
"Caramel, kok kamu sendirian, mana Rafka?" Mama Rafka celingukan mencari sosok anak sulungnya di belakang Caramel tapi tidak ada. Caramel datang sendirian.
"Aku sendirian Ma." Caramel mencium punggung tangan mamanya, mereka berpelukan dan cipika cipiki seperti biasa.
Mama Rafka mengajak Caramel masuk karena di luar gerimis, sisa hujan semalam belum sepenuhnya reda. Bahkan di beberapa titik di Jakarta terkena banjir akibat hujan semalaman.
"Kamu nggak bawa mobil?" Tanya mama Rafka setelah mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Caramel menggeleng, "banjir Ma, jadi susah kalau bawa mobil sendiri."
"Terus kenapa kamu sendirian, Rafka nggak nemenin kamu?" Mama Rafka mengerutkan kening khawatir karena Caramel datang sendirian di tengah banjir apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Awas saja, nanti ia akan memarahi Rafka karena membiarkan sang istri pergi sendirian.
"Kamu sakit?" Mama Rafka menyentuh paha Caramel, ia bisa melihat wajah pucat menantunya dan juga kantong mata yang begitu terlihat seperti orang kurang tidur.
Caramel menunduk menghela napas panjang. Tadinya ia pikir Rafka akan baikan setelah bangun tidur tapi lelaki itu tetap mendiamkannya. Caramel tak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan suasana hangat di antara mereka. Ia pergi kesini saat Rafka berangkat ke kantor.
"Jaga kesehatan kamu Cara, makan dan tidur yang cukup, atau kamu bertengkar sama Rafka?"
Spontan Caramel mengangkat wajah mendengar ucapan mertuanya. Apakah begitu kentara sehingga mama Rafka bisa dengan mudah menebaknya.
"Ada apa? cerita sama Mama." Ucap mama Rafka lembut, ia sudah mengalami pahit manisnya rumah tangga sehingga bisa dengan mudah mengetahui apa yang terjadi antara Caramel dan Rafka. Apalagi mereka menikah karena perjodohan, wajar jika terjadi pertengkaran, itu adalah bumbu dalam rumah tangga.
"Aku minta maaf sama Mama." Caramel meraih tangan mertuanya dan menggenggamnya, ia merasa begitu bersalah karena diam-diam menemui mama tiri Rafka kemarin.
"Kenapa kamu harus minta maaf sama Mama?" Mama Rafka mengusap punggung tangan Caramel untuk menenangkannya, "apapun itu Mama pasti maafin kamu." Ucapnya begitu tulus, ia sudah memaafkan Caramel walaupun belum tahu kesalahan apa yang telah Caramel perbuat.
"Aku kemarin ketahuan diem-diem ketemu sama Mama Sandra, Ma."
Mama Rafka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya tapi itu hanya sebentar, ia lalu menarik napas dalam dan mengganti ekspresi kagetnya dengan senyuman.
"Wajar Rafka marah sama aku tapi—"
"Sudah lah, kamu tidak sepenuhnya salah, dia juga mertuamu."
Caramel tertegun melihat reaksi mama Rafka yang di luar dugaannya. Ia sudah membayangkan akan mendapat amukan dari sang mertua tapi ternyata tidak sama sekali. Caramel bisa melihat senyum manis terukir di wajah mama Rafka saat ini.
"Anak itu memang sangat membenci Papanya dan Sandra sejak hari dimana kami bertengkar hebat ketika Rafka masih SMA, Rafka pasti sudah menceritakannya kepadamu."
Caramel mengangguk pelan, "Mama juga?"
Mama Rafka tertawa singkat, sorot matanya meredup mendapat pertanyaan seperti itu.
"Ada kah wanita yang rela diselingkuhi? tidak ada tapi saat itu Papa Rafka jelas-jelas memilih Sandra di depan kami di depan Rafka dan Febi yang tak seharusnya menyaksikan pertengkaran kami." Ia menghela napas sejenak ketika dadanya terasa sesak mengingat momen itu. "Sandra masih seusiamu dulu dan dia mengandung anak Pradipta, dia juga berhak jatuh cinta walaupun harus mencintai pria yang sudah beristri."
"Aku ngerti perasaan Mama." Caramel mencoba menghibur mertuanya, mereka bernasib sama hanya saja ia baru mengetahui fakta bahwa ia diselingkuhi setelah menikah dengan Rafka. Bukan kah diselingkuhi setelah menikah itu jauh lebih menyakitkan?
"Mama mencoba ikhlas dan bersenang-senang walaupun tanpa sosok suami, Rafka dan Febi adalah alasan Mama untuk tetap bahagia hingga sekarang."
"Sekali lagi aku minta maaf sama Mama." Caramel menatap ke dalam mata mama Rafka yang berkaca-kaca. Caramel yakin walaupun sudah bertahun-tahun berlalu kejadian itu tak akan terlupakan. Luka di dalam hati tak bisa sembuh hanya dengan waktu.
"Sudah lah, jangan minta maaf terus, jika Mama nggak berusaha merelakannya itu sama seperti menggenggam bara api yang perlahan menyakiti diri Mama sendiri, Mama nggak mau itu terjadi sementara dia bahagia dengan Sandra."
"Aku salut sama Mama."
"Oh iya, kamu udah sarapan belum?"
"Belum." Caramel menggeleng, ia hanya memanggang dua potong ayam dan tumis bayam untuk bekal Rafka.
"Ayo makan." Mama Rafka beranjak dari duduknya mengajak Caramel pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama.
"Febi kemana Ma?" Dari tadi Caramel tidak melihat sosok Febi dan Zico yang biasanya sangat ramai ketika ia baru tiba disini.
__ADS_1
"Mereka lagi ke puncak, katanya sih honeymoon soalnya suami Febi baru selesai tugas jadi langsung deh mereka nyewa villa di puncak biar bisa berduaan eh bertigaan." Mama Rafka menyodorkan sepiring nasi untuk Caramel.
"Tapi kenapa Mama masak banyak?" Caramel melihat ada sekitar 5 macam lauk di atas meja yang semuanya tampak lezat.
"Apa ini banyak?" Mama Rafka tertawa, ia sudah biasa memasak berbagai jenis lauk setiap hari.
Caramel tersenyum salah tingkah, ia malu karena hanya menghidangkan paling banyak 3 jenis masakan untuk Rafka. Itu jauh berbeda dibanding kebiasaan mama Rafka yang suka masak banyak. Mau bagaimana lagi, Caramel harus bekerja sehingga ia lebih suka membuat sesuatu yang simpel atau bahkan makanan instan.
"Mama bakal marahin Rafka karena membiarkan kamu kesini sendiri."
"Eh jangan Ma, justru aku sengaja kesini sendiri biar bisa ngobrol berdua sama Mama."
"Sayuran baik untuk ibu hamil." Mama Rafka menyendok brokoli untuk Caramel, lalu ayam goreng dan tempe bacem.
"Biar aku ambil sendiri Ma." Caramel menolak ketika mertuanya hendak menambahkan bihun goreng sementara piringnya sudah penuh.
"Kamu harus makan lebih banyak, kau terlihat kurus untuk ibu yang sedang hamil empat bulan."
"Oh ya?" Caramel terkejut, ia merasa sudah cukup gendut dari biasanya.
"Kamu diet?"
"Enggak Ma, nafsu makan ku bertambah akhir-akhir ini."
"Bagus deh, makan yang banyak kalau perlu nanti Mama bawain makanan untuk mu dan Rafka."
Tak ada yang bisa Caramel lakukan selain mengangguk dan menuruti kemauan mertuanya. Tidak mungkin ia pulang dalam keadaan tangan kosong jika sedang berkunjung ke rumah orangtua. Baik orangtua Caramel maupun Rafka.
******
Bundaran HI yang biasanya hanya dipenuhi oleh kendaraan bermotor kini juga penuh dengan air yang menggenang disana. Jakarta memang belum kebal terhadap hujan, apalagi seharian kemarin hujan terus mengguyur kota metropolitan tersebut. Pemerintah telah berusaha membuat air surut secepatnya tapi hujan yang tidak juga reda membuat mereka kesulitan.
"Mama pasti sudah dengar dari Caramel." Jawab Rafka.
"Jangan terlalu marah dengannya, dia hanya bertemu dengan Sandra bukan orang asing."
"Justru karena dia bertemu dengan Sandra."
"Pikirkan perasaan Caramel, dia tidak berbuat macam-macam kamu tak perlu semarah ini padanya, toh Sandra juga mertuanya."
Dari kejauhan Rafka melihat kerumunan orang-orang di trotoar, awalnya ia pikir mereka tengah membersihkan air di selokan tapi semakin dekat tampaknya mereka sedang mengerumuni sesuatu. Rafka penasaran tapi mobilnya tak bisa melaju lebih kencang karena air yang memenuhi jalanan.
"Kamu dengerin Mama nggak?"
"Ma, aku sedang menyetir." Balas Rafka mencoba membuat mama nya mengerti bahwa ia sedang fokus pada jalanan.
"Tadi Caramel kesini untuk minta maaf sama Mama, dia benar-benar tulus melakukan itu semua, dia pergi sendiri kalau terjadi sesuatu di jalan kamu akan menyesal karena membiarkannya pergi sendiri padahal tadi banjirnya lumayan tinggi."
"Aku tutup dulu Ma." Rafka segera memutuskan sambungan dan menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Maaf, di depan ada apa ya pak?" Rafka menurunkan kaca jendela bertanya pada salah satu bapak yang berjalan dari arah berlawanan.
"Ada perempuan pingsan gara-gara kepeleset di trotoar, mungkin kepalanya duluan itu yang kebentur aspal, mana lagi hamil itu." Jelas bapak yang bajunya sedikit basah karena tidak menggunakan payung. "Orang-orang bilang dia baru keluar dari Kempinski."
Rafka kaget bukan main mendengar penjelasan bapak tersebut, ia segera meminggirkan mobilnya dan keluar untuk melihat perempuan tersebut. Tubuhnya gemetar membayangkan Caramel yang jatuh lalu pingsan. Rafka berlari tidak peduli jika sepatu dan celananya basah, yang terpenting adalah ia segera melihat keadaan perempuan itu.
Pikiran Rafka kalut, jika terjadi sesuatu pada Caramel maka ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri apalagi sang istri sedang mengandung anak mereka.
"Permisi pak." Rafka sedikit mendorong beberapa orang yang tengah berkerumun, ia bisa melihat darah yang bercampur dengan air. Tubuhnya memanas, tegang dan takut bercampur menjadi satu.
Rafka tertegun, matanya memanas dan berkaca-kaca tapi rasa lega seketika menyelimutinya kala bukan Caramel yang ia lihat. Ia berbalik berlari menuju mobilnya untuk segera pulang dan menemui Caramel.
__ADS_1
Jarak Kempinksi hanya sekitar 300 meter dari lokasi tersebut tapi itu terasa sangat lama bagi Rafka. Selain karena buru-buru, banjir juga menghalangi pergerakan mobilnya. Ia merasa bersalah karena telah mendiamkan Caramel dari kemarin. Seharusnya ia bermurah hati untuk memaafkan Caramel lebih cepat sehingga tidak ada perasaan bersalah seperti ini.
"Cara!" Rafka tak sadar berteriak ketika memasuki apartemen.
"Hm?" Caramel yang berdiri dekat meja makan terkejut mendengar teriakan Rafka. Ada apa? "Kok celana kamu bas—"
"Maafkan aku." Rafka menghambur menarik Caramel ke dalam pelukannya.
Untuk beberapa detik tubuh Caramel menegang tapi lama-kelamaan ia bisa menikmati hangatnya pelukan Rafka. Ia tak tahu apa yang terjadi sehingga Rafka tiba-tiba datang dengan wajah panik lalu minta maaf.
"Maaf karena aku terlalu marah sama kamu." Rafka melepas pelukannya menggenggam tangan Caramel dan menatapnya lekat, baru saja ia merasakan ketakutan yang begitu hebat. Rafka tak bisa membayangkan jika wanita itu adalah Caramel maka ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Aku ngerti kok, aku nggak akan ketemu sama Mama tiri kamu lagi." Caramel tersenyum lembut.
Rafka mengangguk, ia tak akan pernah bisa menerima Sandra di kehidupannya walaupun sudah bertahun-tahun berlalu sejak papanya ketahuan selingkuh dan pergi memilih Sandra. Mereka tak akan tahu bagaimana perjuangan mama Rafka untuk menghidupi keluarga hingga sekarang tanpa kekurangan.
Bagi Rafka seseorang yang telah selingkuh tak akan pernah bisa dimaafkan. Mereka mengkhianati cinta yang seharusnya tetap suci hingga akhir.
"Kenapa kamu nggak nunggu aku untuk pergi ke rumah Mama?" Tanya Rafka.
"Aku sengaja pergi sendiri, ayo buruan ganti baju, kamu kenapa hujan-hujanan?"
Rafka mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Caramel, ia melangkah masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan ganti baju.
Caramel melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena kedatangan Rafka. Ia baru memanaskan rendang buatan mertuanya bersama telur balado buatannya untuk makan malam. Caramel makin gencar belajar memasak karena sebentar lagi ia akan berhenti bekerja, itu artinya ia memiliki banyak waktu untuk belajar masak.
Caramel juga sudah memikirkan kegiatan apa yang akan ia lakukan setelah berhenti bekerja nanti. Ia ingin tetap bekerja dari rumah, sebuah pekerjaan yang memiliki jadwal fleksibel dan berhubungan dengan kesukaannya.
"Kok cepet?" Caramel heran melihat Rafka begitu cepat mengganti pakaian.
"Aku mencium bau rendang." Tanpa diminta Rafka segera duduk di meja makan, dari baunya ia bisa menebak bahwa itu adalah rendang buatan mamanya.
Caramel tertawa singkat memuji kemampuan indra penciuman Rafka. Ia segera duduk di samping Rafka setelah mengambil nasi untuk sang suami.
"Besok kita ke dokter." Tukas Rafka menerima sendok dan garpu dari Caramel.
"Ngapain?"
"Kita sudah lama tidak memeriksakan kandungan mu."
"Baru dua minggu lalu."
"Bukankah kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya?"
Caramel mengangguk, jika beruntung maka jenis kelamin janin di dalam perutnya akan bisa terlihat.
Mereka terdiam cukup lama menikmati makanan masing-masing. Suasana cukup canggung karena mereka baru saja berbaikan. Caramel paling ahli mencairkan suasana tapi ia harus menyelesaikan makannya lebih dulu.
"Ka." Panggil Caramel setelah mereka selesai membereskan meja usai makan.
"Hm?"
"Gimana kalau aku bikin brand piyama sendiri?" Akhirnya Caramel mengutarakan keinginan yang sudah ia pikirkan dua hari terakhir.
Rafka tampak berpikir, "kamu sudah memikirkannya dengan matang, bukan kah membuat suatu brand itu tidak mudah?"
"Aku tahu." Caramel mengangguk, "aku belum mikir terlalu jauh sih soal ini."
"Aku setuju, aku akan selalu dukung kamu." Rafka mengusap puncak kepala Caramel, "mari setelah ini kita lebih mengalah dan memikirkan perasaan satu sama lain."
"Iya." Caramel kembali mengangguk dan mengembangkan senyumnya. Walaupun bagi wanita mengalah pada ego adalah hal yang sulit tapi sebagai istri dan calon ibu ia harus lebih belajar mengalah serta memikirkan perasaan Rafka. Caramel tidak mau mereka bertengkar dan saling mendiamkan lagi. Caramel paling takut Rafka marah, ia lebih memilih menonton film horor sendirian tengah malam dibandingkan menerima kemarahan Rafka. Canda film horor.
__ADS_1