Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Satu


__ADS_3

Rafka terjaga semalaman karena Caramel tiba-tiba demam dan menggigil. Sepanjang malam juga Caramel menangis meski tanpa suara tapi Rafka mengetahuinya. Rafka bingung, ia hanya menempelkan kompres kemasan pada kening Caramel berharap bisa mengurangi suhu panas badan sang istri. Namun itu hanya bertahan sebentar, setelah efek kompres hilang maka badan Caramel kembali panas.


"Ayo ke rumah sakit." Rafka berbisik memeluk tubuh Caramel yang berbaring memunggunginya. Sejak Rafka sampai, ia tidak mendengar satu kata pun dari mulut Caramel. Apapun yang Rafka ucapkan Caramel tidak meresponnya. Rafka serba salah, ia kehabisan cara untuk menghibur Caramel. "Setidaknya kamu harus tidur meski sebentar supaya demam mu tidak parah."


Caramel memejamkan mata, ia sudah berusaha tapi tidak kunjung terlelap. Ia memikirkan nasib Arnesh saat ini sendirian tanpa dirinya. Perasaan Caramel campur aduk antara sedih dan marah tapi ia tak tahu harus bagaimana sedangkan Arnesh tak akan pernah kembali untuk selamanya.


Caramel menyingkirkan tangan Rafka yang tidak sengaja menyenggol dadanya hingga terasa sakit. Buah dada Caramel bengkak karena ia tidak menyusui sejak pagi tadi.


Rafka membalikkan badan salah paham mengira Caramel tidak suka jika ia memeluknya. Sepertinya Caramel benar-benar butuh waktu sendiri tanpa Rafka.


Rafka tak pernah merasa hancur seperti ini sebelumnya, bahkan saat ia melihat papa nya selingkuh pun rasanya tak sesakit ini. Jika dulu Rafka bisa melampiaskan kemarahannya pada Bayu dan selingkuhannya, maka sekarang ia tak bisa melakukannya. Rafka hanya bisa marah pada ketidakadilan yang tak bisa ia utarakan pada siapapun.


Rafka turun dari tempat tidur keluar kamar mengambil air minum untuk Caramel. Mungkin dengan minum air putih yang banyak bisa membuat demam Caramel lekas turun.


"Minum sedikit." Rafka duduk di lantai menyodorkan segelas air pada Caramel. Rafka menyingkap selimut yang menutupi tubuh Caramel dan membantu wanita itu duduk bersandar pada ujung tempat tidur.


"Masih dingin?" Rafka mendongak menatap Caramel.


Caramel mengangguk menjawab pertanyaan Rafka, ia meletakkan gelas setelah minum sedikit—sangat sedikit.


"Aku cari kaos kaki dulu." Rafka beranjak menuju lemari mencari kaos kaki milik Caramel. Ia akan melakukan apapun asal Caramel tidak sakit dan kembali ceria seperti dulu. Rafka rindu Caramel yang banyak bicara dan banyak permintaan.


Rafka kembali setelah menemukan sepasang kaos kaki di laci lemari paling bawah, ia segera memasangkan kaos kaki tersebut pada Caramel dan membenarkan selimutnya.


Mereka melewati malam panjang itu dengan keheningan dan kesedihan yang semakin mencengkram hati masing-masing enggan pergi dengan cepat. Caramel tak menemukan kalimat apapun yang akan ia ucapkan. Sedangkan Rafka yang pada dasarnya memang bukan orang yang pandai bicara telah kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan Caramel. Kesedihan begitu memeluk keduanya hingga diam mendominasi suasana malam itu.


******


"Caramel menggigil sepanjang malam, Ma." Ucap Rafka pada mama mertuanya yang sedang mengaduk bubur di tas panci.


"Itu pasti karena Caramel tiba-tiba tidak menyusui lagi, sekarang dada nya pas bengkak dan sakit." Mama Caramel menunduk, ia tak kalah terpukul setelah mendengar bahwa Arnesh tiada. Cucu pertama mereka harus pergi secepat itu bahkan sebelum ia melihat tumbuh kembang si kecil. Ia juga sedih tapi harus tetap terlihat tegar, walau bagaimanapun Caramel dan Rafka jauh lebih terluka. Maka dari sebisa mungkin mama Caramel menghibur Caramel dan Rafka.


"Pantas saja." Rafka ingat Caramel menyingkirkan tangannya saat ia memeluk wanita itu semalam, pasti karena ia tak sengaja menyentuh dada Caramel. Rafka pikir Caramel tak suka dengan pelukannya lagi.

__ADS_1


"Sebentar lagi anter bubur ini buat Caramel ya, dia cuma mau sama kamu."


"Tapi Caramel masih tidak bisa diajak ngobrol Ma." Rafka melangkah mendekati mertuanya, ia menghidupkan kran air untuk membantu mencuci piring.


"Eh udah-udah, ngapain kamu?" Mama Caramel menepuk punggung tangan Rafka pelan. Ia biasa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri, Caramel saja jarang membantunya karena sibuk bekerja jadi ia tidak bisa membiarkan Rafka menyentuh piring kotor itu.


"Tidak apa-apa, aku bantu Mama cuci piring."


"Nggak usah, udah sana duduk aja tungguin Mama masak bubur." Ia mendorong Rafka menjauh dari wastafel.


"Lagi pula Caramel masih tidur kok Ma."


"Ambilin wadah aja di lemari atas situ, buburnya udah hampir matang." Mama Caramel menunjuk salah satu pintu lemari di atas wastafel.


Rafka menuruti permintaan mama mertuanya mengambil satu mangkok kaca dan meletakkannya di samping kompor. Mama Caramel membuat bubur dari beras dengan tambahan wortel dan seledri.


Mama Caramel memindahkan bubur dari panci ke dalam wadah mangkok, terakhir ia menaburkan bawang goreng kesukaan Caramel dan meminta Rafka untuk membawanya ke kamar selagi hangat.


Sinar matahari mengenai wajah Caramel yang kusut, bola matanya tidak bergerak meski matahari menyilaukan nya. Pandangan Caramel kosong sama seperti pikirannya saat ini.


"Makan bubur ya." Rafka meletakkan bubur dan segelas susu di atas meja.


Caramel hanya melirik Rafka, bibirnya masih terkatup rapat.


"Apa mau ke kamar mandi dulu?" Tanya Rafka.


Caramel membuang muka, ia tidak ingin melakukan apapun bahkan untuk ke kamar mandi pun ia enggan.


"Ya udah langsung makan, aku suapin." Rafka mengajak Caramel duduk di kursi.


Dengan telaten Rafka menyendok sedikit bubur dengan bawang goreng dan meniupnya lalu menyuapi Caramel.


"Enak kan?"

__ADS_1


Caramel mengangguk, meski bubur itu terasa pahit saat menyentuh permukaan lidahnya, ia yakin bubur itu karena lidahnya bermasalah.


Caramel melepas sebuah kertas yang terasa merekat di keningnya sejak semalam, ia bertanya-tanya apakah yang Rafka tempelkan disana tadi malam? ia bukan anak kecil yang bisa sembuh hanya dengan kertas seperti itu lagi pula hatinya jauh lebih terasa sakit dibandingkan bagian tubuh lainnya.


"Sini aku buang." Rafka hendak mengambil kompres yang telah menggembung itu tapi Caramel tidak memperbolehkannya. Caramel meremas kertas tersebut hingga berbentuk gumpalan kecil dan menggenggamnya. Rafka mengalah, ia melihat Caramel memasukkannya ke dalam saku piyama.


Bagi Rafka tak apa jika Caramel tidak mau bicara asal mau makan, lagi pula ia bukan orang yang banyak mengobrol. Rafka mengerti perasaan Caramel karena ia juga merasakannya saat ini, dimana mereka kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup mereka. Bahkan mereka belum menyiapkan diri untuk kehilangan, itu terjadi secara tiba-tiba tanpa bisa mereka cegah karena Tuhan telah menggariskan.


******


Seminggu setelah Caramel dan Rafka meninggalkan apartemen, untuk pertama kalinya Caramel mengeluarkan kalimat pendek yang membuat semua orang tercengang. Sejak seminggu yang lalu mereka berharap Caramel mau bicara atau setidaknya menjawab merespon ucapan orang lain. Namun sekarang setelah Caramel mengucapkan sesuatu, mereka lebih terkejut lagi.


"Aku mau pulang." Begitu kata Caramel dengan suara datar yang membuat Rafka, mama dan papa Caramel serta mertuanya yang hari itu juga ada disana langsung memalingkan wajah melihat Caramel.


"Pulang kemana?" Tanya Rafka dengan nada lembut seperti biasa.


"Apartemen." Caramel sudah cukup berada disini, meski dulu ini adalah tempat tinggalnya tapi apartemen adalah tempatnya pulang bersama Rafka.


Awalnya orangtua Caramel tidak mengizinkan karena Caramel akan sendirian di apartemen saat Rafka sedang bekerja. Mereka takut Caramel melakukan sesuatu yang tidak diinginkan saat sendiri. Namun akhirnya mereka melepas Caramel pergi setelah Rafka meyakinkan mereka bahwa Caramel akan baik-baik saja. Padahal Rafka juga khawatir, ia hanya ingin memenuhi keinginan Caramel.


"Dada mu sudah tidak sakit lagi kan?" Tanya Rafka saat mereka berada di dalam mobil menuju apartemen.


Caramel menggeleng, ternyata rasanya berhenti menyusui jauh lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan. Ditambah Caramel suka tiba-tiba menangis atau marah jika Rafka atau orangtuanya berbuat sesuatu yang tidak ia suka. Emosi Caramel tidak menentu, yang jelas ia belum pernah tertawa sejak hari itu.


"Mau mampir beli KFC?" Tanya Rafka saat mobilnya melewati restoran KFC. Caramel menggeleng, ia tak ingin makan apapun.


Aroma bayi menyambut kedatangan mereka di apartemen, Rafka berpura-pura tidak mencium aroma apapun dan bersikap biasa saja. Caramel juga demikian, sebenarnya ia berusaha membuat orang-orang di sekitarnya tenang tanpa khawatir terhadap keadaannya tapi ia gagal, semua orang tetap mengkhawatirkannya.


Rafka membuka gorden dan jendela agar udara masuk, setiap dua hari sekali ia menyempatkan diri kesini untuk membersihkan ruangan berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Caramel ingin pulang maka ia tidak perlu membersihkannya lagi, ternyata dugaannya benar.


Tempat pertama yang Caramel tuju adalah walk in closet, ia membuka lemari paling ujung yang khusus menyimpan pakaian Arnesh. Baik yang sudah pernah dipakai maupun yang masih baru. Lemari itu penuh karena Caramel banyak membeli pakaian bayi sejak hamil. Namun sayangnya sebagian besar dari mereka belum sempat dipakai.


Caramel mengambil satu jumper berwarna biru dan merentangkan nya di udara. Caramel tersenyum kecut lalu meletakkannya kembali dan menutup lemari dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2