Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Empat


__ADS_3

Ctek!


Suara sakelar terdengar sedetik sebelum seluruh lampu walk in closet mati. Dua jar berisi origami di salah satu sudut ruangan tampak berpendar mencuri perhatian. Ungkapan bahwa ada sesuatu yang hanya bisa dilihat keindahannya saat gelap itu benar, seperti bintang yang hanya bisa dilihat saat malam hari, origami di dalam jar tersebut hanya bisa menyala di kegelapan.


Caramel melangkah mengambil dua jar tersebut, sekarang ia tahu mengapa hatinya selalu berkata untuk menyimpan hadiah origami yang awalnya ia pikir dari Rama tapi ternyata itu adalah buatan tangan Rafka, ajaibnya mereka kembali dipertemukan lalu menikah. Skenario Tuhan benar-benar tak terduga, meski tidak selalu indah seperti yang biasa tertulis di novel-novel romantis tapi Caramel merasa hidupnya kini amat berharga setelah bersama Rafka. Apalagi sekarang mereka dikaruniai 2 anak kembar yang menggemaskan.


"Mama, kenapa kamu matikan lampunya?" Sebuah cahaya masuk ke walk in closet melalui pintu yang terbuka.


Caramel berbalik masih memegang jar di tangannya, ia tersenyum melangkah menghampiri Rafka.


"Bagus ya, udah lama nggak lihat mereka."


"Bagus." Rafka mendekat menarik punggung Caramel untuk mengikis jarak di antara mereka. Ia melihat wajah cantik Caramel terkena cahaya dari origami di dalam jar.


"Ih mau ngapain kamu?" Caramel hendak mundur tapi Rafka menahannya. Meski cahaya di ruangan itu sangat minim tapi Caramel bisa merasakan arah pandang Rafka saat ini.


"Mumpung Pineapple tidur." Rafka mengecup bibir Caramel dengan lembut. Setelah kehadiran Narel dan Binar mereka jarang bisa menghabiskan waktu berdua. Itu adalah masa indah yang mereka lalui sebagai orangtua. Belajar lagi menjadi orangtua yang baik karena tak hanya satu bayi tapi dua sekaligus. Mereka sangat menikmati momen tersebut.


Caramel hendak membalas ciuman Rafka tapi mereka mendengar suara bel apartemen berdenting beberapa kali. Caramel merapatkan giginya tersenyum palsu, kalau sampai itu adalah tamu tidak penting maka ia akan melemparnya dengan air kobokan karena telah mengganggu adegan yang seharusnya romantis ini.


"Biar aku yang buka." Rafka segera keluar dari walk in closet mendahului Caramel karena ia tahu suara bel itu telah menghancurkan mood Caramel.


"Ck!" Caramel berdecak kesal meletakkan jar kembali ke tempatnya dan keluar dari walk in closet menuju kamar. Ia melihat Narel dan Binar masih terlelap di dalam box masing-masing. Sesuai saran dokter belajar dari Arnesh, Caramel tidak pernah menidurkan si kembar di tempat tidur yang sama dengan mereka. Meski itu bukan penyebab pasti kematian Arnesh tapi Caramel dan Rafka melakukan apapun yang terbaik untuk Narel dan Binar.


"Kayla datang." Rafka kembali ke kamar untuk memberitahu bahwa tamu mereka pagi ini adalah Kayla. Sejak keluar dari rumah sakit, mereka belum bertemu lagi dan saling bicara. Mungkin Kayla ingin memberi Caramel waktu untuk sendiri tanpa melihatnya. Kayla tahu bahwa kesalahannya kali ini sangat fatal sehingga ia tak berani mengusik Caramel untuk sementara waktu.


Caramel dengan wajah singa nya keluar dari kamar menemui Kayla yang ternyata datang dengan suaminya dan Mila. Kenapa Kayla datang bersama suaminya, apakah agar Caramel memaafkannya? Itu sama sekali tidak berpengaruh.


"Ngapain lu kesini?" Caramel melihat dua paper bag di atas meja, apakah Kayla menyogoknya dengan banyak barang? dasar licik.


Rafka juga menyusul duduk di samping Caramel.


"Car, gue minta maaf kalau lu masih marah sama gue." Kayla beranjak meraih tangan Caramel. "Sumpah gue nggak sengaja waktu itu, gue lupa kalau di kue itu ada kopinya, Rafka gue minta maaf sama lu juga ya."


Caramel menepis tangan Kayla dan menghempaskan pantat nya ke sofa. Suami Kayla terdiam tidak mau mencampuri permasalahan sang istri dengan Caramel. Tujuannya kesini adalah untuk menjenguk Narel dan Binar.

__ADS_1


Rafka juga tak bereaksi, ia sama sekali tidak marah pada Kayla karena ia tahu bahwa sahabat Caramel itu tidak sengaja melakukannya. Harusnya Rafka lebih hati-hati lagi sebelum makan sesuatu untuk pertama kalinya. Wajar jika orang-orang lupa karena alergi Rafka termasuk tidak biasa.


"Bisa-bisanya lu lupa padahal kue itu bikinan lu."


"Gue juga lupa kalau Rafka alergi kafein, gue janji setelah ini gue bakal lebih hati-hati."


Caramel memutar bola mata jengah, yang ada ia harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi hal serupa.


"Gue nggak bakal produksi kue ini kalau lu nggak maafin."


Caramel menyembunyikan keterkejutannya, ia berusaha memasang wajah sedatar mungkin seolah tak terpengaruh padahal sebenarnya ia khawatir jika sampai Kayla gagal memproduksi dessert box itu karena dirinya. Mengapa Kayla harus membatalkan produk barunya hanya karena Caramel tidak memaafkannya, itu membuat Caramel merasa bersalah.


"Walaupun semua orang bilang suka gue nggak bakal produksi kue ini."


Caramel mengangkat dagunya, "ya udah terserah lu." Suara Caramel gemetar. Jauh dalam dirinya Caramel sudah memaafkan Kayla tapi saat ini ia masih dikuasai rasa gengsi untuk memberi Kayla maaf.


"Mama, katanya kita mau lihat adik bayi." Mila mengguncang lengan Kayla, anak berusia 6 tahun itu memasang wajah cemberut karena sebelum pergi kesini mama nya memberitahu bahwa tujuan mereka kesini adalah untuk melihat dua bayi Caramel. Namun yang Mila lihat justru perdebatan antara mama nya dan Caramel.


"Mila mau lihat adik?" Rafka beranjak menghampiri Mila. Dari pada menyaksikan pertengkaran Kayla dan Caramel lebih baik Rafka membawa Mila ke kamar untuk melihat si kembar.


Mila mengangguk dengan ragu seraya melihat ke arah papa dan mama nya. Rupanya ia tahu bahwa mama nya sedang tidak akur dengan Caramel.


Rafka menuntun tangan Mila ke kamar dimana Narel dan Binar berada.


"Lu mau apa supaya bisa maafin gue?" Kayla berpindah duduk ke samping Caramel, ia memegang lengan Caramel berharap cara itu berhasil untuk meredam kemarahan Caramel.


Caramel terdiam, jujur saja ia tersentuh dengan kalimat Kayla. Biasanya mereka hanya akan beradu mulut dan tidak ada yang mau mengalah. Namun kali ini Kayla justru mau melakukan apapun agar mendapat maaf dari Caramel.


"Bikinin dessert box khusus buat gue dan Rafka."


"Gue bikinin." Sahut Kayla cepat membuat alis Caramel terangkat karena Kayla langsung menyetujuinya.


"Maksud gue lu bisa jual juga menu itu tapi namanya pake nama gue atau Rafka."


"Iya-iya, apa aja yang penting lu mau maafin gue." Kayla memeluk tubuh Caramel erat.

__ADS_1


Caramel menahan senyum melihat mata Kayla berkaca-kaca.


"Apasih lebay lu." Caramel hendak melepaskan pelukan Kayla tapi tidak bisa. "Aduh bisa sesak napas gue." Keluhnya.


Kayla tertawa mengurai pelukannya. Mereka telah menjalin persahabatan itu selama belasan tahun sehingga Caramel tak bisa terus-terusan marah pada Kayla. Lagi pula keadaan Rafka sekarang kembali pulih seperti dulu sehingga Caramel tak punya alasan untuk tidak memaafkan Kayla.


"Lu bawa apa?" Caramel penasaran ada apa di dalam paper bag sebesar itu.


"Itu baju buat Narel sama Binar, lucu-lucu, punya Anzel juga banyak yang masih baru nggak kepake jadi buat Narel aja." Kayla bersemangat mengangkat paper bag yang dibawanya menuju kamar Caramel. Anzel adalah anak keduanya yang tidak Kayla bawa kesini.


Caramel mengeluarkan semua isi paper bag tersebut, mulai dari pakaian, topi hingga sepatu. Namun bagian Narel lebih banyak karena itu adalah milik Anzel yang tidak sempat dipakai. Caramel tidak sabar memakaikan semua itu untuk Narel dan Binar. Membayangkan mereka belajar merangkak, berjalan lalu berlari membuat Caramel senyum-senyum sendiri.


"Rencananya kapan mau diproduksi dessert box lu?" Tanya Caramel.


"Belum tahu sih." Kayla melangkah mendekati tempat tidur si kembar. Begitupun dengan suami Kayla yang mengangkat tubuh Mila agar lebih jelas melihat Narel dan Binar.


Caramel senang karena bisnis Kayla semakin berkembang, ia harap banyak orang menyukai dessert box buatan Kayla seperti mereka suka salad buahnya. Kayla dan Jane dulu sama-sama kuliah di jurusan bisnis sedangkan Caramel memilih perbankan. Caramel menikmati angka-angka ratusan juta yang membuatnya pusing. Meski sekarang Caramel telah fokus pada bisnisnya sendiri tapi tetap saja ilmu yang didapatnya selama kuliah sangat berguna sekarang.


"Rafka." Kayla tiba-tiba memanggil Rafka yang sedang membuka barang bawaannya bersama Caramel.


"Ya?" Rafka menoleh pada Kayla begitupun dengan Caramel meski ia tidak dipanggil karena bagi Caramel, Rafka adalah separuh dari dirinya sehingga ia akan spontan ikut menoleh saat nama suaminya dipanggil. Katakan saja kalau Caramel lebay ia tak akan peduli. Caramel memang berubah jadi wanita lebay setelah menikah.


"Satu Januari 2022 kira-kira hujan nggak?" Kayla nyengir karena pertanyaan itu terdengar aneh tapi ia harus menanyakannya pada Rafka. Rasanya tak cukup bagi Kayla hanya melihat ramalan cuaca di internet, bukankah bertanya pada ahlinya lebih terpercaya.


"Hujan." Jawab Rafka singkat, ia akan selalu menjawab pertanyaan seperlunya, sifat robot yang sudah mendarah daging meski sekarang telah mengalami banyak perkembangan berkat didikan Caramel.


"Terus di tanggal berapa cuacanya nggak hujan?"


"Apaan sih lu nanya kayak gitu?" Caramel menimpali.


"Dih apa orang gue nanya sama Rafka loh." Kayla tetap melihat Rafka menunggu jawaban.


"Tanggal 2 diperkirakan pagi cerah sampai siang, sore hujan disertai angin." Jawab Rafka seolah-olah ia sedang menyiarkan prakiraan cuaca di televisi karena ia terbiasa melakukan itu akhir-akhir ini.


"Thanks ya, ada untungnya juga punya temen yang suaminya tukang ramal." Kayla nyengir.

__ADS_1


"Tukang ramal?" Rafka mengerutkan kening, ia tak bisa disebut tukang ramal, itu terdengar aneh.


Caramel penasaran apa yang sedang Kayla rencanakan sampai bertanya tentang cuaca pada Rafka. Seperti orang yang hendak melakukan pesta pernikahan.


__ADS_2