Tak Terduga

Tak Terduga
memanas manasi


__ADS_3

"Rio aku akan keluar, aku ada janji dengan Taejun," kataku pada Rio, setelah kembali ke kamar.


"Aku akan mengantarmu," kata Rio tak ku sangka sangka.


"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri," tolakku.


"Pokoknya aku akan mengantarmu, sekalian aku ingin tau suamimu," kata Rio keras kepala.


"Memang mau ngapain kamu ketemu suamiku... " tanyaku tak setuju.


"Hanya ingin tau saja.. memangnya kenapa? aku gak boleh ketemu suamimu?" kata Rio ngambek.


"Baiklah, baiklah, terserah kau saja," kataku betek.


Setelah selesai siap saiap aku dan Riopun pergi ke rumah Taejun, Taejun tampak sedikit kaget dan tak suka saat tau aku membawa Rio ke rumahnya untuk bertemu dengannya, aku memperkenalkan mereka satu sama lain dan mereka tampak tidak suka satu sama lain, mereka sama sama terlihat betek.


"Jadi apakah dia akan terus berada di sini? bukankah dia hanya ingin mengantarmu saja lalu pulang," kata Taejun padaku menyinggung Rio.


"Aku masih mau disini, belum mau pulang, apa tidak boleh?" kata Rio kesal.


"Baiklah.. tak masalah jika itu yang kau inginkan, tapi jangan sampai menyesal," kata Taejun mendengus.


"Mau buat cake bareng?" tanya Taejun tersenyum padaku. aku tersenyum mengangguk.


Kami berdua membuat cake bareng sedangkan Rio hanya memperhatikan kami, sesekali Rio melontarkan pertanyaan padaku, tau tau saat aku sedang menjawab pertanyaan Rio sambil menata cakenya yang sudah matang di piring, Taejun malah memeluk pinggangku dari belakang sambil mencium pipiku di depan Rio, aku berdehem.


"Taejun... " keluhku merasa tidak nyaman karna ada Rio disini.

__ADS_1


"Kenapa..? jangan bilang kau tidak ingin bermesraan denganku karna ada dia," protes Taejun melirik Rio sekilas, Rio terlihat sangat kesal.


"Bukannya seperti itu... " kataku mencoba menjelaskan, tapi Taejun langsung mengintrupsi penjelasanku.


"Kalo begitu tidak perlu merasa malu ataupun merasa tidak enak padanya.. lagi pula diakan sudah tau kita sepasang suami istri yang saling mencintai, aku yakin dia akan memaklumi, " jelas Taejun sambil melirik ke arah Rio, aku sungguh tak mengerti jalan pikiran Taejun.


Taejun membalik tubuhku menghadapnya mendesak tubuhku hingga merapat ke konter dapur, lalu dia merengkuh wajahku dan mencium bibirku melum4tnya penuh gairah, melakukannya di depan Rio, membuatku tidak nyaman. Aku berusaha mendorong dada Taejun tapi Taejun malah semakin mempererat rangkulannya dan semakin memperdalam ciumannya.


"Memangnya harus ya kalian melakukan itu di depan mataku?" keluh Rio terdengar sangat jengkel. Taejun menghentikan ciumannya lalu melirik Rio betek.


"Jika kamu tak suka melihatnya, kau boleh pulang," sindir Taejun mendengus, aku buru buru melepas rangkulan Taejun.


"Kuenya sudah siap, ayo kita cicipi kuenya," kataku cepat cepat untuk menghentikan perdebatan mereka, lalu membawa semua kuenya ke meja makan, Taejun memutar bola mata akhirnya menyerah. Ada apa dengan mereka berdua? apa Taejun cemburu pada Rio? walau sudah tau Rio itu adalah seorang gay? jika Taejun sampai tau bahwa Rio sudah sembuh dari selera menyimpangnya, Taejun pasti takkan mengizinkan aku bertemu dengan Rio, apa lagi tinggal satu rumah dengannya. Tapi rencanaku akan berantakan jika sampai pindah dari rumah Rio sebelum aku memenjarakan si brengsek itu. Maafkan aku Taejun.. tunggulah sebentar lagi.


Kami bertiga mencicipi kuenya sambil mengobrol, tapi aku sungguh merasa sangat betek karna Taejun dan Rio selalu bersitegang, dan Taejun sebisa mungkin selalu memanas manasi Rio dengan bersikap manis dan romantis padaku, dengan menyuapiku, mencium pipiku, merangkulku. Karna mungkin merasa tidak tahan akhirnya Rio pamit ingin pulang lebih dulu, aku mengiyakan, Taejun menyeringai padaku setelah Rio pulang, dia merasa sangat senang karna berhasil mengusir Rio, aku memutar bola mata, sungguh kekanakan.


"Kau berlebihan," keluhku pada Taejun.


"Ya ya, kau memang tidak suka semua orang," sindirku, Taejun memutar bola matanya.


Taejun mengajakku kencan hari ini, dia membawaku ke tempat-tempat romantis, membelikanku ini itu, lalu Taejun juga mengajakku makan siang di lestoran yang mahal. Setelah lelah berjalan jalan sorenya kita balik ke rumah Taejun.


Sesampainya di rumah Taejun, Taejun langsung bersikap agresif padaku, dia mengambil tas selempangku yang ku kaitkan ke bahu lalu melemparnya ke meja, dan langsung menyerangku, memcium bibirku dengan gairah meluap luap, hingga membuatku mundur terhuyung huyung lalu jatuh terduduk di sofa, Taejun terus menciumku sambil mendesak tubuhku hingga terbaring di sofa, Taejun lantas melucuti semua pakaianku, lalu dia juga melucuti semua pakaiannya, dia membungkuk kembali menciumi bibir dan leherku menindih tubuhku pelan, kami berdua sama-sama tenggelam dalam nikmatnya surga dunia, deritan sofa seolah ikut mengiringi setiap eranganku, setelah cukup lelah kami berhenti, lalu Taejun mengajakku mandi bareng untuk membersihkan tubuh kita yang penuh dengan keringat, bukannya mandi dengan benar Taejun malah ingin melakukannya lagi saat di dalam kamar mandi.


Setelah hari cukup malam, aku pamit pada Taejun untuk pulang, Taejun memaksa mau mengantarku pulang, dia tetap memaksa meski sudah ku tolak habis habisan, alhasil Taejun ikut naik taksi yang ku tumpangi untuk pulang.


Sesampainya di depan gerbang rumah, aku buru-buru turun dari taxi setelah mengecup bibir Taejun sekilas, Taejunpun pulang dengan taxi itu setelah melihatku masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kau sudah pulang rupanya, aku menunggumu dari tadi," kata Rio saat melihatku masuk ke dalam rumah, dia terlihat murung.


"Apa kau menungguku untuk makan malam? aku sudah makan malam tadi," kataku memberitahu.


"Sudah ku duga, tak masalah, kalo begitu maukah kau temani aku minum?" pinta Rio.


"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak minum (Minuman beralkohol)," tolakku menjelaskan, Rio tampak kecewa.


"Baiklah tak masalah, kalo begitu temani saja aku minum," pinta Rio.


"Maaf Rio ini sudah sangat malam dan aku ingin istirahat, aku sangat lelah, tidak apa apakan?" tolakku sangat lelah.


"Memang apa sih yang kamu lakukan? hingga membuatmu sangat lelah," kata Rio terlihat jengkel.


"Sebenarnya itu sama sekali bukan urusanmu," sahutku kesal, lalu langsung pergi meninggalkan Rio, masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya. Rio menggedor gedor pintu kamarku.


"Buka pintunya jessica! aku belum selesai bicara!" teriak Rio, memang apa lagi yang harus di bicarakan? benar-benar gak habis pikir, aku mengabaikan teriakan dan gedoran di pintu itu, aku mengecek alat pengintaiku, tapi aku tak menemukan bukti baru, hanya saja besok si brengsek itu akan pergi ke luar kota selama dua hari, mungkin ini kesempatanku untuk memasukkan orang pembuka berangkas profesiaonal ke dalam rumah itu secara diam diam, berhubung aku sudah memunitor semua pintu masuk dan keluar rumah itu, aku sudah memasang kamera tersembunyi di setiap sudutnya, jadi kurasa tidak akan ketahuan jika aku menyiapkan rencananya dengan benar. Baiklah akan ku buat rencana dan langsung melakukannya besok, aku sudah tidak punya banyak waktu.


Setelah membuat rencana dan hampir bergadang semalaman, aku menyempatkan tidur beberapa jam.


Keesokan harinya aku terbangun karna ketokan di pintu kamar.


"Jessica sudah pagi, bangunlah buka pintunya," seru Rio sambil mengetok pintunya, aku bangun lalu berjalan tersaruk saruk lalu membuka pintunya.


"Ada apa?" tanyaku betek.


"Ayo kita sarapan, sarapannya sudah siap," kata Rio tersenyum, ada apa dengannya? kenapa emosinya berubah ubah dengan cepat, padahal tadi malam dia terlihat bad mood tapi sekarang malah senyum-senyum seolah-olah semalam tidak ada yang terjadi, dasar aneh.

__ADS_1


"Baiklah, aku mandi dulu sebentar," kataku, Rio mengangguk.


"Aku akan menunggumu di meja makan," kata Rio masih tersenyum,


__ADS_2