
Author POV
Tumpukan kapas dengan noda darah berserakan di atas lantai. Sesekali terdengar suara lelaki mengaduh kesakitan ketika sang istri mengoleskan obat merah pada bagian wajahnya yang terluka. Bukan perlakukan lembut yang lelaki itu dapat dari sang istri melainkan sikap kasar sehingga luka itu bukannya kering justru darah semakin mengalir dari sana.
"Bereskan kapas-kapas itu." Adena beranjak membawa kotak kapas yang tadinya penuh sekarang tinggal sedikit.
Pandangan Rama mengikuti ke arah perginya Adena, ia menurut untuk membereskan kapas yang berserakan di atas lantai. Maklum Adena marah, Rama telah memeluk wanita lain yang tidak lain adalah mantan pacarnya sendiri.
Adena tak pernah menduga bahwa wanita yang ditemuinya beberapa waktu lalu bernama Caramel itu adalah mantan pacar Rama. Ini sudah empat tahun berlalu, Adena tak menyangka bahwa Rama masih mencintai Caramel. Walaupun pernikahan mereka terjadi karena kecelakaan, tapi lambat laut cinta tumbuh di antara mereka.
Awalnya Adena sama sekali tidak mencintai Rama, bahkan dulu ia pernah berpikir akan mengajukan cerai setelah anak itu lahir. Namun sikap manis Rama sebagai seorang suami telah meluluhkan hati Adena.
Rama melihat Adena duduk menunduk di atas tempat tidur. Adena menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergoyang-goyang itu berarti ia kembali menangis.
Perlahan Rama melangkah mendekati sang istri, sebesar apapun cintanya pada Caramel tetap saja ia mempunyai tanggung jawab pada Adena.
"Maafin aku .... " Rama mengusap punggung Adena, ia melirik Ara yang sudah tidur di samping mereka. Melihat sang putri membuat hati Rama sejuk, gadis cantik itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengannya. "Dulu aku nggak sempet mengucapkan salam perpisahan sama dia."
"Cinta mu nggak sebesar itu sama Caramel," Ketus Adena disela tangisnya, ia mengangkat wajahnya melihat Rama. "kalau kamu emang cinta banget sama dia, nggak mungkin kamu selingkuh sampai menghamiliku."
"Jaga mulutmu!" Rama menutup mulut Adena takut Ara terbangun dan mendengarkan obrolan mereka.
Dengan gerakan cepat Adena menepis tangan Rama dan beranjak keluar kamar, ia belum puas memaki sang suami. Rama mengikuti Adena dari belakang.
"Jujur sama aku, selama ini kamu pasti selingkuh kan?" Adena menatap tajam ke dalam mata Rama.
"Apa maksud kamu?"
"Pria yang gemar berselingkuh itu nggak akan pernah berhenti seumur hidupnya."
"Jangan berlebihan, aku nggak ada waktu buat selingkuh, bukannya kamu setiap hari cek hp ku, kenapa masih nggak percaya?"
"Aku bukan Caramel yang mau dibodohi sama kamu!" Adena menunjuk wajah Rama.
Rama menelan salivanya, jika boleh jujur ia memang beberapa kali sempat menggoda wanita lain tapi ia tak pernah sekalipun selingkuh dari Adena. Rama hanya mencintai Caramel, lagi pula sekarang ia sudah menikah.
"Kamu dulu sering bohongin dia dengan bilang sibuk banyak kerjaan padahal kamu lagi keluar sama aku, kamu lupa atau pura-pura lupa?" Adena tersenyum miring.
"Hentikan itu!" Rama membalikkan badan memunggungi Adena, dulu ia hanya ingin mencari suasana baru dengan mengencani wanita lain, sekedar untuk selingan. Hingga akhirnya Rama menemukan Adena, yang rela memuaskan nafsunya saat Caramel merengek ini dan itu demi mewujudkan pernikahan impiannya. Kini Rama akan menyesal seumur hidup karena telah menyia-nyiakan cinta tulus Caramel, seharusnya ia tak lari dari rasa lelah dan jengah pada sikap Caramel. Harusnya Rama bertahan dengan Caramel, tak peduli seberapa banyak wanita itu merengek.
Sekarang Rama hancur melihat Caramel memeluk lelaki lain yang bukan dirinya. Lelaki yang ternyata merupakan suami Caramel, Rama ingin kembali merajut kasih seperti dulu. Caramel menemaninya tumbuh dewasa, ada di dekatnya saat ia kesusahan mencari pekerjaan. Rasanya Rama lebih baik mati dari pada pada memikirkan itu semua.
Air mata Rama menetes, uang yang ia kumpulkan untuk membeli apartemen impian Caramel justru sekarang ditinggalinya bersama Adena. Mengapa dunia begitu kejam, pikir Rama, ia kembali dipertemukan dengan Caramel setelah sekian lama bahkan mereka menjadi tetangga. Itu sangat menyakitkan jika melihat Caramel bersama dengan lelaki lain yang sialnya terlihat lebih tampan darinya. Rama tersenyum, Caramel memang memiliki selera tinggi soal pria.
"Kamu nggak ada pikiran buat kembali sama dia kan?" Suara Adena begitu dekat.
Rama diam tidak menjawab pertanyaan istrinya, saat pertama kali bertemu Caramel tadi ia memang sempat berpikir begitu. Meninggalkan Adena dan kembali pada Caramel tapi setelah mendapat pukulan keras berkali-kali, niat Rama surut seketika. Tatapan mata Caramel jelas menggambarkan bahwa ia amat membenci Rama. Mengingat Caramel mendorong tubuh Rama, membuat lelaki itu merasakan perih dalam hatinya.
"Kamu bakal jadi satu-satunya istriku." Lirih Rama.
__ADS_1
"Aku mau jadi satu-satunya wanita yang kamu cintai."
Rama menghela napas berat dan berbalik melihat Adena, ia bergerak menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Rama tak akan meninggalkan Adena dan Ara, mereka adalah dunianya. Orang lain tak akan menerima Rama sebaik mereka. Hubungan Rama dan orangtuanya juga memburuk saat tahu ia menghamili Adena dan harus membatalkan pernikahan dengan Caramel. Orangtua Rama sangat menyukai Caramel, itu sebabnya mereka menentang keras pernikahannya dengan Adena. Namun tak ada yang bisa Rama perbuat selain menikahi Adena yang sedang mengandung anaknya.
Hidup Rama hancur akibat perbuatannya sendiri, sekarang ia hanya akan hidup normal dengan Adena dan Ara.
"Iya." Jawab Rama akhirnya.
"Jangan berani macem-macem sama Caramel lagi, inget dia udah punya suami, mereka baru nikah jangan ngerusak kebahagiaannya."
"Iya." Rama memejamkan mata mencium aroma rambut Adena, ia tak menyangka Caramel membutuhkan waktu sangat lama untuk pindah ke lain hati. Rama belum pernah menemukan wanita setia seperti Caramel.
******
Rafka memperhatikan Caramel yang dari tadi mondar-mandir di depannya sambil berbicara dengan Jane melalui telepon. Rafka gemas ingin menarik Caramel dan memeluknya erat agar tidak mondar-mandir begitu saat ia sedang serius menonton televisi.
"Iya, masa dia tiba-tiba peluk gue, wah kalau lu ada disini tadi pasti kagum banget deh sama Rafka yang dateng terus pukulin dia sampe babak belur."
Rafka menahan senyum mendengarkan cerita Caramel.
"Serius, masa gue bohong, itu Rama." Caramel melirik Rafka, ia sengaja mondar-mandir disitu, salah siapa Rafka mengabaikannya dari tadi demi layar datar itu. "Iya, dia tinggal di sebelah unit apartemen gue." Caramel berhenti tepat di depan televisi membuat Rafka mengerutkan kening.
Dengan gerakan tiba-tiba Rafka menarik tubuh Caramel hingga tubuh mereka terhempas ke atas ranjang. Caramel terkejut bukan kepalang, ponselnya terlepas entah kemana, ia mengerjap saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Rafka.
"Kamu mau ngapain?" Caramel menegang.
Rafka diam, justru memeluk tubuh Caramel lebih erat sambil tersenyum tipis.
"Aku sedang menonton tapi kamu mondar-mandir dan menghalangi pandanganku." Suara berat Rafka sedikit serak.
"Oh." Caramel menelan salivanya, ia takut Rafka khilaf dan melakukan itu padanya. "Iya maaf, salah sendiri dari tadi kamu cuekin aku." Caramel menjulurkan lidahnya. Rafka mendekatkan wajahnya melakukan gerakan seolah-olah hendak mencium bibir Caramel namun sebelum itu terjadi Caramel sudah lebih dulu berteriak dan memundurkan wajah sebisanya. Mereka sudah menikah tapi tetap saja Caramel belum terbiasa dengan ciuman tiba-tiba.
"Kenapa tidak mau?" Rafka menatap intens pada Caramel.
"Umm, itu .... " Caramel membasahi bibir bawahnya karena gugup, harusnya ia tidak boleh begini. Dari awal Caramel adalah pihak paling agresif tapi kenapa sekarang justru ia dibuat gugup oleh Rafka.
"Itu apa?"
"Itu, aku lagi pakai lip balm mahal, bibirku lagi kering banget."
"Lantas?"
"Kamu jangan cium nanti lip balm ku luntur tahu!"
"Tinggal oleskan lagi."
"Ini lip balm mahal." Caramel berusaha melihat ke arah lain, bukan pada mata Rafka yang tampak bergairah.
"Nanti aku belikan kamu dua."
__ADS_1
Caramel tertawa walaupun jauh di dalam hatinya ia gugup setengah mati.
"Aduh perut aku!" Caramel mengaduh pura-pura kesakitan agar Rafka segera melepaskannya.
"Ada apa dengan perutmu?"
"Kayaknya kram lagi deh." Caramel meringis.
"Bohong, kamu bilang kram perut itu hanya datang saat hati pertama datang bulan."
Caramel nyengir, bagaimana mungkin Rafka mengingat hal tidak penting seperti itu. Caramel jadi tidak bisa membohongi Rafka, lalu sekarang apa?
Rafka bergerak hendak mencium Caramel lagi namun sang istri yang nakal itu kembali memalingkan wajah. Caramel tidak berniat menghindar, ia reflek melakukan itu.
"Ada apa?" Rafka melihat istrinya bingung.
"Kumis kamu sakit kalau kena." Caramel kembali menemukan alasan walaupun jelas tidak ada kumis sama sekali di wajah Rafka, itu karena Rafka rajin mencukurnya setiap hari.
"Kenapa tidak mau dicium, apa karena Rama?"
"Bukan-bukan!" Sahut Caramel cepat, kenapa Rafka jadi punya pikiran seperti itu. Sedetik kemudian Caramel melihat cahaya di mata Rafka meredup, ia menyesal telah menolak ciuman sang suami. Bagaimana jika Rafka marah?
Rafka hendak menurunkan tubuh Caramel namun wanita itu menolak, ia bingung pada sikap Caramel. Dicium tidak mau, diturunkan juga tidak mau, Rafka bingung harus melakukan apa.
"Kamu marah?" Caramel menekuk bibir bawahnya memasang wajah paling melas pada Rafka.
"Tidak."
"Baiklah cium, aku nggak bakal nolak." Caramel memejamkan mata bersiap-siap mendapat ciuman dari Rafka.
Rafka tersenyum, lucu sekali ekspresi Caramel sekarang, ia ingin melihatnya lebih lama lagi.
Caramel menunggu tapi tak ada sesuatu yang menyentuh bibirnya, apa ia dibohongi oleh Rafka. Rafka! kamu mainin aku ya?
"Ih kamu boh .... " Kalimat Caramel terputus saat Rafka menciumnya, niatnya ingin membuka mata ia urungkan dari pada malu melihat sang suami.
Rafka memutar tubuh Caramel hingga menyentuh tempat tidur sambil mengecup sang istri sangat lama.
"Aku ingin punya bayi." Tukas Caramel setelah tautan mereka terlepas.
"Hm!" Rafka mengangkat alisnya.
"Berikan aku bayi."
"Bayi apa?"
"Bayi, disini." Caramel menunjuk perutnya.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
Caramel mengangguk, sungguh ia sudah diusia sangat matang bahkan hampir busuk untuk menjadi seorang ibu. Mengingat Jane dan Kayla sudah punya dua anak, Caramel juga ingin lekas punya keturunan, ia tak sabar menantikannya.