Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Grand opening Caramel Sleepwear hari itu berlangsung meriah dengan kehadiran teman-teman Caramel dan beberapa karyawan yang merupakan bagian dari awal mula terbentuknya bisnis Caramel hingga bisa seperti sekarang.


Meski Caramel merasa ini jauh dari kata sukses tapi ia ingin memberi apresiasi kepada karyawannya yang begitu sabar memenuhi kemauannya. Mereka mewujudkan semua permintaan Caramel yang kadang tidak masuk akal seperti aku mau bahannya nyaman, menyerap keringat tapi setelah jadi harga satu potong baju jangan lebih dari 250 ribu.


Beberapa pengunjung Mall yang kebetulan lewat dan penasaran singgah di toko Caramel, sekedar melihat-lihat. Jika ada yang piyama menarik perhatian, mereka akan mengambilnya—meraba setiap bagian piyama itu lalu menatap cermin, menerka apakah baju tersebut cocok dikenakan. Ada dua tipe pengunjung, pertama ia yang jatuh cinta dan langsung menuju kasir untuk membayarnya, tipe kedua mengembalikan piyama yang sudah dilihat ke gantungan lalu pergi.


Banyak dari pengunjung yang datang merupakan pembeli online Caramel Sleepwear, karena banyak produk yang launching secara eksklusif maka mereka datang untuk memboyongnya.


Caramel yakin di dunia ini bukan hanya dirinya yang begitu mencintai piyama, ada banyak orang yang sama sepertinya. Itu yang membuat Caramel bertekad untuk membuka toko ini. Apalagi di tahun 2021 piyama telah didesain lebih trendy hingga tak jarang orang mengenakannya saat keluar rumah. Piyama bukan lagi pakaian tidur melainkan baju yang nyaman untuk dipakai dalam segala kondisi.


"Ya ampun Caramel abis ngelahirin udah langsing lagi loh." Resti salah satu teman kuliah Caramel menyapa. Beberapa waktu yang lalu mereka juga bertemu di apartemen saat Caramel baru pulang dari Bali.


"Gimana nggak langsing, Arnesh kalau udah minum ASI bisa dua jam nonstop." Caramel tertawa di ujung kalimatnya, benar kata orang kalau menyusui adalah diet paling ampuh setelah melahirkan.


"Bayi laki-laki emang gitu."


"Eh udah cobain salad buahnya belum?" Caramel menyediakan salad buah untuk pengunjung karena ini hari pertama toko buka sekaligus mempromosikan salad buah Kayla. Sambil menyelam minum air.


"Udah-udah, enak banget." Puji Resti jujur, ia sudah menghabiskan satu cup salad buah berukuran sedang.


"Syukur kalau gitu, lanjut lihat-lihat ya." Caramel mempersilahkan Resti melihat piyama yang lain di ruangan itu sementara ia menghampiri Jane dan Kayla di meja kasir.


"Orang-orang pada suka sama salad lu." Tukas Caramel pada Kayla.


"Tentu aja mereka suka, siapa dulu yang bikin." Sahut Kayla bangga.


"Mereka suka karena gratisan aja tuh." Timpal Jane.


"Ih apaan, lu aja suka." Cibir Kayla tidak terima.


Caramel memutar badan membiarkan Jane dan Kayla memulai perdebatan mereka yang tak akan menemui titik temu. Caramel sedikit mendongak pada layar televisi yang terpasang di salah satu sisi dinding. Layar tersebut tengah menampilkan peta kota Jakarta.


"Cuaca hari ini diperkirakan akan terjadi hujan di sebagian besar wilayah Jakarta dengan intensitas ringan hingga sedang, jangan lupa untuk membawa payung atau jas hujan anda saat keluar rumah."


Caramel terpaku melihat siaran prakiraan cuaca, ia bukan orang yang suka menonton acara berita tapi jika penyiarnya adalah suaminya sendiri maka itu bisa berubah. Ternyata melihat Rafka di depan layar televisi membuat perasaan Caramel tak karuan, sungguh berbeda jika ia bertatapan langsung. Ada kehangatan yang perlahan menelusup ke dalam rongga dada Caramel.


"Wah bisa juga Rafka yang kaku itu tampil di depan tv." Celetuk Jane yang perhatiannya juga teralih pada siaran prakiraan cuaca. Perdebatannya dengan Kayla terpaksa dihentikan berkat Rafka.


Caramel menahan senyum, itu adalah kali kedua Rafka terlihat di layar tv. Saat ini BMKG memiliki channel tv sendiri yang menampilkan berbagai berita tentang metereologi, klimatologi dan geofisika di seluruh Indonesia. Meski Rafka bagian dari perubahan iklim, tapi ia juga berpeluang besar untuk mengumumkan prakiraan cuaca terhadap masyarakat.


"Itu karena dia udah nikah sama Caramel, lu inget nggak pertama kali kita ketemu Rafka, dia kaku banget kayak kanebo nggak pernah dicuci." Balas Kayla.


Dua sahabat Caramel memang bermulut pedas, itu sebabnya persahabatan mereka bertahan hingga sekarang karena kepribadian ketiganya yang hampir sama.


"Kebangetan ya kalian, ngomongin Rafka di depan istrinya." Hardik Caramel yang menyudahi acara nonton berita 5 menit tersebut.


"Eh sorry, kita di belakang lu nih sekarang." Jane mencibir.

__ADS_1


Caramel hendak membalas ucapan Jane tapi ada pembeli yang hendak membayar belanjaannya menghampiri meja kasir, ia terpaksa menelan kembali kalimat yang sudah berada di ujung tenggorokan.


"Terimakasih sudah berkunjung kemari." Ucap Caramel kepada pembeli tersebut.


Pembeli itu membalas ucapan Caramel dengan senyum, ia menyodorkan kartu kredit kepada Jane untuk membayar belanjaannya.


"Silahkan." Seorang karyawan memberikan paper bag merah jambu bertuliskan Caramel Sleepwear yang di dalamnya terdapat 4 pasang piyama.


"Makasih udah borong kakak." Tambah Jane seraya memberikan kembali kartu kredit milik pembeli itu.


"Sama-sama." Ia menebarkan senyum sebelum keluar dari toko.


Caramel senang karena dihari pertama ia membuka toko para pengunjung menyambutnya dengan antusias. Ia berharap produk Caramel Sleepwear akan selalu dicintai oleh banyak orang.


******


Mobil BMW series coupe putih berhenti tepat di depan Caramel yang berdiri di halaman PIM dengan sebuah payung hitam di tangannya. Sebelum Rafka membukakannya pintu, Caramel lebih dulu membukanya dan masuk ke mobil dengan gerakan cepat.


"Bener-bener turun hujan." Caramel membungkus payung lipat yang baru ia pakai dan meletakkannya di jok belakang.


"Kamu tidak percaya dengan analisis ku?"


"Bukan nggak percaya, aku cuma terlalu kagum sama kamu."


"Bagaimana acaranya?" Rafka melepas seat belt menoleh pada Caramel.


"Semuanya lancar." Caramel kembali menutup pintu mobil. "Walaupun capek tapi aku seneng karena banyak pengunjung yang datang."


"Kamu juga luar biasa hari ini." Caramel mengacak rambut Rafka yang selalu rapi, ia memberikan kecupan singkat di bibir sebelum Rafka kembali ke kursi kemudi. Sekilas Caramel melihat pipi Rafka memerah, ia menahan senyum—ternyata kaum lelaki juga bisa tersipu begitu.


"Aku tidak ingin tapi atasan tetap memintaku melakukannya." Rafka mulai menjalankan mobil keluar dari area Pondok Indah Mall yang tak pernah sepi oleh pengunjung.


"Its okay, kamu bisa dapat pengalaman baru kan."


Rafka mengangguk, baginya mendapatkan pengalaman baru memang penting tapi tidak dengan tampil di depan tv, ia sangat malu. Bahkan kakinya tidak bisa bergerak meski kamera sudah mati. Sungguh Rafka tidak ingin melakukannya lagi.


"Bekal kamu abis nggak?" Caramel mengeluarkan Snack apel beraroma kayu manis dari dalam tas jinjing nya, ia lupa telah melewatkan makan siang karena terlalu sibuk di toko tadi.


"Seperti biasa, aku tidak membiarkan satu butir pun tertinggal."


"Kita jemput Arnesh ya." Caramel mengunyah Snack itu dengan lahap dan gigitan yang besar, ia ingin segera sampai di rumah orangtuanya dan makan disana.


"Mama bilang Arnesh tidak rewel, dia anak yang baik dan pengertian."


"Aku nggak mau ninggalin Arnesh kelamaan kayak gini." Caramel melepas jasnya. "Kamu lihat jadi sebesar apa wadah ASI Arnesh gara-gara kami nggak ketemu seharian."


Rafka hanya melirik sebentar pada Caramel, ia enggan melihatnya terlalu lama agar tetap fokus menyetir. Jika lebih dari dua detik Rafka melihat Caramel yang hanya mengenakan kaos oblong putih itu maka ia tak akan bisa melanjutkan perjalanan. Kalian tahu mengapa? karena Rafka berubah jadi pria mesum saat bersama Caramel.

__ADS_1


Sekitar 1 jam perjalanan dari PIM akhirnya mereka sampai di rumah orangtua Caramel untuk menjemput Arnesh. Caramel terpaksa menitipkan Arnesh karena ia akan sibuk mengurus grand opening Caramel Sleepwear. Caramel berjanji tak akan pernah meninggalkan Arnesh satu hari penuh lagi.


"Arnesh baru aja mandi lo Ma, Pa." Mama Caramel memberikan Arnesh pada Caramel, ia tahu Caramel pasti merindukan sang buah hati setelah seharian tidak bertemu.


"Udah wangi ya sayang." Caramel menciumi wajah Arnesh yang penuh bedak bayi, "udah ganteng kayak Papa nih."


"Tentu saja Arnesh yang lebih ganteng sekarang." Rafka mengusap kepala Arnesh dan menciumnya, Arnesh tertawa melihat Caramel dan Rafka bergantian. Kaki dan tangan Arnesh aktif bergerak saat ia merasa senang.


"Kalian harus makan disini ya, Mama masak banyak tuh." Ujar Mama Caramel.


"Biar aku gendong Arnesh, kamu makan duluan." Rafka tahu saat ini Caramel sedang kelaparan. Selama perjalanan kesini Caramel menghabiskan lima bungkus Snack apel yang katanya bagus untuk diet.


"Biar Mama yang gendong, kalian makan aja." Kata Mama Caramel lagi, ia tidak mungkin membiarkan Caramel makan tanpa Rafka.


"Tidak Ma, Mama sudah mengurus Arnesh seharian." Sahut Rafka lagi.


"Serius nggak apa-apa?" Caramel ragu-ragu melihat Rafka.


"Iya sayang." Rafka mengambil alih Arnesh di gendongan Caramel.


Caramel buru-buru pergi ke ruang makan bersama mamanya, ia tidak sabar mengisi perutnya yang kosong—sebenarnya sedikit terisi oleh 5 bungkus Snack yang dibelinya untuk diet tapi tentu saja itu tak akan berhasil karena ia menghabiskan 5 bungkus sekaligus. Lagi pula Caramel tidak berniat untuk diet, ia hanya ingin makan Snack sehat.


"Papa kok belum dateng?" Caramel berada di kursi yang biasa ia duduki saat masih tinggal disini. Ia mengambil nasi dengan soto daging dan sambal kecap serta kerupuk.


"Papa agak malem pulangnya." Mama Caramel tidak ikut makan, ia menunggu sang suami karena sudah terbiasa makan bersama. "Eh gimana acara kamu tadi?"


"Lancar kok, Ma banyak yang dateng juga, temen-temen kuliah juga ada yang dateng."


"Mama doain Caramel Sleepwear makin sukses dan lancar terus."


Sementara itu Rafka mengajak Arnesh mengobrol seperti kebiasannya sejak sang buah hati berada di dalam perut Caramel. Bedanya saat ini Arnesh sudah bisa merespon ucapan Rafka dengan suara aoaoao yang menggemaskan.


Jam dinding menunjukkan pukul 7 tepat ketika Rafka dan Caramel hendak pulang. Mereka juga menunggu hingga papa Caramel kembali dari kantor.


Jalanan basah oleh hujan yang sejak tadi siang mengguyur ibu kota. Rafka mengendarai mobil dengan kecepatan rendah karena jalanan licin.


"Pules banget si Abang tidurnya." Tukas Caramel memecah keheningan di antara mereka sejak berada di dalam mobil. Caramel menoleh melihat Arnesh yang terlelap di carseat sedangkan ia berada jok depan.


"Mama nya juga boleh tidur, nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu."


"Nanti kamu nggak ada temen ngobrol."


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu sedang menahan kantuk." Dengan cekatan Rafka merebahkan sandaran kursi agar posisi Caramel lebih nyaman.


Caramel terkejut untuk sesaat, bisa-bisanya Rafka melakukan itu sambil menyetir. Caramel memang ngantuk, kelopak matanya terasa berat tapi ia berusaha tetap membukanya hingga sampai di apartemen nanti.


__ADS_1



Bu CEO hadir nih!


__ADS_2