
Matahari bersinar terang dengan hembusan angin cukup kencang hingga membuat suasana tetap sejuk. Ratusan pohon Pinus berjejer rapi sejauh mata memandang. Caramel benar soal melarikan diri kesini, aku berharap ia tak lagi terjebak oleh masa lalu setelah pernikahan kami.
Perkiraan ku soal cuaca sepertinya tak salah, hari ini benar-benar cerah. Semua tamu undangan sudah hadir di tengah-tengah kami, hanya satu yang belum datang, sang bidadari dengan tinggi 165 sentimeter dan akan bertambah 7 sentimeter setelah memakai high heels.
Aku tidak sabar melihatnya mengenakan dress putih yang sudah aku siapkan untuknya. Sejak semalam aku tidak melihat sosok Caramel, aku rindu. Aku rindu sejak pertama kali bertemu dengannya, 12 tahun lalu. Rasanya seperti mimpi, dalam hitungan menit status nya akan berubah menjadi istriku.
Tepat di belakang ku berjarak 2 meter orangtua Caramel dan aku duduk disana. Termasuk papa ku, mantan suami mama dengan istrinya yang sekarang. Dugaan Caramel benar, mereka akan menghadiri akad nikah ini padahal aku berharap ia tak datang, semoga mama baik-baik saja dengan kehadirannya. Ah, tapi kurasa tak ada wanita yang baik-baik saja melihat lelaki nya bahagia dengan orang lain. Seperti aku yang telah menahan sakit melihat Caramel tertawa bersama Rama. Sakit hati tak akan pernah sembuh, kecuali ia menjadi milikmu seutuhnya.
"Mari kita sambut kedatangan mempelai wanita yang mengenakan dress putih sederhana tapi justru menambah aura kecantikan nya, Caramel Indira Aditama memiliki inner beauty yang sangat kuat, ia didampingi dua bridesmaid di kanan dan kiri."
Aku memutar kepala sama seperti para tamu yang juga penasaran pada sang bidadari. Tak terasa senyumku tersungging dengan sendirinya, melihat Caramel begitu mempesona dengan dress brokat A line berwarna putih. Rambutnya digulung ke atas dengan hiasan flower crown membuatnya terlihat manis. Riasannya sederhana berkat keterampilan tangannya sendiri, ia tak mau didandani MUA profesional tapi Caramel tetap cantik seperti itu.
Caramel tersenyum tipis, ia duduk di samping ku dengan gerakan anggun. Mataku enggan berkedip, hingga penghulu menegurku bahwa prosesi akad akan segera dimulai.
Acara diawali dengan berbagai doa dan sedikit wejangan dari penghulu, tapi aku masih terhipnotis dengan kecantikan Caramel. Semoga aku tidak membuat kesalahan.
Papa Caramel meraih tanganku, ia menggenggam tanganku kuat membuatku gugup setengah mati, jantung ku berdegup kencang. Ini lebih tegang dari pada saat sidang skripsi ku dulu.
"Ananda Rafka Kalandra Pradipta bin Bayu Pradipta saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Caramel Indira Aditama binti Antony Aditama dengan mas kawin berupa satu unit apartemen dan uang senilai dua belas juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Caramel Indira Aditama binti Antony Aditama dengan mas kawin tersebut tunai!" Aku membalas dengan satu tarikan napas tanpa berkedip dengan suara lantang seperti pasukan baris berbaris.
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
Suara sah dari dua orang saksi membuatku lega luar biasa, seolah beban di pundak ku luruh bersama nya. Aku meletakkan microfon di atas meja dan menengadah tangan berdoa bersama yang lain. Aku melihat dari ekor mataku, Caramel meneteskan air mata.
Caramel mencium tanganku lalu aku mengecup kening nya cukup lama. Air mataku juga meleleh hingga ke bibir. Aku segera melepas tautan antara bibir dan kening Caramel sebelum air mataku menetes ke wajah nya. Mengapa suasana bahagia membuat manusia menangis?
Aku menyematkan cincin ke jari manisnya usai tanda tangan surat nikah. Kemudian Caramel juga melakukan hal yang sama kepadaku, ia tersenyum disela tangis bahagia nya. Sungguh aku lihat matanya berbinar-binar karena kebahagiaan.
"Jangan lihat aku gitu." Caramel mendesis, melemparkan tatapan tajam. Memangnya kenapa jika aku menatapnya intens, lagi pula kami sudah menikah.
Caramel dan aku melangkah menghampiri orangtua kami. Kami bersimpuh di hadapan mama dan papa, untuk minta maaf serta memohon doa restu.
Mama, dari hati terdalam kami memohon maaf jika selama ini banyak hal yang membuat ibu merasa sakit. Bukalah pintu maaf ibu agar kami bisa melangkah dengan penuh kebahagiaan.
Aku menggenggam tangan mama, menciumnya lalu memeluk nya erat sekali. Mama mengusap punggung ku lalu mencium pipi ku kanan dan kiri, ia menangis tersedu-sedu. Ia wanita yang jarang menangis, terakhir kali aku ingat ia menangis saat pernikahan Febi 3 tahun lalu.
"Jadilah suami yang bertanggung jawab dan setia kepada satu wanita." Pesan mama sebelum kembali mencium ku.
Aku tidak ingin melihat wanita lain menangis karena dihianati lelakinya, aku tidak mau itu terjadi lagi. Cukup aku melihat mama menangis karena papa selingkuh, aku tak akan menjadi lelaki seperti nya.
"Mama titip Caramel." Gumam mama Caramel saat aku mencium tangan dan memeluknya.
"Iya Ma." Aku mengangguk. Terimakasih ma, sudah melahirkan anak luar biasa seperti Caramel.
Bapak, terima kasih sudah berjuang untuk membesarkan dan mendidik kami dengan luar biasa. Terima kasih pula sudah mengizinkan kami menuju kehidupan rumah tangga.
"Doakan aku agar menjadi suami setia dan tidak pernah selingkuh sampai akhir hayat ku." Aku mencium tangan papa, memeluknya singkat tanpa memandang wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu membenci Papa?" Bisiknya di telingaku.
"Kenapa Papa bertanya kepadaku?" Aku berpindah ke hadapan papa Caramel bertukar tempat dengan Caramel.
"Jangan berani menyakiti Caramel, kalau tidak, Papa yang akan membunuh mu dengan tangan Papa sendiri." Ucap papa Caramel.
"Saya yang akan memberikan pisau nya jika itu terjadi." Tegasku meyakinkannya.
Aku menggenggam tangan Caramel membantunya berdiri. Matanya sembab akibat menangis, bahkan jejak air mata Caramel terlihat begitu jelas.
"Bedak ku luntur nggak?" Caramel melihatku. Lihatlah, dia menghibur dirinya sendiri dengan candaan semacam itu.
Aku menggeleng.
"Syukurlah." Caramel mengusap dada nya. "Nggak sia-sia pakai loose powder Chanel."
Seluruh tamu undangan memberi selamat dengan menyalami kami bergantian. Namun aku tak bisa mengalihkan pandangan dari wanita yang kini menjadi istriku, cinta pertamaku, cinta terakhirku. Cerita cinta kami tak indah seperti di film, yang tak sengaja bertemu lalu jatuh cinta dan menikah. Aku hanya berani mencintai Caramel dari jauh, lalu menikahinya karena skenario perjodohan.
"Akhirnya elu nikah juga!" Danu menepuk bahuku.
"Danu ya?" Caramel menjabat tangan Danu.
"Ya, kok tahu pasti karena sosok diriku yang begitu terkenal di kalangan wanita."
"Jangan begitu narsis." Aku melepaskan tautan di antara mereka.
"Kamu yang bilang aku santan instan kan?" Caramel mengangkat alisnya sebelah membuat Danu gelagapan.
"Mari jangan membuat antrian panjang." Kataku kepada Danu.
"Iye iye!" Danu segera berjalan memberi kesempatan kepada tamu lain menyalami ku dan Caramel.
"Sini peluk gue!" Jane merentangkan tangannya di hadapan Caramel.
"Jangan makan kebanyakan ya, nanti tamu lain nggak kebagian." Kata Caramel menyambut pelukan Jane.
"Gue lagi diet!" Semprot nya.
"Ya ampun, cewek gue akhirnya nikah." Giliran Kayla. "Jangan lupa lakuin tips yang udah gue dan Jane kasih sama lu."
"Kalian tenang aja, nanti gue ceritain keberhasilan dari tips kalian." Caramel menepuk bahu Kayla.
Aku tidak mengerti obrolan mereka, itu pembahasan antar perempuan. Mungkin nanti aku akan mengerti, entahlah. Walau bagaimanapun sangat sulit memahami perempuan.
******
Jakarta, 12 tahun yang lalu.
Malam itu murid SMA Pelita Nusa sedang mengadakan persami yang merupakan rangkaian acara Masa Orientasi Siswa. Kebetulan sekolah yang berseberangan dengan SMA itu juga sedang mengadakan kegiatan yang sama.
"Kalian harus mencari tujuh buah pita merah yang tersebar di sekitar lingkungan sekolah." Ujar sang ketua OSIS SMA Pelita Nusa. "Dimulai dari sekarang!"
__ADS_1
"Siap kak!" Jawab para peserta MOS serempak, mereka segera membubarkan diri menjalankan tugas mereka mencari pita merah.
"Rafka, sebentar lagi kamu keliling di sekitar sini takutnya ada anak yang nyasar." Titah Leon, ketua OSIS kepada Rafka.
"Ya." Rafka mengangguk.
Rafka memasukkan satu buah lilin ke dalam saku jaket nya dan menghidupkan senter, berkeliling di sekitar lingkungan sekolah. Beberapa anggota OSIS lain juga ikut berkeliling disana membawa senter mereka masing-masing.
Pukul 9 malam saat Rafka keluar dari gerbang sekolah, suasana dingin menusuk menembus jaket nya yang sebenarnya sudah tebal. Rafka menengadah, tidak ada bintang di langit. Akankah turun hujan? Rafka juga tidak tahu, tapi ia selalu penasaran pada cuaca esok hari, lusa, seminggu atau satu bulan ke depan. Rafka menurunkan kupluk jaket untuk mengurangi dingin malam itu.
"Mama, gelap Ma!"
Rafka mendengar suara seorang perempuan menangis, ia mengarahkan senter ke arah pohon trembesi tak jauh dari pagar sekolah.
"Jane, Kayla kalian kemana teganya ninggalin gue!"
Rafka berjalan mendekati pohon tersebut, lalu berhenti saat melihat sosok perempuan membelakanginya. Rafka melihat bahu perempuan itu bergoyang ke atas dan bawah dengan cepat yang berati ia sedang menangis.
"Mama, aku nggak mau dimakan hantu di kegelapan ini, aku masih lima belas tahun, bulan depan baru enam belas." Ia menghela napas panjang karena dadanya terasa semakin sesak tidak bisa bernapas.
"Ini." Rafka menyodorkan lilin yang sudah ia hidupkan pada perempuan itu. Sepintas Rafka mengagumi wajah cantik perempuan itu dengan jejak air mata di pipi nya. Wajah itu semakin terlihat cantik dengan pantulan cahaya lilin yang dipegangnya.
Perempuan tersebut mendongak, perlahan menerima lilin di tangan Rafka. Mulutnya menganga karena terkejut dengan kedatangan orang asing itu.
"Itu akan menyelamatkanmu dari kegelapan." Ujar Rafka.
Rafka segera pergi setelah menyerahkan lilin kepada perempuan itu, ia harus melanjutkan tugasnya memastikan peserta MOS tidak nyasar.
"Caramel, kita cariin elu kemana-mana."
"Kalian jahat banget sih, ninggalin aku disini sendirian."
"Lah gue tadi buru-buru pengen pipis, nah ini lu punya lilin."
"Barusan ada yang ngasih gue lilin."
"Hah, siapa?"
"Nggak tahu, gue nggak bisa lihat wajahnya, ketutup jaket nya."
"Jangan-jangan."
"Eh, jangan macem-macem ya lu!"
"Malem minggu, hantu lagi pada malem mingguan kayaknya tuh."
"Kayla, Jane jangan sembarangan ya!"
Rafka kembali menoleh, ia masih bisa mendengar percakapan tiga perempuan itu. Namun perlahan semakin tak terdengar karena jarak Rafka makin jauh.
"Manis sekali seperti namanya, Caramel." Gumam Rafka sebelum melanjutkan perjalanan nya.
__ADS_1