Tak Terduga

Tak Terduga
Sudah ku duga


__ADS_3

Aku tertawa tak percaya, "Kau urus saja tunanganmu, minggir! aku mau ke kamar mandi," kataku dingin mendorongnya agar tak menghalangi jalanku. Aku langsung pergi berjalan cepat dan masuk ke kamar mandi.


Aku kaget saat keluar dari kamar mandi karna Taejun tak juga pergi, dia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Apa lagi sekarang?" tanyaku betek.


"Apa kau marah padaku? karna aku punya tunangan?" tanya Taejun, jujur aku memang marah karna itu, tapi apa hakku marah padanya, padahal dulu aku jauh lebih mengecewakannya, dari pada apa yang dia lakukan padaku.


"Tidak," kataku berbohong,


"Jangan bohong, aku tau kau pasti marah karna hal itu, Jessica tapi aku tidak mencintai Jisoo.. aku terpaksa bertunangan dengannya karna paksa'an nenek.. ku mohon mengertilah.. seperti aku mencoba mengerti kamu pada waktu itu," pinta Taejun memohon, jadi Taejun bertunangan dengan Jisoo bukan karna ke inginannya sendiri, dan Taejun tidak mencintainya? apa aku harus memberinya kesempatan? dan mencoba mengerti dia seperti dia mencoba mengerti aku dulu? lagi pula aku juga masih sangat mencintainya..


"Tapi kenapa nenekmu memaksamu bertunangan dengannya? nenekmu kan sudah tau kamu sudah menikah denganku?" tanyaku ingin tau.


"Nenek mengetahui semua masalah yang terjadi di indonesia dulu, Nenek tak sengaja mendengar perbincangan antara mama dan papa saat nenek menginap di rumah, waktu itu nenek menjengukku karna aku sakit keras," jawab Taejun menjelaskan, jadi nenek Taejun juga sudah tau tentang itu.. dan Taejun sakit keras?? apa Taejun sampai sakit keras karna ulahku? ku rasa aku bisa mengerti mengapa nenek melakukan itu.. nenek pasti sangat kecewa padaku, dan nenek hanya ingin cucunya bahagia dengan memulai kehidupan baru bersama wanita lain. sakit rasanya memikirkan hal itu.


"Kurasa nenekmu sudah benar.. kau seharusnya memulai kehidupan baru tanpa bayang-bayang dariku, seharusnya aku menghilang saja dan tak pernah menampakkan diri lagi di hadapanmu.. maafkan aku Taejun.. karna sudah merusak hidupmu," kataku tulus walau jujur hatiku merasa sedikit kecewa,


"Tidak Jessica ku mohon.. jangan bilang begitu, apa mungkin.. kau sudah tidak mencintaiku? makannya kau bilang begitu, apakah aku benar?," kata Taejun ingin tau, expresinya tampak sangat sedih, membuatku merasa bersalah.


"Bukan seperti itu Taejun.. sungguh! aku masih sangat mencintaimu, tapi masalahnya kamu sudah punya tunangan.. aku.." kataku tapi Taejun langsung menghentikan omonganku dengan menaruh telunjuknya di atas bibirku.

__ADS_1


"Itu saja sudah cukup, terima kasih Jessica," kata Taejun bahagia, lalu Taejun langsung melumatt bibirku dengan semangat menggebu-gebu, aku langsung mendorongnya sedikit menjauh dariku, aku memang sangat merindukan ciuman ini tapi tetap saja yang kita lakukan ini salah, Taejun sudah bertunangan dan aku harus tau diri!!


"Taejun.. jangan seperti ini, ini salah!! kau sudah punya tunangan!!" keluhku menatapnya dengan perasaan terluka.


"Tapi aku sangat mencintaimu Jessica.. ku mohon.. aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya," rengek Taejun terlihat sedih, aku sungguh tak tega melihat expresi sedihnya.


"Tapi nenekmu ingin kau bersama dengan tunanganmu, jadi ku mohon jangan mempersulit keada'anku," pintaku dengan expresi sedih, karna sejujurnya aku juga tak ingin berpisah dengannya, tapi aku gak mau Taejun jadi cucu durhaka hanya karna wanita seperti aku.


"Aku akan membatalkan pertunanganku dengannya, jadi ku mohon Jessica kembalilah padaku.." pinta Taejun memohon.


"Apa?? apa kau sudah gila? bagaimana kalo nenekmu tambah marah padaku? kau harus membicarakan semuanya dulu pada keluargamu secara baik-baik.. jika memang tak ingin meneruskan pertunanganmu, jangan tiba-tiba malah ingin memutuskan se'enaknya begini..." jelasku merasa terkejut, jelas jika Taejun melakukan itu pasti aku yang akan di salahkan.


"Mengapa kamu sangat ingin aku meneruskan pertunanganku dengannya, apa jangan-jangan kamu masih terikat hubungan dengan Rio, dan masih tak bisa memutus hubunganmu dengannya???" tanya Taejun curiga.


"Kau pasti sangat merindukan bayimu," kata Taejun menatapku iba, mungkin aku memang terlihat seperti seorang ibu yang sangat menyedihkan.. bahkan Taejun merasa iba padaku,


"Kau tak perlu mengawatirkanku, aku bisa mengatasi perasaanku," kataku mencoba menyembunyikan rasa sedihku, "Aku akan pulang, sebaiknya kau pulang juga." lanjutku mulai berjalan, Taejun mengikutiku.


"Izinkan aku mengantarmu pulang," pinta Taejun.


"Tidak perlu Taejun aku akan pulang sendiri," tolakku.

__ADS_1


"Jadi kamu lebih memilih pulang dengan mereka?" tanya Taejun terlihat kesal.


"Tidak dengan pak Ji Hyun, kita akan memanggilkan supir pengganti untuknya untuk mengantarnya pulang, karna pak Ji Hyun mabuk sekali, tapi aku akan pulang dengan Sehun karna kami searah," jelasku kaku.


"Iya aku tau, rumah kontrakanmu satu gedung dengan rekan kerjamu, Jessica.. aku gak suka, kau pindah saja tinggal di rumahku," keluh Taejun,


"kau sudah gila? kau menyuruhku tinggal di rumahmu? apa kau mau nenekmu menjambak rambutku hingga botak?" tanyaku tak habis pikir.


"Kalo begitu pindah ke tempat lain saja, aku yang akan membayar semuanya," kata Taejun seenaknya, membuatku kesal padanya.


"Taejun.. kenapa kamu jadi posesif! aku gak ada hubungan apa-apa dengan sehun, kamu tidak perlu kawatir hingga memintaku pindah segala! kau tau.. kau sudah tidak punya hak untuk ikut campur dengan masalah pribadiku, kita sudah berpisah! dan bahkan sekarang kau sudah punya tunangan! sebaiknya kau urus hidupmu sendiri, meskipun sekarang aku masih mencintaimu aku yakin lambat laun perasaan ini akan memudar, dan dengan seiring berjalannya waktu aku yakin akan bisa melupakanmu, jadi sebaiknya kau lakukan itu juga!" kataku dengan expresi berapi-api, dia pikir aku butuh uangnya, menyebalkan!


"Jadi kau berniat melupakanku? takkan ku biarkan kau melupakanku, kau bahkan belum menandatangani surat perceraian! kita masih sah suami istri," kata Taejun kesal, aku belum menandatangani surat perceraian? apa maksudnya? apa jangan-jangan...


"Masih suami istri kau bilang? kalo begitu mari kita pergi ke salah satu cabang kantor imigrasi International Marriage Guidance Program, dan lihat apakah kita memang masih terdaftar sebagai suami istri," Tantangku pada Taejun, expresi Taejun tampak merasa bersalah, dugaanku pasti benar, karna aku yakin sekali nenek Taejun pasti sudah menyuruh Taejun untuk menggugat cerai aku, makannya neneknya berani membuat Taejun bertunangan dengan wanita lain, karna jika kita memang masih terdaftar sebagai suami istri gak mungkin nenek Taejun, membuat Taejun bertunangan dengan wanita lain.


"Maafkan aku Jessica, tapi sungguh bukan aku yang mengajukan gugatan perceraian ke kantor International Marriage Guidance Program, Tapi nenek," kata Taejun beralasan, aku mendengus kesal, sudah ku duga.


"Tapi aku sangat yakin, kamu pasti sudah menandatangani bagianmu," tuduhku menebak-nebak, memancingnya agar memberitahuku semuanya.


"Aku terpaksa melakukannya, nenek mengancamku dengan penyakitnya, dan dia tidak mau makan ataupun minum obat sebelum aku menandatangani surat cerainya," kata Taejun terlihat menyesal, jadi begitu rupanya, kalo dia memang sangat peduli dengan kesehatan neneknya seharusnya dia tidak memintaku untuk tetap bersamanya.. egois.

__ADS_1


"Jadi sekarang kau hanya menunggu aku menandatangani bagianku kan??" tanyaku dingin.



__ADS_2