Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan


__ADS_3

Layar komputer di depan ku menampilkan peta wilayah Bandung dengan keterangan tekanan udara saat ini. Seharusnya aku bisa memperkirakan cuaca seminggu ke depan dengan mudah melihat profesi ku saat ini tapi nyatanya itu tak semudah teori yang diajarkan dosen saat kuliah dulu.


"Kenapa si santan instan minta akad nya di Pine Hill?" Danu menggeser tempat duduknya agak dekat denganku.


"Ingin melarikan diri dari masa lalu katanya." Jawabanku sesuai dengan ucapan Caramel beberapa hari yang lalu.


"Jadi dia belum bisa move on dari Rama?"


"Saya tidak tahu."


"Rama itu tukang tikung!"


Aku memejamkan mata saat Danu setengah berteriak tepat di telinga ku.


"Tukang tikung bagaimana maksud kamu?" Walaupun berusaha tetap konsentrasi pada peta di depanku tapi akhirnya aku terpengaruh juga dengan ucapan Danu. "Kenapa kamu punya banyak istilah yang tidak aku mengerti?"


"Yang nggak ngerti di dunia ini cuma elu Ka, Upin Ipin yang belum lulus TK aja tahu apa maksud tukang tikung!"


Aku menghela napas keras, benarkah Danu seorang lelaki, mulutnya tajam seperti mama saat membicarakan jodoh denganku.


"Aku pernah nunjukin origami itu pada Cara."


"Terus?"


"Sesuai dugaanmu Cara mengira bahwa origami yang aku letakkan di dalam loker nya itu pemberian Rama."


"Tuh kan!" Danu memukul paha ku cukup keras hingga membuatku terlonjak kaget, Caramel juga suka memukul saat bicara denganku, apa maksudnya? kurasa butuh waktu ratusan tahun untuk memahami kelakuan manusia.


"Terus lu bilang apa sama dia?"


"Tidak ada."


"Hah, kenapa nggak lu bilang kalau origami di dalam loker itu pemberian kamu bukannya Rama."


"Dia tidak akan percaya." Tentu saja Caramel akan mengira aku hanya mengada-ada soal origami itu. Aku tahu sudah berapa lama Caramel dan Rama berpacaran, bukan dalam hitungan bulan melainkan tahun. Aku yakin kepercayaan Caramel pada Rama sudah mendarah daging, ia akan lebih percaya pada Rama yang menjadi pacarnya selama bertahun-tahun dari pada aku yang belum genap satu bulan dikenalnya.


"Kalau tahu dia akan nyesel seumur hidup karena udah salah sasaran." Danu mendorong kursinya dan kembali menatap layar komputer di hadapannya.


Aku tidak mau Caramel merasakan penyesalan, apalagi yang aku inginkan? setelah ini kami akan menikah. Aku tak boleh serakah.


"Kira-kira apakah akan turun hujan hari Senin depan?" Tanyaku pada Danu walaupun menurut pengamatan ku mungkin seminggu ini Bandung akan cerah dengan peluang hujan 40%.


"Tahu deh kan elu lebih berpengalaman soal cuaca." Danu menggaruk kepala pura-pura fokus pada komputer di hadapannya padahal aku tahu dia tak bersungguh-sungguh.


"Tekanan udara cukup tinggi saat ini maka kemungkinan cuaca akan cerah."


"Semoga aja nggak hujan, gue ogah dateng kalau becek!"


"Terserah." Aku beranjak dari kursi, meraih tas kerja dan menyampirkan nya pada bahu.


Kami mengundang 100 orang untuk datang pada akad nikah tersebut, paling banyak keluarga dan kerabat Caramel sekitar 70 orang. Aku masih menimbang-nimbang apakah akan memberitahu Papa, seharusnya dia datang tapi aku tak yakin ia akan melakukan itu atau tidak. Aku malas mendengarkan penolakan darinya, lebih baik tak memberitahu.


Bayangan Papa dengan istri muda nya membuatku mual, apalagi anak mereka yang sekarang sudah duduk di sekolah dasar. Memang anak itu tak berdosa tapi aku telanjur tidak menyukai orangtuanya. Seharusnya Papa malu dan meninggalkan Jakarta lalu pergi ke tempat yang sangat jauh saat ketahuan selingkuh tapi sayangnya ia masih tinggal disini. Hanya satu jam berkendara dari rumah ku.


Arloji di tangan kiri ku menunjukkan pukul 16:05 saat aku masuk mobil. Seperti biasa aku akan menjemput si manis Caramel di tempat kerja nya. Membayangkan senyum cerah Caramel membuatku merasa lebih baik.


Jalanan macet seperti biasa, ini sudah seperti makanan sehari-hari yang wajib dikonsumsi jika tak merasakannya satu hari maka kau akan merasa kehilangan. Aku jadi teringat tukang tikung, gelar yang Danu berikan kepada Rama. Aku penasaran apa maksudnya, dari pada bertanya pada Caramel lebih baik aku berusaha mencari sendiri.


Telunjuk ku mengetik tiga kata pada kolom pencarian di Google, tukang tikung adalah


Sedetik kemudian muncul lah arti dari tukang tikung.


seseorang yang mendekati seorang gebetan temennya sendiri


Kemudian aku mengetuk artikel paling atas, siapa tahu makna nya lebih luas dari arti sederhana barusan. Tentu saja fokus utama adalah menyetir.

__ADS_1


Namun semakin membaca banyak artikel aku semakin tidak paham. Jika dihubungkan dengan Rama, mungkin Danu benar. Aku juga penasaran mengapa Caramel mengira seseorang yang memberikan origami itu Rama bukannya aku.


Aku melihat Caramel melambaikan tangannya saat mobil ku berhenti tepat di depan depannya. Ia tersenyum dan menular padaku.


"Lihat deh!" Caramel menunjukkan dua foto berukuran 2×3 saat baru masuk mobil. Itu adalah foto kami untuk melengkapi persyaratan nikah sekaligus foto yang akan ditempel pada buku nikah.


"Cara dapat dari mana?" Tanyaku karena setahuku foto itu sudah diserahkan bersama surat-surat yang lain.


"Waktu itu aku minta foto nya dicetak lebih buat ditaruh di dompet, kamu mau nggak, aku punya empat lembar."


"Tidak perlu." Aku mulai menjalankan mobil.


"Kenapa?"


"Nanti kita akan terus bersama-sama jadi saya tidak memerlukan foto itu."


Caramel tersenyum malu-malu lalu memasukkan foto itu ke dalam tas nya.


"Kita ke rumah Papa kamu sekarang aja." Ujarnya.


Apa katanya? kenapa mendadak minta pergi ke rumah Papa padahal beberapa menit yang lalu seluruh pikiran dan tubuh ku menolak hal itu.


"Lain kali saja."


"Sekarang aja, jangan kasih tahu mendadak, walau bagaimanapun dia Papa kamu kalau nggak ada dia maka nggak ada kamu, lagian kamu bilang rumahnya nggak jauh dari sini." Caramel memasang seat belt ketika aku menambah kecepatan mobil karena jalanan sudah tidak terlalu macet.


Aku membelokkan mobil ke kiri, menuruti permintaan Caramel mengunjungi rumah Papa.


"Kamu lagi baca apa?" Caramel mencondongkan tubuh nya melihat layar ponselnya yang ternyata dari tadi masih menyala.


"Bukan apa-apa." Aku segera menutupi layar ponsel ku dan mematikannya. Aku memang mengatur waktu tidur 30 menit untuk ponsel ku, biasanya itu akan membantuku tapi sekarang justru membuat ku malu di depan Caramel. Nanti aku akan mengaturnya menjadi 30 detik.


"Gimana cuaca dihari pernikahan kita?"


"Cerah berawan." Jawabku.


"Semoga nggak hujan." Caramel menautkan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa. Aku mengangguk. "Kamu ambil cuti berapa hari?"


"Tiga hari."


"Apa? nggak kurang cepet?" Caramel melirik ku sebal.


"Kurang? saya kira itu sudah terlalu cepat." Aku terkejut karena Caramel meminta cuti lebih pendek dari perkiraan ku.


"Ampun dah si Rafka!" Ia memekik, aku terkejut kedua kalinya. "Maksud aku kenapa cepet banget, aku aja satu minggu kurang kenapa situ cuma tiga hari."


Aku menghela napas meredakan keterkejutan ku. Jika memang terlalu cepat kenapa ia bilang kurang cepat, itu sama saja seperti berbohong.


"Nggak bisa diajak bercanda ya kamu, serius mulu."


"Kita sampai."


Mobil ku berhenti di depan rumah dua lantai tak terlalu besar tanpa pagar. Rumah itu tak berubah sejak terakhir kali aku mengunjunginya tahun lalu.


Caramel sudah tidak ada di kursinya saat aku baru melepas seat belt. Sepertinya ia sangat bersemangat bertemu Papa berbanding terbalik denganku.


Caramel menekan bel dekat pintu dua kali dan menunggu sambil melihat ku dengan senyum lebar. Kenapa ia tersenyum? karena melihat ku atau karena hendak bertemu papa.


"Ya? cari siapa?"


Seorang perempuan berumur 40 tahunan muncul dari balik pintu, sepertinya ia belum menyadari keberadaan ku.


"Cari Papa." Aku maju selangkah tepat di belakang Caramel.


Istri Papa terkejut tapi sedetik kemudian berubah menebar senyum, ke arah ku dan Caramel bergantian seolah-olah sedang menyambut kedatangan anak nya.

__ADS_1


"Ayo masuk." Ajak nya.


Aku menggandeng tangan Caramel masuk ke rumah.


"Sebentar ya, saya panggil Papa kamu dulu." Wanita itu meninggalkan kami di ruang tamu.


Caramel masih konsisten tersenyum, ia memang terlalu murah senyum mengimbangi ku yang sangat jarang melakukan itu. Ia juga akan bercerita tanpa ditanya sebelum nya, sangat ramah dan asyik menjadi teman ngobrol. Pantas saja ia mempunyai banyak teman.


"Rafka, ada apa kamu kesini?"


Itu dia. Papa tetap sehat dan bugar seperti dulu, ia tampak bahagia dengan istrinya yang lebih muda dari mama. Papa duduk di hadapan ku disusul istrinya.


"Minggu depan saya akan menikah, kalau papa ada waktu silahkan datang, akad nikah kami akan dilaksanakan di Pine Hill." Ujar ku dengan nada datar.


Senyum Caramel memudar, ia melihatku lalu melihat papa. Mungkin ia terkejut karena hubungan ku dengan papa tak sebaik perkiraannya.


"Kenapa kamu tidak memperkenalkan gadis cantik ini terlebih dulu?"


"Papa bertanya maksud kedatanganku."


"Kenalin Om, saya Caramel." Caramel menyela, ia menyodorkan tangan kepada papa.


"Caramel," papa menjabat tangan Caramel. "nama kamu cantik sekali seperti orangnya."


"Akhirnya Rafka akan menikah juga." Istrinya papa juga menjabat tangan Caramel.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" Papa melihatku.


"Senin depan." Jawab ku.


"Kami pasti datang."


"Terimakasih Om." Caramel mengangguk hormat.


"Kalian mau minum apa? atau sekalian makan malam disini juga." Tawar istri papa tapi sayangnya aku tidak akan mau makan di tempat ini.


"Tidak perlu, kami datang kesini hanya untuk memberitahu hal tersebut, sekarang kami pamit."


"Kenapa buru-buru?" Papa melihatku seolah menuntut agar aku disini lebih lama tapi jangan harap itu terjadi. Ia sendiri tak pernah berkunjung sejak aku masih SMA hingga sekarang. Papa sibuk memikirkan istri dan anak mereka padahal ia masih memiliki dua anak lain, aku dan Febi.


Sekarang kenapa ia bersikap seolah-olah memperdulikan ku? itu hanya membuatku semakin tidak betah berada di rumah ini lama-lama.


"Kami ada banyak urusan." Aku beranjak diikuti Caramel.


"Sampai ketemu di Pine Hill Om, Tante." Caramel menggandeng tanganku sebelum aku meninggalkan nya lebih jauh.


"Aku penasaran sama merek lipstik ibu tiri kamu." Kata Caramel saat kami masuk mobil. Baguslah kalau hanya itu yang berkesan bagi Caramel, merek lipstik bukannya wajah papa yang seperti orangtua baik pada umumnya padahal ia hanya menjadi orangtua bagi anak nya dengan istri yang sekarang.


"Saya tidak pernah memanggilnya ibu." Balasku.


"Bisa cantik banget, nggak bikin bibir pecah-pecah, berapa penghasilan Papa kamu?" Caramel mengabaikan ucapanku.


"Saya tidak tahu."


"Lebih banyak siapa kamu atau dia?"


"Tidak tahu."


"Pasti Make Over atau Maybelline, tapi dilihat dari warnanya itu seperti Kamalia Beauty x Tasya Farasya." Caramel tampak berpikir keras, aku tidak mengerti apa maksud dari rentetan kalimat yang ia ucapkan. "Pokoknya nanti pas akad nikah aku tanyain sama dia."


"Dia tidak akan datang."


"Pasti dateng lah." Caramel mengepalkan tangan penuh keyakinan.


Aku tak berharap apapun dari mereka, datang atau tidak itu tak berpengaruh bagiku. Akan lebih baik jika mereka tidak datang.

__ADS_1


__ADS_2