
"Jessa jawab aku, apa benar yang di katakan pria gay itu, bahwa kau sudah tidur dengannya?" tanya Taejun dengan expresi sangat terluka, apa? jadi Rio sudah memberitahu semuanya pada Taejun? benar-benar keterlaluan!.
"Jangan panggil aku pria gay! aku sudah tidak gay, berkat Jessa selera menyimpangku sudah sembuh sekarang," bentak Rio pada Taejun tersenyum menantang, Taejun menatap Rio penuh kebencian.
"Tutup mulutmu Rio," bentakku marah, "Taejun akan ku jelaskan, itu tidak seperti yang kau pikirkan, Rio memberiku obat tidur... " belum sempat aku menyelesaikan penjelasanku Taejun langsung menyelanya,
"Jadi Rio benar-benar sudah menidurimu?" tanya Taejun tak percaya, expresinya terlihat terluka dan kecewa,
"Taejun.. maafkan aku... " kataku tak mampu menahan air mataku,
"Brengsek!" maki Taejun lalu langsung menonjok Rio hingga terjatuh, lalu menggebukinya,
"Taejun jangan!" seruku berusaha melerai mereka. menarik Taejun dari atas tubuh Rio,
"Jadi kau ingin membelanya?" kata Taejun menatapku marah.
"Aku hanya tak ingin kau sampai di tuntut karna sudah memukulinya!" jelasku menatapnya sedih,
"Aku tidak peduli jika dia ingin menuntutku, apa aku harus diam saja? saat tau istriku sudah di tiduri oleh laki-laki lain?" kata Taejun emosi, meski itu benar.. kata-katanya sungguh menyakiti hatiku,
"Jessica juga istriku, jangan lupa itu! jadi aku berhak untuk itu," sahut Rio, membuatku tak habis pikir, bisa-bisanya dia bicara seperti itu, mendengar Rio bicara seperti itu membuat amarah Taejun semakin membara.
"Rio cukup! diam kau!" bentakku emosi,
__ADS_1
"kenapa jessica? memangnya yang aku katakan salah? secara hukum kau adalah istri sahku!" kata Rio meraih tanganku, aku langsung menyentakkan tangannya,
"Aku sudah menggugat cerai kamu, kau akan segera mendapat surat gugatan cerainya," kataku dingin,
"Aku tidak mau bercerai denganmu.. akukan sudah bilang.. aku tidak masalah berbagi, aku tidak akan mengeluh.. tapi jangan tinggalkan aku... " pinta Rio memohon, Taejun langsung menghampiri Rio lalu mencengkram kerah baju Rio,
"Apa kau sudah gila? berbagi katamu?" kata Taejun penuh amarah memplototi Rio, "Jessica bukan barang!" bentak Taejun,
"Karna aku begitu mencintai Jessica, kau tau, aku sudah hampir gila karna memikirkan cara agar jessica tidak meninggalkanku," bentak Rio terlihat frustasi,
"Kenapa Jessa harus tetap bersamamu, dia hanya milikku!" geram Taejun, menarik kerah baju Rio dengan kasar, menariknya keluar dari rumah, aku iba melihat Rio di perlakukan seperti itu oleh Taejun, Rio bahkan tidak melawan. Taejun mendorong Rio jauh-jauh dari rumah, lalu menutup pintunya keras-keras di depan Rio. Rio menggedor pintunya memohon agar Taejun dan aku membuka pintunya, aku diam saja merasa sedih, Taejun juga diam berusaha menahan amarahnya. Selang beberapa lama kemudian gedoran itu terhenti, mungkin Rio sudah pergi.
"Apa apaan ini Jessica? kau bilang dia gay?" kata Taejun sangat marah,
"Bagaimana aku tidak marah jessa.. dia sudah menidurimu! istriku! taukah kau bagaimana perasaanku saat ini? rasanya aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, tapi sepertinya kau terlihat tidak masalah di tiduri olehnya," kata Taejun dengan emosi meluap luap, aku menatapnya tak percaya, tega sekali dia bicara seperti itu, padahal saat ini hatiku sedang hancur, tapi aku menahannya karna masih mau mengurus laporanku terhadap papa pada polisi, aku ingin semua masalahku ini cepat berakhir, karna akupun hampir gila memikirkannya, setelah masalahku dengan papa ini selesai, aku akan meminta Taejun menceraikanku, karna aku sudah merasa tidak pantas lagi menjadi istrinya, aku tidak mampu menjaga harga diriku sebagai istrinya.
"Bukannya aku merasa tidak masalah, tapi itu terlalu menyakitkan bagiku untuk ku pikirkan saat ini, karna sudah terlalu banyak beban di pikiranku," sahutku dingin tanpa expresi, "Polisi mengabariku, polisi bilang dia sudah menangkap papa di rumahnya, aku hanya ingin bilang padamu, tolong minta mama Yura, ayah dan juga kak Taerang untuk pindah dari rumah itu untuk sementara waktu, papa dan suruhannya sudah tau rumah itu, aku takut mereka dalam bahaya. Aku akan pergi sekarang, aku hanya ingin mengatakan itu," lanjutku tak mampu menyembunyikan perasaan terlukaku, Taejun mulai sadar bahwa kata-katanya sudah sangat melukai hatiku,
"Tunggu Jessa jangan pergi dalam keadaan seperti ini... " cegah Taejun memegang pergelangan tanganku, "Maafkan aku, karna sudah menyakiti hatimu, aku egois.. aku benar-benar menyesal," pinta Taejun memohon.
"Aku minta kau ceraikan aku, aku merasa.. aku sudah tidak pantas lagi jadi istrimu," kataku tanpa expresi, melepas lenganku dari tangan Taejun, lalu keluar dari rumah Taejun. Taejun langsung mengejarku lalu memelukku dari belakang,
"Tidak Jessa! tidak! jangan pernah mengatakan itu, aku tidak akan pernah menceraikanmu, aku tahu aku salah, jadi ku mohon maafkan aku..." pinta Taejun menangis, air mataku jatuh tanpa bisa ku tahan.
__ADS_1
"Aku harus pergi, tolong beri aku waktu untuk memikirkannya," pintaku menahan kesedihanku, aku melepas pelukannya lalu pergi tanpa menoleh lagi padanya.
Beberapa hari ini aku bolak balik ke polsek untuk memenuhi panggilan polisi karna menjadi pelapor sekaligus saksi dari kejahatan Norman/papa, awalnya kak Harry dan David kecewa padaku karna sudah membuat papa mereka di tangkap polisi, tapi setelah ku ceritakan semua kejahatan papa mereka selama ini, akhirnya mereka mau memafkanku dan menerima kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang penjahat.
Butuh beberapa minggu hingga akhirnya kasus kejahatan Norman di sidangkan, aku berjungan sekuat tenaga di persidangan agar Norman di hukum seberat-beratnya. Setelah beberapa kali menjalani persidangan akhirnya hakim memutuskan Norman di hukum seumur hidup. Hakim juga menyidangku tentang keterlibatanku terhadap kasus penyelundupan narkoba, tapi karna saat itu aku melakukannya di bawah ancaman akhirnya hakim menerima pengajuan bandingku dan juga permintaan penangguhan hukumanku. Aku sangat bersyukur tak mampu menahan air mataku saat di persidangan, Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, aku berterima kasih pada pengacaraku karna sudah membantuku dan bekerja sangat keras selama ini, pengacaraku memberi selamat padaku karna hakim menerima permintaan penangguhan hukumanku, Norman menatapku penuh kebencian saat polisi menggiringnya keluar dari persidangan, tapi aku berusaha mengabaikannya.
Saat aku keluar dari persidangan ternyata Taejun dan Rio sudah menungguku di luar persidangan, aku menghampiri mereka enggan.
"Selamat," kata Taejun dan Rio berbarengan, lalu mereka saling melengos satu sama lain.
"Sebenarnya kalian tidak perlu datang kesini," kataku enggan.
"Tapi aku sangat mengawatirkanmu Jessa," kata Taejun menatapku sedih, aku menatapnya, padahal aku sudah memintanya menceraikanku dan kembali ke korea.. tapi dia tetap saja keras kepala, dia malah tetap menetap di sini dan bekerja di sebuah kafe,
"Cepat ceraikan aku, atau aku yang akan menggugat cerai kamu," kataku pada Taejun, "Dan untuk kamu Rio, kita sudah resmi bercerai di pengadilan minggu lalu, jadi kita sudah tidak ada urusan apa apa lagi, jangan pernah menemui aku lagi," kataku dingin, lalu pergi meninggalkan mereka berdua, mereka mengejarku, terus mengoceh, aku mengabaikan mereka terus berjalan keluar dari gedung Mahkamah Agung, lalu masuk ke mobil dan meninggalkan mereka berdua.
Sesampainya di rumah yang baru aku beli beberapa bulan yang lalu, aku langsung memasak karna aku sangat lelah dan laper banget, setelah selesai masak aku makan dengan tenang, tiba-tiba perutku mual dan tidak nyaman, aku lari sambil membekap mulut ke arah wastafel, lalu memuntahkan semua makanan yang tadi aku makan, aku merosot lemas ke lantai, aneh akhir-akhir ini aku sering mual dan gak enak makan, apa karna terlalu banyak pikiran ya?. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, karna aku merasa tidak enak badan,
Setelah ganti baju aku langsung pergi ke rumah sakit untuk periksa, setelah selesai di periksa aku menunggu di ruang tunggu, menunggu hasil pemeriksaanku. Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksaku datang, akhirnya kenapa lama sekali.
"Bagaimana dok? gak ada yang seriuskan?" tanyaku ingin tahu.
"Selamat, ternyata anda sedang hamil, 2 bulan," kata Dokter itu tersenyum padaku, memberitahu.
__ADS_1
"Apa?" kataku kaget, benar-benar tak menyangkanya.