
"Oh sayang ini pasti berat untukmu, tidak apa apa sayang menangislah, kau tak perlu menahannya, itu akan membuatmu lebih baik," kata tante Yura ikut menangis, aku bangun lalu memeluk tante, menangis sejadi jadinya, pintu kamar terbuka, ternyata Taejun,
"Bogum... " tanya tante ragu ragu pada Taejun, mendengar namanya di sebut membuat hatiku serasa teriris.
"Hasil otopsi Bogum menyatakan bahwa insiden ini bukan hanya sekedar kecelaka'an motor yang jatuh ke jurang, tapi ini pembunuhan, ada bekas tusukan di perut Bogum," kata Taejun memberitahu, tante terkejut membekap mulutnya sendiri, mendengar berita itu, aku merosot kembali terbaring karna lemas, rasanya aku tak mampu menampung semua kabar buruk itu lagi di kepalaku, jadi ini pembunuhan? memang apa salahnya sehingga Bogum harus di bunuh?.
"Ya tuhan.. padahal masa depannya masih sangat panjang, apa pembunuhnya sudah di temukan?" tanya tante pada Taejun.
"Belum, tapi mayat Bogum sudah di pulangkan tadi pagi, dan mayatnya akan di kremasi sore ini," jawab Taejun, aku tersentak mendengar kata mayatnya, lagi lagi air mataku mengalir tanpa bisa ku cegah, bagai mana sekarang hidupku tanpa Bogum? rasanya aku tak sanggup membayangkannya.
"Aku harus ke tempat duka sore ini, ke peristirahatan terakhir Bogum, kau jagalah Jessica di sini," kata tante pada Taejun, aku menggeleng.
"Aku mau ikut tante.. aku mau ikut ke peristirahatan terakhir Bogum," pintaku menangis.
"Tapi Jessica, kau sedang tidak sehat," kata tante.
"Aku tidak peduli, pokoknya aku mau ikut," kataku masih terus menangis, tante menatapku tak tega.
"Baiklah sayang.. kau boleh ikut," kata tante akhirnya.
"Aku akan mengantar kalian ke sana," kata Taejun,
**********
Sorenya setelah kami berganti pakaian serba hitam, kami berangkat ke tempat duka, sepanjang perjalan ke tempat duka aku tak henti henti menangis hingga mataku bengkak.
__ADS_1
Kami bertiga sampai di tempat duka, di sana hampir semua orang memakai baju hitam, kami masuk ke dalam ruangan yang di kedua sisi pintu kiri da kanannya terdapat hiasan bunga berkabung, di dalam ruangan, foto Bogum yang sedang tersenyum berbingkai figora besar di pajang di meja dengan di hiasi bunga bunga di seluruh meja juga lilin lilin, melihat fotonya seolah olah Bogum sedang menatapku, hatiku benar benar hancur saat menyadari aku hanya bisa menatap fotonya saja mulai sekarang, tante melangkah maju aku dan Taejun mengikutinya, tante mengambil setangkai bunga berwarna putih lalu meletakkan bunga itu di depan foto Bogum, aku dan Taejun melakukan hal yang sama, air mataku kembali mengalir meski sudah berusaha ku tahan.
"Park Heso aku turut berduka cita," kata tante pada wanita yang duduk di samping meja denga beberapa orang, wanita itu pasti ibu Bogum dan keluarganya, wanita itu mengangkat wajahnya yang sayu lalu mengangguk pada tante.
"Terima kasih," katanya, tante menggengam tangan wanita itu, lalu beranjak bangun, keluar dari ruangan itu, kami duduk sebentar bersama tamu tamu lainnya sebelum pulang.
Sesampainya di rumah, tante langsung membawaku ke kamar, Taejun mengikuti.
"Taejun jagalah Jessica dulu, aku akan ke kafe sebentar untuk menutupnya, aku akan segera kembali," kata tante pada Taejun, setelah membaringkanku ke tempat tidur.
"Baiklah ma jangan kawatir," kata Taejun ,lalu tante Yura pergi setelah mengecup keningku.
"Jessica aku akan ganti baju dulu sebentar," kata Taejun hendak beranjak, aku langsung menarik lengannya.
"Tidak Taejun, jangan tinggalkan aku sendiri, jangan tinggalkan aku," pintuku dengan suara serak, aku tak ingin sendiri.
"Makan dulu buburmu, lalu boleh tidur lagi, kamu belum makan sama sekali," suruh Taejun, aku mengangguk, Taejun menyuapiku, setelah makan aku kembali tidur, aku merasa perasaan dan juga tubuhku terasa sangat lelah, aku hampir terlelap saat aku merasakan seseorang mengecup keningku, aku merasa enggan membuka kelopak mataku yang terasa berat saking ngantuknya, untuk melihat siapa yang mengecup kening ku.. mungkin tante Yura, atau mungkin aku hanya berhalusinasi.
Ke'esokan paginya aku bangun, tubuhku masih terasa agak lemas, tapi aku sudah tidak pusing lagi, aku mandi bersiap siap lalu keluar untuk sarapan,
"Jessica mengapa kau memakai seragam? kau belum boleh sekolah kau masih lemas," protes tante.
"Aku tidak apa apa tante, aku sudah absen kemaren, aku tidak mau absen ujian lagi, lagi pula perasaanku akan lebih kacau jika aku tetap di rumah," jelasku.
"Kau yakin?" tanya tante, aku mengangguk tapi tante masih terlihat kawatir.
__ADS_1
"Tenanglah sayang tidak usah kawatir, percayalah pada Jessica," sahut paman,
"Baiklah sayang, tapi setelah selesai ujian, gak boleh ke mana mana, langsung pulang ok," kata tante, aku mengangguk berusaha tersenyum.
Setelah sarapan aku dan taejun berangkat ke sekolah, aku agak tidak enak pada Hyuna, dia terlihat agak marah dan cemburu karna Taejun lebih perhatian padaku,
"Hyuna jangan marah pada Taejun, dia hanya kawatir padaku, karna aku baru kehilangan Bogum, kau tau aku menganggap Taejun sebagai saudara jadi kamu tidak perlu kawatir," jelasku pada Hyuna saat kami berada di kamar mandi,
"Kamu mungkin menganggap Taejun seperti saudara, tapi apa Taejun juga menganggapmu seperti itu," kata Hyuna kesal.
"Tentu saja," kataku meyakinkannya,
"Sudahlah, aku tak ingin bicara denganmu, kau tak akan mengerti," kata Hyuna marah, lalu dia keluar dari kamar mandi, membanting pintunya, aku menghembuskan nafas lelah, kurasa Hyuna akan kembali tidak menyukaiku lagi, aku keluar dari kamar mandi, hampir semua siswa dan siswi yang berpapasan denganku menatapku prihatin, karna kebanyakan dari mereka tau aku pacaran dengan Bogum, dan beberapa dari mereka berusaha menghibur dan mengobrol denganku, tapi aku tak terlalu fokus pada apa yang mereka bicarakan karna pikiran ku sedang kalut, semoga saja tak ada orang yang membenciku lagi di sekolah ini karna aku sudah lelah, dan aku masih kawatir karna Jihun masih belum tertangkap polisi,
Setelah pulang sekolah, aku belajar bersama Taejun, tapi Hyuna tidak datang untuk belajar bareng, apa Hyuna dan Taejun bertengkar?.
Beberapa hari kemudian akhirnya ujian selesai, setelah sekolah usai seperti biasa aku dan Taejun pulang bareng, sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar mengunci diri di kamar karna lagi gak mood ngapa ngapain, saat jam makan malam Taejun memanggilku untuk makan malam bersama, usai makan malam aku kembali masuk ke kamar, jam 22:03 aku keluar dari kamar untuk mengambil air saat tak sengaja mendengar percakapan Taejun, kak Taerang, tante dan juga paman.
"Itu sudah di pastikan, karna semua bukti terarah pada Jihun," kata Taejun.
"Aku tak menyangka Jihun bisa sejauh itu, tega sekali dia sampai membunuh Bogum," kata tante terdengar sedih, apa? jadi orang yang membunuh Bogum adalah Jihun? tega sekali...
"Kita harus lebih berhati hati sebelum Jihun tertangkap," kata paman.
"Papa benar, dia pasti seorang psikopat karna sanggup membunuh orang," sahut kak Taerang, aku keluar dari balik pintu.
__ADS_1
"Apa maksud semua ini? apa benar Jihun yang telah membunuh Bogum?" tanyaku pada mereka.