
Angin pagi berhembus tenang menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga hingga mengeluarkan aroma menenangkan. Burung-burung terbang menari riang gembira seolah memberi semangat kepada manusia di bawah sana.
Beberapa daun pohon trembesi yang mulai menguning berguguran terkena hembusan angin mengotori halaman sekolah yang sepi tanpa penghuni. Tuhan mengatur bumi dengan luar biasa, bahkan daun yang jatuh pun terjadi karena kehendak-Nya begitu pula dengan pertemuan manusia. Walaupun harus melewati jalan yang tidak mulus tapi akhirnya Tuhan akan tetap mempertemukan dua orang yang sudah ditakdirkan bersama dari awal.
Gedung tiga tingkat dengan plang bertuliskan SMA Pelita Nusa itu sudah banyak berubah. Bangunan sekolah yang bersebrangan dengan SMA Cahaya Bangsa itu telah melalui banyak perubahan, dua bangunan yang saling berhadapan itu sama-sama melakukan perkembangan untuk menunjukkan kemampuannya.
Namun bagi dua orang yang kini berada di depan gerbang Pelita Nusa itu, sebanyak apapun perubahan yang terjadi ia telah menaruh kesan mendalam. Walaupun tak banyak interaksi di antara mereka tapi tetap saja tempat itu menjadi awal mula kisah cinta bagi keduanya.
"Mau masuk?" Rafka menoleh pada Caramel yang berdiri di sampingnya. Mereka sudah berdiri di depan gerbang Pelita Nusa cukup lama, tak ada murid yang berkeliaran disana karena ini hari libur.
"Emang boleh?" Caramel menaikkan alisnya sebelah.
"Kita minta izin dulu." Rafka menarik tangan Caramel lebih dekat dengan gerbang yang tidak dikunci, ia melihat seorang lelaki paruh baya yang sedang sibuk menyapu halaman. "Permisi Pak." Sapa Rafka kepada tukang kebun yang masih sama sejak ia bersekolah, belum diganti oleh siapapun.
"Eh iya, ada apa Mas?" Tukang kebun itu beranjak menghentikan aktivitasnya demi melihat wajah lawan bicaranya lebih jelas.
"Maaf mengganggu, kami boleh masuk untuk lihat-lihat tidak, saya alumni Pelita Nusa tapi mungkin bapak sudah tidak mengenali saya." Rafka tersenyum tipis, biasanya murid yang tidak bisa dilupakan adalah mereka yang paling pandai, paling kaya dari semua teman seangkatan atau murid paling nakal dan tak pernah absen masuk ruang Bimbingan Konseling. Sedangkan Rafka bukan dari golongan itu. Ia hanya murid biasa yang pemalu dan tidak pandai bergaul apalagi populer.
"Kalau boleh tahu, angkatan tahun berapa ya?" Ia melihat keduanya, pertama Rafka lalu wanita di samping Rafka yang sedang hamil. Rupanya mereka pasangan suami istri yang ingin bernostalgia ke masa SMA dengan mengelilingi kampus yang sekarang sudah banyak berubah.
"2008." Tentu itu sudah sangat lama, jauh sebelum Pelita Nusa berkembang pesat seperti sekarang. "Saya hanya ingin berkeliling di sekitar sini tanpa mengganggu pekerjaan bapak." Tambah Rafka untuk meyakinkan tukang kebun tersebut. Rafka sudah lupa nama tukang kebun itu, entah lupa atau ia memang tidak tahu.
"Rafka bukan?" Ia membuka gerbang lebih lebar tanda mengizinkan Rafka dan Caramel masuk ke area sekolah lagi pula ini hari libur sehingga kedatangan mereka tidak akan menganggu.
"Hm?!" Rafka mengangkat alisnya sedikit terkejut karena ternyata tukang kebun itu mengetahui namanya, ia yakin tidak ada name tag yang terpasang di dadanya. "Iya benar, Pak."
"Mana mungkin saya nggak ingat, kamu kan yang suka datang paling pagi terus pulang nya paling lambat, saya sering lihat kamu duduk disana." Ia menunjuk sebuah kursi di bawah pohon trembesi yang menghadap langsung ke arah gerbang sekolah seberang.
"Oh." Rafka menelan salivanya dengan susah payah—salah tingkah. Itu adalah tempatnya saat menunggu Caramel keluar. Rafka tidak akan beranjak sebelum melihat Caramel keluar dari gerbang berwarna biru milik kampus Cahaya Bangsa.
Caramel memperhatikan perubahan raut wajah Rafka, rona merah begitu terlihat dari wajah sang suami. Memangnya sedang apa Rafka di kursi itu setiap pulang sekolah.
"Saya tahu kamu suka memperhatikan anak Cahaya Bangsa itu kan?" Tukang kebun itu nyengir, senang menggoda Rafka.
Rafka tersenyum salah tingkah, bagaimana mungkin diusianya yang sudah berkepala tiga ia bisa salah tingkah digoda seperti itu. Jika tidak menyangkut Caramel mungkin Rafka akan tetap konsisten dengan wajah datarnya.
"Sepertinya bapak tahu banyak." Rafka tersenyum lagi dan melirik Caramel yang menatapnya dengan ekspresi penuh tanya.
"Saya bisa mengerti perasaan kamu yang hanya berani memperhatikan dari jauh karena dia sudah punya pacar, kamu yang sabar sekarang dia pasti sudah bahagia dengan suaminya." Tukasnya bijak seperti Mario Teguh yang sedang memberikan kata mutiara kepada orang yang patah hati. "Walau bagaimanapun itu hanya kisah cinta masa lalu, kini kalian sudah bahagia dengan pasangan masing-masing." Tambahnya.
Rafka berdehem untuk menetralkan suaranya yang sedikit serak, "maaf Pak, wanita itu kini ada di samping saya."
"Benarkah?" Mata tukang kebun itu membulat terkejut karena tidak menyangka jika mereka sungguh bisa menjadi pasangan.
"Ya." Rafka mengangguk mengeratkan genggamannya pada tangan Caramel.
Caramel tersenyum lebar, ia membalas genggaman Rafka dengan tangannya yang lain. Ternyata mereka sedang membahas dirinya. Caramel sempat kesal karena Rafka dulu pernah memperhatikan wanita lain. Namun bagi Rafka tak ada wanita lain di hidupnya kecuali Caramel. Bahkan jika Rafka tak bisa memiliki Caramel maka ia akan hidup dengan ksesendirinya hingga akhir hayatnya.
"Selamat untuk kalian berdua, cinta memang sebuah keajaiban yang harus dijaga dengan sepenuh hati." Tukang kebun tersebut mempersilahkan Rafka dan Caramel berkeliling sementara ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Kalau kamu tidak sanggup berjalan, aku akan menggendong mu menuju lantai paling atas." Ucap Rafka ketika mereka melangkah melewati koridor di lantai satu yang merupakan ruang belajar untuk kelas 10.
"Aku sanggup kok." Tukas Caramel penuh keyakinan, ia sudah mengganti high heels dengan sneakers yang membuatnya lebih nyaman berjalan lama sekalipun.
"Kelas 12 adalah masa paling menyenangkan untuk ku."
"Kenapa?" Caramel menoleh, mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Tentu saja tujuan mereka adalah lantai paling atas karena dari sana mereka bisa melihat seluruh penjuru sekolah.
"Kau mau menebaknya?" Rafka tersenyum penuh arti.
Caramel mengerutkan kening, kenapa jadi suka main tebak-tebakan sih sekarang robot ku?
"Karena ada aku?" Caramel memiringkan kepala tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Bukan kah dunia Rafka hanya tentang Caramel? "Oke kalau menurutku kelas dua belas emang paling menyenangkan karena kita bisa jalan dengan penuh percaya diri dan kepala terangkat tanpa takut sama kakak kelas, tapi kamu bukan orang yang kayak gitu."
"Benar."
"Hm?"
"Benar karena ada kamu." Rafka menghentikan langkahnya di tengah-tengah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.
Caramel menahan napas ketika Rafka menyandarkan tubuhnya pada dinding. Caramel tidak bisa berpikir jernih saat Rafka menyingkirkan jarak di antara mereka. Rafka mendaratkan ciuman lembut di bibir Caramel. Awalnya Caramel terkejut tapi beberapa detik kemudian ia terbuai dengan kelembutan Rafka, ia memejamkan mata otomatis membalas ciuman tak terduga itu.
Caramel tidak menyangka mereka akan melakukan ini di gedung sekolah disaat mereka sudah tak lagi bersekolah. Entah lah, ini terasa aneh tapi yang lebih aneh lagi Caramel menikmatinya. Caramel lemas, ia tidak bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Namun ia sadar bahwa posisi mereka sedang berada di tengah tangga, tidak lucu kalau mereka jatuh ke bawah sana.
Tangan Caramel menelusup memeluk Rafka, ia berpegangan erat agar tidak jatuh. Caramel tak lupa kalau ia sedang mengandung.
"Kau tidak akan jatuh." Bisik Rafka di tengah-tengah ciuman mesra mereka. Ia menahan tubuh Caramel dengan satu tangan.
Aku percaya kamu, Ka. Kamu selalu jujur, kamu nggak pernah bohongin aku.
__ADS_1
"I love you, Caramel." Rafka mengusap bibir Caramel yang basah.
Caramel tercengang, apakah ini pertama kalinya ia mendengar Rafka mengucapkan kalimat itu? Kalimat yang begitu mulus ditangkap daun telinganya hingga masuk ke telinga bagian tengah lalu diubah menjadi getaran oleh gendang telinga. Ah ternyata ia masih ingat cara kerja telinga yang diajarkan guru IPA dulu. Namun anehnya proses yang terdengar rumit itu justru membuat hati Caramel begitu cepat luluh hingga tubuhnya lemas seperti jelly.
"Aku juga." Balas Caramel akhirnya setelah cukup lama terpaku di hadapan Rafka.
Rafka tersenyum, ia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik sang istri yang sekarang terlihat memerah.
"Kamu suka perhatiin aku dari situ?" Caramel menunjuk pohon trembesi yang memiliki daun sangat rimbun di salah satu sisi halaman sekolah. Mereka sampai di lantai empat menikmati pemandangan sekolah yang tampak asri dari atas sini.
"Ya, aku harus memastikan kamu pulang dengan selamat." Jawab Rafka tanpa melihat Caramel.
"Tapi aku balik sama Rama."
"Kalian naik motor."
"Kamu suka bersepeda."
"Ya, itu sebabnya aku tidak bisa mengajak mu pulang bersama."
"Kamu bisa." Caramel menoleh pada Rafka mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Rafka beberapa kali. "Sekarang."
Rafka menggeleng, "aku harus membuatmu duduk nyaman di tempat yang teduh."
"Dengan BMW?"
"Ya." Rafka mengangguk, "hanya itu yang aku punya."
"Hanya itu?!" Caramel mendelik tak terima jika Rafka mengatakan hanya itu untuk mobil seharga lebih dari 2 milyar.
Rafka terkekeh melihat ekspresi Caramel yang sangat menggemaskan baginya. Dari kejauhan ia melihat tukang kebun yang sedang mencabut rumput mengobrol dengan seseorang, sesekali mereka tertawa. Kini Rafka mengerti mengapa ia menyukai kegiatannya memperhatikan Caramel dari jauh karena terkadang sesuatu tampak lebih indah saat dilihat dari jauh. Dulu Rafka berpikir Caramel sangat bahagia dengan Rama sehingga ia ikut bahagia di balik rasa sakitnya. Melihat tawa Caramel dari jauh membuat Rafka ikut larut ke dalamnya—tanpa sadar mengabaikan perasaannya sendiri.
"Apa disini?" Caramel duduk di salah satu kursi saat mereka turun dari lantai paling atas menuju taman belakang sekolah.
"Ya, walaupun kursinya tak lagi sama tapi posisinya tidak berubah, dulu aku menunggumu disini." Rafka menyusul duduk di samping Caramel. "Andai aku bisa sedikit bersabar dan menunggumu lebih lama ...."
"Udah lah." Caramel menyandarkan kepalanya pada bahu Rafka, ia hanya ingin mereka fokus untuk kehidupan mereka dimasa depan dari pada meratapi masa lalu yang sudah terjadi.
"Kamu laper?" Rafka memegang perut Caramel yang terlihat bergerak barusan, sekarang ia bisa melihat pergerakan bayinya dengan lebih jelas.
"Mana mungkin aku laper, kita baru makan setengah jam yang lalu." Caramel mengangkat kepalanya.
"Tapi kau memang makan berat hampir satu jam sekali."
"Ayo pulang, aku akan membuat makanan enak untuk mu di rumah." Rafka beranjak dari kursi. "Kamu tunggu disini biar aku bawa mobilnya kesini."
"Tapi jangan lama." Kata Caramel posesif.
"Aku akan lari agar tidak membuat tuan putri menunggu lama."
Caramel menahan senyum, lihat lah si robot kaku ini sekarang berubah menjadi Romeo. Rafka Robot Romeo Pradipta.
"Itu bukannya Joni ya?" Caramel menajamkan mata melihat dua lelaki yang sedang mengobrol di depan sana, tukang kebun dan satu laki-laki lainnya. Walaupun baru bertemu satu kali tapi Caramel tahu betul kalau lelaki itu adalah Joni—tetangga baru mereka di apartemen.
"Joni?" Rafka mengerutkan kening, Joni siapa?
"Joni tetangga sebelah kita, kok dia kenal ya sama pak kebun?"
Rafka tidak menjawab pertanyaan Caramel, ia menghampiri tukang kebun untuk berterimakasih.
"Bapak, terimakasih sudah mengizinkan kami berkeliling di sekolah ini, saya dan istri saya permisi dulu." Katanya dengan sopan.
"Oh iya Nak Rafka, sama-sama." Lelaki paru baya itu tersenyum lebar mengantar kepergian Rafka dan Caramel.
"Tunggu sebentar ya sayang." Rafka setengah berlari meninggalkan Caramel di depan sekolah. Ia memarkir mobilnya di restoran tempat makan siang mereka tadi.
"Dari belakang aja ganteng." Tanpa sadar Caramel tersenyum melihat punggung Rafka yang semakin menjauh.
"Ayah kenal sama dia?"
Tanpa sengaja Caramel mendengar percakapan antara Joni dan tukang kebun yang berada tak jauh di belakangnya.
"Dia alumni sini, tunggu sebentar Ayah mau selesain ini dulu terus pulang, istri kamu udah di rumah."
"Iya, Anna sama Ibu lagi masak untuk makan siang, Ayah cepetan dikit ya."
"Iya-iya."
Oh ternyata Joni anaknya pak kebun itu, dunia sempit amat.
__ADS_1
Mobil Rafka merapat dan berhenti tepat di depan Caramel. Awalnya Rafka hendak turun membukakan pintu untuk Caramel. Namun sebelum Rafka turun, Caramel terlebih dahulu melangkah dan masuk ke mobil. Caramel bukan tipe wanita yang mengharuskan pasangannya membukakan pintu untuknya. Terkadang Caramel memang manja tapi ia masih bisa membuka pintu sendiri.
"Ternyata Joni anaknya tukang kebun itu." Tukas Caramel sesampainya di dalam mobil.
"Oh ya?" Rafka menancap gas meninggalkan area sekolah yang sesaat membawa mereka kembali ke masa lalu. "Tapi kenapa Joni bisa tinggal di apartemen mahal?"
"Maksud kamu?" Caramel memutar kepala melihat Rafka sepenuhnya. "Maksudnya anak tukang kebun nggak boleh tinggal di apartemen gitu, kamu mana tahu jumlah gaji mereka tiap bulan, bisa aja lebih tinggi dari gaji kita, jangan meremehkan kerjaan orang."
"Tentu saja boleh, aku hanya merasa mereka sedikit aneh."
"Enggak ah, perasaan kamu aja kali." Caramel mengibaskan tangannya, ia justru salut kepada Joni dan Anna yang bisa tinggal di apartemen mahal seperti Kempinski diusia mereka yang masih muda.
******
"Aduh ahh!" Caramel memekik merasakan sakit di bagian jadi kakinya saat membuka sepatu.
"Ada apa?" Rafka panik melihat Caramel meringis dan terduduk di kursi dekat pintu masuk. "Kenapa Cara?" Rafka berjongkok di atas.
"Nggak tahu nih." Caramel memegang erat jari kakinya yang terasa sangat perih.
"Coba aku lihat." Rafka melepaskan tangan Caramel, ia terkejut seketika melihat tangan Caramel berlumuran darah.
"Ahh kuku aku nyangkut." Caramel memejamkan mata ketika menyadari kuku jari kakinya hampir terlepas gara-gara tersangkut saat membuka sepatu barusan. Kenapa aku selalu sial? sungguh ini lebih menyeramkan dari pada jarum infus yang menembus pembuluh nadinya beberapa waktu lalu. Caramel tidak mau melihatnya.
"Aku ambil obat dulu." Rafka bergegas berlari mengambil kotak P3K untuk memberikan pertolongan pertama pada luka Caramel. Rafka memang bukan dokter tapi ia cukup pandai mengobati luka terutama saat Caramel terluka.
"Aaah sakit banget." Caramel memejamkan mata rapat, ia takut jika kukunya benar-benar terlepas seluruhnya.
"Kamu tenang dulu ya."
"Padahal besok aku harus ke Bandung kontrol barang yang udah siap dikemas." Caramel mengepalkan tangannya yang penuh dengan noda darah.
"Aku akan mengantarmu." Rafka memberikan antiseptik pada kuku Caramel mencegahnya agar tidak infeksi.
"Bukannya kamu kerja?"
"Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi sendiri dengan keadaan seperti ini, kau akan sulit berjalan, ini akan terasa sakit selama beberapa jam bahkan bisa sampai besok."
Caramel menyandarkan kepala ke dinding, ia berkeringat dingin menahan perih. Ia berani melihat kakinya setelah Rafka membalut jari telunjuknya dengan perban.
"Aku bisa bareng Jane."
"Aku ambil es batu dulu." Rafka kembali beranjak mengabaikan ucapan Caramel. Ia mengambil es batu dan membungkusnya dengan kantong kain. "Ini bisa membantu mengurangi rasa sakitnya."
"Harusnya aku lebih hati-hati pas buka sepatu tadi."
Rafka diam. Dalam hati ia ingin mengomel pada Caramel yang membiarkan kuku kakinya tidak dipotong hingga panjang. Harusnya Caramel segera meminta Rafka untuk memotong kukunya agar tidak terjadi hal seperti ini. Namun Rafka tidak mungkin mengomel pada orang yang sedang kesakitan, ia tak boleh menyalahkan Caramel. Rafka justru menganggap dirinya kurang perhatian karena tidak segera memotong kuku sang istri. Dulu Caramel memang bisa memotong kukunya sendiri tapi sekarang Rafka yang harus melakukannya.
"Maaf aku kurang memperhatikan mu." Lirih Rafka seraya membereskan kotak P3K yang digunakannya baru saja.
"Hm?" Caramel tidak mengerti maksud ucapan Rafka.
"Ayo kita pindah ke kamar, aku akan memotong kuku mu." Rafka membantu Caramel berdiri.
"Aku bisa jalan sendiri, aku bukannya lumpuh kok."
Rafka kembali mengabaikan ucapan Caramel, ia tetap membantu sang istri berjalan sampai ke kamar. Ia juga memberikan segelas air putih untuk Caramel agar lebih tenang.
"Masih sakit?" Tanya Rafka.
Masih sakit banget lah. "Udah enggak." Caramel menggeleng memberikan gelas kosong kepada Rafka.
"Syukurlah." Rafka mengembuskan napas lega, ia meletakkan gelas di atas nakas. "Aku akan memotong kuku mu."
"Makasih ya." Caramel melihat Rafka duduk di atas lantai untuk memotong kukunya.
"Setalah ini Aku yang akan memotong kuku mu."
Kamu emang bisa ngelakuin apapun, Ka.
"Terus aku ngapain?"
"Hm?" Rafka mendongak, "kamu telah bekerja keras, walaupun aku tidak mengalaminya tapi aku tahu hamil itu tidak mudah, terimakasih sudah menjadi istri dan ibu terbaik untuk ku, untuk anak kita." Rafka berdiri dengan lututnya mengecup kening Caramel. Tidak lupa mengecup perut Caramel, cara Rafka menunjukkan kasih sayangnya kepada sang calon bayi di dalam sana.
Maaf banget bikin kalian nunggu lama. Akhir-akhir ini di tempat kerja sibuk sekali, udah berusaha banget nyicil nulis tapi ternyata belum cukup untuk selesain satu bab. Akhirnya setelah libur bisa juga nulis bab 57 ini. Semoga kalian suka ❤️
Selamat Hari Raya Idhul Fitri untuk yang merayakan ❤️
__ADS_1
Mohon maaf yah kalau banyak salah sama kalian 😭
Tetap cintai Caramel dan Rafka hingga akhir ❤️