Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

"Wajah mu pucat sekali, ada apa?" Rafka menoleh sesaat pada Caramel yang duduk di sampingnya sebelum kembali fokus ke jalanan.


Mereka sedang dalam perjalanan kembali dari Pacific Place, mengakhiri acara reuni jauh lebih cepat. Rafka merasa ada yang tidak beres dari Caramel sejak wanita itu keluar dari toilet.


"Ada apa di toilet tadi?" Tanya Rafka to the point.


"Aku habis jambak rambut Elsa."


"Ada apa?"


"Dia suka sama kamu masa!" Suara Caramel meninggi, ia mencengkram kursi menahan emosi mengingat kalimat Elsa tadi.


"Lalu?" Ekspresi Rafka datar.


"Dia bilang aku hamil sama cowok lain terus nyuruh kamu yang tanggung jawab."


"Dia bilang begitu? ucapan bodoh macam apa itu." Rahang Rafka mengeras, harusnya ia memberi pelajaran pada Elsa tadi. Namun Rafka telanjur mengajak Caramel pergi dari sana, ia pikir istrinya tidak nyaman berada di tengah-tengah orang yang tidak dikenalnya.


Rafka melihat jalanan di belakang melalui spion, "aku harus kasih perhitungan sama dia."


"Kita mau kemana?" Caramel panik, ia tak mau Rafka marah-marah di tempat umum karena Elsa.


"Udah nggak usah, kita pulang aja, cewek kayak gitu emang sengaja cari perhatian, kalau kamu samperin Elsa itu berarti dia berhasil mengusik rumah tangga kita."


Rafka menahan napas, benar juga ucapan Caramel. Rafka tak peduli orang-orang menghinanya, tapi saat mereka mengusik Caramel, ia tak bisa menerimanya.


"Maaf." Ucap Rafka akhirnya, ia merasa bersalah karena telah membawa Caramel ke acara reuni itu.


"Aku minta maaf karena sudah membawamu bertemu mereka."


Caramel menggeleng, "i'm okay." Senyumnya mengembang tipis, "lagi pula aku yang ngajak buat kita datang ke acara itu, asal kamu nggak terpengaruh sama Elsa aku pasti baik-baik aja." Caramel meletakkan kepalanya pada lengan Rafka, ia takut jika cewek sexy bernama Elsa itu berhasil menggoda suaminya. Ahh, Caramel tidak bisa membiarkan itu terjadi.


"Bahkan aku tidak ingat pernah punya teman bernama Elsa." Balas Rafka jujur, tak ada masa SMA yang berkesan di hatinya kecuali Caramel.


Sejak SMA seluruh pikiran Rafka hanya tertuju pada Caramel dan keluarganya. Masa yang membuat Rafka bahagia dan berbunga sekaligus sedih. Dimana Rafka mulai jatuh cinta pada Caramel tapi pada saat yang bersamaan orangtuanya bercerai karena perselingkuhan papanya. Hal itu membuat Rafka sangat terpukul, ia tak bisa memaafkan papanya sampai sekarang.


"Tapi dia punya dada besar." Caramel mengerucutkan mulutnya.


Rafka tertawa, kenapa mereka harus membahas soal ukuran dada orang lain.


"Aku menyukaimu sejak dua belas tahun yang lalu, apa dulu dadamu besar?"


Caramel terdiam, ucapan Rafka benar. Mengapa ia harus mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti. Seharusnya Caramel bersyukur memiliki lelaki sebaik Rafka, yang mencintainya dalam waktu yang sangat lama.


"Ini seblak Bu Rudi, mau mampir nggak?" Rafka menemukan ide untuk mengembalikan mood Caramel, Danu bilang seblak adalah senjata manjur untuk menaklukkan wanita. Rafka tidak yakin tapi apa salahnya jika ia mencoba, kebetulan mereka melewati seblak kesukaan Caramel.


"Boleh." Caramel mengangguk, entah kenapa ia merasa pusing dan mual seperti masuk angin. Apa karena ia hamil? tapi selama ini ia baik-baik saja. Bertemu Rama membuatnya mual, bukan sekedar muak tapi ia benar-benar ingin muntah. Apalagi tadi Rama mencoba untuk menjadi pahlawan kepagian.


Rafka memarkir mobilnya di pinggir jalan, halaman warung seblak itu tidak terlalu luas untuk menampung kendaraan pembeli.


"Kamu cari meja gih, biar aku yang pesen." Pinta Caramel pada Rafka, ia harus mengantre dengan pembeli yang terlebih dahulu datang. Mencium aroma kuah dan sambal membangkitkan selera makan Caramel. Air liur memenuhi rongga mulutnya ingin segera merasakan kenikmatan seblak super pedas yang menjadi favoritnya.


Rafka mendapat tempat kosong di meja paling belakang, lebih baik jauh dari pengunjung lain. Sebenarnya Rafka tidak suka makan di tempat ramai seperti ini, ia lebih suka makan di rumah dengan masakan rumahan tentunya. Namun demi sang istri, Rafka harus rela menyingkirkan rasa tidak nyamannya.


"Mas, aku dua porsi topping lengkap ya." Tukas Caramel kepada si penjual, walaupun seblak itu bernama Bu Rudi tapi hampir semua pelayannya merupakan mas-mas.


"Caramel ya?"


Caramel menoleh mendengar seseorang memanggil namanya. Ekspresi datar Caramel seketika berubah setelah melihat papa Rafka berada di depannya. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah acara pernikahan itu.


"Pa, apa kabar?" Caramel mencium tangan mertuanya, lidahnya sedikit kaku saat memanggil lelaki paruh baya itu dengan sebutan papa, "Ma ...." Ia juga menyapa mama tiri Rafka. Melihat istri wanita itu membuat Caramel jadi salah fokus ke arah bibir. Sampai sekarang Caramel masih penasaran pada merek lipstik yang mama tiri Rafka pakai. Seharusnya Caramel menanyakannya saat akad nikah tapi ia lupa saking bahagianya dengan momen tersebut.


"Baik, Rafka mana?"


"Ada di dalam, kami lagi antre mau makan seblak, Papa juga?"


"Iya, ini kesukaan Mama Rafka jadi Papa mampir kesini untuk beli."


"Mama tidak pernah suka seblak." Suara berat itu mengejutkan tiga orang yang sedang asyik mengobrol tersebut.


Caramel terkejut dengan kedatangan Rafka, lelaki itu datang tiba-tiba.


Senyum papa Rafka memudar, ia gelagapan hendak membalas ucapan Rafka.


"Mungkin maksud Papa itu kesukaan istri Papa." Wajah Rafka dingin, sedingin kulkas yang disetel dengan temperatur paling dingin.


"Kamu ketemu Papa bukannya nanya kabar malah bilang kayak gini, contoh istri kamu, dia baik sama Papa dan Mama tiri kamu."


Rafka melirik Caramel lalu menarik tangan wanita itu, "aku sudah menemukan tempat duduk, ayo pergi sebelum ditempati orang lain."


"Kami permisi dulu Pa, Ma" Ucap Caramel sebelum Rafka menariknya meninggalkan mereka.


Caramel menurut saja, dari pada membuat Rafka marah. Caramel tidak mau lagi melihat Rafka marah, itu adalah hal paling mengerikan selain menghadapi nasabah cerewet.


"Aku yakin Papa pernah ngelakuin hal buruk dimasa lalu sampe kamu kayak gini sama dia, aku bakal selalu nungguin sampai kamu siap ceritain semua sama aku." Caramel meletakkan tangannya di atas punggung tangan Rafka, ia harus menenangkan lelaki itu dari kemarahan.


Rafka ingat persis bagaimana kejadian yang akhirnya membuat papa dan mamanya bercerai, itu terjadi bertepatan dengan ulang tahun Caramel. Rafka tidak siap menceritakannya pada Caramel.


"Papa ketahuan selingkuh saat aku SMA .... " Pandangan Rafka lurus, ia bisa melihat papa dan ibu tirinya masih berada di depan sana. "Aku ingat persis kejadian itu karena bertepatan dengan ulang tahunmu."

__ADS_1


Alis Caramel sedikit terangkat karena ia tidak menduga kejadian buruk yang menimpa keluarga Rafka justru bertepatan dengan hari ulang tahunnya.


"Saat itu seharusnya aku melakukan sesuatu yang sangat penting sebelum pulang tapi tiba-tiba Febi meneleponku sambil menangis, dia bilang kalau Papa dan Mama bertengkar hebat."


Caramel mengeratkan genggamannya pada tangan Rafka, ia bisa membayangkan betapa paniknya Rafka saat itu. Apalagi Febi masih berusia sekitar 15 tahunan, pasti ia sangat terpukul.


"Aku pulang lebih cepat dari rencana, sampai rumah aku lihat Mama menangis sedangkan Papa sudah pergi dengan selingkuhannya yang sekarang menjadi istrinya." Rafka menggigit bibirnya, ia tidak mau mengingat kejadian itu tapi ia harus menceritakannya pada Caramel.


"Febi bercerita kalau Papa bilang Mama sudah tidak menarik, dia bilang tidak mencintai Mama lagi." Rafka menunduk, sakit dalam hatinya kembali terbuka lebar mengingat Febi sesenggukan dan menceritakan semua yang terjadi saat itu.


"Kamu nggak pernah punya waktu buat aku, kamu sibuk keluar sama temen-temen mu, di luar banyak wanita yang lebih perhatian sama aku."


"Jangan jadikan sikap ku sebagai alasan, aku tahu kamu ngehamilin perempuan lain kan, kamu mau nikahin ******* kamu kan!"


"Jaga mulutmu, dia jauh lebih baik dari kamu!"


"Febi ingat persis ucapan Papa dan Mama saat itu, dia punya ingatan yang kuat."


"Kita sama-sama jadi korban perselingkuhan, walaupun ceritanya beda tapi aku bisa ngerti perasaan kamu." Caramel mengulas senyum dengan mata berkaca-kaca, sekarang ia mengerti mengapa Rafka tidak bisa memaafkan papanya, sama seperti ia tak bisa memaafkan Rama sampai kapanpun.


"Aku pikir laki-laki yang berselingkuh tak akan pernah bisa setia, tapi ternyata Papa bisa setia dengan istrinya yang sekarang." Rafka tersenyum hambar.


"Sekarang kamu punya aku, kita saling memiliki untuk menguatkan satu sama lain." Ucap Caramel lembut, itu tidak terlihat seperti dirinya. Sejak menikah dengan Rafka, Caramel memiliki sisi lain yang jarang ia munculkan.


Rafka mengembuskan napas panjang, ia menggenggam tangan Caramel dengan kedua tangannya. Hatinya merasa tenang setiap kali melihat wajah cantik Caramel.


Pesanan mereka datang, dua porsi seblak dengan berbagai macam topping. Untuk sementara pikiran Caramel teralih pada seblak yang masih mengeluarkan asap.


"Aku tidak suka kaki ayam." Rafka melihat ceker di atas mangkok tanpa ada keinginan untuk memakannya.


"Taruh aja sini." Caramel dengan senang hati menerima tiga ceker dari mangkok Rafka.


Mama Rafka bilang anaknya tidak rewel soal makanan, Caramel memang tak menganggap itu salah. Justru bagi Caramel, Rafka memiliki selera makan yang aneh. Hampir semua orang suka makan mie instan dan ceker sedangkan Rafka tidak menyukainya. Namun akhir-akhir ini Rafka sering makan mie instan di luar.


"Aku minta Jane dan Kayla ke rumah ya abis ini?" Caramel menyeruput kuah berwarna merah khas seblak yang memiliki rasa pedas.


"Iya." Rafka mengangguk, ia juga menikmati seblak tanpa terganggu oleh pemandangan ceker pada mangkoknya. Berbeda dengan Caramel, seblak milik Rafka tidak terlalu pedas. Caramel tidak mau membuat suaminya menangis atau bolak-balik kamar mandi setelah memakan makanan pedas.


******


Caramel menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, setelah makan hampir dua porsi seblak, ia jadi mengantuk. Rafka tidak menghabiskan seblak miliknya sehingga Caramel harus menghabiskannya-dengan senang hati.


"Aku tidur ya." Caramel memejamkan matanya.


"Bukankah Jane dan Kayla akan kesini?"


"Longgarkan dulu jeans mu." Rafka duduk di pinggiran tempat tidur membuka kancing celana jeans Caramel.


Caramel terlalu ngantuk untuk sekedar mengganti pakaian padahal keringat membanjiri tubuhnya.


"Apa nyaman tidur seperti ini?" Tanya Rafka.


Nggak.


Caramel biasa tidur dengan baju wajibnya yakni piyama longgar yang menjadi favoritnya saat di rumah. Namun ia ingin segera terlelap walaupun sebentar sebelum Jane dan Kayla datang membawa prajurit mereka.


"Aku akan mengganti pakaianmu."


"Terserah yang penting jangan apa-apain aku."


"Maksud kamu?"


"Jangan raba-raba aku."


Rafka menggeleng seraya beranjak dari duduknya, memangnya kenapa jika ia melakukan itu pada istrinya sendiri.


"Kau mau baju yang mana?" Rafka menoleh pada Caramel sebelum ia masuk ke closet room.


Tidak ada jawaban dari Caramel, Rafka tersenyum karena istrinya terlelap begitu cepat. AC dan tempat tidur memang menjadi kombinasi yang sempurna untuk melepaskan lelah.


Rafka membuka pintu lemari paling ujung yang merupakan tempat khusus baju tidur Caramel dan dirinya. 6 tingkat paling atas milik Caramel sedangkan 2 rak paling bawah baju tidur Rafka.


"Caramel sering pakai ini." Rafka menarik sepasang piyama berwarna merah muda dengan aksen pita hitam pada bagian depan celananya.


Rafka kembali ke kamar untuk mengganti pakaian Caramel dengan sepasang piyama.


Caramel tidak sepenuhnya tidur saat Rafka melepas celana dan blouse yang dikenakannya. Hanya saja Caramel terlalu mengantuk sekaligus malu untuk membuka mata. Sebaiknya Caramel pura-pura tidur pulas hingga Rafka selesai. Caramel tak percaya bahwa menggantikan pakaiqn merupakan hal biasa bagi pasangan suami istri. Jane dan Kayla tak pernah menceritakan hal semacam itu pada Caramel.


Lagu Dynamite dari BTS berdering keras, itu adalah nada dering ponsel Caramel yang baru saja diganti. Nada dering ponsel Caramel memang selalu berbeda hingga Rafka tidak bisa mengenalinya. Bukan Caramel yang melakukannya, itu adalah kelakuan tangan nakal Jane atau Kayla.


Rafka beranjak untuk memeriksa si penelepon, ia juga membawa pakaian kotor Caramel.


"Halo." Rafka mengawali, itu telepon dari Jane.


"Ka, gue sama Kayla ada di depan apartemen elu nih, buruan buka!"


"Caramel tidur." Rafka melirik Caramel yang baru tertidur sebentar.


"Terus? lu mau gue pulang gitu, kagak ah pokoknya buka pintunya."

__ADS_1


Rafka menjauhkan ponsel dari telinganya dan memutus sambungan. Ia mendengus kesal meletakkan ponsel Caramel dan berjalan ke kamar mandi meletakkan baju kotor Caramel.


Jane dan Kayla melipat tangan di depan dada sembari mencoba mengintip ke dalam apartemen Caramel tapi tidak bisa.


"Ngintip ke dalam rumah orang dosa tahu!" Kayla memukul bahu Jane pelan mencoba menghentikan sahabatnya yang mengintip itu.


"Dih, mending ngintip ke dalam rumah orang dari pada gosipin tetangga." Jane mencibir.


"Dosa kok mending." Kayla memutar bola matanya kesal.


"Rafka mana sih, ampun dah si Caramel masa jam segini tidur sih." Jane bersandar pada pintu tepat saat Rafka membuka pintu sehingga membuat tubuhnya hampir terjengkang ke belakang.


"Oh maaf." Ucap Rafka karena hampir membuat Jane jatuh.


"Nggak usah minta maaf, lebaran masih lama." Balas Jane.


"Kita boleh masuk nggak?" Tanya Kayla.


Sebelum Rafka menjawab dua sahabat Caramel itu sudah terlebih dahulu menerobos masuk. Rafka hanya bisa menggelengkan kepala samar melihat perilaku Jane dan Kayla.


Untuk menjaga sedikit sopan santun, Jane dan Kayla duduk di sofa ruang tamu. Padahal biasanya mereka langsung masuk ke kamar Caramel, tapi kali ini mereka berlagak sedikit kalem di depan Rafka.


"Kalian akan menunggu hingga Caramel bangun?"


Caramel membuka mata mendengar ucapan Rafka, ia mengira Jane dan Kayla sudah sampai. Caramel segera beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar sebelum dua sahabatnya kesal dan mengomel pada Rafka.


"Aku udah bangun kok." Tukas Caramel dengan suara lantang.


Rafka menoleh melihat Caramel begitu juga dengan Jane dan Kayla.


"Kalau begitu aku akan keluar sebentar membeli camilan agar kalian lebih nyaman mengobrol." Rafka berjalan melewati Caramel.


"Makasih ya." Kata Caramel sebelum Rafka masuk ke dalam lift pribadi.


Caramel tersenyum lebar atas pengertian Rafka. Zaman sekarang suami seperti itu sangat sulit ditemukan. Kalaupun ada, pasti mereka akan jadi incaran banyak wanita sehingga peluang mu untuk mendapatkannya sangat sedikit. Namun berdoalah agar Tuhan memberikanku suami baik hati, yang mengerti dan bisa memperbaiki keburukanmu.


"Sexy amat lu abis diapain sama Rafka?" Cetus Jane saat Caramel duduk di antara dirinya dan Kayla.


"Emang siang bolong begini mau ngapain gue?"


"Dih elu kan pengantin baru apalagi hamil, biasanya cewek hamil tuh gairahnya tinggi."


"Bener banget, waktu hamil Kiara gue bisa tiga kali sehari udah kayak minum obat." Timpal Jane.


"Kalian apaan sih, geli gue dengernya." Caramel bergidik.


"Ya elah, tingkah lu udah kayak anak perawan padahal udah pengalaman soal begituan."


Caramel terdiam, efek seblak yang telah membuat mood nya naik kini sudah menguap bersama dengan hembusan napasnya. Caramel kembali mengingat kejadian tadi, ia mengajak dua sahabatnya bertemu karena ingin menceritakan soal Elsa di Odysseia tadi.


"Liat muka lu asem kayak sayur kemarin, kayaknya reuni tadi nggak sesuai dengan bayangan lu kan, pasti omongan gue soal CLBK bener." Duga Jane, berdasarkan pengalamannya reuni memang sering berakhir dengan cinta lama bersemi kembali.


"Ada cewek yang terang-terangan suka sama Rafka, pake bilang gue hamil duluan lah!" Caramel meluapkan kekesalannya, hanya pada Jane dan Kayla ia bisa mengungkapkan semuanya.


"Siapa orangnya? lu apain?" Kayla merapatkan duduknya pada Caramel.


"Elsa namanya, dadanya gede, badannya sexy."


"Wah bahaya tuh Car, lu harus hati-hati, pelakor zaman sekarang tuh udah pada canggih." Jane memperbaiki posisinya agar lebih nyaman mendengarkan cerita Caramel.


"Gue jambak rambutnya yang licin kayak lantai baru dipel."


"Bagus, nggak salah gue didik lu selama ini." Kayla terlihat bangga.


"Lu ada fotonya nggak?"


Caramel beranjak menuju kamar mengambil ponsel Rafka, ia menunjukkan foto profil akun WhatsApp Elsa. Kebetulan Elsa memasang foto terbaru dengan latar belakang tumbuhan hijau Odysseia.


"Gue tahu nih anak istrinya Rio yang owner Chinesse Resto deket sekolah kita Kay." Jane memukul-mukul paha Kayla.


"Udah cerai, Danu bilang Elsa tuh janda."


"Wah parah tuh Pak Rio keren banget kenapa bisa ditinggalin sih?" Kayla mengambil alih ponsel Rafka agar bisa melihat foto Elsa lebih jelas.


"Hati-hati Car, lu inget drama the World of the Married nggak?"


"Kenapa emang?" Caramel melirik Jane.


"Itu pelakornya bukan kaleng-kaleng, cantik banget."


"Jaga suami lu baik-baik." Tambah Kayla.


Caramel merebut ponsel Rafka dari tangan Kayla, "kalian tuh bukannya nenangin aku malah nakut-nakutin." Dengusnya.


.


.


__ADS_1


__ADS_2