Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh


__ADS_3

"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap jantung dan paru-paru janin, semuanya terpantau baik mereka sehat dan kondisi Ibu Caramel juga baik jadi kami akan segera menjadwalkan operasi untuk Bu Caramel." Ucap dokter kandungan yang menangani kehadiran Caramel selama ini, termasuk kehamilan pertama Caramel dulu.


"Baik dokter." Jawab Rafka seraya mengeratkan genggamannya pada tangan Caramel yang berkeringat dingin.


Meski ini bukan pertama kalinya bagi Caramel melakukan operasi sesar tapi rasanya tetap sama, antara tegang dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan dua buah hatinya.


Mereka keluar dari ruangan dokter setelah berada disana selama sekitar 2 jam untuk melakukan konsultasi dan menjalani berbagai pemeriksaan sebelum dokter menentukan tanggal operasi untuk Caramel. Meski usia kandungan Caramel belum memasuki 9 bulan tapi ia sudah harus mengeluarkan bayi tersebut.


"Siapa yang paling nggak sabar ketemu Pineapple, aku atau kamu?" Caramel melihat Rafka yang berjalan di sampingnya. Mereka memasuki lift rumah sakit yang akan membawa mereka ke lantai satu.


"Melihatmu sulit bergerak aku jadi ingin Pineapple lekas keluar dari sini." Rafka meraba perut Caramel yang buncit. "Aku tahu mereka nyaman di perutmu tapi di luar sini Pineapple akan merasakan kehangatan pelukan kita."


"Siap nggak jadi Papa, ini bukan satu lo tapi dua."


"Harus siap." Rafka mengembangkan senyum manis yang entah kenapa membuat Caramel semakin jatuh cinta. Caramel pikir mungkin ini efek kehamilannya sehingga setiap Rafka tersenyum ia merasa jatuh cinta lagi. Atau mungkin juga karena mereka tidak pacaran lebih dulu dan langsung menikah. Pendekatan pun tidak berlangsung lama sehingga setiap hari cinta Caramel beregenerasi.


"Lagi pula aku sudah terbiasa mengurus bayi."


"Terbiasa? kita cuma merawat Arnesh sampai tiga bulan, itu terlalu singkat untuk dibilang terbiasa."


"Maksud ku kamu."


"Aku?" Caramel membelalak menunjuk dirinya sendiri.


"Ya." Rafka mengangguk.


Mereka keluar dari lift setelah sampai di lantai satu rumah sakit.


Caramel terdiam, jika dipikir benar juga karena semalam ini Rafka mengurus Caramel dengan baik. Rafka selalu membantu Caramel mandi, memotong kuku sampai mengenakan sepatu. Sepertinya mengurus Caramel lebih susah dari pada mengurus bayi. Itu sebabnya akhir-akhir ini Caramel lebih sering pergi ke salon untuk merawat kukunya agar tidak perlu minta bantuan Rafka. Sebenarnya Rafka akan dengan senang hati memotong kuku Caramel bahkan memasang kutek. Namun Caramel tidak ingin Rafka melakukan lebih banyak pekerjaan karena ia tahu tugas kantor juga sudah sangat banyak. Maka sebisa mungkin Caramel tidak menyusahkan Rafka. Pernikahan membuat Caramel tumbuh dewasa dan mengesampingkan egonya.

__ADS_1


"Makasih Pa." Ucap Caramel kepada Rafka yang membukakannya pintu.


Setelah dari rumah sakit mereka berencana untuk mengunjungi rumah kakek Sudin yang katanya hari ini membuka cafe makanan herbal. Selain itu mereka sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah Sudin sejak Caramel disibukkan dengan toko nya.


Keinginan Caramel untuk meluncurkan produk baru sebelum melahirkan terwujud, ia berhasil merilis piyama keluarga bulan ini. Setelahnya dokter menjadwalkan operasi untuk Caramel.


Di jok belakang Caramel sudah menyiapkan kue untuk kakek Sudin dan istrinya sekaligus memberi selamat atas pembukaan cafe baru mereka. Caramel kagum karena diusia senja mereka tetap produktif dan tidak lekas berpuas diri. Kali ini cafe tersebut juga didukung oleh anak pertama mereka yang baru pulang dari Batam.


"Wah, ini cafenya?" Caramel terkesima melihat bangunan dari kayu yang letaknya tepat di samping rumah Sudin. Meja dan kursi mulai ditata rapi dengan lampu-lampu berwarna kuning yang akan terlihat indah di malam hari.


Dulunya itu adalah bangunan bekas jasa cuci mobil tapi sudah lama tidak beroperasi sehingga Sudin berinisiatif untuk membuka cafe yang menjual berbagai hidangan dari bahan herbal.


"Ya ampun lama banget nggak ketemu tiba-tiba sekarang udah gede perutnya." Sudin menyambut kedatangan Caramel dan Rafka, ia langsung memeluk Caramel yang sudah dianggapnya seperti cucu sendiri.


"Ini untuk Kakek." Rafka menyodorkan kotak kue berukuran sedang itu kepada Sudin.


"Benar." Caramel mengangguk.


"Wah, selamat untuk kalian berdua, ramuan yang Kakek kasih ke kamu manjur kan, buktinya bisa menghasilkan dua anak sekaligus." Lirih Sudin di telinga Rafka.


Rafka langsung tersenyum salah tingkah mendengar kalimat Sudin. Caramel melihat Rafka seolah meminta penjelasan maksud dari ucapan Sudin.


Namun ekspresi Rafka tidak menunjukkan bahwa ia hendak menjawab rasa penasaran Caramel. Sebenarnya sebelum Caramel hamil, Rafka beberapa kali kesini untuk sekedar curhat mengenai rumah tangganya saat itu. Sebenarnya Rafka bukan orang yang suka curhat, ia lebih sering memendam semuanya sendiri tapi saat itu ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi karena setiap hari melihat Caramel menangis.


Sampai akhirnya Sudin memberikan ramuan herbal yang dulu pernah ia berikan pada Rafka. Meski demikian ramuan itu bukan lah satu-satunya faktor yang akhirnya bisa membuat Caramel hamil. Sudin hanya bercanda soal itu.


"Kalian harus coba beberapa makanan disini." Nenek mengajak Rafka dan Caramel masuk.


Caramel dan Rafka duduk di salah satu kursi dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke jalanan. Suasana cafe ini cukup nyaman untuk mengobrol berlama-lama.

__ADS_1


"Kamu pernah kesini tanpa aku?" Caramel berbisik menyikut lengan Rafka saat kakek dan nenek pergi untuk mengambil makanan.


"Hm?" Alis Rafka terangkat, ia memang beberapa kali kesini tanpa memberitahu Caramel. "Iya."


"Ngapain?"


"Hanya mengobrol dengan Kakek, lalu beberapa kali Kakek memberiku ramuan itu—tapi aku tidak meminumnya, sungguh."


Caramel menyipitkan mata tak percaya pada ucapan Rafka meski sejauh ini sang suami tidak pernah berbohong.


"Aahh anak kamu nendang." Caramel mencengkram lengan Rafka terkejut karena Pineapple tiba-tiba seperti berguling di dalam sana.


"Ssshhh kalian tidak sabar makan ya?" Rafka mengusap-usap perut Caramel, meski saat ia melakukan itu mereka akan lebih aktif bergerak. Itu adalah sakit paling nikmat yang Caramel nantikan setiap saat karena ia bisa merasakan kehidupan di dalam perutnya.


Tak lama kemudian wanita berusia 40 tahunan menghampiri meja Caramel dengan membawa dimsum dan sup ayam serta teh yang terbuat dari serai.


"Selamat menikmati." Ucapnya.


"Perkenalkan ini anak pertama Nenek." Nenek datang meletakkan Cinnamon Roll dan duduk di hadapan Caramel disusul kakek.


"Salam kenal Bu, saya Caramel." Caramel menjabat tangan wanita itu.


"Panggil saja Mina." Mina mengulas senyum. Rafka juga berkenalan dengan Mina.


"Ini semua masakan Ibu ya?" Tanya Caramel.


"Betul, semoga kalian suka ya." Katanya sebelum meninggalkan mereka.


Caramel dan Rafka menikmati makanan yang terbuat dari bahan-bahan herbal yang tak hanya enak tapi juga sehat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2