Tak Terduga

Tak Terduga
Tes DNA


__ADS_3

"Dia istriku," sahut Taejun, aku mengangkat wajahku menatap Taejun tak percaya, wanita genit itu bahkan sampai menganga mendengar sahutan Taejun. Aku gak tau mengapa.. tapi aku merasa sangat bahagia karna Taejun mengakui aku sebagai istrinya di depan cewek genit itu. Dan aku baru sadar ternyata kita jadi pusat perhatian seisi Kafe, aku menunduk malu.


"Kamu bercandakan Taejun? aku gak percaya kamu sudah menikah," tanya cewek genit itu pada Taejun.


"Aku gak bohong, aku memang sudah menikah dan Dia adalah istriku," jawab Taejun. Cewek genit itu mendengus.


"Lalu kenapa kamu tidak pernah cerita?" tanya wanita genit itu pada Taejun masih tidak percaya.


"Karna kamu tidak pernah tanya," jawab Taejun acuh, "Jadi dia berhak marah padamu jika kamu deket-deket aku," tambah Taejun pongah, membuat aku tersenyum. Aku menatap Taejun tak mampu menyembunyikan rasa bahagiaku, Taejun juga menatapku, lalu kami sama-sama Tersenyum, cewek genit itu mendengus kesal lalu pergi meninggalkan kami.


"Taejun aku pulang dulu ya, udah malem," pamitku,


"Baiklah aku antar sampai depan," kata Taejun tersenyum, lalu Taejun mengantarku sampai depan Kafe.


"Udah masuk gih, nanti kamu di omelin bosmu," suruhku.


"Aku akan masuk setelah melihat kamu pulang," kata Taejun tersenyum manis.


"Baiklah, kalo gitu aku pulang ya," kataku melambai pada Taejun lalu masuk ke dalam mobil, aku mengemudikan mobilku pulang setelah melihat Taejun melambai padaku.


Sesampainya di rumah aku langsung tidur karna merasa capek banget. Seminggu sekali aku memeriksakan kandunganku secara rutin.. Dan di minggu ke tiga setelah chek up aku kaget bukan main saat melihat Rio di depan RS, aku sebenarnya ingin berbalik dan bersembunyi, tapi sialnya Rio sudah keburu melihatku lalu dia cepat-cepat menghampiriku. Kenapa Rio bisa ada disini?.


"Ikutlah denganku, kita harus bicara sebentar," kata Rio menarik lenganku.


"Tidak mau, kenapa aku harus bicara denganmu," keluhku menyentak cengkraman tangan Rio dari lenganku hingga terlepas.


"Sebentar saja, ada hal penting yang ingin ku tanyakan padamu," pinta Rio memohon.


"Rio.. kenapa kamu sangat terobsesi padaku? aku heran deh, sepertinya kamu sudah tau kalo aku ada disini, apa kamu memata-mataiku selama ini?" Tanyaku merasa kesal.

__ADS_1


"Ya, aku memang memata-mataimu selama ini, karna hanya itu yang bisa aku lakukan agar bisa tau keada'anmu, karna selama ini kau selalu saja menghindariku," jelas Rio berusaha berkilah.


"Itu namanya pelanggaran privasi, bisa-bisanya kau melakukan itu padaku," kataku merasa kesal. jadi Rio memata-mataiku selama ini? apa jangan-jangan Rio sudah tau kalo aku sedang hamil?.


"Itu bukanlah hal penting sekarang, ada hal yang lebih penting dari pada itu, yang ingin aku tanyakan padamu," kata Rio menatapku tajam.


"Gak ada yang ingin aku bicarakan denganmu, aku tidak mau lagi berurusan denganmu, jadi.. jangan ganggu aku!" bentakku, lalu berjalan melewati Rio. Rio langsung menyambar lenganku.


"Aku tau kau sedang hamil," kata Rio tiba-tiba, hatiku mencelos, gimana ini?.


"Dan aku ingin tau.. siapa ayah dari anak yang kamu kandung," kata Rio menuntut, aku menoleh padanya menatapnya tajam.


"Itu bukan urusanmu!" kataku marah berusaha melepas cengkraman tangannya dari lenganku. Tapi Rio mencengkramnya semakin erat.


"Tentu saja itu juga menjadi urusanku, jika mungkin anak dalam kandunganmu itu adalah anakku," kata Rio menekankan.


"Apa yang membuatmu berpikir bayi dalam kandunganku ini mungkin adalah anakmu? aku yakin anak dalam kandunganku ini adalah anak Taejun!" dengusku menatapnya kesal, dalam hati aku berharap semoga saja bayi dalam kandunganku ini benar-benar anak Taejun, bukan anak Rio.


"Hentikan! tutup mulutmu!" teriakku memejamkan mata, aku masih sangat kesal pada Rio jika mengingat kejadian itu, bahkan karenanya aku dan Taejun jadi ada jarak.


"Aku ingin janin dalam rahimmu di tes DNA," kata Rio, aku membuka mata, menatap Rio tajam.


"Aku tidak mau! kenapa aku harus melakukan itu?" kataku sengit.


"Agar semua jelas, dan tidak ada keraguan," kata Rio keras kepala, "Aku sudah bicara pada dokter kenalanku di rumah sakit ini, dan kandunganmu sudah cukup umur untuk di tes DNA, ayo lakukan sekarang mumpung aku ada disini," kata Rio menarik lenganku, kembali masuk ke dalam kedung rumah sakit.


"Aku tidak mau lepaskan!" jeritku mencoba melepas lenganku dari cengkraman tangannya.


"Rio ku bilang lepas!" teriakku, menyentakkan tanganku hingga terlepas dari cengkramannya, lalu berbalik berusaha kabur, tapi Rio berhasil menangkapku, melingkarkan lengannya di tubuhku.

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat keras kepala! hanya tes DNA tidak akan merugikanmu!" keluh Rio, aku berontak di pelukannya. Tentu saja aku akan di rugikan jika anak ini ternyata adalah anakmu, pikirku dalam hati.


"Lepas Rio!" bentakku begitu marah, berani sekali dia memelukku setelah apa yang telah dia lakukan padaku.


"Please.. Jessica, jika setelah di tes ternyata anak dalam rahimmu itu bukan anakku.. aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi," kata Rio berjanji. Tapi masalahnya jika anak dalam rahimku ini ternyata adalah anakmu.. aku takut kau tidak akan pernah melepaskanku.. aku sangat takut.


"Aku bisa membesarkan anak ini walau tanpa ayah," kataku dingin.


"Tapi anakmu butuh ayah.. kamu jangan egois," debat Rio, "Jika kamu tidak mau janin dalam rahimmu di tes DNA.. aku berjanji akan menganggumu terus seumur hidupku," lanjut Rio dengan expresi serius. Kejam! benar-benar kejam! membuatku dalam posisi tak ada pilihan.


"Baiklah! ayo tes saja! aku yakin anak dalam kandunganku ini bukanlah anakmu!" bentakku, tapi bagaimana kalo ternyata anak dalam kandunganku ini ternyata anak Rio? apa yang harus ku lakukan? baiklah akan ku pikirkan setelah tes-nya keluar.


Akupun menyetujui tes itu. Setelah Dokter selesai mengambil sampel amnion/air ketuban dari dalam rahimku, Dokter langsung membawa sempelnya kelaboratorium, Rio juga mengambil sempel darahnya untuk di cocokkan dengan amnion janinku. Setelah semuanya selesai aku langsung pulang dengan wajah betek bahkan tanpa menoleh pada Rio, hasil tesnya akan keluar 2 minggu lagi atau paling lambat 3 minggu kata Dokternya, aku harus bertemu dengan Taejun dan mengatakan semuanya pada Taejun bahwa aku sedang hamil, jangan sampai Taejun tau kabar ini dari orang lain.


Akupun membelokkan mobilku, tidak jadi pulang, di jam segini Taejun pasti ada di tempat kerjanya, aku melajukan mobilku ke kaffe tempat Taejun bekerja.


Sesampainya di kaffe aku langsung menghampiri Taejun yang sedang berdiri di depan konter.


"Jessa," kata Taejun tersenyum saat melihatku.


"Taejun bisa bicara sebentar? ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," pintaku.


Jessica



Taejun


__ADS_1


Rio



__ADS_2