Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tujuh Belas


__ADS_3

"Rafka!"


Suara Caramel membangunkan ku ditambah sesuatu yang berada di atas perutku, perlahan aku membuka mata karena sulit bernapas.


"Rafka bangun!"


"Umm ... kenapa, ada apa?" Aku membuka mata sebelah, ternyata sesuatu yang membuatku sulit bernapas itu Caramel, ia naik ke perutku. Kenapa? aku salah apa? aku hanya tidur.


"Kenapa kamu biarin aku tidur semalem padahal film nya belum selesai." Caramel menekan kedua pipiku, ia merapatkan giginya geram.


"Turun dulu, biarkan aku bicara." Kataku.


Aku menghela napas lega saat Caramel turun dari perutku, ia punya banyak cara untuk menghukum ku. Kenapa ia marah jika ketiduran semalam saat sedang menonton film, aku saja lupa siapa yang tidur lebih dulu.


"Nanti kita nonton lagi ya." Aku mengangkat tubuh ku, duduk bersandar pada ujung ranjang. Caramel menekuk bibirnya, lucu sekali apalagi rambutnya yang berantakan karena bangun tidur. Ini membuatku enggan pergi bekerja, andai aku bisa cuti lebih lama seperti Caramel.


"Kenapa kamu baik banget sih!" Caramel menghambur memeluk ku, tiba-tiba ia menangis. Baru saja ia marah sekarang menangis, apa wanita selalu seperti ini saat sedang datang bulan.


Aku mengusap rambut panjang nya yang sebatas punggung dan menahan senyum, sikapnya seperti gadis remaja tujuh belas tahun. Asal kau tahu Cara, aku juga tidak ingin pergi kerja.


"Ka?" Panggil Caramel.


"Iya?"


"Kamu udah jatuh cinta nggak sih sama aku?"


Pertanyaan apa itu? aku sudah jatuh cinta sejak 12 tahun yang lalu ketika pertama kali bertemu dengannya. Apa sikapku tidak menunjukkan semua itu? penantian selama 10 tahun itu sudah cukup membuktikan betapa aku mencintai Caramel.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Karena kamu belum pernah bilang."


"Apa cinta itu harus diutarakan, tidak cukup dengan sikap dan perlakuan ku padamu selama ini?"


Caramel mengangkat kepalanya dan melepas pelukan, "asal kamu tahu cewek butuh dengerin ungkapan cinta dari pasangannya, setiap hari."


"Aku bertanya saat tidak tahu, apa wanita bertanya saat ia sudah tahu?"


Mulut Caramel terbuka hendak mengatakan sesuatu lalu tertutup lagi, "sudah lah, aku mau cuci muka terus masak takutnya kamu telat kerja nya." Ia turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Caramel menutup pintu kamar mandi cukup keras hingga membuatku terlonjak kaget. Rupanya Caramel tidak takut lagi sendirian di kamar mandi, biasanya ia membiarkan pintunya terbuka.


Aku bergegas membereskan tempat tidur dan beberapa bungkus makanan sisa semalam. Aku tidak ingat siapa yang lebih dulu tidur di antara kami.


"Aku udah setrika beberapa kemeja, aku nggak tahu kamu mau pakai yang mana." Caramel keluar dari kamar mandi, ia menguncir rambut panjangnya dan mengenakan headband. "Buruan mandi." Katanya sebelum keluar kamar.


Sebenarnya Caramel perhatian tapi ia tak mau menunjukkannya secara terang-terangan, ia memiliki rasa gengsi yang tinggi.


Tidak ada sabun Sumber Ayu lagi di kamar mandi, pasti Caramel sudah membuangnya. Lain kali aku akan membaca lagi saat menggunakan produk. Namun kadang aku tidak mengerti semua produk yang tertata di rak kamar mandi, kebanyakan milik Caramel.


Hari ini aku harus pergi kerja, itu artinya Caramel akan sendirian disini. Semoga ia tidak keluar apartemen terlalu lama, aku takut jika ia akan bertemu dengan Rama. Walaupun lambat laun mereka akan bertemu tapi setidaknya ada aku di dekat Caramel saat itu terjadi.


"Rafka, aku pakai saus barbeque kemasan, nggak apa-apa kan?" Caramel sedang menyusun sayuran ke dalam kotak makanan, ia sudah lebih dulu meletakkan daging yang sudah dipanggang dan mashed potato.


"Tidak apa-apa." Aku tersenyum, mie instan yang biasanya paling ku hindari saja bisa aku makan demi Caramel. "Kenapa kamu memasukkan semua daging nya?" Aku menghampirinya.


"Emang kenapa? kamu nggak lagi diet kan?" Caramel sibuk menyusun buncis yang sudah direbus di atas wortel dan jagung.


"Kita harus membaginya menjadi dua." Aku mengambil pisau dan garpu untuk memotong daging tersebut.


"Hei!" Caramel menahan tanganku, "aku udah susun biar cantik, jangan dirusak." Katanya.


"Kamu makan apa kalau semua daging dimasukkan ke kotak makanan ku?"


"Aku makan oatmeal." Ia mengambil pisau dan garpu di tangan ku dan meletakkannya kembali. "Semalem aku makan tiga bungkus keripik kentang jadi hari ini aku mau sarapan oatmeal aja sama buah."

__ADS_1


"Apa ada aturan khusus untuk itu?"


Caramel mendesis, "aku nggak mau gendut."


"Kamu sudah cukup kurus."


"Oh ya?" Ia memiringkan kepalanya melihatku, matanya berkilat-kilat senang.


"Ya, aku tidak pernah berbohong." Tegasku.


"Oke, aku percaya tapi semua dagingnya tetep buat kamu." Ia menutup kotak makanan tersebut. "Bawa kembali kotaknya, jangan sampai hilang, ini seharga satu bulan biaya listrik."


Aku membelalak, mengapa kotak makanan harus semahal itu. Ada banyak yang memiliki harga wajar kenapa Caramel memilih yang mahal. Ah tentu saja ia memang selalu menggunakan barang mahal.


"Aku antar sampai lobi ya." Caramel memasukkan kotak tersebut ke dalam paper bag dan memberikannya padaku. "Kulit kamu kelihatan lebih cerah kalau pakai batik biru gini." Ia membenarkan kerah baju ku lalu mengusap bahuku beberapa kali.


"Tidak usah, nanti kamu akan kembali kesini sendirian." Aku mengusap pipi nya sesaat.


"Nanti Jane dan Kayla mau kesini, boleh kan?" Ia mendongak menatapku.


"Boleh." Tanganku turun ke lengan dan kembali mengusapnya.


"Biasanya suami cium istrinya kalau mau berangkat kerja." Seru Caramel membuatku menghentikan langkah, aku pikir ia tidak mau dicium. Sungguh aku takut salah memperlakukannya, ia selalu cepat berubah dalam hitungan detik. Bisa saja jika aku hendak menciumnya, ia akan menghindar. Aku hanya tidak ingin mendapat penolakan dari Caramel.


Aku mengecup kening Caramel lama, lalu menariknya ke dalam pelukanku. Aku tak pernah merasa seberat ini untuk berangkat kerja.


"Aku bau asap, jangan lama-lama nanti baju mu ikut bau." Caramel melepas tautan di antara kami.


"Itu tidak masalah." Aku kembali memeluk Caramel. Tidak akan ada yang berkomentar mengenai aroma baju ku di kantor. "Aku mencintaimu." Lirihku sebelum melangkah masuk ke lift pribadi, sekilas ku lihat wajah Caramel melongo dan memerah. Apa hal seperti itu yang diinginkan seorang istri?


******


"Apa Cara mempesona di malam hari?" Suara Danu sangat mengganggu dari tadi, padahal aku sedang membuat diagram prakiraan cuaca dalam satu bulan ke depan.


"Dia mempesona siang dan malam." Jawab ku.


"Hm?" Aku menoleh kepadanya, "kamu benar-benar mengira kami melakukan itu sebelum menikah, sayangnya tidak, dia sedang datang bulan."


"Oh, jadi yang kemarin itu beneran PMS." Danu manggut-manggut, aku kembali fokus pada layar komputer di hadapanku. "Lain kali traktir aku lagi."


Aku hanya melirik Danu tanpa menjawabnya, obrolannya sangat tidak penting. Itu hanya membuang waktuku.


Ponselku berdenting pendek, pesan dari Caramel. Ia mengirim foto nya bersama dengan Jane dan Kayla, aku baru saja nonton film yang sempat tertunda semalam.


Samar senyumku mengembang melihat pesan dari Caramel, ia masih menggunakan piyama yang sama saat aku berangkat kerja tadi.


Aku belum mandi, tenang aja sebentar lagi aku mandi sebelum kamu pulang.


Satu pesan lagi menyusul, Caramel seperti tahu apa yang aku pikirkan. Aku baru mengetik pesan balasan untuk Caramel tapi satu pesan kembali masuk.


Jangan pulang telat!


Bagaimana ini, dia galak tak sangat menggemaskan dan semakin membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Jika ada yang bilang rasa cinta akan luntur seiring berjalannya waktu, itu tak akan berlaku untukku.


"Awal tahun 2021 akan terjadi hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia." Danu melihatku.


"Ya." Aku mengangguk, "sebagian besar wilayah berwarna jingga hingga merah yang berpotensi menghasilkan awan cumolonimbus, tapi ada kemungkinan terjadi virga." Aku menyentuh layar komputer di hadapan Danu dengan bolpoin. Layar tersebut menampilkan keadaan awan melalui citra satelit.


"Kemungkinan awan menguap sebelum jatuh itu sangat kecil, mungkin akan terjadi hujan, angin disertai petir dan gelombang tinggi."


Aku kembali meletakkan ponsel di samping komputer urung membalas pesan Caramel, lagi pula aku akan pulang kurang dari 10 menit.


"Kita harus memastikan lagi dan membuat peringatan gelombang tinggi sebelum akhir tahun."


"Kita punya banyak waktu." Danu menepuk bahuku.

__ADS_1


Menganalisis cuaca jangka panjang itu tidak mudah, walaupun ini masih pertengahan tahun 2020 tapi tak ada waktu untuk bersantai. Mengingat awal tahun, itu hari ulang tahun Caramel, 12 Januari. Akhirnya kami bisa merayakan ini bersama-sama.


"Aku pulang." Aku beranjak dari duduk ku dan membereskan beberapa lembar kertas dan memasukan ke dalam tas.


"Dasar pengantin baru, buru-buru pengen sampai rumah, rasain kalau udah punya anak, di kantor stress apalagi di rumah." Danu menggerutu tapi aku mengabaikannya. Aku keluar ruangan dengan langkah cepat.


Tentu saja aku tidak sabar sampai rumah, ada istri cantik ku yang sedang menunggu disana. Tak peduli ia bau asap atau parfum mahal, aku selalu merindukannya.


"Ahh, kenapa bisa lupa." Aku urung membuka pintu mobil saat sadar bahwa kotak makanan ku tertinggal di dalam sana. Jika aku tak membawanya dengan selamat, Caramel bisa mengomel tiada henti. Lebih parahnya lagi, ia tak memberiku makan atau menyuruhku menghabiskan mie instan super pedas yang bisa membuat lidah ku kebas.


"Kenapa kembali?" Tanya Danu ketika aku masuk.


"Kotak makananku tertinggal." Aku meraih paper bag di bawah meja.


"Aku nggak pernah mau dibawain kayak gitu sama Indi, kalau hilang bisa disuruh tidur di luar tahu nggak."


"Oh ya?" Aku terkejut, ini hanya kotak makanan kenapa harus menghukum suami dengan tidur di luar.


"Indi ikut arisan barang kayak gitu, habis jutaan."


"Oh." Aku berlalu meninggalkan Danu, jika tetap disini pasti ia akan bercerita lebih banyak lagi dan tak membiarkanku pulang.


Rintik hujan semakin lebat saat mobilku melaju perlahan membelah jalanan kota Jakarta yang tak pernah sepi oleh kendaraan. Hujan semakin menambah kemacetan sore ini, seperti biasa mereka membunyikan klakson berkali-kali padahal itu tak ada gunanya sama sekali.


Nada dering ponselku terdengar disela suara hujan, aku memasang airpods di telinga kiri dan menekan ikon berwarna hijau pada layar ponsel.


"Aku lagi di kamar mandi, Jane dan Kayla udah pulang." Suara Caramel disertai suara air dari shower.


"Kamu masih takut?"


"Aku hampir selesai."


"Sepuluh menit lagi aku sampai."


"Baik, jangan tutup teleponnya."


Pasti Caramel masih takut mandi sendirian makanya ia meneleponku. Ditambah ia baru saja nonton film horor, semoga nanti malam ia bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan film itu.


Caramel terdiam, hanya terdengar suara air lalu hening. Kemudian suara pintu terbuka.


"Di luar hujan, aku baru tahu."


"Iya, sepertinya seminggu ke depan akan hujan seperti ini." Aku sedikit melirik ke jendela samping, melihat derasnya air hujan yang membasahi kaca tersebut. "Kamu ingin sesuatu, biar aku belikan."


"Enggak, aku udah makan banyak tadi siang, Jane bawa dua kotak KFC, aku udah masak sup buat makan malam."


"Oh ya? Aku tidak sabar untuk mencobanya." Aku menelan ludah membayangkan sup buatan Caramel, hujan seperti ini memang paling enak makan dengan sesuatu yang berkuah.


Mobilku memasuki kawasan Kempinski, disambut tiga gedung pencakar langit yang meliputi apartemen dan hotel Kempinski, hunian mewah impian Caramel ini memang terletak di kawasan strategis. Begitu keluar, para penghuni Kempinski akan mendapat apapun yang mereka inginkan.


"Aku sampai di basemen." Aku meraih ponsel dan keluar dari mobil.


"Aku turun ya."


"Kenapa turun, aku sudah sampai."


"Justru itu aku mau jemput kamu di lobi, aku udah di dalam lift."


Aku menghela napas, seharusnya ia cukup menungguku di dalam unit kami.


"Kamu menggunakan lift pribadi kan?"


Hening. Caramel tidak menjawab pertanyaanku.


"Cara, kamu masih disana? Cara, Caramel!" Aku melangkah cepat keluar basemen menuju lobi. "Caramel, jawab aku!" Jantungku berdegup sangat kencang seperti hendak melompat dari peradapannya.

__ADS_1


"Aaahh!" Caramel berteriak lalu terdengar suara benda jatuh. Ponsel Caramel terjatuh mengenai lantai.


__ADS_2