
"Siapkan semuanya aku akan balik ke Indonesia sekarang juga," katanya, lalu dia mengambil tas hitam besar, lalu memberikannya padaku, aku bingung. Dan tasnya yaampun sangat berat,
"Kau harus membawa itu bersamamu, pastikan lolos pemeriksa'an saat di bandara bagaimanapun caranya, jadi aku akan mengandalkanmu, tapi jika kamu sampai tertangkap, ku pastikan mertuamu akan ku bunuh," ancamnya, lalu dia pergi ke kamar mandi, memang apa isi dari tas ini? aku meletakkan tas itu di meja lalu membuka tasnya penasaran, aku terkejut, karna ternyata isi tasnya adalah setumpuk narkoba, apa? jadi dia memintaku untuk menyelundupkan narkoba? dan dia memanfa'akanku untuk ke jahatannya itu? jadi selain penjahat dia juga bandar narkoba? benar-benar gila! oh... kenapa aku harus terjebak dengan pria brengsek seperti dia, tapi bagaimana caraku menyelundupkan narkoba tanpa ketahuan?,
Aku berpikir keras bagaimana caraku menyelundupkan narkoba ini tanpa ketahuan, sampai akhirnya pria brengsek itu selesai bersiap siap,
"Ayo, saatnya kita berangkat ke bandara," kata pria brengsek itu seraya keluar dari kamar hotel, aku mengikutinya kesal, saat dalam perjalanan ke bandara aku memikirkan Taejun tak bisa menahan air mataku, dia pasti sekarang sudah bangun dan membaca suratku, dia pasti terkejut dan kecewa karna aku pergi tiba-tiba seperti ini tanpa berpamitan langsung darinya, maafkan aku Taejun... sesampainya di bandara aku menggendong tas itu dengan gugup, bagaimana kalo aku sampai ke tahuan dan tertangkap? tidak tidak, tidak boleh, nyawa tante Yura bisa terancam, apa aku harus benar-benar melakukan kejahatan ini? bagaimana bisa seorang papa bisa menyuruh anaknya melakukan kejahatan seperti ini? bagaimanapun akukan anaknya, andai saja orang tua bisa di tukar!
"Lakukan apapun yang kau bisa agar tidak sampai ketahuan," kata si brengsek itu bicara di sampingku lalu berjalan mendahuluiku, aku bersikap tenang saat sampai di pemeriksa'an barang, petugas bandara memintaku untuk memasukkan tasku ke alat pemeriksa'an x-rey, aku menuruti perminta'an petugas itu, lalu aku cepat-cepat memanipulasi alat x-rey itu dengan kekuatanku, menggunakan kekuatan listrik yang mengalir di alat itu, membuat alat itu sedikit eror saat tasku lewat di dalamnya, membuat isinya terlihat tak begitu jelas di kompoter pemeriksa'an, petugas yang berjaga memperhatikan isi tas di depan komputer sedikit mengerutkan kening tapi untungnya petugas itu tak curiga, dan membiarkan tasku lolos pemeriksa'an, berhubung di dalam tasku tidak ada benda logam, hanya narkoba dan pakaian untuk menyamarkan semua narkoba itu, aku mengambil kembali tasku lalu berjalan terus, aku mengembuskan nafas lega, setelah itu semuanya lancar hingga aku turun di bandara indonesia.
Di bandara indonesia sudah ada mobil sangat mewah yang sudah menunggu kami,
"Masuklah," kata si brengsek itu, lalu pengawalnya membukakan pintu mobil untukku, sembari mengambil tas berisi narkoba yang ku tenteng, aku masuk ke dalam mobil itu dengan wajah masam, si brengsek itu juga masuk ke dalam mobil,
"Ternyata kau hebat juga, kau bahkan bisa melewati pemeriksa'an ketat di bandara," puji si brengsek itu terkekeh, aku mendengus kesal tak menanggapinya, aku juga kaget karna aku bisa mengendalikan alat x-rey itu, karna sebelumnya aku hanya pernah mencobanya pada tv dan kulkas,
Sesampainya di rumah si brengsek itu aku menganga karna rumahnya sangat besar dan luas seperti istana saja, si brengsek itu mempersilahkan aku masuk lalu memperkenalkanku kepada semua pelayan dan penjaga di rumah itu, menyuruh mereka semua agar melayaniku dengan baik, 1 pelayan membingbingku menuju kamar yang akan ku tempati,
"Silahkan istirahat dulu Nona, jika perlu sesuatu tinggal tekan bel di atas meja itu, nanti salah satu di antara kami akan langsung melayanimu," kata pelayan itu, aku mengangguk kaku, pelayan itu keluar lalu menutup pintunya pelan, aku menghembuskan nafas sedih, belum-belum aku sudah merindukan semua keluargaku di Korea, aku tidur meringkuk di atas kasur sambil menangis sesenggukan sampai ketiduran,
__ADS_1
********
Aku membuka mata perlahan, terbangun karna suara ketokan di pintu kamar, dengan enggan aku bangun lalu membuka pintu kamar, ternyata seorang pelayan lainnya, aku langsung tau dari seragam yang mereka pakai,
"Ada apa?" tanyaku dengan suara serak, aku sedikit berdehem untuk menghilangkan serakku akibat terlalu banyak menangis,
"Tuan memintaku untuk memanggil anda untuk sarapan bersama," jawab pelayan itu,
"Tak bisakah aku makan di kamar saja?" pintaku, kurasa aku tak akan nafsu makan bila harus makan dengannya,
"Jika anda menolak.. nanti aku yang akan di hukum," kata pelayan itu menatapku takut-takut, aku menghembuskan nafas lelah,
"Kak Jessica," kata David membuyarkan lamunanku, aku menoleh padanya, "Senang rasanya ternyata aku punya saudara perempuan yang cantik," kata David tersenyum padaku, yeah kurasa memang tidak terlalu buruk punya kakak dan juga adik, dari dulu aku memang ingin punya adik,
"Terima kasih, aku juga senang punya adik yang manis sepertimu," kataku tersenyum,
"Tapi sepertinya umur kita tidak terlalu beda jauh, berapa umur kakak?" tanya David penasaran,
"18 thn, tapi sebentar lagi 19," kataku sedikit mengoreksi,
__ADS_1
"Berarti kita cuma beda setahun," katanya tersenyum senang,
"Yeah.. kurasa begitu," kataku,
"Kak maukah kamu hadir di acara sekolahku, sebagai perwakilan orang tua, ayah dan kakak sibuk sekali.. jadi mereka tidak bisa menemaniku," pinta David berharap, padahal baru pertama bertemu tapi kayaknya dia sudah sangat menerimaku sebagai kakaknya, dia bahkan memintaku hadir di acara sekolahnya? tanpa merasa tidak nyaman sedikitpun?,
"Maaf.. tapi sepertinya aku tidak bisa," kataku menolak,
jessica
david sincler
harry sincler
__ADS_1