Tak Terduga

Tak Terduga
mulai mencintainya


__ADS_3

"Tolong pakaikan celana dalamku," pintaku tak ada pilihan, Taejun mengangguk terlihat gugup, aku menyingkap selimut itu, hanya handuk itu yang menutupi pinggang hingga pahaku, Taejun terlihat salah tingkah, menelan ludah, dengan hati hati Taejun memasukkan celana dalamku pada kedua kakiku lalu menarik celana dalamnya ke atas,


"Alihkan pandanganmu," kataku saat celana dalam itu sampai di paha, Taejun buru buru memiringkan kepalanya, lalu dengan hati hati Taejun menarik celana dalamku ke atas memasang kannya dengan hati hati agar pinggangku tidak kesakitan tanpa melihat ke arahku.. tapi walau Taejun sudah sangat hati hati pinggangku masih sangat kesakitan, handuk yang menutupi pahaku ikut naik ke atas, setelah Taejun selesai memakaikannya dengan benar, aku buru buru menutupi tubuhku dengan selimut, sebelum kepala Taejun berbalik ke arahku.


"Terima kasih," kataku.


"Kenapa harus berterima kasih, sudah tugasku sebagai suamimu untuk membantumu," kata Taejun menatapku, tatapannya begitu mendalam, aku tak mengerti dengan arti tatapannya itu.


"Apa yang kau pandangi," kataku merasa tidak nyaman, Taejun terlihat tersiksa, kedua tangannya mengepal seperti menahan sebuah hasrat yang bergejolak dalam dirinya, tiba tiba aku merasa prihatin, kenapa dia? apa aku salah ngomong, apa aku menyinggung perasaannya?.


"Aku akan bertanya apakah dokternya sudah datang," kata Taejun, lalu buru buru keluar dari kamar, ada apa dengannya, kenapa sikapnya tiba tiba aneh, aku bahkan belum memakai baju tidurku, sudahlah tidak apa apa lagi pula dokternya perempuan, biar dokternya langsung memeriksa pinggangku yg sakit apakah memar atau lebih parah, aku menutupi bagian atas tubuhku dengan handuk, lalu memasang selimut menutupi seluruh tubuh (kecuali kepala) sambil menunggu dokternya datang.


Setelah dokter datang, dokter langsung memeriksaku lalu memberiku obat pereda rasa sakit, lalu menyuruhku mengompres bagian pinggangku yang memar, setelah dokter pergi aku meminta Taejun untuk membantuku mengenakan baju tidurku, setelah makan sedikit aku langsung meminum obatnya, karna nyerinya sudah agak berkurang dan aku sudah lumayan bisa menggerak kan tubuhku, aku tidur dalam posisi miring dengan pinggang yang nyeri, ku posisikan di bagian atas, lalu Taejun membantu mengompres pinggangku yang nyeri dengan es batu, Taejun selalu ada untukku baru dua hari bersamanya aku sudah merasa nyaman, dia bisa menjadi apapun untukku, bisa menjadi temanku, saudaraku, pelindungku, dan suamiku, aku merasa mulai bisa menerima keberada'annya di sisiku dan di hidupku.


"Taejun terima kasih," kataku mengantuk, obat pereda rasa sakitnya rupanya sudah bereaksi.


"Tidak masalah tidurlah," suruh Taejun, aku mengangguk memejamkan mata.


Ke'esokan paginya saat aku bangun membuka mata. aku kaget, Taejun tidur sambil memelukku dari belakang, kepalaku berbaring di atas lengan kirinya sedangkan lengan kanannya memelukku sambil menggenggam tangan kananku, Taejun juga terbangun.. aku hendak menggeser tubuhku agar sedikit menjauh darinya tapi Taejun malah memelukku lebih erat tak mengizinkanku menggeser sedikitpun darinya, apa apa'an ini? ada apa dengannya?.

__ADS_1


"Eh.. Taejun," kataku ragu ragu.


"Apa pinggangmu masih sakit?" tanya Taejun menyentuh pinggangku, aku kaget tubuhku membeku, tak hanya memelukku, Taejun juga mulai berani menyentuh pinggangku?.


"Aku baik baik saja, pinggangku sudah tidak sakit lagi," kataku berusaha duduk berusaha mengelak dari pelukannya, dia membantuku duduk, akukan sudah bilang tidak sakit lagi, kenapa dia membantuku duduk emangnya aku nenek panti jompo, aku harus bertanya apa alasannya memelukku? jangan bilang dia akan memberi alasan yang sama seperti kemaren bahwa aku merangsek sendiri kepelukannya.


"Kenapa kau memelukku?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja karna kamu sakit, apa lagi," jawab Taejun dan jawabannya membuatku tak mampu mendebatnya, dia memang paling pintar membuat alasan.


"Kenapa? lagi pula aku suamimukan, apa aku tidak boleh melakukan itu? apa aku harus perlu alasan untuk memelukmu? " tanya Taejun sok sedih, dan entah bagaimana perkataannya itu selalu mampu membuatku merasa bersalah, aku juga tak suka melihat Taejun sedih.


"Maaf Taejun.. jangan tersinggung dengan perkata'anku ya," kataku meminta maaf, ragu ragu Taejun membalas pelukanku, dia mempererat pelukannya di pinggangku.


"Baiklah," kata Taejun mengangguk, aku menunduk lalu merengkuh wajahnya dengan kedua tanganku


"Jadi kamu jangan sedih lagi ok, kau benar, kau suamiku jadi kamu tidak perlu alasan untuk memelukku," kataku tersenyum, dan Taejun juga tersenyum bahagia matanya berbinar binar lalu dia memelukku lagi, ada apa dengan hatiku, hatiku mudah sekali goyah.


"Apa kau akan memelukku terus sepagian ini? apa kita tidak punya rencana pagi ini?" tanyaku, Taejun melepas pelukannya lalu dia tertawa bahagia.

__ADS_1


"Tentu saja ada, kita akan makan makan, jalan jalan lalu kita akan belanja oleh oleh untuk semua orang di rumah, karna besok kita sudah harus pulang," jelas Taejun bersemangat.


"Kalo begitu tunggu apa lagi, ayo kita siap siap," kataku ikut bersemangat.


"Apa aku perlu menemanimu mandi? untuk menjagamu agar tidak jatuh lagi?" katanya mengejekku.


"Boleh saja, jika kau mau aku hajar," kataku pura pura mengancamnya, Taejun tertawa.


"Boleh juga, ayo kita bergulat di atas kasur," kata Taejun dengan mimik nakal.


"Taejun... " keluhku memukuli dadanya dengan kedua tanganku, Taejun memegangi kedua tanganku, membuatku berhenti memukulinya, kami saling menatap satu sama lain.


"Aku bercanda, tapi sungguh.. lebih berhati hatilah saat mandi.. agar kamu tidak jatuh lagi ok," suruhnya terlihat kawatir.


"Baiklah aku akan berhati hati," kataku tersenyum.


Setelah mandi aku menyisir rambutku yang basah di depan kaca, lalu tak sengaja ku lihat dari pantulan kaca bahwa Taejun sedang menatapku memperhatikanku, saat dia tau aku sadar dia tengah memperhatikanku Taejun langsung menghampiriku, dan memeluk pinggangku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahuku.. tubuhku menegang aku bernafas dengan hati hati.. aku bisa merasakan dengan sangat jelas tubuh Taejun yang bersentuhan dengan tubuhku.. rasanya seperti aliran listrik yang membuat jantungku berdetak tak karuan, ada apa ini? apa ada yang salah dengan detak jantungku? dan saat pipinya bersentuhan dengan pipiku sontak pipiku jadi memerah, apa jangan jangan aku mulai menyukai Taejun? ku rasa aku tak lagi melihatnya sebagai saudara tapi sekarang aku melihatnya sebagai pria, ya kurasa aku sungguh menyukainya dan bahkan mungkin aku mulai mencintainya, bagai mana ini? bagai mana kalo Taejun tau kalo aku mencintainya? gak enggak enggak! dia tidak boleh tau, itu akan sangat memalukan, aku mencintai Taejun sedangkan Taejun tidak, tapi akhir akhir ini sikap Taejun sangat manis padaku.. dia sering memelukku dan sangat peduli dan perhatian padaku, dan dia mengajukan diri untuk menikahiku.. mungkinkah dia juga mencintaiku? sebagai seorang wanita? tapi dia tidak pernah bilang bahwa dia mencintaiku.. bahkan saat memutuskan untuk menikahiku, sungguh kejam! jadi tidak mungkin dia mencintaiku karna jika dia memang mencintaiku dia pasti sudah mengatakannya padaku, jadi aku tidak boleh ke GRan dan berpikiran yang tidak tidak, aku melepas pelukan Taejun, bukan karna aku tidak suka di peluk olehnya.. aku sangat suka malah, tapi aku takut dia menyadari bahwa aku mencintainya, karna tingkah laku dan expresiku sangat mudah di tebak.


"Eh Taejun sebaiknya kau cepat cepat bersiap, bukankah kita akan jalan jalan... " kataku buru buru sedikit menjauh.

__ADS_1


__ADS_2