
Dimana nih!
Aku terkejut saat terbangun di tempat yang asing bagiku, sebuah kamar mewah dengan tempat tidur super luas. Jangan-jangan aku diculik CEO tampan dan arogan seperti pada Webtoon yang sering dibaca Jane.
Lantai terasa begitu dingin saat kaki ku berpijak di atas nya, kenapa AC disini sangat dingin. Kaki ku melangkah tanpa perintah, aku seperti berada di antara alam nyata dan mimpi.
Akhirnya aku ingat kalau ini adalah apartemen milik Rafka, kami kesini tadi sore. Kenapa aku bisa tidur dengan mudahnya padahal ada seorang lelaki disini, bisa saja ia berbuat macam-macam padaku. Tapi tidak mungkin, Rafka si cowok lempeng itu tak akan berani melakukan apapun padaku.
Aku melihat punggung lebar Rafka di dapur, ia sedang memindahkan ayam goreng ke piring. Hidung ku mengendus aroma lezat dari ayam tersebut, pasti KFC. Ayam goreng KFC sudah mengalir di setiap pembuluh darahku, jadi aku tak mungkin salah mengenalinya.
"Astaga!" Rafka memekik terkejut saat melihat ku berdiri tepat di belakang nya. Bibirku berkedut berusaha menahan tawa, kasihan jika aku terlalu sering mentertawakan Rafka. "Caramel sudah bangun?"
Air liur memenuhi mulutku saat melihat piring berisi ayam di tangan Rafka, perutku juga sangat lapar. Oh sudah berapa lama aku tidur?
"Ayo makan." Ajaknya.
Aku mengekorinya menuju meja makan dengan 4 buah kursi mengelilingi meja berbentuk persegi tersebut. Ia menarik kursi mempersilahkan aku duduk disana.
"Ini jam berapa?" Tanyaku seraya mencomot satu potong ayam di piring sementara Rafka mengambil minuman di dalam kulkas dan meletakkannya di meja.
"Jam enam." Rafka duduk di hadapanku.
Aku berhenti mengunyah, itu berarti aku sudah tidur selama dua jam, yang benar saja.
"Saya sudah izin sama Mama untuk pulang telat hari ini, setelah makan segera lah mandi, saya juga sudah siapkan pakaian ganti untuk Cara."
Rafka memang cowok baik yang nggak aneh-aneh, demi apa dia nyiapin baju ganti buat aku.
"Kopi yang Cara pesan tadi sudah dingin, kalau mau saya bisa ambil lagi ke bawah."
"Mm," aku menggeleng, "nggak usah, sebentar lagi kan kita pulang."
Rafka hanya menunduk memperhatikan meja berwarna coklat mengkilap tersebut, apa menariknya benda persegi itu dibandingkan denganku. Apa karena aku baru bangun tidur dengan rambut berantakan jadi ia enggan melihat ku. Ah aku harus memakluminya, kami kenal karena perjodohan jadi Rafka pasti belum jatuh cinta pada calon istrinya yang cantik berseri ini. Zaman sekarang cinta dalam pernikahan itu tak lagi penting, kebanyakan mereka menikah hanya karena harta dan tahta sedangkan aku, karena umurku sudah 28 tahun dan orangtuaku menganggap gadis sepertiku belum menikah itu adalah aib, ada-ada saja.
Cara, kamu harus segera menikah, coba saja kami punya anak selain kamu pasti kami tidak akan bersikeras menyuruhmu menikah.
Begitu ucapan Mama dan Papa padaku hampir setiap hari sebelum aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Kenapa mereka menyalahkan ku hanya karena aku anak tunggal, kenapa Mama tidak memberiku adik atau kakak. Jika aku anak tunggal apa itu salah ku? dasar orangtua maunya bener terus!
"Cara, saya boleh tanya nggak?"
Aku melempar tulang paha yang sudah bersih dan licin karena aku sudah menggerogoti daging nya. Rafka selalu minta izin jika ingin bertanya sesuatu padahal aku sudah memberitahunya untuk bertanya saja tanpa izin terlebih dahulu, ini bukan forum diskusi, kenapa ia formal sekali.
"Kamu nanya gitu lagi, aku lempar tulang paha nih." Semprot ku, Rafka tampak menelan saliva nya. Apa aku seperti nenek sihir sehingga dia begitu takut dengan ku.
"Siapa nama laki-laki yang hampir menikah dengan mu dulu?"
Aku mengerjap, menyebutkan nama laki-laki itu sangat pantang untuk ku bahkan Jane dan Kayla menaruh nama nya pada daftar kata yang pantang diucapkan.
"Ah kalau nggak mau jawab, nggak usah dijawab." Rafka beranjak hendak meninggalkanku.
"Rama." Jawabku membuat Rafka menghentikan langkahnya, ia berbalik melihatku dengan wajah terkejut.
"Kamu kenal?" Tanyaku, jika dilihat dari ekspresi Rafka sepertinya ia mengenal Rama.
Rafka menggeleng. Bohong. Katanya dia tidak pernah berbohong, jika tidak kenal kenapa ekspresinya se-kaget itu.
__ADS_1
"Habiskan makan mu." Katanya sebelum pergi meninggalkanku, ia duduk di sofa dan menyalakan televisi.
Kenapa buru-buru sekali bahkan aku belum melihat dua kamar yang lain. Aku menyisakan 3 tulang ayam yang semuanya bersih dari sisa daging di atas piring. Rafka tidak ikut makan mungkin ia sudah makan lebih dulu saat aku tidur.
Tidak ada sabun saat aku hendak mencuci piring, akhirnya aku hanya mengguyurnya dengan air dan meletakkan piring bekas ayam itu pada rak. Dapur ini memiliki banyak sekali lemari untuk menyimpan barang. Tunggu sampai tinggal disini, aku akan mengisi semua laci dengan mie instan berbagai rasa favorit ku.
Rafka tampak serius menonton acara berita di salah satu stasiun tv swasta saat aku melewatinya untuk masuk ke kamar yang tadi ku tiduri.
Dingin menyelimuti tubuhku saat aku mengambil bathrobe yang terlipat rapi di atas meja kamar mandi. Sudah lama aku tidak mandi di tempat lain kecuali kamar mandi ku sendiri. Aku pikir setelah tumbuh dewasa bahkan tua begini aku sudah berani mandi di tempat lain tapi ternyata tidak sama sekali.
Baiklah aku memang perempuan modern yang lahir di kota metropolitan dan tumbuh besar dengan makanan serba instan, tapi aku tetap percaya hantu. Dari dulu aku tak pernah berani mandi sendiri di kamar mandi yang bukan milik ku. Aku selalu merasa ada yang mengawasiku di sudut ruangan, ini karena hobiku nonton film horor. Apa aku satu-satunya di dunia yang suka nonton film horor padahal penakut.
"Rafka." Aku melongok lewat pintu.
"Cara belum mandi? saya sudah meletakkan peralatan mandi disana, ada yang kurang ya?"
Aku nyengir dan keluar kamar, "aku mau kasih tahu kamu rahasia." Ujarku padanya yang berwajah datar, sedatar jalanan di depan rumah ku yang baru saja diperbaiki. Aku masih menimbang-nimbang akan memberitahunya atau tidak, biasanya orang yang mendengar ini akan mentertawakan ku. Tapi apa boleh buat, lagi pula sebentar lagi dia akan jadi suamiku, sudah seharusnya aku memberitahu nya semua tentang diriku.
"Tapi kamu jangan ketawa." Tambah ku.
"Saya tidak mudah tertawa." Ia meyakinkan ku. Aku percaya jika Rafka memang memiliki selera humor yang tak sereceh diriku.
"Sebenarnya aku nggak berani mandi di tempat yang bukan kamar mandi ku sendiri." Aku sudah menyiapkan telinga untuk mendengar suara tawa Rafka tapi tidak ada. Rafka benar-benar tidak tertawa, bahkan ia tak terlihat menahan tawa sedikitpun.
"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya nya.
"Ikut aku." Aku menyeret tangannya masuk ke kamar dan mendudukkan Rafka di atas tempat tidur. "Duduk lah disini sampai aku selesai mandi, aku tidak akan menutup pintu kamar mandi."
"Hm?" Rafka mendelik kaget dengan ucapan ku.
"Tapi jangan berani mengintip ku." Tegas ku pada nya.
Aku melenggang masuk ke kamar mandi yang memiliki luas dua kali dibandingkan dengan kamar mandi ku di rumah jadi walaupun pintu nya tidak tertutup, orang dari luar tidak akan bisa langsung melihat seseorang yang sedang mandi kecuali ia sengaja masuk lebih dalam.
Karena Rafka menyiapkan sampo sebaiknya aku juga keramas agar tak sia-sia ia membeli nya untuk ku. Bahkan Rafka tahu merek sampo dan sabun yang aku gunakan lengkap dengan varian favoritku. Kerastase dengan kemasan berwarna emas adalah sampo yang selalu ku gunakan dari dulu, berhubung aku tipe setia jadi aku jarang ganti produk.
Aroma vanilla memenuhi kamar mandi saat aku mengusapkan shower puff penuh busa ke seluruh tubuh. Jangan-jangan Rafka mengawasiku selama ini hingga tahu segala produk yang aku pakai untuk mandi. Apaan sih Car, ada-ada aja lu.
"Kamu boleh keluar, aku ganti baju dulu." Tukas ku pada Rafka yang kembali serius dengan layar televisi di depannya.
"Iya." Rafka mematikan televisi sebelum keluar dari kamar.
Senyumku mengembang melihat pakaian yang ternyata dari tadi ada di ranjang. Sebaiknya aku cepat mengganti bathrobe dengan pakaian ini, walaupun dilihat sekilas ini akan terlalu besar di tubuh ku. Ya sudah lah, tidak ada pakaian lain disini lagi pula Rafka sudah susah payah mendapatkan ini untuk ku, aku harus menghargainya sebagai calon istri yang baik.
"Nggak ada hairdryer ya disini?" Aku keluar mengibaskan rambut ku yang basah.
"Kenapa Cara nggak pakai celana nya?" Rafka terkejut melihatku mengenakan sweatshirt yang ukurannya kebesaran, bahkan panjang nya sebatas lutut ku.
"Kamu beli baju untuk siapa sih?" Aku bergegas duduk di samping Rafka, pura-pura memasang wajah kesal. Baju ini memang kebesaran tapi tidak terlalu buruk juga, anggap saja fashion korea masa kini. "Aku sampai nggak perlu pakai celana, atasannya saja bisa menutupi ku hingga sebatas lutut."
"M ... maaf."
"Jangan minta maaf." Aku memukul paha nya, "makasih udah siapin baju ganti buat aku, kamu baik banget Ka."
Rafka tersenyum kaku. Ia masih melakukan aktivitasnya melipat kertas origami warna-warni hingga berbentuk bintang.
__ADS_1
"Kayak anak TK bikin begituan." Sindir ku sambil meliriknya.
Rafka mengabaikan ucapan ku, ia menyusun origami bintang tersebut ke dalam jar lalu menutup nya.
"Bagus buat pajangan." Katanya.
"Mau dipajang dimana?"
"Menurut Caramel dimana?"
"Di kamar kita aja." Aku mengambil alih jar di tangan Rafka dan beranjak.
"Cara!"
"Hm?" Aku berbalik saat Rafka menghampiriku.
"Sebenarnya kamar disini yang lebih luas dan penataannya lebih rapi menurutku." Rafka berjalan membuka pintu kamar lain yang belum ku masuki tadi.
Begitu masuk aku dibuat terperangah oleh meja rias super besar, sementara di sekelilingnya terdapat lemari yang menyatu dengan dinding untuk menyimpan pakaian. Lemari itu memiliki 12 pintu, ah ini sih jauh lebih banyak dibandingkan dengan closet room di rumah ku. Aku juga bisa meletakkan semua skincare di meja rias nya.
"Aku taruh origami nya disini ya." Seruku pada Rafka yang masih di depan pintu sedangkan aku sudah duduk di tempat tidur untuk meletakkan jar berisi origami. Aku tak perlu jawaban dari Rafka, lagi pula ia tak akan tahu soal estetika ruangan.
"Hp Cara bunyi tuh."
Aku beranjak melewati Rafka demi mengambil ponsel di atas meja ruang tv.
"Katanya Rafka udah izin tapi kok Mama masih telepon." Aku menggerutu sambil mengaduk isi tas mencari ponsel. Sekali gerakan telunjuk, aku menjawab group video call yang ternyata bukan dari mama melainkan Jane dan Kayla.
"Apaan!" Semprot ku seraya duduk di sofa, Rafka juga sudah berada di samping ku. Ia selalu membuntuti ku seperti anak kucing. Aku mengacungkan ponsel agar Jane dan Kayla bisa melihat ku dengan jelas.
"Dih dimana lu?" Suara Jane.
"Lagi di tempat Rafka, ada apaan kayak orang penting aja kalian." Aku bersandar dan sedikit mendekat pada Rafka, tapi si mas calon suami ini cuek bebek hanya melihat layar sekilas.
"Rambut lu basah, Car?"
"Abis ngapain lu sama Rafka, astaga Car inget kalian belum nikah." Kayla geleng-geleng.
"Si Caramel udah nggak sabar tuh kayaknya, makanya nganu duluan."
"Dih dih nganu apaan, jangan sembarangan ya kalian." Mereka belum tahu saja Rafka seperti apa, menggenggam tangan ku saja ia tak berani bahkan tadi aku yang melakukan itu padanya.
"Car bukannya lu nggak berani mandi di tempat lain, jangan-jangan lu minta temenin si Rafka."
"Apa sih Jane, udah ah gue mau pulang nih sama Rafka, nanti gue telepon lagi." Aku segera menekan ikon telepon warna merah, Jane dan Kayla menghilang seketika.
"Kalau mau pulang, Caramel harus pakai celana yang tadi saya bawakan."
"Apa!" Aku memiringkan kepala, apa katanya? Aku harus pakai celana linen dengan sweatshirt over size ini, yang benar saja. Itu akan membuatku terlihat seperti balon berjalan. "Bukannya gini lebih bagus?"
"Tidak." Ia menggeleng.
Selera Rafka buruk sekali, ia bilang alasan menerima perjodohan ini karena aku cantik. Tapi jika aku mengenakan pakaian kedodoran begitu cantik ku bisa hilang.
"Kamu mau aku kelihatan jelek!" Aku berdiri berkacak pinggang di hadapannya.
__ADS_1
"Caramel cantik pakai apapun, ya sudah kalau nggak mau pakai kita nggak usah pulang."
Wtf! Aku menghentakkan kaki cukup keras sebelum melangkah masuk ke kamar meninggalkan si robot itu. Semoga aku tidak bertemu siapapun nanti setelah keluar dari apartemen ini, nanti mereka menganggap ku kurang waras.