
"Sayang.. keluarlah kita makan malam bersama," sahut mama dari luar pintu, ternyata mama pulang lebih awal hari ini,
"Baiklah, ma," sahut Taejun mengenakan kembali kaosnya, "Ayo," ajak Taejun menarik lenganku, membawaku keluar ke ruang makan, mama dan kak Taerang sudah menunggu kami di meja, sedangkan ayah belum datang mungkin dia pulang terlambat hari ini, kami berdua langsung duduk, lalu kami semua mulai makan,
"Ngomong-ngomonh Jessa, merah merah di lehermu terlihat menarik," komentar kak Taerang, mama menoleh padaku lalu dia terbatuk saat melihat ke arah leherku, kenapa? apa ada bekas cupangg di leherku? sontak aku menutupi leherku dengan salah satu tanganku benar-benar merasa malu, pipiku merah padam, Taejun tersenyum di sebelahku, Taejun dia benar-benar... kenapa saat keluar dari kamar tadi dia tidak memberitahuku? apa dia tidak melihatnya,
"Wah... aku benar-benar iri pada Taejun, aku jadi ingin menikah muda juga," komentar kak Taerang, "Kak Yura, cepat nikahkan aku juga," pinta kak Taerang bercanda pada mama Yura,
"Memangnya calonnya sudah ada? kalo calonnya sudah ada, tinggal bilang.. mau menikah kapan, akan segera aku nikahkan," kata mama tersenyum pada kak Taerang, lalu mereka sama-sama tertawa, aku menunduk malu sama sekali tak berkomentar, setelah makan malam bersama kami mengobrol sebentar di ruang tamu sambil menunggu ayah pulang, setelah ayah pulang kami semua masuk ke kamar masing masing, aku langsung naik ke atas kasur tidur menyamping memejamkan mata, Taejun menarik pinggangku memelukku erat,
"Berikan aku ciuman sebelum tidur," bisik Taejun di telingaku, membuat sekujur tubuhku merinding,
"Tidak mau, aku mau tidur, capek, lagi pula tadikan kamu sudah menciumku," tolakku sebel,
"Apa kamu marah padaku, gara-gara bekas cuppang itu?" tanya Taejun, aku menutup telingaku tak bergeming,
"Baiklah.. aku minta maaf, tapi sungguh aku juga gak sadar... " kata Taejun meminta maaf,
"Baiklah, aku maafkan tapi jangan menggangguku aku mau tidur," sahutku berusaha tidur,
"Baiklah," kata Taejun terdengar betek, tapi tetap memelukku erat, aku berbalik padanya membenamkan wajahku di dadanya memeluk pinggangnya, Taejun semakin mempererat pelukannya, mengecup dahiku lalu mengusap usap rambut dan juga punggungku, membuatku rilex dan akhirnya aku terlelap tidur,
Ke'esokan harinya Taejun membangunkanku,
"Kenapa membangunkanku sepagi ini.. sekarangkan hari minggu," keluhku,
"Karna aku ingin mengajakmu mandi bareng lagi denganku," kata Taejun tersenyum, kurasa Taejun sedang mengalami masa pubertas terhadap wanita, hormon hormonya pasti sedang pesat pesatnya sekarang,
__ADS_1
"Aku tidak mau," tolakku, heran gak ada bosen bosennya, ingin selalu bermesra'an denganku,
"Ayolah... " rengek Taejun mulai memaksa, aku memutar bola mata, tidak bisa di biarin harus di akalin ini,
"Baiklah," kataku pura-pura menyetujui, lalu aku turun dari kasur perlahan, mengambil baju ganti, lalu aku lari ke dalam kamar mandi dan cepat-cepat menutup dan mengunci pintu kamar mandinya,
"Jessa?" panggil Taejun berusaha membuka pintunya,
"Jessa, buka pintunya," kata Taejun menggedor pintunya,
"Aku tidak mau," kataku menertawainya,
"Jadi kau menipuku.. awas kau ya," ancam Taejun, aku tertawa mengejek, langsung mandi tak memperdulikannya, saat keluar dari kamar mandi, ku lihat Taejun duduk di atas kasur dengan expresi betek,
"Sana mandi, aku sudah selesai," suruhku menyeringai, Taejun memutar bola matanya, lalu beranjak masuk ke kamar mandi, setelah itu kami sarapan bersama di meja makan, Taejun ada janji temu hari ini dengan kerja kelompoknya, sedangkan aku sudah bilang pada Taejun akan membantu mama lagi di kafe, Taejun langsung mengiyakan berhubung hari ini dia ada janji temu di luar, setelah sarapan aku dan mama berangkat ke kafe, tapi sebelum ke kafe, mama membawaku ke dokter, menemaniku untuk konsultasi, sesampainya di rumah sakit, kami langsung menemui dokternya karna kami sudah membuat janji temu sebelumnya, dokter itu menjelaskan banyak hal padaku tentang KB atau sejenisnya, sebelum akhirnya, memintaku memilih akan menggunakan KB jenis apa, pilihannya banyak sekali, ada kb pil, kb suntik, dan alat kontrasepsi lainnya, aku memilih kabe suntik 3 bulanan, jadi setiap 3 bulan aku harus balik kesini lagi, untuk kembali di suntik, setelah selesai di suntik dan dokternya menjelaskan beberapa hal padaku, aku dan tantepun langsung menuju ke kafe, aku membantu tante di kafe seharian, walaupun sedikit capek tapi menurutku ini menyenangkan, setelah hari mulai sore, aku menelfon Taejun,
"Kamu ada di mana sekarang?" tanyaku,
"Ada di rumah, aku udah pulang, mau aku jemput tha?" tanya Taejun langsung peka,
"Iya, jemput aku sekarang ya," pintaku
"Baiklah," kata Taejun lalu menutup telfonnya, lalu tidak lama kemudian Taejun sudah datang untuk menjemputku, aku tersenyum padanya saat dia masuk ke kafe dan menghampiriku sembari membalas senyumku, lalu Taejun melirik Jimin yang duduk di dekatku terlihat tak suka,
"Ayo pulang," kata Taejun mengulurkan tangannya padaku sembari melirik Jimin, seolah olah ingin menegaskan bahwa aku adalah miliknya, aku menerima uluran tangannya, lalu pamitan pada tante Yura, Jimin dan pegawai lainnya, lalu kami berdua pulang,
"Kau terlihat cukup akrab, dengan pegawai cowok yang duduk denganmu di depan konter," komentar Taejun saat dalam perjalanan pulang sambil terus menyetir mobilnya,
__ADS_1
"Yeah, bisa di bilang gitu, sebelum mengenalmu aku lebih dulu mengenalnya... " sahutku,
"Apa dulu kau pernah pacaran dengannya, apa dia mantanmu, dia terlihat menyukaimu," tanya Taejun betek,
"Aku gak pernah pacaran dengannya, tapi dulu dia pernah menyatakan perasa'an sukanya padaku, tapi aku menolaknya, dan.. sebenarnya ciuman pertamaku dengan Jimin," jawabku memberi tahu,
"Apa?" kata Taejun tiba-tiba menghentikan mobilnya, dia menatapku tak percaya, aku menatapnya mengangkat kedua alis,
"Kau tidak pernah pacaran dengannya, tapi ciuman pertamamu dengannya?" kata Taejun suaranya naik satu oktaf,
"Iya.. tapi itu ketidak sengajakan..." jelasku, berbohong,
"Ketidak sengaja'an gimana? aku tidak mengerti, jelaskan padaku," pinta Taejun, aku memutar bola mata,
"Waktu itu kejadiannya di kamar mandi, waktu itu aku sedang cuci muka, lalu setelah cuci muka aku berbalik dan aku kepeleset, Jimin yang waktu itu ada di sebelahku langsung menarik lenganku hendak menolongku tapi kami malah sama-sama jatuh, dan saat itulah bibir kami tak sengaja saling menempel," jelasku, Taejun terdengar kesal mendengarnya,
"Lain kali jangan dekat-dekat dengannya, dia terlihat masih menyukaimu, aku tidak suka," kata Taejun betek kembali menjalankan mobinya,
"Jangan berlebihan gitu.. mungkin itu cuma perasa'anmu saja, Jimin udah punya pacar jadi gak mungkin dia masih menyukaiku.. apa lagi dia juga sudah tau aku sudah punya suami," bantahku,
"Kamu pikir rasa suka bisa hilang begitu saja, aku tau.. karna cara dia melihatmu itu beda," debat Taejun,
"Yaya terserah apalah itu, yang terpentingkan aku cuma menyukaimu," kataku menyudahi perdebatan, Taejun memutar bola matanya,
Sesampainya di rumah, Taejun langsung mengajakku masuk ke kamar karna ada sesuatu yang ingin dia berikan padaku, dia menyuruhku duduk di kasur lalu dia membuka laci mengambil kotak hitam dari dalam laci lalu memberikan kotak itu padaku, aku menerima kotaknya, lalu perlahan membuka kotak itu, ternyata sebuah kalung bandul kalungnya berbentuk hati sangat sangat mungil berwarna merah, desainnya sangat elegan,
"Indah sekali... " kataku menyentuh kalungnya,
__ADS_1