
Bagi Caramel mengandung seorang anak adalah suatu keajaiban, membayangkan ada satu makhluk bernyawa di dalam tubuhmu. Dulu Caramel hanya bisa merasakan gerakan janinnya saat di dalam perut tapi sekarang ia bisa melihat keajaiban yang nyata di depan matanya. Caramel bersyukur karena Tuhan memilihnya untuk menjadi seorang ibu. Semua rasa sakit, lelah, dan penderitaan Caramel menguap begitu saja setelah melihat wajah bayi mungilnya. Ia tak percaya terhadap cinta pada pandangan pertama tapi kini ia mempercayai hal tersebut. Caramel telah jatuh cinta kepada sang buah hati sejak pandangan pertama.
"Kamu sudah bangun?" Rafka mengerjapkan mata melihat Caramel bangun dari tidurnya pasca operasi, "minum ya." Ia menyodorkan segelas air putih kepada Caramel. "Kamu pasti haus."
"Udah boleh minum?" Caramel ragu menerima gelas dari Rafka.
"Ya, dokter bilang kamu boleh minum sedikit air setelah dua jam operasi." Rafka membantu Caramel menegakkan kepalanya untuk minum.
"Makasih." Caramel selesai meneguk setengah gelas air putih.
"Kamu mau lihat bayi kita?" Rafka mengusap kepala Caramel setelah mengembalikan gelas ke atas nakas di samping ranjang.
Caramel mengangguk, ia memang ingin melihat wajah bayinya begitu bangun tidur. Karena bayi Caramel memiliki berat badan di bawah normal, dokter harus menempatkannya di dalam inkubator agar suhu tubuhnya tetap hangat.
"Kita harus segera kasih dia nama." Caramel dan Rafka sudah menyiapkan beberapa nama untuk anaknya tapi setelah bayi itu lahir mereka jadi bimbang.
"Boleh aku memberinya nama Arnesh?"
"Apa artinya?"
"Arnesh dari bahasa sansekerta yang berarti penguasa lautan karena dia sudah berjuang bersamamu menghadapi badai di laut."
"Setuju." Caramel mengangguk langsung menyetujui nama itu.
"Arnesh Pradipta Aditama."
"Kenapa pakai Aditama?"
"Karena itu anak kita, tidak adil rasanya jika hanya menggunakan nama belakangku."
Caramel tersenyum, ia bahkan tidak berniat ikut memasukkan namanya pada sang anak. Namun karena itu keputusan Rafka maka Caramel akan menyetujuinya.
Rafka membantu Caramel berpindah ke kursi roda dengan perlahan. Tubuh Caramel pasca operasi masih rentan jadi Rafka harus memperlakukannya dengan lembut.
"Aku sudah menghubungi Mama dan Papa, begitu mendengar cucunya sudah lahir mereka langsung ingin menyusul kemari tapi karena tiket pesawat sudah habis, mungkin mereka baru bisa kesini setelah pergantian tahun." Selama Caramel istirahat, Rafka menghubungi keluarga mereka di Jakarta.
Awalnya mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Caramel setelah mendengar berita kapal tenggelam. Namun Rafka berhasil menenangkan mereka dengan memberitahu kondisi Caramel saat ini. Rafka juga bilang bahwa anak mereka lahir dengan selamat dan sehat.
"Mama kita pasti kepikiran banget deh, Ka." Ucap Caramel.
"Aku bilang sama mereka kalau kamu dan bayi kita semuanya sehat supaya mereka nggak terlalu khawatir."
"Jane dan Doni gimana?"
"Jane dan Doni dalam perjalanan kesini setelah menjalani beberapa pemeriksaan terkait kondisi mereka setelah tenggelam, mereka baik-baik aja kok."
Caramel mengembuskan napas lega mendengar penjelasan Rafka. Caramel ingat ketika Jane dan Doni kebingungan mencari bantuan demi dirinya. Caramel tak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada mereka.
"Kita cuma boleh lihat dari luar sayang." Rafka memutar kursi roda ke arah kaca jendela besar memperlihatkan bayi-bayi yang sedang tidur di dalamnya. "Ini dia Arnesh." Rafka menunjuk salah satu inkubator tepat di depan mereka.
"Ya ampun, dia tidur." Mata Caramel berkaca-kaca melihat bayi mereka berada di dalam inkubator. Tidak sabar rasanya ingin menimang sang buah hati tapi Caramel harus bersabar hingga saatnya Arnesh diperbolehkan keluar dari inkubator. "Cepet sehat sayang." Bisiknya dengan suara gemetar.
"Dia akan segera sehat karena tidak sabar ingin ketemu Mama Papanya." Rafka mengusap-usap punggung Caramel.
"Makasih buat nama cantiknya, Arnesh pasti bangga banget punya nama itu." Caramel menoleh pada Rafka dan mengembangkan senyumnya.
"Ya." Rafka mengangguk ikut tersenyum kepada Caramel.
Mereka memandangi tubuh mungil Arnesh yang tampak tertidur pulas.
__ADS_1
"Cara!"
Caramel dan Rafka sama-sama menoleh ke ujung koridor, tampak Jane dan Doni berjalan ke arah mereka. Bahkan Jane tidak sabar dan setengah berlari menghampiri Caramel.
"Ya ampun, untung lu selamet Car." Jane memeluk Caramel.
"Lu baik-baik aja kan?" Caramel melihat Jane dari atas hingga bawah.
"Bayi kalian sehat kan?" Jane belum puas memeluk Caramel setelah berpisah beberapa jam.
"Aduh sakit, pelan-pelan aja peluk nya, kayak nggak ketemu setahun aja ya lu."
"Eh sorry-sorry." Jane langsung melepas pelukannya, ia sampai lupa kalau Caramel baru saja selesai operasi. Karena dulu Jane juga melahirkan secara caesar, ia mengerti bagaimana kondisi Caramel saat ini.
"Itu dia jagoan gue sama Rafka." Caramel menunjuk ke arah bayinya.
"Ya ampun, akhirnya lu punya anak juga setelah bertahun-tahun jomblo." Jane terharu melihat bayi Caramel dan Rafka. Ia ikut merasakan bagaimana perjuangan Caramel hingga sampai di tahap ini.
"Sekarang kebahagiaan kalian sempurna." Ucap Doni.
"Terimakasih Jane dan Doni karena kalian sudah menjaga Caramel." Sahut Rafka.
"Pakai terimakasih segala lu." Jane mengibaskan tangannya.
Mereka kembali ke ruang rawat Caramel setelah puas melihat bayi Arnesh. Jane dan Doni bilang mereka telah menemukan satu hotel dekat sini sehingga bisa bolak-balik ke rumah sakit dengan cepat jika Caramel membutuhkan sesuatu.
"Gue harus merelakan koper dan barang-barang gue tenggelam sama kapal itu." Tukas Caramel saat ia kembali berbaring di atas ranjang rawat.
"Untungnya lu nyuruh Lusi bawa kostum pemotretan, kalau nggak kita harus siapin semuanya dari awal." Sahut Jane.
"Sudah lah yang penting kalian selamat." Timpal Rafka, ia sedang membuka penutup plastik yang melapisi makan malam Caramel dari rumah sakit.
"Karena ternyata anak kita lahir lebih cepat." Rafka tersenyum, rasanya ia belum percaya kalau saat ini dirinya sudah menjadi seorang ayah.
Sesi pemotretan Caramel Sleepwear akan tetap dilakukan besok walaupun tanpa Caramel. Semuanya sudah Caramel percayakan kepada Jane, mulai dari lokasi hingga model yang akan mereka gunakan.
Mereka akan tinggal sedikit lebih lama dari yang sudah direncanakan, karena Arnesh harus mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit. Selain itu bayi harus mencapai usia tertentu untuk diperbolehkan naik pesawat.
"Aku juga laper nih, Pa." Jane menepuk-nepuk bahu Doni yang duduk di sampingnya.
"Mau pesen apa?"
"Car, apaan makanan yang terkenal disini, tahu nggak lu?"
"Sate Plecing Arjuna kayaknya enak deh, rating nya bagus di google." Jawab Caramel, ia juga tidak tahu apa makanan yang sedang ramai saat ini. Ia hanya mencaritahu di internet beberapa hari sebelum kesini.
"Tutup." Doni menunjukkan ponselnya kepada Jane memberitahu bahwa restoran yang Caramel maksud sedang tutup.
"Ah gue tahu." Jane beranjak dari duduknya melangkah menuju meja tak jauh dari sofa tempatnya duduk barusan. Ia mengambil tiga cup mie instan dari dalam kantong plastik. "Gue sama Doni mampir ke minimarket barusan, beli beberapa makanan sama minuman, malam ini makan ini dulu aja ya."
"Boleh." Doni mengangguk.
"Lu mau nggak, Ka?" Tanya Jane pada Rafka.
"Tidak usah." Rafka menggeleng, melihat bungkus mie di tangan Jane saja membuatnya tidak ingin makan.
"Ih kenapa, dua hari yang lalu kamu kan masih makan mie instan?" Caramel heran melihat Rafka.
"Entah lah." Rafka mengedikkan bahu, "aku hanya tidak ingin makan mie."
__ADS_1
"Ya udah gue sama Doni ke kantin dulu mau masak nih mie." Jane dan Doni keluar dari ruangan Caramel karena di dalam sini tidak ada air panas untuk memasak mie.
"Aku makan sendiri aja." Kata Caramel.
"Baiklah." Rafka menegakkan overbed table dan meletakkan makan malam Caramel di atasnya.
"Rafka." Panggil Caramel sebelum ia menyendok nasi dengan sup ayam.
"Hm?" Rafka duduk di kursi dekat ranjang menemani Caramel makan.
"Malam itu aku langsung pergi tanpa ngasih kamu kesempatan buat jelasin situasinya sama aku, waktu itu aku telfon kamu dan yang jawab bukan kamu tapi Elsa, sekarang aku tanya, apa bener kamu ketemu Elsa di What's Up Cafe?"
"Iya benar, kami tidak sengaja bertemu."
"Terus kalian makan bareng?"
"Ini tidak benar jika disebut makan bersama, karena sebenarnya aku datang lebih dulu, saat Elsa datang aku segera menghabiskan makanan dengan cepat."
Caramel berusaha mengunyah makanannya dengan tenang padahal jauh di lubuk hatinya ia merasa marah dan kesal. Caramel tidak tahu apakah membahas hal tersebut disaat seperti ini baik untuk mereka atau sebaliknya. Caramel hanya ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka dengan tepat tanpa membiarkannya berlarut-larut. Lagi pula Caramel yakin Rafka tidak akan macam-macam di luar sana apalagi bermain dengan perempuan lain.
"Setelah makan aku pergi ke kamar mandi karena harus berganti pakaian, kau tahu aroma mie instan akan membuatmu mual dan aku tidak mau itu terjadi."
Caramel tersentuh, bahkan Rafka memperhatikan dirinya hingga sesuatu sedetail itu. Caramel menyesal telah marah-marah malam itu hingga meninggalkan rumah. Caramel memang selalu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya menyesal.
"Mungkin saat itu kamu meneleponku dan Elsa dengan lancang menjawabnya, saat keluar dari kamar mandi kalian sudah selesai berbicara, maka dari itu aku tidak percaya jika kamu meneleponku."
"Aku minta maaf." Ucap Caramel tulus, ia seharusnya minta maaf lebih awal.
"Tidak Caramel, aku minta maaf karena tidak mempercayai mu, saat kamu pergi aku melihat riwayat panggilan dan ternyata kamu memang meneleponku."
Caramel mengangguk, "walau gimanapun kepercayaan dan kejujuran itu penting untuk menjaga hubungan rumah tangga kita."
"Aku akan lebih mempercayai mu." Rafka mengusap rambut Caramel yang terurai sedikit berantakan.
"Mumpung lagi bahas masalah ini, aku juga mau jujur sama kamu."
"Apa itu?" Rafka memperbaiki posisi duduknya.
"Aku bilang Rama tahu sandi masuk apartemen kita, dan kamu bilang itu nggak masuk akal kan?"
"Iya." Rafka mengangguk, itu memang tidak masuk akal bahkan walaupun ia memikirkannya lagi sekarang itu tetap tidak masuk akal.
"Jadi waktu kalian bikin rencana kejutan ulang tahunku, Jane tuh nyuruh aku bawa barang bawaannya yang banyak banget satu kantong plastik, pas sampai koridor ada Rama, jadi dia langsung rebut gitu aja barang yang aku bawa, katanya dia nggak tega lihat ibu hamil bawa banyak barang, dia bawain barang Jane sampai ke dalam apartemen, mungkin dia ngintip gitu waktu aku pencet-pencet sandi masuk apartemen, karena sandinya tanggal lahir aku makanya dia langsung hafal."
Rafka terdiam, ia tampak berpikir dalam. Itu berarti Rama telah merencanakan kejahatan ini sejak lama. Jika Rafka menceritakannya kepada polisi pasti Rama akan mendapat hukuman lebih berat karena semuanya sudah terencana. Apalagi Rama sampai melibatkan Anna dan Joni untuk bekerja sama dengannya.
"Aku minta maaf karena nggak jujur sama kamu dari awal, karena aku pikir Rama bener-bener cuma mau bantu aja."
"Aku mengerti." Rafka tersenyum simpul menatap Caramel teduh, ia beranjak untuk memberi pelukan kepada sang istri.
"Aku beruntung punya kamu Rafka."
"Eh-eh ngapain kalian, ya ampun!" Jane masuk langsung heboh melihat Rafka dan Caramel berpelukan. "Sadar tuh jahitan belum kering, udah mau bikin dedek lagi."
"Apa sih orang pelukan doang." Caramel sewot mengerucutkan mulutnya.
"Rafka, libur dulu ya satu bulanan." Jane mengerlingkan mata pada Rafka, ia meletakkan cup mie di atas meja begitu juga dengan Doni.
"Aku tahu." Jawab Rafka dengan wajah datar, itu adalah hal terberat yang walaupun ia telah mempersiapkannya sejak jauh hari tapi rasanya ia tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
Sorry banget lama update karena beberapa minggu ini Author lagi kurang fit.