Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Puluh Delapan


__ADS_3

"Kebetulan banget kalian datang." Anna menghentikan Caramel dan Rafka yang hendak masuk ke apartemen mereka. Ia memang menunggu kedatangan tetangganya itu dari tadi untuk mengajak mereka menghadiri acara ulang tahun Joni di atap.


"Anna, ada apa?" Caramel membalikkan badan sementara Rafka masih bertahan di posisinya menghadap pintu dan menekan sandi bersiap untuk masuk, sama sekali tidak tertarik dengan apa yang akan Anna ucapkan.


"Aku sama Mas Joni lagi ngadain acara ulang tahun di atap, kalian harus ikut ya."


"Oh." Caramel menoleh pada Rafka meminta pendapat sang suami.


"Kamu tadi bilang lelah." Ucap Rafka dengan kata lain ia menolak untuk menghadiri acara tersebut. Lagi pula mereka bukan lah tetangga akrab. "Aku juga harus mengganti perban mu." Tambahnya.


Mereka baru saja pulang dari Bandung setelah mengecek barang yang telah selesai dikemas dan dikirim hari ini juga kepada pembeli di seluruh Indonesia. Perjalanan dari Jakarta-Bandung tidak lah sebentar, Rafka tidak ingin Caramel kelelahan.


"Tapi nggak enak sama Anna." Bisik Caramel.


"Aku bisa menolaknya untuk mu." Rafka hendak maju tapi Caramel mencegahnya. Harusnya Anna lebih mengerti untuk tidak mengganggu waktu mereka dengan mengundang ke acara seperti ini secara mendadak.


"Ya udah kamu duluan aja, nanti kami nyusul." Tukas Caramel cepat lalu mendorong Rafka masuk.


"Aku tidak mau." Ucap Rafka setelah Caramel menutup pintu, ia heran mengapa tetangga yang tinggal di sebelahnya selalu mengusik ketenangan mereka. Pertama Rama dan Adena yang sering bertengkar penuh drama sekarang Anna yang sok akrab. Rafka tak masalah jika Caramel dekat dengan tetangga di sekitar sini, asal dalam batasan wajar.


"Iya aku tahu kamu capek." Caramel melepas sandal selop yang dipakainya dan membimbing Rafka menuju kamar. Untuk sementara Caramel tidak bisa mengenakan high heels ataupun sepatu, ia hanya bisa memakai sandal selop datar karena telunjuk kakinya yang malang harus diperban. "aku pergi sendiri aja." Katanya.


"Aku tidak mengizinkanmu." Tegas Rafka.


"Sebentar doang kok." Caramel bergerak mengambil satu kotak parfum di meja rias, itu adalah salah satu dari sekian banyak parfum milik Rafka yang belum pernah dipakai. Dari pada tidak dipakai maka Caramel akan memberikannya kepada Joni sebagai hadiah, tidak mungkin ia datang dengan tangan kosong.


Rafka diam, ia memperhatikan setiap pergerakan Caramel. Sekarang wanita itu sedang memasukkan parfum ke dalam paper bag.


"Kamu tidak bisa pergi sendiri."


"Ya udah kalau gitu ayo temenin aku." Caramel duduk di pangkuan Rafka, bersiap melakukan jurus rayuan maut kepada sang suami.


"Tapi hanya sebentar."


"Iya, lima belas menit paling lama." Caramel berbinar karena Rafka setuju untuk pergi ke acara ulang tahun Joni.


Ide mengadakan pesta di atas atap sepertinya cukup menarik, walaupun sedikit repot tapi para tamu undangan bisa menikmati pemandangan gedung dan jalan dari ketinggian. Tentu ini tidak cocok untuk mereka yang memiliki phobia pasa ketinggian. Namun untungnya baik Rafka maupun Caramel tak ada yang memiliki ketakutan akan ketinggian.


Caramel jadi punya ide untuk pesta baby shower yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Namun Caramel sudah mempersiapkan perintilannya mulai dari sekarang. Awalnya ia berencana mengadakan acara baby shower di hotel tapi setelah melihat dekorasi pesta ulang tahun ini, ia berubah pikiran. Mereka bisa mengadakan nya di apartemen, lebih hemat waktu dan materi tentu saja.


"Hati-hati." Rafka memegang tangan Caramel saat hendak melangkah. Mereka sampai di atap apartemen untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun tinggal disini.


"Tenang aja, aku bisa." Caramel menepuk bahu Rafka dua kali sambil memasang senyum tipis untuk memenangkan Rafka.


"Mbak, Mas silahkan." Anna menyambut kedatangan Caramel dan Rafka.


"Selamat ulang tahun Joni." Caramel menyalami Joni sekaligus memberikan paper bag untuknya. "Sorry aku baru tahu kalau kamu ulang tahun jadi cuma bisa ngasih ini."


"Mbak nggak perlu bawa sesuatu, dengan Mbak Cara dan Mas Rafka dateng aja kami udah seneng." Balas Anna.


"Ka, kasih selamat gih." Caramel sedikit menarik Rafka agar ikut memberi selamat kepada Joni.


"Selamat." Rafka menyalami Joni sekaligus memberikan pelukan.


Joni terkejut karena Rafka menggenggam tangannya sangat erat. Ia mencoba berpikir positif mungkin memang begitu cara Rafka menyalami seseorang.


"Aku tak tahu kamu memiliki niat buruk atau tidak tapi aku mohon jangan ganggu keluarga kami, sedikitpun. Bisik Rafka di telinga Joni dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Joni membuka mulut hendak membalas ucapan Rafka tapi sebelum itu terjadi, Rafka melepaskan tautan di antara mereka. Joni menelan salivanya dengan susah payah melihat ekspresi wajah Rafka yang menatapnya tajam. Setajam silet.


"Kami hanya bisa memberi selamat lalu pergi." Rafka melihat Joni dan Anna bergantian.


"Eh!" Caramel terkejut saat Rafka menariknya pergi. "Aku balik dulu ya." Ia melambaikan tangan pada Anna yang menatapnya kecewa.


"Aduh pelan-pelan dong, ada apa sih?" Caramel kesulitan menyamakan langkah dengan Rafka.


"Aku bilang kita hanya sebentar." Rafka mengangkat tubuh Caramel masuk ke dalam lift.


"Oke aku nurut kamu." Caramel pasrah, ia yakin Rafka memiliki alasan khusus melakukan ini semua. Apa Rafka cemburu? tapi mereka tidak melakukan apapun yang bisa membuat Rafka cemburu. "Kamu nggak suka aku ngasih parfum itu?"


"Hm?" Rafka menunduk melihat wajah Caramel.


"Kamu nggak pernah pakai parfum itu makanya aku pakai aja buat hadiah."


Rafka terdiam, mengapa Caramel justru berpikir ia kesal karena parfum itu padahal dari awal ia memang tidak terlalu suka dengan tetangga baru mereka.


"Nanti aku beliin yang baru." Ujar Caramel lagi masih takut jika Rafka marah.


"Aku tidak mempermasalahkan soal parfum itu."


"Terus?"


"Aku memang tidak suka pada mereka."


Caramel memutar bola mata jengah, "kamu jangan berprasangka buruk dulu, kita belum kenal mereka jadi kamu nggak boleh judge gitu aja."


"Aku memang seperti ini, itu sebabnya aku tidak punya banyak teman."


Caramel terdiam, Rafka memang bukan orang yang pandai berbasa-basi dan menyembunyikan ketidaksukaannya pada seseorang.


"Aku mau adain pemotretan Caramel Sleepwear selanjutnya di Bali." Caramel masuk terlebih dahulu, ia mengganti alas kakinya dengan sandal rumah.


"Kenapa?" Rafka melangkah masuk ke kamar untuk mengganti pakaian.


Caramel tidak segera menjawab pertanyaan Rafka, ia mengambil air dingin di kulkas sebelum menyusul Rafka ke kamar.


"Sekalian liburan tahun baru, kamu udah janji mau bawa aku ke tempat yang hangat." Caramel menyodorkan air kepada Rafka.


"Kamu yakin Bali akan hangat?" Rafka memutar penutup botol air mineral dan menyodorkannya lagi kepada Caramel.


Caramel menahan senyum, saking tanggapnya, Rafka mengira dirinya sedang minta tolong untuk membuka tutup air padahal Caramel memberikannya memang untuk Rafka minum.


"Itu buat kamu." Caramel menarik kursi meja rias dan duduk di atasnya menghadap cermin besar di hadapannya. "Aku yakin Bali tempat yang pas untuk liburan, anggap aja ini babymoon walaupun tujuan utamanya pemotretan."


"Apa itu Babymoon?" Tanya Rafka setelah meneguk air hingga setengah botol.


"Istilah lain dari honeymoon."


"Baiklah." Rafka mengangguk.


"Kita akan berangkat tanggal 25." Caramel mengambil satu botol di antara deretan botol-botol lain yang merupakan rangkaian skincare yang selalu digunakannya.


"Aku hanya libur satu hari ditanggal itu."


"Nggak ada hari libur tahun baru masa?" Caramel reflek memutar badan melihat Rafka, ia tak tahu jika petugas BMKG bekerja serajin itu.

__ADS_1


"Lima hari dari tanggal 28."


"Kalau gitu aku berangkat duluan tanggal 25." Caramel lanjut menuang minyak pembersih ke telapak tangannya lalu mengusap-usap wajahnya.


Rafka menarik napas panjang dan mengembuskan nya, ia tidak bisa membiarkan Caramel pergi jauh tanpa dirinya.


Dari pada membalas ucapan Caramel, Rafka lebih memilih membuka tutup tempat sampah di dekat meja rias dan mengangkat kantong plastik di dalamnya.


"Mau kemana?"


"Buang sampah." Rafka melihat lipstik berwarna merah dengan simbol huruf TF di bagian tutupnya. Ia ingat itu adalah lipstik pemberian Sandra untuk Caramel beberapa waktu lalu. "Kau membuang lipstik itu?" Tanyanya.


"Iya." Caramel menjawab tanpa melihat Rafka, ia belum selesai melakukan ritualnya menghapus make-up.


"Sejak kapan? kamu bilang harganya mahal."


Caramel mengembalikan minyak pembersih ke tempat semula, ia membalikkan badan meraih kedua tangan Rafka.


"Sejak aku tahu kalau kamu pengirim surat itu, akhirnya aku paham, ini bukan soal harga tapi tentang perasaan kamu, harusnya aku jaga perasaan kamu Ka, kamu suami aku." Caramel mendongak menatap Rafka.


"Terimakasih." Rafka menarik Caramel untuk berdiri lalu memeluknya.


"Aku juga akan lakuin apapun demi kamu, Ka." Caramel mengecup bibir Rafka singkat.


Rafka melepas tautan di antara mereka, ia mengusap rambut Caramel memberikan kecupan di kening. Tidak lupa hadiah ciuman untuk si kecil di dalam perut Caramel. Sejak tahu Caramel hamil, Rafka suka mengajak calon bayi mereka mengobrol. Entah bayi mereka bisa mendengar nya atau tidak tapi Rafka senang melakukan itu.


Mau ditinggal buang sampah aja rasanya berat banget, ternyata penyakit bucin tuh kayak gini.


Biasanya penghuni apartemen cukup meletakkan sampah mereka di ruangan khusus di ujung koridor yang nantinya akan diambil oleh petugas kebersihan. Namun karena Rafka sedang rajin maka ia akan turun ke lantai dasar untuk membuang sampah langsung ke penampungan. Tindakan kecil yang bisa meringankan pekerjaan orang lain.


Rafka mengikat tali kantong sampah yang dibawanya sebelum melemparnya ke tempat sampah. Hanya butuh waktu 5 menit dari apartemen nya untuk sampai ke tempat penampungan sampah, tapi mengapa orang-orang jarang melakukannya?


"Rama?" Rafka bergumam sendiri saat melihat mobil Rama melintas menuju area basemen. Walaupun banyak mobil yang persis seperti itu tapi Rafka yakin kalau itu adalah mobil Rama karena ia sampai menghafal plat nomornya untuk berjaga-jaga.


Bukankah Rama sudah pindah dari apartemen ini? tapi mengapa dia kesini lagi? Rafka bertanya-tanya dalam hati. Tentu ia tidak boleh mengatakannya pada Caramel, itu hanya membuat Caramel kepikiran.


******


Caramel tersenyum bangga terhadap dirinya sendiri karena berhasil memasak tiga macam makanan untuk makan malam tanpa dibantu Rafka. Ini seperti rekor yang harus diabadikan oleh Caramel, ia memotret mie goreng udang, perkedel kentang dan siomay dengan isi sayuran sebelum mengunggahnya ke Instagram miliknya yang baru-baru ini memiliki followers mencapai 150 ribu. Sejak Caramel mengunggah video pernikahannya dengan Rafka ke tik tok, media sosial nya jadi ramai oleh orang-orang yang penasaran tentang dirinya dan Rafka. Walaupun tidak semua tapi banyak dari mereka yang mendoakan hubungan Caramel dan Rafka agar tetap langgeng.


Di balik musibah Caramel masuk rumah sakit karena dehidrasi, Tuhan telah menyiapkan jalan rezeki untuk mereka. Karena Rafka menjadi terkenal di tik tok, itu membuat penjualan Caramel Sleepwear membludak. Caramel tak perlu menggunakan artis untuk endorse, produknya dapat dikenal publik berkat Rafka.


"Rafka, makanannya udah siap." Caramel masuk ke kamar menghampiri Rafka yang sedang menonton televisi.


"Iya." Rafka beranjak mematikan televisi dan mengikuti langkah Caramel menuju ruang makan.


"Aku bikin siomay, semoga rasanya enak." Caramel duduk di samping Rafka, ia mengambil nasi dan siomay untuk Rafka. Mungkin ini aneh karena siomay tidak biasa dimakan dengan nasi tapi Caramel jamin Rafka pasti akan menghabiskannya. Dalam hitungan ketiga pasti Rafka akan bilang enak, satu ... dua ....


"Enak." Tidak sampai hitungan ketiga Rafka sudah bilang enak bahkan ia belum menghabiskan suapan pertamanya.


"Karena kamu suka sayur jadi aku campur ikan sama bayam buat isiannya."


"Inovasi yang menarik, anak-anak yang tidak suka sayur pasti akan suka makan ini."


"Anak-anak kita pasti bakal suka sayur lah, nurun Papanya."


Rafka terkekeh, suka sayur atau tidak tentu tergantung didikan orangtuanya.

__ADS_1


"Aku punya beberapa contoh nama untuk bayi kita." Caramel menunjukkan ponselnya kepada Rafka. Disela pekerjaannya Caramel biasa mencari inspirasi nama untuk calon bayinya mulai dari internet, film hingga buku.


Baru-baru ini saat Caramel melakukan USG, kamera menangkap jelas anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Bukan hanya Caramel, Rafka juga sudah menyiapkan nama terbaik untuk anak mereka. Nantinya Caramel dan Rafka akan menggabungkan nama tersebut.


__ADS_2