Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Dua


__ADS_3

Bu Caramel mengalami dehidrasi akut disebabkan oleh muntah yang terus menerus, maaf kami mengatakan ini tapi Bu Caramel termasuk luar biasa karena bisa bertahan dengan keadaan seperi itu dalam waktu yang cukup lama.


Beberapa saat yang lalu dokter memberi penjelasan kepada Rafka tentang kondisi Caramel. Saat ini dokter masih menangani Caramel di dalam sana. Rafka tidak kuasa melihat ke dalam, ia hanya bisa menunduk di kursi tunggu menanti kabar baik dari dokter.


"Rafka, Caramel kenapa?"


Lamunan Rafka buyar ketika mendengar suara ibu Caramel dari ujung koridor, ia langsung beranjak dan menghampiri mama mertuanya.


"Maafkan saya, Ma." Rafka memeluk mama Caramel dan menangis tersedu-sedu, ia tak pernah menangis hebat sebelumnya bahkan saat orangtuanya memutuskan untuk bercerai dulu, Rafka tidak menangis sekuat ini.


"Kenapa kamu minta maaf?" Mama Caramel menepuk punggung Rafka untuk menenangkannya walaupun ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaaan Caramel di dalam sana, ia hanya tahu bahwa Rafka telah menjaga Caramel dengan baik.


"Caramel belum siuman?" Suara berat Papa Caramel membuat Rafka spontan melepas pelukannya, ia menjawabnya dengan gelengan samar.


"Dokter bilang Caramel mengalami dehidrasi yang cukup parah." Terang Rafka dengan suara tidak terlalu jelas.


"Sekarang kita berdoa agar Caramel baik-baik saja." Mama Caramel menarik tangan Rafka untuk kembali duduk di kursi tunggu.


"Pa, saya minta maaf." Kini Rafka meminta maaf kepada papa mertuanya karena merasa telah gagal menjaga anak semata wayang mereka. Rafka masih ingat ucapan papa Caramel setelah akad nikah, ia telah berjanji akan menjaga Caramel dengan tulus.


"Sudah lah." Papa Caramel tersenyum samar, ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya kepada Caramel—anak mereka satu-satunya. Apalagi saat ini Caramel sedang hamil, ada dua nyawa yang harus diselamatkan.


"Kamu tahu kan, Caramel itu anak yang kuat, dulu waktu kecil dia pernah jatuh dari tangga paling atas, kami semua langsung panik takut dia kenapa-kenapa, waktu kita samperin dia malah ketawa, katanya lumayan guling-guling di tangga." Mama Caramel tertawa di ujung ceritanya mencoba mengingat masa kecil putri mereka sekaligus membesarkan hati Rafka.


"Dia itu pemberani bahkan waktu sekolah sering berantem sama kakak kelasnya." Mama Caramel melanjutkan ceritanya karena Rafka tampak tertarik dengan itu.


"Tapi semakin dia tumbuh besar, dia mulai menunjukkan kesukaannya nonton film horor, alhasil itu bikin dia takut gelap dan nggak mau mandi sendirian di tempat asing."


Rafka tertawa disela tangisnya, ia menghapus pipinya yang basah oleh air mata. Kenapa ini, seharusnya ia yang menghibur orangtua Caramel bukan sebaliknya.


"Saya pertama kali bertemu Caramel waktu sekolah kami mengadakan persami, waktu saya berkeliling sekolah untuk mengawasi adik-adik kelas, saya melihat seorang gadis menangis di bawah pohon dan berteriak kalau dia tidak ingin dimakan hantu karena sebentar lagi ulang tahunnya." Senyum Rafka mengembang lebar membayangkan saat pertama kali bertemu Caramel.


"Saya memberinya lilin untuk penerangan dan saya bisa melihat wajah cantik Caramel walaupun sedang menangis, sejak saat itu saya tidak bisa berhenti memikirkannya."


"Oh ya?" Mama Caramel terkejut mendengar cerita Rafka, "jadi kalian pernah bertemu sebelum rencana perjodohan ini?"


"Iya Ma, tapi Caramel tidak mengingatnya."


"Kamu belum cerita sama dia?"


"Belum lama ini saya menceritakan momen pertemuan pertama kami kepadanya."


"Sungguh keajaiban Tuhan, Caramel beruntung memiliki mu."


"Tidak ma, saya yang beruntung karena telah memiliki Caramel."


Mama Caramel tersenyum senang karena tidak salah memilihkan jodoh untuk Caramel, ia senang karena Rafka terlihat amat mencintai putrinya.


"Maaf, ada kah pihak keluarga Ibu Caramel?" Seorang dokter keluar dari UGD.


"Saya dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Rafka buru-buru beranjak menghampiri dokter berjilbab tersebut.


"Dia berhasil melewati masa kritis dan sudah sadarkan diri, kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat."


"Terimakasih dokter." Rafka mengusap wajahnya yang dari tadi terasa panas.


Sementara itu di dalam ruang UGD Caramel baru membuka mata dengan tempat yang asing untuknya. Aroma obat langsung menyerang indra penciuman Caramel membuatnya langsung bisa menebak bahwa ini adalah rumah sakit. Beberapa perawat tampak mengelilinginya dan melakukan sesuatu yang Caramel tidak tahu. Kepala Caramel masih terasa pening sehingga ia harus memejamkan mata lagi.


Mana Rafka?


Begitu pertanyaan Caramel dalam benaknya ketika pertama kali membuka mata. Caramel pikir ia tak akan melihat dunia lagi setelah pingsan tadi.


Kerongkongan Caramel terasa kering seperti habis berjemur di bawah terik matahari lalu berlari keliling lapangan 10 kali. Caramel tidak lebay, rasanya lebih lelah dari itu.


"Caramel!"


Itu suara Rafka kan, ah ya Tuhan ... Gue nggak pernah sebahagia ini denger suara Rafka.


Mata Caramel kembali terbuka mendengar suara Rafka memanggilnya. Caramel tersenyum tipis melihat Rafka menyambutnya di depan pintu.

__ADS_1


"Syukurlah kau sudah sadar sayang." Rafka menggenggam tangan Caramel yang tidak dipasangi jarum infus. Ia mengecup punggung tangan Caramel berkali-kali.


Mereka mendorong ranjang rawat Caramel untuk dipindahkan ke ruang rawat di lantai tiga.


Orangtua Caramel menunggu giliran lift berikutnya karena ruang lift tidak cukup untuk menampung lebih dari tiga orang ditambah ranjang rawat.


Pandangan Caramel terus tertuju pada Rafka yang setia menggenggam tangannya bahkan setelah mereka keluar dari lift. Melihat Rafka yang masih mengenakan batik biru membuat Caramel teringat pertemuan pertama mereka sebelum hari pernikahan di Pigeonhole Coffee. Itu adalah batik yang sama dengan pakaian Rafka saat ini.


Pertemuan pertama yang tak terlalu memberikan kesan bagus bagi Caramel. Waktu berlalu begitu cepat, Caramel tak ingat bagaimana ia mulai jatuh begitu dalam kepada Rafka. Caramel hanya benar-benar bersyukur karena telah menikah dengan laki-laki luar biasa seperti Rafka.


"Bu Caramel harus banyak istirahat, tekanan darah dan gula darahnya sangat rendah sehingga kami berikan infus dekstrosa untuk menaikkannya." Seorang perawat memeriksa infus Caramel.


"Apa itu sudah cukup untuk membuat keadaan istri saya kembali seperti semula?" Tanya Rafka kepada perawat tersebut.


Caramel melihat infus yang terpasang di punggung tangan kanannya, seumur hidup ini pertama kalinya ia harus diinfus dan dirawat di rumah sakit. Bagaimana rasanya? sakit? tidak juga, Caramel tidak merasakan apa-apa karena dalam keadaan pingsan saat dokter memasangkan infus kepadanya.


"Iya nanti kami akan mengecek keadaan Bu Caramel secara berkala." Perawat berpakaian putih hijau itu mengangguk dan tersenyum salah tingkah ketika melihat wajah Rafka lebih jelas. Mulutnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi.


"Ada lagi sus?" Rafka kembali bertanya karena perawat itu terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Maaf, bapak suami pasien?"


Ya iyalah, masa suami tetangga! Omel Caramel dalam hati, sayang ia tidak punya tenaga untuk memaki secara langsung kepada perawat itu.


"Iya." Rafka mengangguk dengan wajah bingung, mengapa masih bertanya.


"Oh, Pak Rafka ini orang BMKG ganteng yang sedang viral di tik tok ya?"


Caramel menarik-narik tangan Rafka agar tidak perlu menanggapi ucapan perawat tersebut. Caramel tak tahan ingin menendang perawat kepo itu keluar ruangan—andai ia tidak sakit.


"Kenapa sayang?" Rafka melihat Caramel. "Maaf sus, saya tidak mengerti ucapan anda, apakah sudah selesai?" Rafka memberi kode agar perawat itu keluar jika pemeriksaan sudah selesai.


"Oh sudah Pak, saya permisi dulu, jika butuh sesuatu gunakan nurse call di samping ranjang." Ia undur diri membungkuk sopan lalu keluar ruangan dengan satu perawat lainnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Rafka mengusap rambut Caramel yang sedikit berantakan, ia lega luar biasa saat dokter mengatakan Caramel sudah siuman tadi. "Kamu ingin makan apa, kau belum makan sejak tadi pagi."


"Sebentar, aku ambilkan minum untuk mu."


Pintu ruangan terbuka bersamaan dengan Rafka yang beranjak dari duduknya hendak mengambil air minum untuk Caramel. Orangtua Caramel datang bersama mama Rafka dan Febi.


"Bagaimana keadaan Caramel?" Tanya mama Rafka, ia panik karena tiba-tiba mendapat kabar bahwa Caramel harus dirawat di rumah sakit.


Caramel terharu melihat mama dan papanya, kekhawatiran begitu terlihat di wajah mereka.


"Caramel masih harus banyak istirahat." Rafka menjawab pertanyaan mereka.


"Pengen pindah tidur aja, Ma." Caramel berusaha tertawa agar tidak membuat mereka khawatir.


"Ih kamu tuh!" Mama Caramel memukul lengan anaknya pelan karena masih bisa bercanda disaat seperti ini.


"Tega ya Mama, anaknya sakit bukannya disayang masih aja dipukul." Caramel mengusap lengannya yang baru saja dipukul mamanya.


"Minum sayang." Rafka membantu Caramel menegakkan tubuhnya untuk minum air putih.


"Aku bawain jus buah buat Kak Cara." Febi mengeluarkan segelas jus dari dalam paper bag yang dibawanya.


"Makasih ya." Rafka mengambil jus tersebut dan memberikannya kepada Caramel.


Caramel meminum jus buah dari Febi hingga tersisa setengah, dibandingkan dengan air putih rasa asam dari buah membuatnya tidak ingin berhenti minum.


"Aku bawa banyak kok, aku masukin kulkas ya jadi kalau Kakak mau minum tinggal ambil." Febi melangkah mendekati kulkas mini dekat pintu masuk untuk memindahkan semua jus yang dibawanya ke dalam sana.


"Rafka." Panggil Caramel, tangannya terulur untuk meletakkan jus yang tersisa sedikit ke atas nakas lalu dengan sigap Rafka membantu Caramel meletakkannya.


Mama dan papa Caramel tersenyum melihat perlakuan Rafka kepada anak mereka. Rafka terlihat begitu mencintai Caramel dengan tulus. Mama Caramel tidak menduga bahwa Rafka sudah mengenal Caramel sejak SMA. Mereka tidak saling mencari tapi dipertemukan oleh takdir


"Mau pee." Bisik Caramel di telinga Rafka.


"Ayo." Rafka menelusup kan tangannya ke bawah tubuh Caramel.

__ADS_1


"Mau ngapain?" Caramel bingung karena Rafka justru hendak menggendongnya, "aku bisa jalan." Tukasnya.


"Caramel mau buang air kecil dulu, Ma." Rafka memberitahu mama Caramel yang melihatnya penuh tanya, mau dibawa kemana?


"Oh." Ekspresi bingung mama Caramel berubah menjadi senyuman.


"Bisa jalan aja nggak, malu tahu!" Lirih Caramel.


"Caramel, biar aja Rafka gendong kamu." Ujar mama Rafka agar Caramel tak perlu malu lagi pula keadaannya sedang seperti ini.


Caramel memekik pelan saat Rafka mengangkat tubuhnya menuju toilet, wajahnya memerah karena malu.


"Pelan-pelan ya." Dengan hati-hati Rafka mendudukkan Caramel di atas WC, ia menggantung infus Caramel pada tiang yang sudah disediakan.


"Aduh!" Caramel memegangi perutnya yang terasa penuh dengan kencing, "aduh lega banget, dari tadi pagi aku nggak pipis."


"Caramel, jangan seperti itu lagi." Rafka berjongkok di depan Caramel, memegang tangan sang istri yang tak lagi putih pucat.


"Kamu habis nangis?" Caramel mengusap pipi Rafka. "Aku udah baik-baik aja kok."


"Kamu nggak tahu betapa takutnya aku tadi saat melihatmu tidak merespon ku, aku takut." Rafka menatap Caramel lekat, bibirnya gemetar menahan tangis.


"Aku janji bakal makan banyak setelah ini." Caramel tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi, ia tidak mau membuat Rafka khawatir lagi.


"Pee nya udah?"


"Udah." Caramel sampai lupa kalau ia belum membersihkan bekas kencingnya dan mengenakan celana.


"Bantu aku berdiri." Pinta Caramel setelah selesai mengenakan celananya kembali. "Ngomong-ngomong aku belum kasih tahu kabar gembira buat kamu."


"Apa itu?"


"Aku dapet lebih dari lima ratus pesanan dalam waktu nggak sampai satu hari, hebat kan?" Mata Caramel berbinar saat menceritakan itu, ia meletakkan kedua tangannya di atas pundak Rafka.


"Kamu sudah bekerja keras sayang, kamu pantas mendapatkannya"


"Makasih udah sabar sama sifatku yang egois ini." Caramel berjinjit lalu tanpa aba-aba ia mencium bibir Rafka—lembut tapi dalam.


Awalnya Rafka terkejut karena ciuman itu terjadi secara tiba-tiba bahkan ia belum mempersiapkan diri. Ia memegang tengkuk Caramel menahan wanita itu lebih lama, menumpahkan rasa risau nya yang sedari tadi berkemelut mengganggu pikirannya.


"Cara, kalian nggak apa-apa kan, kok lama?" Suara ketukan pintu terpaksa membuat tautan Caramel dan Rafka terlepas.


"Maaf, aku—"


"Aku BAB Ma!" Caramel setengah berteriak, ia seperti mendapatkan energinya kembali setelah mencium Rafka.


"Bisa-bisanya kamu BAB ngajak Rafka, awas pingsan lo dia."


"Tidak, Ma." Sahut Rafka.


"Ya udah Mama hidupin blower nya ya."


"Iya." Jawab Caramel. Sedetik kemudian ia kembali mendaratkan ciuman pada bibir Rafka.


Mereka memejamkan mata menuangkan cinta melalui sebuah ciuman manis nan mesra. Hening. Hanya terdengar suara blower dari bagian langit-langit toilet dan juga detak jantung mereka yang saling memburu.


Wajah mereka merona dan panas bahkan setelah ciuman itu berakhir.


"Kenapa kita melakukan ini di toilet?" Rafka baru kembali ke dunia nyata setelah dibuat melayang oleh Caramel, akal sehatnya mulai berfungsi.


"Nggak apa-apa, lucu." Caramel tersenyum centil.


"Ayo segera keluar sebelum Mama memanggil kita lagi." Rafka mengusap bibir Caramel mencoba menghapus jejak.


"Sebelum Mama panggil atau sebelum—" Caramel melihat ke arah bagian bawah tubuh Rafka.


"Jangan melihat itu." Rafka meraih infus Caramel sebelum ia membuka pintu dan keluar dari toilet berukuran 3×4 meter tersebut.


__ADS_1


__ADS_2