
"Sampai jumpa besok saat ujian," kata Bogum melambai setelah selesai belajar bersama di rumah Taejun, Bogum dan Hyuna pun pulang.
Ke'esokan paginya Taejun mulai membangunkan ku lagi, tak seperti sebelumnya setelah insiden itu terjadi Taejun jarang masuk ke kamarku karna takut membuatku merasa tidak nyaman, setelah sarapan kami berdua berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah aku bingung dan bertanya tanya dalam hati karna tumben Bogum tidak menungguku di depan sekolah seperti biasa? apa karna ujian dan dia takut terlambat? aku buru buru masuk ke dalam kelas, tapi aku tidak melihat Bogum di dalam kelas, apa dia datang terlambat hari ini? gak biasanya Bogum datang terlambat, aku duduk di bangku kita sambil menunggunya datang, tapi sampai guru datang Bogum tak juga datang, apa dia absen sekolah hari ini? tapi hari ini kan ujian.. memangnya ada hal mendesak apa sehingga Bogum tidak masuk sekolah? apa dia ada masalah? pak guru memberiku kertas ujian sehingga membuyarkan lamunan ku, ok.. aku harus fokus mengerjakan ujian dulu, setelah itu aku akan minta bantuan Taejun untuk mencari informasi tentang masalah Bogum.
Setelah ujian di jam pertama selesai, di jam istirahat aku meminta Taejun untuk menelfon Bogum, tapi hp Bogum tidak aktif, jadi Taejun bertanya dengan teman dekat Bogum yang bertetangga dengannya.
"Tadi malam mama Bogum ke rumahku untuk mencari Bogum, karna jam kerjanya sudah lama lewat tapi dia tak kunjung pulang, dan dia juga tak memberi kabar, tidak biasanya dia seperti itu.. hpnya juga tidak aktif, dan sampai pagi tadi Bogum belum juga pulang, keluarganya sudah melapor ke polisi untuk mencarinya," kata teman Bogum memberitahu, ada masalah apa? apa Bogum dalam masalah sekarang?.
"Beri aku nomermu, aku ingin kau mengabariku jika Bogum sudah pulang," pinta taejun pada teman Bogum, teman Bogum langsung memberikan nomer hpnya pada Taejun,
"Terima kasih," kata Taejun.
"Tidak masalah," kata teman Bogum,
__ADS_1
"Bagaimana ini Taejun? bagaimana kalo Bogum berada dalam masalah?" tanyaku kawatir,
"Tenanglah Jessica, aku akan tanya mama, mungkin dia tau Bogum kemana setelah pulang dari kafe," kata Taejun menenangkanku, lalu dia menelfon tante Yura,
"Taejun benar Jessica.. tenanglah, tidak akan terjadi apa apa pada Bogum, mungkin dia menginap di rumah temannya atau semacamnya," kata Hyuna akhirnya ikut bicara yg sedari tadi diam.. Hyuna berusaha menenangkanku aku mengangguk, Taejun selesai menelfon dan Taejun bilang tante Yura melihatnya pulang ke arah rumahnya seperti biasa, itu aneh, lalu kenapa dia tidak pulang? apa mungkin dia tidak jadi pulang dan menginap di rumah temannya seperti kata Hyuna? ya.. mungkin seperti itu, Taejun dan Hyuna mengajakku makan siang di kantin bersama teman teman mereka, rasanya seperti ada yang kurang jika tak ada Bogum, dan lagi pula aku tak terlalu mengenal baik teman teman Taejun dan Hyuna, jadi aku merasa agak canggung, aku tak mengikuti obrolan mereka, dan aku juga tak terlalu menyimak obrolan mereka, aku bicara bila hanya di tanya, saat bel berbunyi kita masuk ke dalam kelas untuk ujian selanjutnya, dan saat pulang sekolah aku masih kepikiran Bogum yang masih belum terdengar kabarnya, apakah dia tidak berfikir untuk setidaknya mengabariku? kenapa dia tega sekali membuatku kawatir seperti ini...
*******
Sepulang sekolah aku Taejun dan Hyuna belajar bersama seperti kemarin, saat tiba tiba hp Taejun berbunyi, Taejun lansung mengangkat hpnya, Taejun mendengarkan lalu expresinya terlihat terkejut.
"Ada apa Taejun?" tanyaku panik,
"Bogum sudah di temukan," jawab Taejun ragu ragu,
"Syukurlah," kataku merasa lega, tapi expresi Taejun membuatku bertanya tanya, karna expresinya terlihat sedih.
__ADS_1
"Dia.. Bogum.. dia di temukan tewas," kata Taejun terbata bata, kata kata Taejun bagaikan sambaran petir di telingaku, aku tak bisa mempercayai ataupun mencerna kata katanya, seluruh badanku gemetar, jantungku berdetak kencang, dadaku rasanya sesak, aku tak ingin mempercayai kata kata Taejun, aku tak mau mempercayainya, ini pasti hanya lelucon kan?.
"Kau bercandakan?" tanyaku, air mata menggenangi mataku, Taejun menggeleng dia menatapku sedih dan iba.
"Tidak! katakan kau cuma bercanda! katakan kau cuma bercanda Taejun!" teriakku menarik narik baju Taejun, air mataku tumpah tak mampu ku bendung lagi.
"Aku juga tak ingin mempercayai ini Jessica, tapi itulah yang mereka katakan, sebaiknya kita langsung ke rumah sakit saja untuk memastikan," kata Taejun, aku mengangguk cepat, aku berharap ini hanya kesalah fahaman, aku berharap Bogum masih hidup, aku dan Taejun pun langsung pergi ke rumah sakit, sepanjang perjalanan ke rumah sakit dadaku terasa sesak hingga membuatku sulit bernafas saking ketakutannya,
Akhirnya kita sampai di rumah sakit yang kita tuju, kami langsung menuju ruangan yang di tunjuk suster, ruang jenazah, aku berhenti di depan pintu ruangan itu.. ragu ragu ku buka pintu ruangan, di dalam ruangan ku lihat 2 orang paruh baya menangis sejadi jadinya, di tengah ruangan di atas tempat tidur besi terbaring sesosok jenazah yg seluruh tubuhnya di tutupi kain putih, aku berjalan ragu ragu ke arah jenazah itu, menelan ludah dengan susah payah, lalu membuka perlahan kain putih yang menutupi jenazah itu, wajah itu menyentakku hingga membuatku terhuyung ke belakang, mataku melebar kaget, tidak! ini tidak mungkin! , Bogum pasti masih hidup, aku meletakkan jariku di bawah hidung Bogum berharap bisa merasakan hembusan nafasnya.. tapi aku tak meraskan nafasnya, air mataku mulai mengalir deras tanpa bisa ku tahan, masih tidak yakin aku menempelkan telingaku di dada Bogum berharap mendengar detak jantungnya.. tapi yang ku lakukan itu sia sia, aku tak merasakan apa apa, aku sama sekali tak merasakan detak jantungnya, seketika harapan yang telah ku bangun hancur berkeping keping seperti halnya hatiku yang sudah hancur, kakiku rasanya lemas dan gemetar, ruangan ini seperti berputar lalu semuanya gelap, dan aku tak sadarkan diri.
******
Saat aku terbangun aku berada di ruangan yang asing, kepalaku rasanya sakit sekali, ini.. seperti rumah sakit dan ada selang infus di tanganku, aku merasa mual dan pusing, tante Yura tidur terduduk di kursi di sampingku, kepalanya di baringkan di sisi lenganku, ku lihat ke cendela ternyata sekarang siang, lalu kejadian kemarin membanjiri ingatanku, air mataku mengalir deras tanpa bisa ku hentikan, menangis tersedu sedu hingga membuat tante Yura terbangun, tante menggenggam tanganku menatapku sedih.
"Oh sayang ini pasti berat untuk mu, tidak apa apa sayang menangislah, kau tak perlu menahannya, itu akan membuatmu lebih baik," kata tante Yura ikut menangis, aku bangun lalu memeluk tante, menangis sejadi jadinya.
__ADS_1