
Pandangan Caramel menyapu seluruh penjuru apartemen yang ditinggalkannya selama 1 bulan. Ia sudah mempersiapkan diri sebelum kembali masuk ke apartemen dimana Rama melakukan pelecehan kepadanya. Rumah seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman tapi sekarang tempat itu justru mengingatkanmu pada hal yang menyakitkan. Caramel menahan ketakutan dalam dirinya, ia sudah dewasa dan tidak boleh terjebak lagi dalam rasa traumanya. Semua itu sudah berlalu, jika ia tidak bisa melawan ketakutan itu berarti ia juga kalah terhadap permainan Rama.
"Kalau kamu tidak siap pulang kesini, kita bisa tinggal sementara di rumah dinas ku." Rafka mengusap punggung Caramel dari belakang.
Caramel menunduk melihat Arnesh yang sedang tidur tenang di gendongannya lalu ia menyunggingkan senyum tipis. Ada Arnesh yang menguatkan ku. Caramel bergumam dalam hati. Walaupun terlihat tegar dari luar, sebenarnya Caramel orang yang sulit melupakan kejadian menyakitkan di masa lalu. Caramel seperti kluwek yang keras di luar lembut di dalam.
"Aku nggak sabar lihat kamar Arnesh." Caramel menoleh pada Rafka sesaat dan melangkah lebih dulu.
Rafka ikut tersenyum, ia membawa dua koper dan satu tas besar yang menampung baju Caramel, Arnesh dan dirinya. Koper lama Caramel tidak bisa ditemukan begitu juga dengan barang lainnya milik penumpang. Namun yang terpenting adalah nyawa mereka terselamatkan.
"Wah bagus banget!" Caramel memekik ketika memasuki kamar Arnesh yang telah didekorasi sebelum mereka pulang. Rafka memang meminta jasa dekorasi ruangan untuk menata kamar Arnesh berdasarkan keinginan Caramel. Dilihat dari reaksi Caramel sepertinya ia menyukai kamar itu.
"Tidurin Arnesh di box nya." Pinta Rafka karena sepanjang perjalanan dari bandara Soetta Arnesh berada di gendongan Caramel. Rafka ingin Caramel beristirahat setelah menempuh perjalanan dari Bali ke Jakarta yang tidak sebentar.
Rafka membantu Caramel melepas gendongan bayi sebelum Arnesh diletakkan di dalam box nya. Mereka beruntung karena telah mempersiapkan semua peralatan bayi sebelum berangkat ke Bali. Jika tidak pasti Caramel panik sendiri karena Arnesh lahir lebih cepat dari perkiraan.
"Pulas sekali dia tidur." Rafka mengecup pipi Arnesh yang mulai gembul tidak seperti saat baru lagi.
"Kalau tidur mirip kamu tahu nggak." Caramel bicara dengan suara rendah karena takut Arnesh bangun.
"Apa aku seperti itu saat tidur?" Rafka melihat Caramel tidak percaya.
"Ya kamu gitu, mulutnya kebuka sedikit, ih gemes." Caramel mencolek pipi Arnesh dengan gemas.
"Sudah jangan ganggu Arnesh terus." Rafka mengajak Caramel ke kamar mereka untuk ganti baju dan istirahat.
Caramel menghempaskan tubuhnya dengan keras ke tempat tidur berukuran king yang sangat ia rindukan. Walaupun kasur di villa sama empuknya tapi tempat tidur paling enak adalah kamar sendiri.
Melihat Caramel telah berbaring dengan nyaman, Rafka segera menghidupkan AC dan mengaturnya di suhu 16 derajat seperti kebiasaan Caramel. Ia juga membuka gorden agar cahaya matahari pagi bisa masuk ke kamar.
"Kamu mau mandi dulu?" Caramel sedikit mengangkat kepalanya melihat Rafka membuka pintu kamar mandi.
"Aku sedang memeriksa seluruh ruangan." Rafka masuk ke kamar mandi, melihat dengan teliti setiap sudut ruangan. Meski saat ini Rama berada di tahanan tapi Rafka tidak boleh lengah, ia belajar dari kasus Caramel. Jika Rafka tidak meninggalkan ponselnya di meja pasti ia akan sampai ke apartemen lebih cepat.
__ADS_1
"Sebaiknya kita ganti lagi pin masuk apartemen, angka-angkanya kamu dan aku aja yang tahu." Caramel melepas kunciran rambutnya setelah ruangan menjadi dingin, pasti sebentar lagi ia akan tertidur saking nyamannya.
"Aku sudah memikirkan itu." Rafka keluar dari kamar mandi.
"Terus?"
"Kita pakai tanggal pertama kali kamu ketemu aku."
"Waktu kita ketemu di pigeonhole?"
Rafka mengangguk, "itu adalah hal yang istimewa untukku dan awal bagimu memulai hidup dengan ku."
Caramel tersenyum, mengapa memilih sandi masuk saja jadi hal yang romantis. Rafka sudah banyak berkembang, tidak terlalu kaku seperti dulu lagi. Sepertinya Caramel sudah tidak pantas memanggil Rafka dengan sebutan robot. Namun jika dipikir lagi, Caramel memang sudah jarang mengomel dan menyebut Rafka robot lagi.
"Oke." Caramel mengangguk, sebenarnya ia bukan tipe orang yang suka mengingat tanggal penting tapi ia tidak lupa pada tanggal pertama kali dirinya bertemu dengan Rafka. Mungkin karena sejak pertama Rafka telah memberikan kesan mendalam di hati Caramel yakni kaku dan menyebalkan. Namun pada saat yang bersamaan Caramel juga merasa terbuai karena Rafka meninggalkan payung untuknya.
"Aku akan mengaturnya." Rafka keluar kamar sementara Caramel memejamkan mata merasakan dinginnya AC dan empuk nya tempat tidur di kamarnya. Caramel ingin istirahat sebentar sebelum Arnesh bangun.
"Tidak ada apapun di kulkas?" Rafka melihat kulkas, tidak ada bahan makanan apapun yang bisa ia masak karena mereka memang telah lama meninggalkan apartemen.
Rafka melangkah keluar untuk membeli beberapa bahan makanan yang mudah dibuat untuk persiapan makan siang mereka. Percaya atau tidak setelah Caramel melahirkan, Rafka kembali seperti dulu lagi yakni tidak menyukai mie instan. Sekarang Rafka merasa lebih tenang karena sebenarnya setiap makan mie, ia merasa bersalah pada tubuhnya sendiri karena telah memberikan makanan yang tidak sehat.
"Kamu masih disini?" Rafka menghentikan langkah menegur Joni yang berjalan berlawanan arah dengannya. Sungguh Joni tidak tahu malu karena masih tinggal di apartemen ini padahal kasus Rama sudah tersebar hingga ke seluruh apartemen, dalam hal ini Joni juga mendapat imbasnya karena Rama bekerjasama dengannya untuk mengawasi Caramel.
Joni berdiri kaku menatap Rafka takut, "saya nggak punya tempat tinggal lain." Jawabnya gugup.
Joni dan Anna bisa tinggal disini karena bantuan Rama. Siapa yang bisa menolak tinggal di apartemen mewah secara gratis, saat Rama memberitahu Joni bahwa syarat untuk tinggal di apartemen itu hanya dengan mengawasi Caramel maka ia langsung menyetujuinya. Apalagi mereka pasangan yang baru menikah, tinggal berdua telah menjadi impian mereka dari awal. Joni tidak tahu kalau mengawasi Caramel berbuntut pada kasus pelecehan seksual oleh Rama.
"Setelah ini kamu tidak akan bisa tidur dengan tenang." Ucap Rafka dingin sambil berlalu dari sana, naik lift dan hilang dari pandangan Joni yang masih terkejut karena tiba-tiba bertemu dengan Rafka disana.
Jika Rafka berkata demikian maka itu bukan hanya omong kosong semata, ia harus membuat siapapun yang telah macam-macam pada Caramel merasakan dinginnya lantai jeruji besi.
******
__ADS_1
Suara tangisan bayi membangunkan Caramel dari tidur pulas nya, ia langsung melompat turun dari tempat tidur berlari terhuyung-huyung ke kamar sebelah. Kesadaran Caramel belum sepenuhnya pulih tapi begitu mendengar tangisan Arnesh ia langsung panik, suara itu memaksanya kembali ke dunia nyata.
"Sepertinya dia ingin minum susu." Rafka melihat Caramel yang baru masuk ke kamar Arnesh, ia sudah berusaha menenangkan sang buah hati dengan menimangnya tapi Arnesh tetap menangis. Hal yang tidak bisa dilakukan pria saat anaknya menangis adalah menyusuinya.
"Sini." Dengan setengah mengantuk Caramel mengambil alih Arnesh untuk menyusuinya, ia duduk di kursi menyusui yang terletak tak jauh dari tempat tidur Arnesh. "Aku lama banget tidurnya ya?"
"Lumayan." Rafka ikut duduk di dekat Caramel.
"Kamu kok pakai celemek?" Caramel heran melihat Rafka mengenakan celemek, "jangan bilang kamu udah masak."
Rafka mengangguk, "untungnya aku sudah selesai masak saat Arnesh bangun."
"Aduh sorry banget ya, harusnya aku yang masak."
"Aku hanya membuat makanan sederhana."
"Makasih ya padahal kamu juga capek, harusnya istirahat." Caramel tersenyum tipis, bagaimana ia tidak selalu bersyukur mempunyai suami sebaik Rafka.
"Sebelum dingin, aku akan membawa makanannya kesini." Rafka beranjak pergi ke ruang makan.
Rafka mengambil porsi besar untuk dirinya dan Caramel. Ia membuat kari dari wortel dan kentang dan juga chicken katsu yang mudah dibuat. Rafka menggunakan bumbu kari instan karena takut gagal jika membuatnya sendiri, ia hanya tinggal menambahkan potong kentang dan wortel ke dalam bumbunya.
"Wah dobel kalori." Caramel bahagia melihat Rafka membawa sepiring besar nasi, chicken katsu serta wortel dan kentang yang dimasak dengan kuah kental. "Mirip kari ya?"
"Ini memang kari, semoga rasanya enak." Rafka menarik kursi duduk lebih dekat dengan Caramel yang masih menyusui.
"Hah kamu bisa masak kari?" Caramel tidak percaya Rafka bisa membuat kari yang termasuk masakan rumit.
"Aku menggunakan bumbu instan." Rafka menyuapkan sesendok nasi, chicken katsu dan bumbu kari pada Caramel.
"Enak kok, enak banget malah." Ucap Caramel tidak terlalu jelas, bumbu instan memang menyelamatkan orang-orang yang tidak pandai masak tapi tetap ingin makan enak. "Kamu makan juga dong."
Caramel mengusap rambut Arnesh yang sudah lebat sejak lahir, bayi mungil itu masih belum selesai menyusu. Arnesh bisa menyusu hingga 1 jam sampai Caramel merasa benar-benar capek. Namun pada saat yang bersamaan Caramel juga bersyukur karena ASI nya lancar sehingga ia tidak perlu memberi tambahan susu formula untuk Arnesh. Ditambah kursi menyusui yang sangat nyaman untuk Caramel, apalagi ada Rafka yang menyuapinya makan.
__ADS_1