ctek!
Suara tombol lampu ruangan mengejutkan Rafka yang sedang berganti pakaian, ia menduga Caramel baru saja masuk ke apartemen mereka dan langsung menyalakan lampu karena tidak suka gelap—bukan tidak suka lagi tapi takut. Rafka bukannya sengaja membuat rumah menjadi gelap gulita tanpa penerangan, ia buru-buru ke kamar dan ganti pakaian karena gerah akibat menahan emosi sepanjang perjalanan dari Grand Indonesia ke apartemen.
"Rafka!"
Rafka mengabaikan panggilan Caramel, ia duduk tenang di atas tempat tidur dan menyalakan televisi seperti biasa setelah pulang kerja. Rafka berusaha fokus pada tayangan berita di televisi tentang kondisi Jakarta saat ini.
"Rafka, aku minta maaf." Caramel masuk ke kamar dan langsung duduk di samping Rafka dengan wajah sendu. Rafka tidak tahu apakah Caramel benar-benar sedih atau sengaja memasang wajah seperti itu agar ia memaafkannya.
"Rafka, aku salah aku minta maaf, tolong jangan marah kayak gini." Caramel meraih lengan Rafka dan mengusapnya dengan lembut.
"Apakah sekarang ucapanku tidak ada artinya untukmu?" Suara dingin Rafka membuat Caramel mendongak kaku.
"Bukan gitu Ka." Caramel menelan saliva berusaha mencari kata-kata yang tidak akan menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka. Namun dari awal Caramel memang salah sehingga ia tidak tahu harus berkata apa. "Aku cuma pengen tahu, aku penasaran merek lipstik yang dipakai Mama tiri kamu."
"Kalau hanya sekedar lipstik aku bisa membelikannya berpuluh kali lipat dibandingkan dengan lipstik pemberiannya, aku tidak tahu apa arti riasan untuk seorang wanita sehingga kamu mengabaikan bahkan membohongiku."
"Ini bukan masalah kamu beliin atau enggak."
"Bagaimana jika Mama melihat mu tadi, dia pasti lebih kecewa."
"Aku bohong karena nggak mau nyakitin kamu, itu aja."
"Kalau tidak mau menyakitiku harusnya kamu jangan pernah pergi menemuinya diam-diam."
"Aku minta maaf, iya aku salah aku egois." Caramel merosot duduk di atas lantai menggenggam tangan Rafka.
"Kamu tidak ingin menyakitiku dengan cara berbohong?"
Caramel mengembuskan napas keras dan menunduk dalam, ia takut dan ingin menangis tapi sebelum Rafka memberinya maaf ia harus menahan tangisannya.
"Lagian kamu kenapa tiba-tiba ada Popolamama, kamu ngikutin aku?" Tanya Caramel.
Rafka mengatup bibir tidak menjawab pertanyaan Caramel, "makan lah kamu pasti lapar." Ia beranjak dari duduknya melewati Caramel.
"Kamu mau kemana?" Pandangan Caramel mengikuti arah perginya Rafka. Ia melihat Rafka masuk kamar mandi.
Caramel mengusap perutnya, ia memang lapar tapi bagaimana bisa makan enak jika suasana hatinya sedang kalut seperti ini. Makanan tak akan bisa melewati kerongkongannya dengan mulus menuju lambung jika Rafka masih marah.
Caramel menemukan sesuatu yang paling ditakutinya selain hantu pada film horor, atau mandi sendiri di tempat asing yakni kemarahan Rafka. Caramel tidak bisa mengatasi ketakutan menghadapi kemarahan Rafka dengan mudah. Apalagi kali ini ia memang bersalah, Caramel akan mengingat ini sebagai sesuatu yang tak boleh dilakukannya lagi di masa depan.
"Rafka .... " Caramel melongokkan kepala melalui pintu kamar mandi. Ia melihat punggung Rafka penuh dengan busa di bawah shower. Perlahan busa itu luruh bersama air yang mengguyur tubuh kekar Rafka.
Rafka tidak menjawab panggilan Caramel, bahkan ia tetap memunggungi wanita itu. Ia pura-pura tidak mendengar panggilan itu.
__ADS_1
Caramel kembali menutup pintu kamar mandi membalikkan badan melangkah menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. Dari pada mandi ia lebih memilih untuk pergi ke ruang makan mencari apakah ada sesuatu yang bisa dimakan. Jika tidak ada, ia akan memasak menggunakan bahan-bahan di dalam kulkas. Ia juga akan menyiapkan makan malam untuk Rafka, siapa tahu setelah itu emosi Rafka bisa sedikit reda.
"Pasta?" Caramel mengerutkan kening melihat bungkusan di atas meja makan. Dari baunya Caramel bisa menebak bahwa itu adalah Spaghetti Carbonara dengan potongan smoked beef seperti yang ia pesan di Popolamama barusan.
Dengan semangat Caramel meraih garpu setelah membuka kotak makanan tersebut. Ia menggulung banyak spaghetti dan melahapnya. Caramel memejamkan mata merasakan cream susu dan keju yang bercampur dengan spaghetti begitu sempurna memanjakan lidahnya.
"Apa yang ingin kamu makan nanti biar aku belikan"
"Pasta deh pasta."
Caramel berhenti mengunyah mengingat percakapan singkatnya dengan Rafka tadi pagi. Berarti Rafka pergi ke Popolamama bukan karena sengaja mengikutinya tapi untuk membeli pasta.
Sebenarnya Caramel tidak benar-benar menginginkan pasta, ia hanya asal menjawab tapi Rafka masih menyempatkan diri memenuhi keinginan Caramel sepulang kerja.
Tiba-tiba Caramel cegukan menyadarkannya dari lamunan singkat tentang Rafka. Rasa bersalah semakin menyelimuti Caramel karena telah menuduh lelaki itu membuntutinya.
"Jahat banget sih gue." Caramel terduduk di atas kursi meja makan, garpu yang tadi dipegangnya terlepas begitu saja.
Caramel ingin lari ke tempat yang jauh karena terlalu malu untuk bertatap muka dengan Rafka. Ia salah tapi masih bisa menuduh Rafka padahal Rafka sudah begitu baik membelikannya makanan.
Hujan deras mengguyur Jakarta menjelang malam, kendaraan berdesakan ingin saling mendahului di tengah kemacetan. Membunyikan klakson dengan tidak sabar membuat suasana semakin semrawut.
Caramel duduk memeluk lutut sembari memandang tetesan air hujan yang sesekali mengenai pagar balkonnya karena terkena hembusan angin. Ia menangis di tengah gemuruh hujan bercampur petir. Hujan semakin membuat hatinya galau.
Mungkin Caramel tak sepenuhnya mengerti bagaimana perasaan Rafka karena sejak kecil ia hidup di lingkungan keluarga yang damai. Seperti ucapan Adena beberapa waktu lalu bahwa Caramel tak akan mengerti perasaanya karena belum memiliki anak.
Pintu kamar terbuka sedetik kemudian Rafka muncul dengan rambut basah usai mandi. Rafka menoleh ke kanan dan kiri mencari Caramel. Ia melangkah ke meja makan dan melihat spaghetti yang hanya dimakan sedikit.
Bayangan Caramel terlihat samar membelakangi jendela kaca besar yang ditutupi gorden putih. Gemuruh hujan masih terdengar deras seperti tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
Kenapa dia membiarkan tubuhnya kedinginan di luar sana? Batin Rafka.
Awalnya Rafka ingin menghampiri Caramel agar istrinya itu menghabiskan makanannya tapi tidak jadi, ia justru kembali ke kamar dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Mereka bukan anak kecil lagi, Caramel akan makan sendiri tanpa disuruh saat lapar nanti. Lagi pula Rafka masih enggan berbicara dengan Caramel, kemarahan masih menguasai hatinya saat ini.
Langit mulai gelap ketika Rafka menutup gorden kamar dan membuka laptop untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Rafka mendengar Caramel menutup pintu menuju balkon. Rafka menunggu beberapa menit Caramel masuk kamar tapi wanita itu tidak juga muncul. Rafka menebak Caramel sedang menghabiskan pasta yang ia beli tadi. Syukurlah jika Caramel mau makan, Rafka tidak ingin istrinya kelaparan.
"Intensitas hujan masih tinggi hingga besok?" Rafka menyangga dagunya dengan tangan memperhatikan layar laptopnya. Jika semalaman hujan maka besok pasti banjir, mereka akan kesulitan pergi kerja jika itu terjadi.
"Kamu belum makan kan?" Caramel masuk ke kamar membawa semangkuk mie instan rasa soto dengan telur dan sayur di atasnya. "Aku bikinin mie."
Rafka menatap Caramel, bukannya kamu tidak suka aroma mie?
Caramel buru-buru keluar setelah meletakkan mie tersebut di atas nakas jika tidak ia akan muntah karena menghirup aroma mie instan terlalu lama. Bahkan ia menggunakan penjepit jemuran selama memasak tadi.
Rafka tak bisa pura-pura menolak mie yang begitu menggodanya apalagi ditambah telur dan sayuran kesukaannya. Dengan gerakan cepat Rafka meraih mie dan menyeruput kuah hangatnya. Makanan yang dulu paling dihindari tiba-tiba menjadi menu favoritnya saat ini, berkebalikan dengan Caramel.
__ADS_1
"Biar aku yang cuci mangkok nya." Tukas Caramel melihat Rafka keluar kamar membawa mangkok yang sudah kosong.
"Tidak perlu." Rafka berjalan menuju dapur untuk mencuci mangkuk bekas mie. Sekilas ia melihat bungkus pasta dari restoran Popolamama berada di tempat sampah, itu artinya Caramel sudah menghabiskan pasta tersebut.
"Mau apel nggak?" Caramel menyodorkan piring kecil berisi apel yang sudah dikupas dan dipotong-potong. Ia berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.
Kenapa mata mu sembab? berapa lama kau menangis Cara?
"Untuk mu saja, terimakasih sudah memasak makan malam untukku." Balas Rafka dengan wajah datar lalu kembali ke kamar.
Wajah Caramel muram mendapat penolakan dari Rafka karena sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sejak awal Rafka memang menerima Caramel apa adanya.
******
Dengan gerakan pelan Caramel naik ke tempat tidur, angka pada layar ponsel Caramel masih menunjukkan pukul setengah 8. Namun sepertinya Rafka sudah terlelap dengan lampu ruangan yang sengaja dimatikan. Hanya ada sinar temaram dari lampu tidur di sisi kiri dan kanan tempat tidur.
Caramel menarik selimut yang masih terlipat rapi, ia juga menyelimuti tubuh Rafka karena posisinya yang sedikit menekuk dengan tangan bersembunyi di tengah paha terlihat seperti orang kedinginan.
Gini rasanya berantem sama suami sendiri, nggak enak banget sumpah!
Posisi mereka sama-sama berada di ujung ranjang menyisakan ruang kosong cukup luas di bagian tengah.
Caramel melirik Rafka yang konsisten memunggunginya. Caramel tidak bisa tidur jika seperti ini, ia sudah terbiasa tidur di pelukan Rafka. Namun malam ini ia harus kembali seperti saat belum menikah, tidur sendirian sambil memeluk guling.
Sebenarnya Rafka terbangun ketika Caramel menyelimutinya barusan tapi ia enggan berubah posisi walaupun lama-lama tubuhnya pegal.
"Ah!" Caramel terkejut mendengar suara petir begitu kencang seperti tepat mengenai kaca jendela.
Rafka ikut kaget bukan karena suara petir tapi karena pekikan Caramel.
Caramel menutup mulutnya, ia bisa membangunkan Rafka dengan suaranya. Caramel buru-buru menyembunyikan kepalanya di bawah selimut.
"Anjim sialan banget sih nih petir." Caramel mengomel dengan suara bisikan. Ia mendorong tubuhnya lebih dekat dengan Rafka agar bisa sedikit tenang. Ia tidak mau bergadang semalaman karena jauh dari Rafka.
"Kamu berdosa banget Tir udah ngagetin gue." Omelnya lagi.
Sekitar setengah jam kemudian Rafka berbalik setelah memastikan Caramel benar-benar tidur. Rafka melihat wajah tenang Caramel ketika tertidur. Bagaimana ini? ia tidak tega mendiamkan Caramel terlalu lama.
"Kenapa kamu membuatku marah hari ini? aku tidak ingin marah padamu." Rafka mengusap kepala Caramel lalu mengecup keningnya pelan.
Dibandingkan dengan kemarahan yang menguasai hatinya, rasa cinta Rafka jauh lebih besar kepada Caramel.
Caramel lagi galau gara-gara dicuekin babang Rafka 😥
__ADS_1