
Pandangan Caramel tertuju pada pelampung yang tergantung di sebelah kirinya, ia melihat sekeliling ragu-ragu hendak mengambil pelampung tersebut. Namun mengingat ucapan Rafka barusan di telepon, Caramel jadi punya keberanian untuk mengambil dan mengenakan pelampung walaupun penumpang lain tak ada yang mengenakannya. Biarlah orang-orang akan menganggapnya aneh, yang penting Caramel telah melakukan sesuai arahan Rafka.
"Ngapain lu?" Jane melihat Caramel heran karena tiba-tiba memasang pelampung.
"Rafka bilang bakal ada gelombang tinggi, gue mau pake buat jaga-jaga, lu mau pake juga nggak?" Caramel berbisik takut membuat penumpang lainnya panik.
"Serius lu?" Jane mendelik dengan panik ikut mengambil pelampung di sisi kiri kapal.
"Kasih Doni juga." Pinta Caramel.
Tanpa bertanya apapun lagi Jane memberikan pelampung untuk Doni. Ia percaya pada Rafka jika lelaki itu mengatakan soal gelombang atau apapun yang berkaitan dengan cuaca karena Rafka memang bekerja di bidang itu. Tidak mungkin Rafka bercanda, Jane tahu Rafka bukanlah lelaki yang suka bercanda.
Caramel memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas kecil bening yang kebetulan anti air. Model tas seperti itu sedang ngetrend akhir-akhir ini, Caramel merasa beruntung karena menggunakan tas tersebut saat ini.
"Kapal ini bakal tenggelam?" Jane bertanya dengan panik pada Caramel yang berpura-pura tenang.
"Semoga enggak." Caramel menggeleng, walaupun ia jago renang tapi tetap saja ini lautan yang dalamnya tak bisa disamakan dengan kolam. "Lagian Rafka bilang ini cuma buat jaga-jaga aja, gue yakin kapal ini cukup kuat."
Jane menyandarkan tubuhnya pada kursi tidak tenang, sekuat apapun kapal buatan manusia tetap akan hancur juga jika terhantam ombak besar.
Caramel menyadari bahwa langit yang tadinya cerah berubah gelap tertutup mendung, angin pun bertiup sangat kencang disertai gerimis ringan. Caramel berdoa dalam hati agar kapal ini bisa sampai di pelabuhan Gilimanuk dengan selamat. Caramel memeluk tubuhnya sendiri yang terasa dingin, ia jadi takut membayangkan hal buruk menimpa mereka.
"Aaaah!" Beberapa penumpang berteriak ketika merasakan kapal terombang-ambing lebih kuat dari biasanya. Bagian dalam kapal juga sedikit miring karena terpaan ombak.
"Diberitahukan kepada penumpang untuk memakai pelampung yang tergantung di sisi kanan dan kiri kapal, harap tenang jangan membuat keributan, ombak saat ini hampir mencapai tiga meter." Suara pemberitahuan dari pengeras suara membuat para penumpang riuh, walaupun diminta untuk tidak membuat keributan tapi tetap saja mereka gaduh dan panik.
"Duh gue takut nih." Jane menggenggam tangan Doni yang duduk di sampingnya.
Caramel berpegangan kuat pada pelampung yang dikenakannya, bukankah ia tak akan tenggelam dengan pelampung ini?
Perhatian-perhatian, gelombang saat ini mencapai tiga meter.
Telinga Caramel menangkap suara tersebut dari handy talky. Mengapa gelombang tinggi begitu cepat datang, tadinya laut terlihat tenang bahkan Caramel dan Jane sempat keluar dan mengabadikan momen tersebut.
Petugas yang berdiri di tengah deretan kursi penumpang tampak berusaha tetap tenang, menyembunyikan rasa gusar mereka agar tidak membuat penumpang panik.
__ADS_1
Tiba-tiba penumpang berteriak panik saat mereka merasakan hantaman kuat pada badan kapal hingga beberapa saat kemudian kapal menjadi miring ke sisi kiri. Barang-barang terseret mengikuti kemiringan kapal.
"Keluar dari kapal!" Seorang petugas perempuan memberi arahan kepada penumpang agar keluar kapal sesegera mungkin sebelum kapal yang mereka tumpangi benar-benar tenggelam.
"Mbak, ayo keluar dari kapal, kami akan segera meminta bantuan kapal lain untuk mengevakuasi para penumpang, berenang lah sejauh mungkin dari kapal dan usahakan untuk tetap bersama." Petugas wanita itu menarik Caramel untuk beranjak dari kursi.
"Ayo." Doni memegang tangan Jane untuk menenangkannya padahal ia sendiri juga panik.
Caramel tertegun, ia tidak bisa berjalan tegak di atas lantai kapal yang semakin miring. Penumpang lain juga berteriak panik, beberapa yang lain sudah melompat dari kapal setelah menggunakan pelampung sesuai arahan petugas.
"Lu jago renang kan, dalam hitungan ketiga kita harus lompat." Jane menatap Caramel yang pucat. Ia tak kalah takut bahkan sekujur tubuhnya gemetar tapi mencoba tetap tenang karena kepanikan hanya akan membuatnya semakin kehilangan rasa yakin.
Byurr!!
Doni melompat lebih dulu, ia merentangkan tangan bersiap-siap menangkap tubuh Jane.
Caramel memejamkan mata menarik napas dalam-dalam, tiba-tiba wajah tampan Rafka muncul di benaknya. Caramel tersenyum getir, ia bukan ABG lagi tapi mengapa ia tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara dewasa. Caramel telah bertindak gegabah hingga berani pergi sejauh ini mengabaikan semua ucapan Rafka padahal ia hanya perlu menekan sedikit ego nya demi menghindari kesalahpahaman. Lalu sekarang apa? menyesal pun tak ada gunanya.
Maafkan sifat mama yang egois ini, mama cuma bisa berdoa semoga kamu bisa lahir ke dunia dengan selamat.
Dinginnya air laut seketika memeluk tubuh mereka yang gemetar karena takut. Hujan turun semakin deras membuat suasana semakin mencekam. Dimana matahari yang tadinya bersinar begitu cerah?
Gelombang tinggi membuat mereka kesulitan berenang, pelampung yang dikenakan pun tetap membuat mereka terombang-ambing terseret ombak.
"Gimana orang-orang yang nggak bisa renang?" Caramel menoleh ke belakang, kapal yang mereka tumpangi semakin miring bahkan setengah badan kapal telah tenggelam.
"Kita pakai pelampung, pasti semuanya selamat." Sahut Jane optimis.
Caramel menggeleng, "gue lihat beberapa orang nggak sempet pakai pelampung." Suaranya gemetar, ia membayangkan beberapa orang tidak bisa diselamatkan karena tidak memakai pelampung. "Ahh!" Caramel meringis.
"Kenapa?" Jane melihat Caramel panik.
"Gue ngompol?" Caramel mendelik, ia tidak yakin akan ucapannya tapi itulah yang sedang ia rasakan.
Doni menahan tawa mendengar ucapan Caramel, bisa-bisanya disaat seperti ini Caramel masih bisa melawak. Namun Jane justru berbeda, ia menatap Caramel takut.
__ADS_1
"Serius ngompol?" Tanyanya memastikan bahwa Caramel memang hanya tidak sengaja buang air kecil.
"Eh tapi kok banyak?" Caramel meringis merasakan sakit di perut bagian bawahnya, ia pernah merasa kram beberapa kali sebelum ini tapi sekarang rasanya lebih sakit.
"Lu pegangan deh ke suami gue." Jane meminta Caramel berpegangan pada Doni. "Pa, kayaknya Caramel pecah ketuban deh."
"Sini-sini." Doni menarik lengan Caramel dan melingkarkan pada lehernya, ia melihat bibir Caramel mulai membiru. Mereka semua kedinginan tapi Doni dan Jane lebih mengkhawatirkan keadaan Caramel karena sedang hamil.
"Jane, kalau gue mati anak gue masih bisa hidup kan?" Caramel melirik Jane dengan lemah.
"Lu ngomong apa sih!" Jane melotot tidak suka pada ucapan Caramel.
"Gue minta maaf karena bawa kalian kesini, harusnya gue pergi sendiri." Bibir Caramel gemetar, ia meringis karena perutnya mulas. "Dingin." Ujarnya parau, ia menangis di tengah guyuran hujan dan ombak yang menerpa mereka. Caramel tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini, sakit, dingin dan menyesal. Jika memang tidak bisa diselamatkan maka ia berharap Rafka memaafkannya. Caramel merasa tak pernah menjadi istri yang baik untuk Rafka padahal Rafka selalu menjadi suami ideal untuknya.
Doni mengeratkan pegangan tangan Caramel pada lehernya sembari mencoba terus berenang.
"Tutup mulut lu!" Bentak Jane, ia berenang ke sisi kanan melihat ada petugas yang berada tak jauh dari mereka. "Mas, kapan kapal bantuan itu sampai?" Tanyanya.
"Kami sudah menghubungi kapal lain, mereka akan datang secepat mungkin." Jawab petugas tersebut.
"Mas, temen saya lagi hamil, tolong selamatkan dia dulu."
"Kita akan selamatkan semua."
Jane mengangguk samar, "Cara!" Ia berteriak kembali mendekat pada Caramel dan Doni.
"Aah perut gue sakit sumpah!" Caramel menggigit bibirnya melihat Jane.
"Lu harus bertahan, kapal lain bakal dateng dan evakuasi semuanya."
Caramel mengepalkan tangannya kuat, dingin semakin menusuk ke tulang. Mulutnya terasa asin dan sedikit hangat, satu-satunya kehangatan yang saat ini bisa dirasakan nya, itu berasal dari darah yang mengalir di bibirnya. Caramel telah menggigit bibirnya terlalu kuat hingga berdarah.
Caramel jadi ingat impiannya waktu kecil adalah berenang bebas di laut, di tengah hujan tanpa ada yang menyuruhnya pulang. Impian yang begitu indah di bayangan Caramel sekarang berubah menjadi tragedi yang bisa saja merenggut nyawanya.
Mata Caramel kembali terpejam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Kepalanya jatuh ke tengkuk Doni. Saat itu terjadi Jane berteriak histeris memanggil nama Caramel. Suara Jane semakin samar di telinga Caramel teredam hujan atau karena ia yang memang telah kehilangan kesadaran.
__ADS_1