
"Memang harus ya kamu melakukan hal itu di depan mataku," kataku merasa sangat kesal, Rio menghentikan sejenak ciumannya,
"Jika kamu tak ingin melihatnya, kau boleh keluar dulu dari dalam mobil." sahut Rio lalu kembali mencium pemuda itu, Rio bahkan mulai membuka baju pemuda itu, aku menganga tak percaya dengan sahutan-nya yang sangat santai, dasar gila! aku menghembuskan nafas kesal membuka pintu mobil dan langsung keluar lalu menutup pintu mobilnya keras-keras, aku gak habis pikir bisa -bisanya aku terlibat dengan pria macam dia, dan pemuda itu dia terlihat masih muda dan juga tampan, dan ternyata dia juga gay?,
Aku berdiri cukup lama di luar mobil sambil mengabaikan mobil yang bergoyang-goyang karna ulah mereka berdua, dan aku merasa sangat frustasi, bisa-bisanya aku berdiri disini seperti orang bodoh, aku mengasihani hidupku sendiri yang begitu menyedihkan, apa mereka belum selesai juga? kakiku sangat pegal, rasanya aku ingin menangis.. tapi aku menahannya karna takut terlihat konyol,
Tak lama kemudian pintu mobil terbuka, pemuda itu keluar sambil memegangi pantatnya terlihat meringis, pemuda itu menoleh padaku sekilas lalu kembali berjalan ke arah motornya yang di parkir, aku sungguh prihatin melihatnya, dia terlihat kesakitan.. aku menggeleng gelengkan kepala berusaha tidak membayangkan apa yang sudah mereka lakukan tadi hingga membuat pantat pemuda itu sakit,
"Jessica ayo," kata Rio dari dalam mobil, aku menoleh ternyata dia sudah pindah ke jok pengemudi, dengan enggan aku masuk ke dalam mobil, aku meliriknya sekilas lalu buru-buru membuang muka, tak bisa di percaya.. bagaimana bisa orang sepertinya adalah seorang gay? walau sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku masih tak ingin mempercaya'i apa yang sudah ku lihat tadi,
"Apa kau baik baik saja? kau terlihat syok." kata Rio terkekeh sambil melajukan mobilnya, aku mendengus, dasar aneh! bagai mana bisa dia terlihat begitu santai setelah memperlihatkan apa yang di lakukan-nya tadi padaku, aku tak menanggapi pertanya'annya,
"Apa sekarang kau menyesal karna setuju menikah denganku?." tanya Rio melirikku,
"Dari awal menyetujui pernikahan ini aku sudah menyesal, jadi tak ada bedanya bagiku." jawabku tanpa menoleh padanya,
"Menarik," sahut Rio terdengar penasaran saat mendengar jawabanku, "Pasti akan menyenangkan berbagi kehidupan pribadi denganmu setelah menikah nanti." lanjut Rio menoleh padaku, Rio pasti heran karna aku setuju menikah dengannya walau aku sudah tau seleranya menyimpang, pasti dia bertanya-tanya apa alasan di baliknya sehingga aku setuju menikah dengannya,
"Aku ingin mengatakan rahasiaku padamu yang mungkin belum kamu tau," kataku tanpa menoleh padanya,
"Katakanlah," kata Rio terdengar ingin tau,
"Aku sudah menikah, dan sejujurnya kami belum bercerai bahkan kami masih saling mencintai." ungkapku pada Rio, Rio menghela nafas, mungkin dia juga merasa syok karna akan menikahi wanita yang sudah menikah, aku berharap dia keberatan dan membatalkan pernikahan ini,
"Lalu kenapa kau setuju menikah denganku? pasti ada alasannya di balik itu," tanya Rio terdengar ingin tau,
"Aku tak ingin mengatakan alasannya padamu, itu masalah pribadi," jawabku kaku,
"Baiklah, jika kau tak ingin mengatakannya." sahut Rio,
"Apa kau akan membatalkan pernikahannya,?" tanyaku berharap,
__ADS_1
"Kenapa harus membatalkannya, kita sama sama punya rahasia, jadi gak masalah buatku," kata Rio santai, aku mendengus kesal, rasanya memang tidak ada jalan lain pada akhirnya aku dan Rio akan melakukan pernikahan palsu ini,
Sesampainya di depan rumah, Aku langsung masuk ke dalam tanpa menawarkan Rio untuk mampir ke rumah, Karna aku sangat kesal,
"Hi kak, kakak dari mana?," tanya David saat kami berpapasan,
"Fitting baju pengantin." jawabku enggan,
"Oh," sahut David terlihat tidak suka,
"Kakak beneran setuju dengan pernikahan yang mendadak ini? kakak melakukan pernikahan ini bukan karna terpaksa kan?," tanya David sedih,
"Aku tidak terpaksa kok, jadi kamu tidak perlu kawatir ya," jawabku berusaha tersenyum agar David tak perlu kawatir,
"Kemarin kakak menangis seperti tidak menginginkan pernikahan ini.. Apa kakak langsung berubah pikiran setelah bertemu dengan calon suami kakak, apa calon suami kakak sehebat itu hingga membuat kakak berubah pikiran secepat ini," kata David ingin tau,
"Yeah.. kurasa dia memang cowok terhebat yang pernah ku temui," sahutku enggan, hebat apanya.. yang benar saja, tapi kenapa David ngotot gitu,
"Jika memang seperti itu, Aku harap kakak bahagia," kata David cemberut lalu dia pergi begitu saja, Aku bingung melihatnya, Ah terserahlah! kepalaku sudah mau pecah memikirkan masalahku, dengan enggan aku pergi ke kamar, aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri,
Keesokan harinya setelah sarapan bersama, Rio datang berkunjung ke rumah, aku menghampirinya di ruang tamu, kenapa juga dia harus berkunjung, menyebalkan!,
"Ada apa?," tanyaku enggan,
"Tentu saja untuk melihat calon istriku, apa lagi," ejek Rio tersenyum padaku, aku memutar bola mataku, Rio terkekeh,
"Temani aku menghadiri sebuah acara," pinta Rio, aku mendengus, sudah kuduga, Menyebalkan! apa aku harus memenuhi semua permintaannya?,
"Kamu akan jadi bagian dari keluargaku, jadi ayah memintaku untuk memperkenalkanmu pada rekanku dan rekan bisnis ayah," lanjut Rio karna aku gak menanggapinya, aku menghembuskan nafas menyerah,
"Baiklah, aku ganti baju dulu," sahutku betek, Rio terkekeh melihat reaksiku, lalu mengangguk,
__ADS_1
Aku langsung ke atas untuk ganti baju sambil menggerutu tidak jelas, sebenarnya Rio sangat baik padaku, hanya saja aku tidak suka karna akan menikah dengannya, dan entah mengapa saat melihat wajahnya bawaannya kesel mulu,
Setelah aku selesai siap siap, kamipun berangkat ke acara itu, entah acara seperti apa, aku tak suka bertemu dengan orang orang yg tidak ku kenal,
Sesampainya di pesta itu, Rio membawaku kesana kemari memperkenalkan aku pada rekannya dan rekan bisnis ayahnya, aku bahkan bertemu dengan ayah dan juga mama Rio untuk pertama kalinya, dan ke dua orang tua Rio sangat baik padaku, selebihnya hanya mengobrolkan bisnis, membosankan,
Aku menghembuskan nafas lega saat Rio berpamitan untuk pulang pada yang lainnya,
"Kamu terlihat tidak nyaman sepanjang acara, kamu pasti tidak suka menghadiri acara acara seperti itu, maaf karna sudah menyusahkanmu," kata Rio saat kami berada di tempat parkir, Rio terlihat tulus,
"Apa setelah menikah aku harus selalu menghadiri acara acara seperti ini,?" tanyaku betek, Rio mengerucutkan bibirnya berpikir,
"Mungkin.. Tapi jika acaranya tidak terlalu penting akan ku usahakan tidak melibatkanmu," kata Rio tersenyum,
"Ok, itu bagus," sahutku sambil membuka pintu mobil, kami berdua masuk ke dalam mobil,
"Kamu keberatan tidak kalo aku ingin mampir ke suatu tempat dulu, sebelum mengantarmu pulang," pinta Rio melirikku, aku mendengus kesal,
"Jangan bilang kau akan membuatku berdiri di luar mobil seperti kemaren?, taukah kau, aku merasa tampak seperti orang bodoh kemarin," kataku merasa sangat kesal,
"Sungguh, kali ini aku tidak akan membuatmu berdiri di luar mobil seperti kemarin.. Ayolah, mau ya," pinta Rio memohon,
"Aku tidak mau, antarkan dulu aku pulang setelah itu lakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak peduli," tolakku judes,
"Masalahnya papa melarangku berkumpul atau bertemu dengan teman priaku jika tidak di temani olehmu, sebelum gosipku itu benar-benar menghilang, ayolah.. Jessica please," pinta Rio memohon, menatapku dengan wajah memelas, aku memutar bola mataku,
"Baiklah, terserah!." kataku kesal.
Jessica
__ADS_1
Rio dewanto