
"Jessica," panggil Rio mengetok pintu kamar, aku buru buru mematikan laptopku, kenapa Rio udah pulang? aku beranjak dan membuka pintunya. Rio tersenyum.
"Rio, kenapa jam segini udah pulang, bukankah kamu bilang kamu ada janji?" tanyaku ingin tau.
"Udah tadi pertemuannya," jawab Rio.
"Lalu club dan caffe caffe mu? memangnya kamu gak kerja," tanyaku lagi.
"Aku ini kan pemiliknya, aku ini bos, jadi aku bisa menghendelnya dari rumah atau dari manapun, tidak perlu ke club atau ke caffenya langsung, paling aku seminggu sekali jika ingin mengecek dan mengontrol," jelas Rio panjang lebar. aku mengangguk anggukkan kepala mengerti, iya juga sih.
"Ayo ikut denganku jalan keluar," ajak Rio terlihat bersemangat,
"Kemana,?" tanyaku enggan.
"Jalan jalan, sekalian ingin memblanjakanmu baju baju dan yang lainnya, karna kamu sudah menikah denganku kau mungkin akan banyak menghadiri acara penting denganku," jelas Rio tersenyum.
"Kenapa? apa selama ini baju yang ku pakai tidak sesuai dengan seleramu?" tanyaku merasa tersinggung. Rio terkekeh.
"Bukan seperti itu.. aku hanya ingin membelanjakanmu," jawab Rio.
"Kamu kan sudah memberiku kartu ATM, aku bisa belanja sendiri, jangan terlalu memanjakanku," kataku.
"Ayolah.. aku juga ingin ikut memilihkanmu pakaian, aku juga sekalian ingin jalan jalan denganmu," bujuk Rio merayuku, aku memutar bola mataku.
"Baiklah," kataku akhirnya mau, Rio tersenyum senang, ada apa dengannya? kenapa sikapnya semakin baik saja padaku. dari awal dia memang baik sih.. tapi tetap saja aku takut harus ada timbal baliknya.
********
__ADS_1
Kami jalan seharian kesana kemari, makan makan dan sambil jalan jalan, Rio membelikanku banyak sekali barang barang mewah, kurasa dia ingin menghabiskan seluruh uangnya hanya untuk membelanjakanku, benar benar gak habis pikir, uangnya pasti sangat banyak. dan anehnya dia terlihat sangat bahagia hampir seharian ini. apa mungkin dia lagi dapat lotre?
tapi terlepas dari semua ke anehannya itu, menurutku Rio orang yang sangat baik, sekarang bagiku Rio tak hanya sebatas orang yang ku kenal saja, tapi aku sudah menganggapnya sebagai teman baikku, dan kurasa dia juga merasa seperti itu.
Setalah lelah belanja kesana kemari, Rio mengajakku makan di sebuah lestoran mewah, setelah hari mulai gelap kami berdua pulang ke rumah, aku langsung masuk ke kamar untuk istirahat karna sangat lelah, setelah selesai membersihkan diri aku langsung tidur.
Keesokan harinya Rio dan aku pergi mengunjungi orang tua Rio, kedua orang tua Rio sangat baik padaku terutama mamanya, mama Rio sangat suka memasak dia memasakkan banyak sekali makanan untuk kami berdua saat tau kami akan berkunjung, dan saat ini mama Rio sedang membuatkan kue untuk kami, aku ikut membantu membuat kuenya sedangkan Rio dan ayahnya mengobrol di ruang tamu.
"Kau sangat baik dan cantik, aku sangat senang kau setuju menikah dengan anakku Rio, dan aku berharap selera Rio yang menyimpang akan berubah setelah menikah denganmu," puji mama Rio padaku, dia terlihat banyak berharap padaku, aku merasa sangat tidak enak padanya karna suatu hari mungkin aku akan mematahkan harapannya. aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Aku mohon.. bantulah Rio menjadi pria yang normal," pinta mama Rio menggenggam kedua tanganku, memangnya selera yang menyimpang dapat di sembuhkan?. aku mengangguk asal karna tak ingin menyakiti perasaannya.
Setelah selesai membuat kue kami memakan kuenya bareng bareng sambil melempar canda, menurutku mereka devinisi keluarga yang bahagia, kedua orang tua Rio menyayanginya dengan tulus terlepas seperti apapun Rio, Rio benar benar beruntung mempunyai orang tua seperti mereka.
Mereka meminta kami untuk menginap malam ini, sebenarnya aku enggan, tapi aku merasa tak enak nolaknya, jadinya kami menyetujuinya.
"Tak bisakah aku tidur di kamar yang lain saja," kataku cemberut.
"Hanya untuk malam ini saja, tak bisakah kau melakukannya, karna kalo mama sampai tau kita tidur di kamar yang terpisah.. dia pasti akan sedih," pinta Rio memohon, "Tenang saja, kau kan sudah tau rahasiaku, aku tidak akan menyentuhmu," lanjut Rio berusaha meyakinkanku. aku percaya sih sama Rio bahwa dia takkan menyentuhku, tapi.. aku merasa risih saja.
"Aku tidur di sofa ini saja ya," kataku hendak beranjak ke sofa, Rio langsung turun dari kasur dan menyambar lenganku membuatku kaget.
"Itu sofanya kecil, tubuhmu akan tertekuk jika tidur di sana, sudahlah biar aku saja yang tidur di sofa," kata Rio betek, aku merasa tidak enak hati, ini kan rumah orang tua Rio.. dan aku malah membuatnya akan tidur di sofa.
"Rio kau tak perlu tidur di sofa, baiklah. aku gak papa aku akan tidur di kasur itu bersama mu," kataku buru buru, lalu aku beranjak naik ke atas kasur, tidur menyamping memunggunginya. bisa ku rasakan Rio juga naik ke atas kasur, aku berusaha rilex dan memejamkan mata agar cepat tidur. tak lama kemudian aku terlelap tidur tanpa ku sadari.
Keesokan paginya aku terbangun karna bunyi shower dari kamar mandi, aku membuka mata, masih mengantuk, aku menggeliat sambil menguap, menyingkap selimut dari atas tubuhku, pasti Rio yang menyelimutiku, lalu pintu kamar mandi terbuka, lantas aku menoleh, aku buru buru berpaling saat melihat Rio hanya memaki handuk yang dia lilitkan ke pinggangnya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun, mandilah. kita akan sarapan bersama," kata Rio padaku.
"Baiklah," kataku beranjak ke kamar mandi, di kamar mandi sudah tergantung baju ganti untukku, pasti Rio yang menyiapkannya, Rio pasti sudah menduga bahwa orang tuanya akan menyuruh kami menginap. aku tersenyum heran, bagaimana bisa dia sedetil itu.
Setelah mandi aku dan Rio turun untuk sarapan bersama orang tuanya, Setelah sarapan kami berdua pamit pulang, mama Rio membawakan kami berbagai makanan dan juga kue, mereka sangat baik padaku, aku beruntung mengenal Rio dan keluarganya.
Setelah dari rumah orang tuanya, kami tidak langsung pulang, karna Rio ingin mampir dulu ke club dan juga caffe caffenya untuk mengecek bisnisnya, aku ikut turun dari mobil mengikutinya kesana kemari karna Rio memintanya.
"Aku ke kamar mandi dulu," bisikkuku pada Rio. saat Rio mengecek buku penjualan.
"Kamar mandinya di sebelah sana," kata Rio memberitahu, aku buru buru pergi ke arah yang di tunjuk Rio.
*******
"Eh kalian lihat gak tadi istri pak Rio? sumpah cantik banget," bisik seseorang, aku mendengarnya dari dalam toilet.
"Iya cantik banget, selama ini ku kira pak Rio gay, karna aku tak pernah melihatnya kencan dengan seorang wanita, dan saat wanita mengajaknya kencan pak Rio selalu menolak dengan alasan sudah punya pacar," sahut seseorang lagi, mereka pasti membicarakan aku sama Rio.
"Pantas saja pak Rio tak pernah goyah saat banyak yang merayu, bagaimana bisa goyah kalo pasangannya cantik begitu, mereka pasti sudah pacaran sangat lama," sahut yang lainnya lagi.
"Apaan sih, cantikan juga aku," dengus seseorang lagi,
"Apa? cantikan kamu? mabok kamu ya," ejek salah satu dari mereka. aku membuka pintu toilet lalu keluar, mereka semua kaget saat melihatku keluar dari salah satu pintu toilet, mereka langsung menunduk, aku berjalan melewati mereka lalu keluar dari kamar mandi,
Aku menghampiri Rio yang sedang bicara dengan salah satu pegawainya, Rio melirikku aku menatapnya betek, Rio terkekeh melihat expresiku.
"Aku akan pulang, kamu urus semuanya," kata Rio pada pegawainya, "Ayo," ajak Rio tersenyum padaku, aku mengikutinya ke luar.
__ADS_1