
"Masuklah," kata pria itu, aku buru buru masuk lalu menutup pintu mobilnya, aku menoleh ke arah pintu mobil kaget dan ketakutan, saat Jihun dan 2 orangnya, menggebrak gebrakkan pintu mobil, berteriak menyuruhku untuk keluar, pria pemilik mobil silver itu langsung melajukan mobilnya, meninggalkan 3 orang itu, aku menghembuskan nafas lega, aku melirik ke arah pria itu,
"Terima kasih," kataku parau, pria itu mengangguk,
"Kenapa mereka mengejar mu?" tanya pria itu, aku menggeleng, aku tak ingin bercerita pada orang yang tidak ku kenal.
"Apakah di sini seoul," tanyaku,
"Bukan," jawab pria itu, "Apakah mereka menculikmu? lalu memperkosamu?" tanya pria itu terang terangan tanpa memperdulikan perasaanku, aku menoleh ke arahnya menatapnya kesal.
"Jangan sembarangan ya kalo ngomong," bentakku.
"Kau tak perlu malu, jika memang hal itu terjadi padamu, kau harus melaporkannya ke polisi, jangan diam saja," kata pria itu semakin membuatku kesal,
"Dia tidak memperkosaku, ok!" kataku menekankan.
"Lalu kenapa lehermu banyak bekas ****** begitu," tanya pria itu melirikku, apa? sontak aku memegangi leherku, lalu mengarahkan kaca mobil padaku, aku terkesiap kaget, sebenarnya apa saja yang sudah Jihun lakukan padaku saat aku tak sadarkan diri? dia tidak benar benar memperkosakukan seperti kata pria itu tadi? tidak tidak, itu tidak mungkin, jelas jelas dia baru ingin melepas celana dalam ku.. jika Jihun memang memperkosaku pasti setidaknya aku merasakan sakit di daerah kewanita'an ku, tapi aku merasa baik baik saja, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh, tapi tetap saja aku tak bisa menyangkal kenyata'an bahwa Jihun pasti sudah meraba raba dan menciumi tubuhku se'enaknya, membayangkannya saja rasanya membuatku ingin muntah, dia benar benar brengsek, aku mengutuknya ke neraka yang terdalam.
__ADS_1
"Bisakah kau menolongku saja, tanpa banyak bertanya," pintaku tak mampu menahan air mataku,
"Baiklah," kata pria itu, kulihat pria itu memakai cincin di jari manisnya, pria itu pasti sudah menikah, dia terlihat masih muda, dia pasti pengantin baru, aku meminta pria itu untuk menurunkan aku di stasiun seoul, tapi pria itu memaksa ingin mengantarku sampai rumah, jadi aku memberitahukan padanya alamat rumah tante Yura, diapun mengantarku sampai ke rumah tante Yura, ternyata dia pria yang baik, aku berterima kasih padanya, aku menawarinya untuk masuk ke dalam rumah, setidaknya aku harus melakukan itu karna sudah menolongku, tapi dia menolak karna dia masih ada perlu dan agak terburu buru, pria itu pun pergi.. aku masuk ke dalam rumah, tapi di rumah gak ada orang sama sekali, hanya ada ajummah, ajummah mengatakan padaku bahwa sekarang semua orang sedang mencariku, ajummahpun langsung menelfon tante Yura, memberitahu tante bahwa aku sudah ada di rumah, tante dan semua orang yang ku kenal pasti sudah tau kalo aku di culik, dan aku baru kembali hampir tengah malam begini, tante dan yang lainnya pasti sudah mencariku ke mana mana.. kasian mereka pasti sangat kawatir, aku duduk di ruang tamu menunggu mereka datang, dengan perasa'an gelisah.. bagaimana aku akan menjelaskan apa yang sudah terjadi padaku dengan cara yang benar pada tante?? tak lama kemudian aku mendengar suara kedatangan mereka, aku menelan ludah gugup, tante muncul lebih dulu dari ambang pintu.
"Oh Jessica," seru tante menghambur padaku memelukku, "Kau baik baik sajakan? kau tidak terluka kan?" tanya tante menepuk nepuk kedua lenganku mengecek keadaanku, lalu mata tante terhenti di leherku, matanya melebar karna syok.
"Sayang, apa yang sudah si brengsek itu lakukan padamu?" tanya tante menyentuh leherku, air mataku yang sedari tadi menggenang mengalir tanpa bisa ku tahan, "Apa dia memperkosamu?" tanya tante tak percaya, mungkin memang seperti itu kelihatannya di mata semua orang yang melihat keada'anku setelah di culik.
"Dia memang ingin memperkosaku, tapi sungguh itu tidak sampai terjadi, karna untungnya ada orang yang berbaik hati, mau menolongku dan mengantarkan ku pulang," jawabku menjelaskan tak mampu menahan sedu sedanku, meski begitu aku tak menceritakan semua kebenarannya, aku tak mungkin mengatakan bahwa aku bisa lolos berkat kelebihanku.
"Jessica... " kata Bogum, belum selesai Bogum bicara aku langsung memotong apapun yang hendak di katakannya.
"Tante tolong bawa aku ke kamar, aku ingin sendiri," pintaku menangis tersedu sedu.
"Baiklah sayang.. kau memang harus istirahat dulu, kau pasti sangat syok," kata tante menuntunku ke kamar, tante membaringkanku ke tempat tidur, menyelimutiku, aku memejamkan mataku,
"Tidurlah sayang," kata tante mengecup keningku lalu keluar dari kamarku.
__ADS_1
Aku tidak masuk sekolah beberapa hari, karna keadaan psikologisku di tambah lagi aku harus memberi keterangan tentang insiden penculikanku itu membuat keadaan psikologisku makin memburuk, sekarang Jihun sudah menjadi buron, entah bersembunyi di mana dia sampai sampai polisi belum juga menemukannya, aku jarang bicara pada orang orang, bahkan aku mendiamkan Bogum saat dia menjengukku beberapa kali, aku hanya bicara pada tante Yura, itu pun kalau di tanya, rasanya itu saat saat paling menyedihkan dalam hidupku.
Beberapa minggu kemudian aku mulai masuk sekolah tapi Jihun belum juga tertangkap, kepribadianku agak berubah, aku agak pendiam gak cerewet seperti biasanya, aku berangkat sekolah dengan mobil bareng Taejun, aku membelakangi Taejun menatap ke luar jendela.
"Jessica, cerialah.. jangan menjadi begini hanya karna si brengsek Jihun itu," pinta Taejun, terdengar sedih, yang di katakan Taejun benar.. kenapa aku harus jadi seperti ini hanya karna Jihun si brengsek itu, tapi masalahnya aku terlalu malu untuk kembali ceria seperti dulu, entahlah.. mungkin hanya waktu yang mampu merubah semuanya, aku mengangguk, menoleh pada Taejun berusaha tersenyum, tapi Taejun tau aku tersenyum hanya karna terpaksa.
Sesampainya di sekolah, Bogum menungguku di depan sekolah, saat melihatku datang dia langsung lari menghampiriku, dia tersenyum seperti hendak memelukku, tapi dia mengurungkannya, mungkin dia kawatir akan membuatku merasa tidak nyaman, dia menatapku terlihat sangat merindukanku, aku menatapnya, aku juga sangat merindukannya, selama ini aku sudah bersikap tidak adil padanya, mendiamkannya dan juga menjauhinya, dia tidak salah apa apa tentang insiden penculikanku, lalu mengapa aku melakukan itu padanya.. dia saja sudah sangat bersalah karna tak mampu melindungiku, seharusnya aku tak menambah beban pikirannya, aku tersenyum padanya dan langsung memeluknya, menangis di pelukannya.
"Maafkan aku Bogum, karna sudah membuatmu kawatir," kataku menangis sesenggukan.
"Kau tidak perlu meminta maaf Jessica, aku mengerti," kata Bogum, memelukku semakin erat, Bogum menggandengku masuk ke dalam sekolah, semua anak anak memperlihatkan sikap keprihatinan mereka padaku, mereka semua pasti sudah tau tentang insiden penculikan itu dan juga keadaanku setelahnya, bahkan tak satupun yang berkomentar jahat padaku, syukurlah.
Hari demi hari aku mulai kembali ceria, walau tak seceria awalnya, aku bahkan keluar untuk kencan dengan Bogum di hari minggu.
Pekan berikutnya guru mengungumkan bahwa hari senin kita akan ada ujian nasional.
"Sampai ketemu besok saat ujian.. " kata Bogum melambai, setelah selesai belajar bersama di rumah Taejun, Bogum dan Hyuna pun pulang.
__ADS_1