
"Masalah nya papa melarang ku berkumpul atau bertemu dengan teman pria ku jika tidak di temani oleh mu, sebelum gosip ku itu benar benar menghilang, ayolah.. jessica please," pinta Rio memohon, menatapku dengan wajah memelas, aku memutar bola mataku.
"Baiklah, terserah!." kataku kesal, Rio tersenyum senang.
"Gitu dong.. itu baru calon istriku," kata Rio mengelus rambutku, aku mencibir kesal langsung menyingkirkan tangan Rio dari rambutku.
"Tidak usah menyentuhku," kataku melototinya.
"Ok ok, galak amat sih calon istriku, kayak malaikat pencabut nyawa aja," ejek Rio terkekeh sembari melajukan mobilnya keluar dari gedung, entah akan di bawa ke mana aku sekarang, aku menatap keluar jendela sambil memikirkan Taejun, aku sangat merindukan nya, apa dia sedang mencariku sekarang? aku ingin sekali menghubunginya dan mendengar suaranya, tapi aku takut dia tau keberadaan ku dan menyusulku kesini, jika dia sampai menyusulku kesini bisa bisa nyawanya akan dalam bahaya, tunggulah sebentar lagi Taejun aku akan segera kembali, setelah menjebloskan si brengsek itu ke dalam penjara. aku sudah meletakkan kamera tersembunyi di ruang kerja dan mobilnya, juga meletakkan alat penyadap suara di dalam tas kerjanya berharap semua itu dapat membuatku mendapatkan bukti kejahatan nya, dan misiku selanjutnya adalah membuka brangkas rahasianya yg ada di dalam ruang kerjanya,
Mobil yg tiba tiba berhenti membuyarkan lamunanku, aku melihat kesekeliling,
"Di mana ini?," tanyaku pada Rio.
"Apartemen temanku," jawab Rio tersenyum, aku sudah sangat mengerti apa yg akan di lakukan nya di dalam sana.
"Aku tunggu di mobil saja," kataku betek.
"Tidak boleh kau harus ikut ke dalam, kalau tidak percuma saja aku mengajak mu kesini," keluh Rio cemberut, aku menatapnya kesal, sungguh menyebalkan!.
"Ya ya, baiklah," kataku lalu keluar dari mobil, Rio juga keluar dan tersenyum padaku.
"Ayo," ajak Rio, aku mengikutinya dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Jangan cemberut terus dong.. maaf aku terpaksa melibatkan mu, karna aku tak ingin ayah marah lagi padaku gara gara rumor itu.. bisa bisa ayah akan menebas leherku dan mengirim ku ke alam baka, jika rumor itu kembali menyeruak," jelas Rio beralasan, pintu lift terbuka.
"Baiklah, cepat selesaikan dan bawa aku pulang," sahutku, mengikuti nya keluar dari lift.
"Baiklah," kata Rio mengangguk, lalu Rio berhenti di depan salah satu kamar apartemen lalu mengetuk pintunya, tak lama kemudian seorang pemuda membuka pintunya, dan pemuda yg ini beda dari yang kemarin, bukan main.. menjadi seorang gay saja dia tidak setia, apa kabar nya jika dia pecinta wanita, aku bergidik ngeri memikirkan nya, pemuda itu tersenyum lalu mempersilahkan kami masuk, pemuda itu memberi isyarat pada Rio, sebuah isyarat yang tak ku mengerti.
"Tenang saja dia sudah tau semuanya," kata Rio menanggapi isyarat pemuda itu, pemuda itu mengangguk tersenyum, "Bisa di bilang dia adalah tamengku," lanjut Rio tersenyum padaku, aku memutar bola mata.
"Jessica aku masuk ke kamar dulu dengan nya, kamu duduklah di sofa tunggu di sini sebentar," pinta Rio, aku mengangguk enggan, lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar pemuda itu, apakah aku salah jika membiarkan mereka melakukan hal yang menyimpang seperti itu? tapi mereka melakukan itu atas dasar suka sama suka dan itu jalan yang mereka pilih sendiri, jadi apa hakku melarang mereka, tapi tetap saja.. padahal di dunia ini kaum wanita lebih banyak dari pada kaum pria, jika kaum pria menyukai sesama pria, lalu apa kabar dengan kaum wanita, sungguh ironis.
Sambil menunggu Rio, aku melihat lihat apartemen pemuda itu, apartemen nya bersih padahal penghuni nya pria, setelah bosan berkeliling aku duduk di sofa sambil menonton tv, aku melihat jam. kenapa mereka lama sekali sih.
Tak lama kemudian Rio dan pemuda itu keluar dari kamar, aku melihat leher pemuda itu yang penuh dengan bekas cuppang, aku mendengus tak percaya.
"Jadi walau pria sesama pria harus juga memberi tanda seperti itu," komentarku melirik Rio, Rio hanya terkekeh, pemuda itu tampak malu malu.
"Sejak kapan seleramu menyimpang?," tanyaku penasaran saat Rio melajukan mobilnya keluar dari parkiran apartemen.
"Entahlah.. kurasa memang sudah dari kecil aku tidak pernah tertarik dengan wanita," jawab Rio santai, dia menjawabnya terang terangan. ku rasa dia sangat percaya padaku, apa dia tidak takut aku akan menceritakan nya pada orang lain. aku jadi penasaran.. akan ku kerjai dia.
"Benarkah? meski aku sentuh begini," tanyaku menyentuh paha Rio, Rio melirikku mengangkat satu alisnya,
"Ya," sahut Rio,
__ADS_1
"Kalo begini?," tanyaku mendekatkan wajahku ke wajahnya, Rio menatapku membeku, tiba tiba menghentikan mobilnya, lalu dia buru buru berpaling dariku, terlihat bingung. aku juga bingung melihat reaksinya. kenapa? apa dia sejijik itu pada wanita.
"Kenapa? apa kau sejijik itu padaku?," tanyaku bingung.
"Tidak. bukan seperti itu," sahut Rio terlihat tak yakin.
"Lalu kenapa?," tanyaku ingin tau.
"Sudahlah, aku hanya takut kita celakaan saja, jangan seperti ini lagi," kata Rio terlihat ingin menghidari percakapan.
"Oh, maaf. baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi," kataku meminta maaf, lalu Rio kembali melajukan mobilnya, iya juga sih.. apa yang ku lakukan tadi bisa menyebabkan kecelaka'an, seharusnya aku tidak melakukan itu, becandaanku keterlaluan, apa lagi dia lagi nyetir.
Sesampainya di rumah aku basa basi menawari Rio untuk mampir ke rumah, tapi Rio menolak dan langsung pulang.
Setelah selesai makan malam bersama dan mengobrol sebentar dengan David, aku langsung masuk ke kamar, aku sangat lelah padahal besok hari pernikahannya tapi aku dan Rio malah santai kesana kemari, yeah.. Rio kan anak orang kaya pasti sudah ada yang mengurusi persiapan acara pernikahannya besok, lagi pula itu cuma pernikahan palsu, tapi yang tidak aku suka, setelah menikah nanti aku harus tinggal serumah dengan Rio, walaupun aku yakin Rio tidak akan macam macam padaku karna Rio seorang gay, tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman. aku berguling kesana kemari tak bisa tidur karna merasa gelisah, setelah lewat tengah malam baru aku bisa tidur.
Keesokan harinya, mobil mewah yang di kirim dari keluarga dewanto menjemputku, mobil itu membawaku ke gedung resepsi untuk melakukan persiapan padaku, setelah selesai memakai make up dan baju pengantin nya, Rio datang ke ruangan ku dengan setelan jas, ternyata dia juga sudah siap.
"Kau sangat cantik hari ini," puji Rio tersenyum padaku, aku memutar bola mataku, Rio terkekeh. Rio keluar terlebih dahulu ke aula pernikahan, setelah itu aku keluar dengan di temani si brengsek, rasanya aku mau muntah saat harus menggandeng tangan nya menuju altar.
Setelah kami berdua selesai mengucapkan janji suci di depan pendeta dan para tamu, acara langsung berganti ke acara resepsi, kami berdua duduk di pelaminan, sambil bergantian menyalami para tamu, acaranya sangat mewah, catering nya, pembawa acara dan penyanyinya semuanya komplet.
Setelah acara pelemparan buket bunga, Rio menggiringku kesana kemari untuk memperkenalkan ku pada keluarga besarnya serta partner bisnisnya dan partner bisnis ayahnya, lalu ada acara potong kue segala.. aku sangat capek, acaranya hampir seharian. aku menghembuskan nafas lega setelah acaranya akhirnya selesai.
__ADS_1
Setelah acara pernikahan dan resepsinya selesai, aku dan Rio langsung pergi ke rumah baru Rio yang sudah ayah Rio siapkan untuk kami berdua.
"Aku ingin kamar terpisah," pintaku pada Rio sesampainya di rumah baru kami.