
Caramel menghirup udara dengan rakus mencium aroma laut yang tidak bisa ia dapatkan setiap hari. Hangatnya pasir pantai dan sejuknya deburan ombak bisa Caramel rasakan dalam waktu yang bersamaan. Akhirnya setelah 1 bulan hanya tinggal di dalam rumah dan melihat pemandangan pantai dari jendela, hari ini Caramel bisa berjalan di atas pasir yang lembut menyentuh telapak kakinya. Walaupun Caramel betah di Bali tapi tetap saja ini bukan rumahnya.
Caramel menikmati perannya sebagai seorang ibu, terbangun tengah malam karena suara tangisan Arnesh, mengganti popok hingga menyusui sampai ia ketiduran. Menjadi ibu tidak lah mudah tapi dalam hal ini Caramel bersyukur karena Rafka selalu sigap membantunya kapan pun. Apalagi dengan kehadiran mama dan mertuanya yang meringankan pekerjaan Caramel.
"Aku pikir celana mu terlalu pendek." Rafka menyusul Caramel yang sudah lebih dulu berjalan menyusuri bibir pantai.
"Kaki ku kelihatan gede banget ya?" Caramel melihat betisnya sendiri, tiba-tiba tidak percaya diri mengenakan celana pendek seperti ini.
"Sedikit."
"Tuh kan, badan aku nggak bisa kayak dulu lagi, diet juga nggak boleh karena aku lagi menyusui."
"Kamu ingin diet?"
Caramel menggeleng, "Aku pengen ngasih yang terbaik buat Arnesh."
Rafka tersenyum mengusap rambut Caramel yang dibiarkan tergerai, "tapi tetap saja harusnya kamu pakai celana yang lebih panjang."
"Kita kelihatan serasi pakai baju ini." Caramel tersenyum lebar melihat Rafka cemberut karena ia menggunakan celana yang hanya sepaha. "Lagian selama satu bulan aku cuma pakai home dress, ini pertama kalinya aku pakai celana sama blouse, cantik kan?"
"Kita memang serasi dengan pakaian apapun."
"Papa Arnesh makin ganteng kalau cemberut gitu." Caramel makin menggoda Rafka dengan mencolek pipinya. "Nih pakai kacamatanya." Caramel memakaikan kacamata hitam pada Rafka. Ampun dah suami gue, cakep amat sih.
"Kamu juga selalu cantik, dengan atau tidak pakai apapun." Rafka mengalihkan pandangan pada hamparan laut biru dengan ombak yang tenang.
"Maksud kamu?" Caramel melihat Rafka, "bilang aja kamu kangen kan?"
Tentu saja, satu bulan itu bukan waktu yang singkat. "Jangan menggodaku."
"Sabar sebentar lagi." Caramel mengerlingkan mata pada Rafka. Percayalah di balik wajah lugunya Rafka adalah pria yang mesum saat bersama Caramel.
"Tidak Cara, kamu sudah berkorban banyak demi Arnesh, aku tidak mau membebani pikiranmu karena hal ini." Rafka meraih pinggang Caramel dan memeluknya dari samping. "Di antara kita Caramel lah orang yang paling bekerja keras, aku tidak mau egois.
Senyum Caramel melengkung manis seperti cerahnya mentari yang baru terbit mendengar ucapan Rafka. Mengapa ada suami selembut Rafka di dunia ini. Caramel semakin menyesal karena telah menyia-nyiakan 8 tahun waktunya bersama Rama. Padahal jika sejak awal Caramel hanya mengenal Rafka, mungkin ia sudah menjadi ratu sejak lama. Maksudnya ratu di hati Rafka.
"Kalau seandainya waktu itu yang selamat cuma Arnesh, kamu harus jaga dia baik-baik." Ucap Caramel tanpa melihat Rafka, ia menatap ombak yang menggulung bergantian dengan teratur.
"Kenapa bicara begitu?"
"Maksudku kamu harus cari cewek lain buat jadi ibunya Arnesh."
"Kalau itu terjadi aku akan jadi Ayah sekaligus Ibu untuk Arnesh, walaupun itu tidak mudah tapi aku akan tetap berusaha melakukannya, bukan kah aku pernah bilang kalau kamu benar-benar menikah dengan Rama maka aku tidak akan menikah dengan siapapun."
Caramel tertawa pelan, tawa yang tenggelam oleh suara deburan ombak.
__ADS_1
"Kamu gila ya ternyata." Caramel menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan tidak percaya hanya saja Caramel masih tidak percaya ada lelaki yang mencintainya begitu dalam.
Rafka menunduk melihat kakinya yang basah karena air laut, sebenarnya ia malas basah-basahan karena ini masih pagi.
"Apapun itu makasih untuk satu bulan ini, kamu berhak dapet gelar suami paling siaga di dunia." Caramel menarik tangan Rafka membawanya melangkah menyusuri bibir pantai.
Selama seminggu pasca operasi Rafka selalu membantu Caramel mandi karena luka bekas operasi tidak boleh terkena air. Rafka membantu memasang plester di perut Caramel dan menggantinya setiap hari saat hendak mandi. Walaupun bukan perawat tapi Rafka telaten memberikan cairan antiseptik pada luka bekas operasi Caramel untuk menghindari infeksi sesuai arahan dokter.
Bayangkan saja Rafka selalu membantu Caramel mandi tapi ia harus menahan diri dan pura-pura tidak melihat tubuh Caramel tanpa pakaian. Itu adalah ujian yang berat bagi Rafka sebagai seorang suami.
"Kamu mau hadiah?" Tanya Caramel, jika diingat-ingat ia jarang memberikan hadiah padahal ia selalu mendapatkannya dari Rafka.
"Kau sudah memberikannya."
"Apa?" Caramel mengerutkan kening. Ia tidak merasa memberikan hadiah apapun pada Rafka.
"Arnesh adalah hadiah paling berharga yang kamu berikan untukku, apalagi wajahnya sangat mirip denganmu, aku sangat menyukainya."
"Dia akan tumbuh kuat dan jadi anak baik kayak kamu."
"Terimakasih Caramel." Rafka bergerak mengecup kening Caramel cukup lama.
Pantai yang terletak tepat di depan villa itu masih sepi jadi Rafka dan Caramel merasa seperti sedang berada di pulau pribadi dimana hanya ada mereka berdua. Namun karena Rafka bukan CEO kaya raya yang bisa membeli pulau pribadi, Caramel harus berlapang dada jika sebentar lagi ada pengunjung lain.
"Aku belum pernah tanya, kenapa kamu setuju dengan perjodohan kita dulu?" Dulu Rafka terlalu senang karena Caramel menerimanya padahal ia tidak tahu bagaimana perasaan Caramel.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Karena selama ini aku hanya fokus dengan perasaanku, aku bersikeras membahagiakan mu dengan caraku sendiri tanpa tahu perasaan mu."
Benar juga ucapan Rafka tapi tanpa sadar Caramel nyaman terhadap cara Rafka memperlakukannya walaupun pada awalnya ia tidak suka.
"Jujur nih ya aku terpaksa terima kamu karena umur aku udah nggak muda lagi, Mama dan Papa juga suka sama kamu jadi mau nggak mau aku harus terima perjodohan itu."
"Sekarang?"
"Sekarang kenapa?" Caramel balik bertanya.
"Sekarang bagaimana perasaanmu?"
"Ih jangan ngomongin perasaan dong, malu nih." Caramel memukul paha Rafka cukup keras, ia jadi salah tingkah ditanya seperti itu.
Mereka terdiam cukup lama, hanya suara ombak yang menemani keheningan di antara keduanya. Rafka menarik tangan Caramel untuk duduk di salah satu kursi di pinggir pantai.
"Kejadian satu bulan ini sungguh luar biasa." Ucap Rafka.
__ADS_1
Caramel menanggapi ucapan Rafka dengan senyum penuh arti. Caramel tahu di balik kejadian pilu yang mereka alami pasti tersimpan hadiah indah dari Tuhan. Salah satunya adalah produk baru Caramel Sleepwear yang diluncurkan dua minggu lalu terjual 100 ribu pasang dalam waktu 24 jam. Itu juga berkat kepopuleran Rafka yang sempat muncul di FYP tik tok setelah tampil di tv. Banyak orang jadi mengenal Caramel dan Rafka, itu berimbas pada penjualan Caramel Sleepwear.
"Kamu betah disini?" Tanya Caramel dengan pandangan lurus ke depan, melihat gulungan ombak yang saling berkejaran.
"Aku betah dimanapun asal ada kamu, tapi aku tetap rindu Jakarta." Pandangan Rafka menerawang jauh, Bali memang menjadi tempat tinggal yang menyenangkan tapi ia tetap merindukan Jakarta dengan segala hal yang dimiliki kota metropolitan itu. Anehnya Rafka juga merindukan kemacetan Jakarta setiap kali ia pulang kerja. Rafka juga harus mengakui bahwa ia kangen Danu yang mulai cerewet meneleponnya hampir setiap hari karena tidak segera kembali. Danu dan Indi penasaran ingin segera melihat Arnesh.
"Besok kita pulang."
"Kamu siap menghadapi persidangan itu?" Rafka menoleh melihat Caramel.
Caramel menarik napas berat, "siap nggak siap aku harus menghadapinya, ini hukuman yang setimpal buat Rama."
"Janji sama aku untuk tidak terlena dengan kata-kata Rama ataupun Adena." Rafka ingat ketika Adena hampir melukai Caramel lalu Adena memohon-mohon pada Caramel untuk tidak memenjarakannya. Caramel saat itu menyerah dan mencabut tuntutannya terhadap Adena. Namun sekarang Rama melakukan tindak kriminal yang tidak ringan, Rafka tidak ingin Caramel luluh lagi.
"Aku masih ingat persis kejadian itu, aku nggak mungkin biarin Rama bebas gitu aja."
Rafka mengangguk, tangannya terulur untuk menyisipkan anak rambut Caramel yang tertiup angin ke belakang telinga.
"Ya elah nih berdua malah pacaran disini." Suara perempuan mengalihkan perhatian Caramel dan Rafka, tanpa menoleh pun mereka sudah tahu kalau itu adalah suara Kayla.
"Apa sih lu ganggu aja orang berduaan." Omel Caramel.
"Makan dulu salad gue nih mumpung masih pagi." Kayla membawa satu mangkuk penuh salad berbagai macam buah yang telah dibuatnya semalam dan dimasukkan ke dalam kulkas untuk dimakan hari ini.
Kayla datang beberapa hari yang lalu karena tidak sabar menunggu Caramel pulang sedangkan Jane pulang seminggu setelah Caramel melahirkan, tepat saat Arnesh diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sebenarnya Jane ingin menemani Caramel lebih lama tapi ia harus menyelesaikan pekerjaan, karena Caramel tidak bisa pulang akhirnya ia menggantikan sahabatnya itu untuk menangani Caramel Sleepwear.
"Apa sih rahasianya kok salad lu bisa enak?" Caramel mengambil alih mangkuk di tangan Kayla, sebelum memakan potongan buah berbalut saus mayonaise dan keju itu ia lebih dulu menyuapi Rafka.
"Itu rahasia perusahaan kok lu nanya gue." Jawab Kayla. "Nanti lu sama Rafka malah bikin bisnis salad buah Caraka."
"Caraka apaan?"
"Caraka Caramel Rafka." Kayla duduk di samping Caramel karena tidak ada kursi lain disitu.
Caramel tertawa, "ada-ada aja lu ya."
"Sebenernya nggak ada rahasia sih, lu juga bisa kok bikin salad enak, nggak ada resep khusus juga."
"Ntar kalau bikin sendiri, lu jadi kehilangan satu pelanggan dong."
"Nggak apa-apa, hilang satu tumbuh seribu." Kayla tertawa di ujung kalimatnya.
"Akhirnya besok kita pulang." Caramel mengembuskan napas panjang, perasaannya saat ini campur aduk antara berat meninggalkan Bali sekaligus senang karena bisa kembali ke Jakarta, tanah kelahirannya.
__ADS_1