Tak Terduga

Tak Terduga
perjodohan


__ADS_3

"Jadi kakak gak mau jadi pacarku?" seru Reza terlihat kecewa,


"Maaf Reza, aku gak bisa.. gimana kalo jadi adikku saja? aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi David," tawarku, Reza memutar bola matanya,


"Kenapa Reza jadi adikmu.. hanya aku adikmu satu-satunya," protes David, aku tersenyum gemas lalu memeluk David penuh sayang, David membeku, aku melepas pelukannya, wajah David terlihat memerah terlihat malu malu saat menatapku,


"Kalian semua adikku.. jadi jangan bertengkar ok! aku tidak suka melihat kalian bertengkar," kataku gak bisa di tawar-tawar lagi, lalu aku melirik David, David mengangguk setuju, aku tersenyum senang, David dan Iqbal juga tersenyum, sedangkan Reza cemberut, tapi terlihat pasrah dan tak mendebatnya, kami berempatpun pulang, Reza dan Iqbal mampir sebentar ke rumah David, lalu mereka berdua pulang, aku main ke kamar David mengobrol dengannya sambil membantunya belajar, saat melihat David belajar membuatku ingat, kuliahku yang saat ini terbengkalai gara-gara si brengsek menyeretku kesini, menyebalkan!.


"Kenapa tadi kakak menolak jadi pacar Reza, apa benar hanya karna faktor umur? atau karna kakak udah punya pacar?" tanya Reza ingin tau,


"Sebenarnya kakak udah punya pasangan di Korea, sebelum balik lagi ke indonesia sebenarnya aku udah lama tinggal di korea," jelasku, aku jadi rindu Taejun.. Taejun aku sangat merindukanmu,


"Oh begitu," kata David terlihat kecewa, "Kelihatannya kakak sangat mencintai pacar kakak yang ada di korea itu, terlihat sangat jelas bagai mana cara kakak membicarakannya," duga David aku hanya tersenyum,


"Kenapa aku gak kepikiran dari awal ya, tentu saja kakak udah punya pacar, cantik gitu.. masak iya gak punya pacar," kata David mendengus,


"Yaiyalah, kakak kamukan cantik," candaku tertawa, David ikut tertawa, kami sama-sama menoleh ke pintu, saat mendengar ketukan, aku langsung membuka pintunya, ternyata seorang pelayan,


"Ada apa?" tanyaku,


"Tuan besar, menyuruh nyonya muda dan tuan muda, untuk makan malam bersama," jawab pelayan itu menunduk,


"Oh, baiklah kami akan segera kesana," kataku, pelayan itu mengangguk lalu pergi, aku dan David langsung pergi ke ruang makan, di meja makan sudah menunggu si brengsek dan juga kak Harry, sesosok wanita muda berpenampilan modis yang duduk di samping kak Harry menarik perhatianku, aku dan David langsung duduk,

__ADS_1


"Siapa wanita itu?" bisikku pada David,


"Tunangannya kak Harry," jawab David balas berbisik, oh.. jadi wanita itu tunangannya kak Harry, setelah selesai makan malam, si brengsek memperkenalkan aku pada tunangannya kak Harry, calon kakak iparku itu terlihat agak sombong dari cara bicaranya, dan sudah di pastikan kami tidak akan bisa akrab,


"Jessica, kau dapat lamaran pernikahan dari anak teman bisnis ayah," kata si brengsek memberitahu, membuatku menganga menatapnya tak percaya, David juga terlihat terkejut, sedangkan kak Harry dan tunangannya tak tampak terkejut, apa maksudnya si brengsek itu memberitahukan hal ini padaku, diakan sudah tau kalo aku udah punya suami di Korea, jangan bilang dia akan memaksaku menerima lamaran itu? gila!.


"Aku tidak mau," tolakku mentah mentah, menatapnya penuh ke bencian, tak lagi menjaga sikap di depan saudara-saudaraku.


"Kita akan membicarakan ini lain kali, kamu tidak punya hak untuk menolak, aku yang akan memutuskannya, apa aku perlu menelfon ibu angkatmu di korea, agar kamu menurut padaku?" ancamnya secara halus, kurang ajar! benar-benar keterlaluan?! aku bangun dari kursi tak mampu menahan air mata kemarahanku, lalu aku langsung pergi lari ke kamar, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu aku menangis sejadi jadinya,


Bagai mana ini? apakah aku kabur saja? tapi bagai mana kalo si brengsek itu malah nyakitin keluarga kecilku di korea gara-gara aku kabur? oh.. rasanya aku mau mati saja! dia benar-benar gak punya moral sama sekali, bagaimana bisa dia akan menikahkan lagi anak perempuannya yang jelas-jelas sudah menikah, dia pasti sudah kehilangan akal sehat, ketokan di pintu membuat sedu sedanku tertahan,


"Siapa?" tanyaku dengan suara serak, karna menangis,


"Masuklah," suruhku, menyingkir dari depan pintu, lalu berjalan ke arah kasur dan duduk di atasnya, David duduk di sampingku,


"Jika kakak perlu bantuan katakan saja padaku, aku akan membantu, mungkin kakak ingin kabur," kata David menawarkan bantuan, David sangat baik, aku beruntung punya adik seperti dia, kabur.. sebenarnya memang itu yang ingin ku lakukan, tapi masalahnya jika aku kabur si brengsek itu pasti akan menyakiti keluarga kecilku di korea, air mataku terus mengalir tanpa bisa ku tahan, dan aku juga gak ingin melibatkan adikku David dalam masalahku,


"Aku tidak apa apa David, sungguh.. aku hanya kaget saja, karna ini terlalu mendadak," kataku berusaha tersenyum, "Terima kasih karna sudah mengawatirkan aku," lirihku menggenggam kedua tangannya,


"Tapi jika kakak tidak kabur, sudah pasti papa akan menikahkan kakak," kata David kawatir,


"Percuma saja kabur, itu hanya akan merepotkan banyak orang, entahlah, aku tak sanggup memikirkannya," kataku putus asa, air mataku mengalir deras tak mampu lagi ku tahan, David menepuk nepuk bahuku mencoba menenangkanku, aku menatapnya putus asa, aku tak dapat melihat wajah David dengan jelas karna air mata yang menggenangi mataku, David memelukku mengusap usap punggungku menenangkanku,

__ADS_1


"Aku akan bicara pada papa, membujuknya agar tidak menikahkan kakak," kata David, aku melepaskan pelukannya, menatap David kawatir,


"Tidak David, jangan lakukan itu, kau hanya akan mendapat masalah karna aku, aku tidak apa apa, aku hanya shok saja tadi, aku akan coba bicara sendiri pada papa," kataku beralasan, agar David tak perlu terlibat dalam masalahku, David hanya diam saja tak menjawab,


"Please... " pintaku memohon, David mengangguk, lalu menatap mataku begitu dalam,


"Andai saja kakak bukan saudari kandungku, mungkin aku sudah membawa kakak kabur dan menikahi kakak," kata David lirih, membuatku menganga. Apa mungkin? tidak tidak, tidak mungkin, tidak mungkin David memiliki hasrat seperti itu padaku, mungkin dia bilang gitu karna terlalu putus asa dan kawatir padaku, pipi David langsung bersemu merah saat aku menatapnya bingung,


"Itu tidak seperti yang kakak pikirkan," kata David buru-buru mencoba menjelaskan, "Eh aku pergi dulu, kakak istirahatlah," lanjut David terlihat salah tingkah, aku mengangguk masih tak mampu berkata kata, David buru-buru keluar dari kamarku, lalu menutup pintunya pelan, aku memikirkan perkata'an David tadi yang membuatku bingung.. aku buru-buru menggeleng gelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, aku berbaring di atas kasur memejamkan mata, berusaha tidak memikirkan apapun yang hanya akan membuatku bergadang semalaman karna tidak bisa tidur.


**************


Ke'esokan paginya aku bangun membuka mata, air mata yang mengalir di pipi belum sepenuhnya kering, dengan enggan aku beranjak dari kasur lalu masuk ke kamar mandi, entah apa yang bisa aku lakukan agar terbebas dari rencana pernikahan ini, setelah dari kamar mandi aku kembali merenung, memikirkan hidupku yang seolah jungkir balik, bagai mana ini? ketokan di pintu membuyarkan lamunanku,


"Siapa?" tanyaku parau,


"Tuan besar menyuruh anda ke bawah untuk sarapan," sahut seorang pelayan dari luar kamar,


"Baiklah," kataku enggan, satu satunya cara agar aku cepat terbebas dari masalah ini adalah mencari banyak bukti atas ke jahatan si brengsek itu, agar si brengsek itu cepat-cepat membusuk di penjara, tapi jika hanya bukti yang kemarin tidak akan cukup.. dia pasti bisa mengelak dari hukuman, ah terserahlah! dengan wajah kesal aku keluar dari kamar lalu pergi ke ruang makan, David tersenyum padaku aku berusaha membalas senyumnya, lalu aku langsung duduk di sampingnya,


"Jessica ku lihat kamu tidak senang dengan perjodohan ini, mungkin karna kamu belum tau calonnya, kau tau.. calonmu itu keren, dia anak seorang pejabat dan tampan juga, dan umurnya tidak jauh beda dari mu sekitar 27 atau 28nan, dan yang lebih kerennya lagi dia udah punya usaha sendiri, beberapa Kafe dan juga Club, namanya Rio Dewanto, ku pastikan kau tidak akan menyesal menikahinya," kata kak Harry memberitahuku, aku hanya menanggapi dengan senyuman, setelahnya kita makan dalam diam,


"Jessica, ikut denganku ke ruang kerja, aku ingin membahas perjodohanmu dengan Rio," kata si brengsek itu setelah selesai makan.

__ADS_1


__ADS_2