Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Caramel mengembuskan napas keras berkali-kali di kursi kemudi, seharusnya mobil membuat perjalanannya terasa lebih cepat tapi ini sebaliknya. Suara klakson dari pengendara lain membuat Caramel semakin kesal. Ia sudah 28 tahun hidup di Jakarta tapi tetap saja kesal saat terjebak macet.


Rafka melihat Caramel khawatir, ia menyesal karena mengizinkan istrinya mengemudi. Tadinya Rafka dan Caramel ingin jalan kaki dari apartemen tapi mengingat mereka akan belanja banyak, tentu tidak mungkin membawanya dengan dua tangan.


"Kita bisa jalan kaki dalam satu menit, tapi lebih dari lima menit dengan mobil." Omel Caramel, ia menendang-nendang mobilnya yang tidak bersalah.


Rafka diam, berpikir bagaimana cara menenangkan Caramel saat seperti ini. Karena belum makan nasi, pasti Caramel dalam mood yang buruk sekarang. Bukankah untuk orang Indonesia, bukan makan namanya jika belum makan nasi.


"Bagaimana konser tadi?" Rafka mencoba mengalihkan pikiran Caramel.


"Nggak seru nonton sendirian." Caramel menghidupkan wiper karena hujan mulai turun dan membuat kaca mobilnya buram.


"Kenapa mereka melakukan konser online?" Rafka bertanya tanpa melihat Caramel, mobil di depan mereka tampak bergerak perlahan—3 menit lagi mereka akan segera sampai di Grand Indonesia.


"Nggak tahu deh." Caramel mengedikkan bahu, "mungkin supaya para fans di seluruh dunia bisa nonton mereka, untungnya sinyal WiFi di apartemen tuh kenceng banget jadi aku bisa nonton tanpa gangguan sama sekali."


Sepertinya Rafka berhasil mengembalikan mood Caramel, dugaannya benar bahwa sang istri akan selalu bersemangat saat membahas hal tersebut.


"Kita mau makan apa?" Caramel melihat spion untuk memarkirkan mobilnya, hal pertama yang harus ia lakukan saat sampai disana adalah makan. Caramel sudah menahan lapar dari tadi siang, ia sudah membayangkan makan chicken katsu dengan nasi yang banyak. Ia sudah menghabiskan seluruh sisa buah di kulkas tapi tetap saja tidak kenyang.


"Kau ingin makan apa?" Rafka balik bertanya, jika menjawab sesuai keinginannya pasti Caramel tidak akan setuju. Seringkali keinginan mereka tidak sama sedangkan dalam hal ini seorang istri selalu menang.


"Kimukatsu ya." Caramel membuka seat belt setelah berhasil memarkirkan mobilnya.


"Boleh." Rafka tersenyum, ia menggandeng tangan Caramel masuk menuju Grand Indonesia yang tidak pernah sepi oleh pengunjung.


Tujuan pertama mereka adalah Kimukatsu salah satu restoran yang menyajikan berbagai macam rasa Chicken Katsu. Bukan Caramel namanya jika tidak suka olahan ayam goreng, ia dan ayam goreng sudah seperti sahabat karib yang tidak dapat dipisahkan. Dulu Caramel juga sangat suka mie instan, tapi entah kenapa sejak hamil melihatnya saja membuatnya mual.


Caramel tidak percaya jika kehamilan bisa mengubah selera makan bahkan kebiasaan seseorang tapi setelah mengalaminya sendiri ia baru percaya. Justru sekarang Rafka selalu makan mie instan di luar. Kesukaan mereka berbanding terbalik sejak Caramel hamil.


"Pinjem hp dong." Caramel mengulurkan tangan kepada Rafka setelah mereka menemukan tempat duduk di sudut Kimukatsu yang cukup ramai malam itu. Caramel ingin membuat Instagram Story pada akun milik Rafka. Jika bukan Caramel yang membuat akunnya maka Rafka tidak akan bisa menggunakan Instagram seumur hidupnya.


"Bikin boomerang ya." Caramel mengarahkan ponsel Rafka tepat di hadapan mereka bersiap membuat boomerang pada instagram dengan latar belakang dinding kecoklatan yang tampak cantik di kamera.


"Apa itu?" Rafka melihat Caramel yang sudah bersiap memasang senyum lebar di depan kamera.


Senyum Caramel lenyap seketika, ia menurunkan ponsel. "Tanganku udah pegel dan kamu nggak tahu?" Ia menatap sang suami geregetan.


"Maafkan aku, mari buat yang lebih mudah." Pinta Rafka, ia tersenyum merayu Caramel. Sungguh ia tidak tahu istilah-istilah pada media sosial.


"Ya udah fotoin aku." Caramel tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi, senyum yang dibuat-buat. Dari pada mengomel lebih baik kali ini Caramel mengalah, sepertinya ia harus mendidik robotnya lebih keras lagi.


Kalau soal memotret Rafka juaranya, ia tidak pernah mempelajari dunia fotografi secara khusus tapi hasil jepretannya selalu bagus ditambah ponsel yang canggih maka gambarnya akan lebih mengagumkan.


Mereka menyudahi kegiatan foto-foto saat waiter mengantarkan pesanan berupa Chicken Katsudon, Gyukatsu Cheese dan Salmon Sushi. Caramel meletakkan ponsel Rafka dekat ponselnya karena ia masih belum melihat hasil jepretan Rafka.


"Biar aku yang racik sausnya." Rafka meracik saus Chicken Katsu sedangkan Caramel mulai menyantap Sushi dengan semangat.


Perhatian Caramel teralih pada layar ponsel Rafka yang menyala, terdapat satu pesan dari Danu.


Tadi ngomong apa aja sama Elsa?


Spontan Caramel berhenti mengunyah, ia membaca sekali lagi pesan tersebut sebelum layar ponsel kembali mati. Caramel melirik Rafka yang sedang menuangkan saus katsu ke dalam mangkok. Dada Caramel memanas setelah membaca satu kalimat dari Danu, itu hanya pesan singkat sukses membuatnya meradang. Perasaan tidak enak yang dirasakannya tadi pagi ternyata benar.

__ADS_1


"Tadi gimana di kantor?" Tanya Caramel, bukankah Rafka akan selalu menjawab pertanyaan dengan jujur. Caramel penasaran apakah kali ini Rafka masih bisa jujur kepadanya, jika Rafka berbohong maka ia tidak akan memaafkannya dengan mudah. Caramel sudah menaruh kepercayaan yang besar kepada Rafka, ia tidak mau kecewa terhadap laki-laki untuk kedua kalinya.


"Rapat koordinasi berjalan dengan lancar." Rafka tersenyum memindahkan saus yang sudah diraciknya ke tengah meja agar Caramel bisa menjangkaunya.


"Apa rapat itu begitu penting?"


"Tentu saja, kami sering melakukan rapat tapi rapat tadi dipimpin langsung oleh kepala BMKG." Rafka bingung terhadap perubahan raut wajah Caramel. Saat menyantap potongan sushi pertama Caramel masih ceria tapi sekarang wajahnya muram, Rafka bertanya-tanya apakah sushi itu tidak sesuai dengan keinginan istrinya? Memahami hati wanita memang sesuatu yang sangat sulit, Danu yang sudah menikah bertahun-tahun saja tidak bisa melakukan itu dengan baik apalagi Rafka yang baru menikah hitungan bulan.


"Ada apa?" Rafka menyentuh lengan Caramel tapi wanita itu segera menyingkirkannya membuatnya terkejut.


"Aku mau makan." Tukas Caramel, ia melanjutkan makan walaupun sudah kehilangan selera makan. Ia benci Danu yang sudah membuat acara makan malamnya kacau.


Rafka menahan napas dari pada memaksa Caramel lebih baik ia makan Gyukatsu Cheese yang dari tadi menggodanya minta agar segera disantap. Tidak ada angin tidak ada petir—hanya hujan tiba-tiba mood Caramel berubah dalam hitungan detik, Rafka tidak tahu apa penyebabnya dan ia harus mencari tahu sendiri karena Caramel enggan bercerita.


"Mana dompet kamu." Caramel menengadah tangan, sushi salmon di hadapannya sudah habis dalam sekejap.


Tanpa banyak bicara Rafka memberikan dompetnya pada sang istri.


"Hari ini semua belanjaan kamu yang bayar." Kata Caramel.


"Biasanya memang begitu." Balas Rafka polos, walaupun itu barang keperluan Caramel yang tidak terlalu penting pasti dibeli dengan uang Rafka. Sebagai suami Rafka sama sekali tidak keberatan.


Caramel melihat foto dirinya saat perpisahan SMA di dalam dompet Rafka saat ia hendak membayar makanan mereka.


"Kamu masih simpen foto ini?" Caramel mengembalikan dompet milik Rafka setelah ia mengambil satu kartu kredit dari sana.


"Iya."


"Kamu beneran foto ini sendiri?"


"Kok bisa?" Caramel memiringkan kepala melihat Rafka.


"Karena aku datang ke acara perpisahan mu dulu, kebetulan aku membawa kamera—"


"Terus mereka minta kamu fotoin?" Caramel menyela.


"Tepat sekali."


"Kenapa kamu datang ke acara perpisahan ku padahal waktu itu kamu udah lulus, lagi pula sekolah kita berbeda."


"Karena aku mau lihat kamu." Rafka menoleh sepenuhnya kepada Caramel, ia juga mengembangkan senyum paling manis.


Pandangan Caramel melembut mendengar pernyataan Rafka, tapi mengingat isi pesan Danu tadi ia jadi bimbang harus percaya atau tidak pada Rafka yang katanya tak pernah berbohong—sejauh Caramel mengenalnya.


Rafka masih ingat betapa bahagianya ia melihat Caramel telah menyelesaikan pendidikan SMA dengan baik. Walaupun saat itu Caramel sudah menjadi milik orang lain, Rafka ingin melihat Caramel dari dekat sebelum akhirnya ia benar-benar harus merelakan pujaan hatinya bersama Rama.


"Hasil foto kamu bagus, aku unggah ke instagram ya." Caramel mengunggah foto dirinya ke akun instagram Rafka tanpa perlu persetujuan dari si pemilik terlebih dahulu. Itu menjadi postingan kedua setelah foto mereka di kolam renang apartemen. Jika bukan Caramel yang mengunggahnya maka akun tersebut akan kosong hingga mereka punya cucu atau bahkan cicit.


Caramel kembali melihat pesan masuk ke ponsel Rafka.


Ga sia-sia kan gue nyuruh lu duduk bareng Elsa.


Tangan Caramel mengepal kuat membaca pesan kedua dari Danu tersebut. Caramel tidak bisa membiarkan Danu membuat Rafka tergoda oleh wanita lain di luar sana. Jika ada Danu disini Caramel akan memaki lelaki itu habis-habisan.

__ADS_1


"Tadi kamu ketemu Elsa?" Caramel menoleh melihat Rafka yang sibuk memilih daging, ia telah memasukkan ponsel Rafka tanpa membalas pesan Danu.


"Hm?" Rafka menoleh—menghentikan aktivitasnya memilih daging, keningnya sedikit berkerut.


"Tadi kamu ketemu Elsa?" Ulang Caramel.


"Elsa?" Rafka tampak berpikir.


"Nih lihat pesan Danu." Caramel menunjukkan pesan WA Danu kepada Rafka.


Raut wajah Rafka berubah datar setelah membaca pesan tersebut, ia baru ingat kalau perempuan yang duduk satu meja dengannya tadi bernama Elsa. Hebatnya Rafka adalah ia bisa mengingat kejadian 12 tahun lalu secara detail tapi tidak ingat pada nama perempuan yang bertemu dengannya tadi.


"Jadi tadi kamu ketemu Elsa, duduk satu meja?" Ketus Caramel.


"Aku hanya duduk sekitar lima menit lalu pergi."


Caramel tampak tidak percaya dengan jawaban Rafka walaupun jauh dalam lubuk hatinya ia ingin mempercayai lelaki itu. Namun pengalaman buruk dimasa lalu tentang hubungannya dan Rama membuat ia tidak mau percaya pada orang lain dengan mudah.


Rafka meraih tangan Caramel membawa wanita itu duduk di salah satu kursi di sekitar sana meninggalkan troli belanjaan mereka yang masih kosong. Rafka menceritakan kejadian siang tadi saat ia bertemu dengan Elsa secara detail tanpa terlewat sedikitpun. Mereka harus menyelesaikan kesalahpahaman saat itu juga agar tidak berlarut-larut.


"Wanita bernama Elsa itu sama sekali tidak berpengaruh untukku, aku mohon jangan terlalu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu, aku hanya mencintaimu dari dua belas tahun yang lalu sampai nanti."


"Berani selingkuh aku gantung kamu di air mancur bundaran HI." Ancam Caramel dengan mulut yang mengerucut.


Rafka tertawa singkat, ia lega karena berhasil meyakinkan Caramel. Besok ia akan memberi perhitungan kepada Danu karena telah mengganggu ketenangannya dengan Caramel.


"Mau lanjut nggak?" Tanya Rafka, jika Caramel tidak mood belanja malam ini maka mereka bisa menundanya sampai besok walaupun kulkas di apartemen sudah benar-benar kosong. Bagi Rafka, mood Caramel adalah yang paling penting.


Caramel mengangguk dan beranjak dari duduknya. Mereka melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda yakni membeli daging dan sayuran untuk stok seminggu ke depan. Walaupun dekat tapi Caramel malas jika harus bolak-balik ke Grand Indonesia hanya untuk beli sayur—makanan kesukaan Rafka.


"Cara?" Rafka kebingungan mencari Caramel yang hilang dari pandangannya, ia menoleh ke kanan dan kiri tapi tidak menemukan sosok sang istri.


Troli mereka sudah penuh dengan barang belanjaan, Caramel membeli banyak makanan ringan dan makanan instan agar lebih mudah untuk membuatnya saat ia malas masak. Rafka tetap membeli berbagai sayuran, ia ingat pesan dokter bahwa ibu hamil harus makan makanan yang seimbang.


Rafka membawa belanjaan ke kasir untuk membayarnya dengan tetap celingukan mencari Caramel. Ia sudah seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya di pasar.


"Sedang apa dia disana?" Rafka melihat Caramel berada di salah satu toko perhiasan, ia melangkah cepat menghampiri Caramel karena barang belanjaan telah selesai dikemas.


Senyum Caramel cerah dengan mata berbinar-binar saat ia mencoba salah satu gelang. Ketika melihat Rafka menghampirinya, ia mengembangkan senyum makin lebar—rayuan maut yang akan ia gunakan agar Rafka membelikannya gelang tersebut.


"Aku mencarimu." Tukas Rafka.


"Bagus nggak?" Caramel menunjukkan sebuah gelang dengan aksen bintang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Apapun bagus untukmu." Jawab Rafka jujur.


"Ya udah beliin kalau bagus."


"Bukankah kau memegang kartu kredit ku?" Rafka melihat ke arah saku pakaian Caramel, tempat wanita itu menyimpan kartu kredit miliknya tadi.


Tanpa ba-bi-bu lagi Caramel langsung memberikan kartu kredit Rafka kepada wanita yang dari tadi melayaninya dengan sabar mencoba beberapa perhiasan disana. Hati Caramel berbunga-bunga setelah mendapat hadiah yang dipilihnya sendiri. Tak apa Rafka tidak tahu cara menggunakan Instagram apalagi membuat boomerang dengan aplikasi tersebut asal ia bisa memenuhi kebutuhan Caramel dari yang penting sampai sesuatu yang sangat tidak dibutuhkan maka Caramel akan semakin jatuh cinta setiap harinya.


Kini Caramel menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Rafka, ia tidak mau ragu-ragu apalagi terpengaruh oleh orang-orang luar sana. Caramel jauh lebih mengetahui seperti apa kepribadian sang suami.

__ADS_1



__ADS_2