
Dan saat waktunya tiba, paman (Ayah Taejun) masuk ke runganku untuk membawaku menuju altar.
"Kau terlihat sangat cantik sayang, tenanglah jangan gugup, kau gandenglah tangan paman," kata paman tersenyum, aku mengangguk juga tersenyum, pasti kelihatan banget kalo aku sangat gugup.
"Terima kasih paman," kataku.
"Tapi mulai sekarang jangan panggil aku paman dan Yura tante, tapi panggil aku ayah dan Yura mama ok," suruh paman, mataku berkaca kaca terharu, aku mengangguk.
"Baiklah pa... eh ayah," kataku terbata bata karna masih belum biasa dengan sebutan itu, lalu aku menggandeng tangan ayah untuk keluar menuju altar.
Saat pintu di buka semua tamu undangan melihat ke arah kami, aku menelan ludah begitu gugup, ruangan pernikahannya di tata dengan indah di hiasi dengan kristal kristal dan bunga mawar putih, di atas altar sudah menungguku Taejun yang menatapku dengan tatapan begitu mendalam ,meski wajahnya terlihat gugup wajahnya tersenyum lembut, entah apa yang membuat Taejun bahagia, apa dia bahagia karna akan menikah? di sampingnya berdiri seorang bapak bapak yang akan menikahkan kami, aku mengembuskan nafas gugup lalu mulai berjalan bersama ayah menuju altar, semua pasang mata menatap kami, aku berjalan hati hati agar tidak tersandung gaun ku sendiri, karna pasti akan terlihat konyol kalau aku sampai jatuh, dan saat akhirnya aku sampai di altar paman eh maksudku ayah, meraih tanganku lalu menyerahkan tanganku pada Taejun, Taejun menuntunku ke atas altar, kami saling berhadapan, lalu pendeta menuntun kami mengucapkan janji suci, Taejun benar benar terlihat sangat bahagia setelah kami selesai mengucapkan janji suci, dan pendeta mengatakan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri, lalu kami menandatangani surat pernikahan kami.
"Cium, cium, cium," sorak teman teman Taejun, semua ikut bersorak dan bertepuk tangan, cium? yang benar saja, Taejun merengkuh wajahku, aku menatapnya tak percaya, bertanya tanya apa dia benar benar akan menciumku? Taejun tersenyum jail seperti hendak mencium bibirku, dan ternyata dia mengecup keningku bukan bibirku, di saat saat seperti ini masih saja mengejekku.
Lalu acara pelemparan bunga, entah siapa yang mendapatkan buket bunganya, aku mengganti pakaianku dengan yang lebih kasual tapi tetap elegan dan saat aku kembali acaranya sudah beralih ke acara dansa dansi dan makan makan, aku dan Taejun menyapa beberapa tamu undangan, berjalan kesana kemari.
"Sayang waktunya sudah tiba," kata mama bersemangat (mama Taejun).
__ADS_1
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk berangkat bulan madu, ini kejutannya," kata mama Yura memberitahu.
"Apa? sekarang? kemana?" tanyaku terkejut dan bingung.
"Ke pulau jeju, kamu pasti menyukai tempat itu," kata mama yakin.
"Ma itu tidak perlu, kita bisa di rumah saja," kataku resah, Taejun tersenyum di sampingku, apa apaan ini? apa Taejun sudah tau rencana bulan madu ini? kenapa dia tidak menolak dan malah diam saja.
"Ngomong apa sih kamu sayang, ayo ayo cepat aku antar ke depan," mama mengantar kami ke depan gedung resepsi, di depan sudah ada mobil yang menunggu kami.
"Apa?" tanya Taejun tersenyum melihat expresiku.
"Seharusnya kau menolak rencana bulan madu ke jeju," kataku kesal.
"Kenapa aku harus menolak, aku bisa berlibur dan bersenang senang di sana," kata Taejun santai, dia tersenyum mengejek, dia pasti akan selalu membuatku kesal di jeju.. sabar Jessica eh maksudku Kim Jessa/ Nona Kim, namaku sekarang sudah berubah sesuai kartu keluarga baru, surat nikah dan KTP baruku juga, tapi aku bisa ambil sisi positifnya setidaknya aku bisa berlibur dan bersenang senang seperti kata Taejun tadi.. Taejun tersenyum saat melihat wajah pasrahku, mama aku sudah menikah ma.. andai saja mama ada di sini..
__ADS_1
Sesampainya di hotel pulau jeju.
"Apa ini? kenapa tidak pesan 2 kamar? kita akan tidur dalam satu kamar?" protesku tak percaya.
"Tentu saja.. karna kitakan sudah menikah, kau harus mulai membiasakan diri tidur satu kamar denganku, karna nanti saat kita pulang ke rumahpun kita juga akan tidur dalam satu kamar, mama dan semuanya pasti akan sedih dan bertanya tanya jika mereka sampai tau, kita tidur terpisah kamar padahal kita sudah menikah, kamu tidak perlu kawatir.. aku tidak akan melakukan apa apa padamu," ejek Taejun.
"Aku tidak mengawatirkan itu... aku hanya merasa tidak nyaman saja," kataku beralasan.
"Kalo begitu mulai sekarang biasakanlah, lama kelama'an nanti kamu pasti akan merasa nyaman," kata Taejun tersenyum.
"Merasa nyaman?" tanyaku tak percaya.
"Maksudku nanti kau juga akan terbiasa, sudahlah kita tidak perlu mendebatkan ini lagi, aku sangat lelah aku akan mandi lalu tidur, kau juga, karna besok kita akan jalan jalan," jelas Taejun lalu mengambil baju ganti di koper kemudian masuk ke kamar mandi, aku juga membuka koperku untuk mengambil baju ganti, tapi tak satupun ada baju yang ku kenal... semuanya baru, semuanya dress dan gaun dan mantel mantel hangat, lalu baju baju tidur yang sexi, baju tidur ini semuanya terawang, sama sekali tidak ada baju santai atau baju normal, apa apa'an ini? aku tidak ingin memakai baju tidur ini, tapi masak iya aku harus memakai dress atau gaun untuk tidur? yang benar saja! mungkin jika aku hanya sendirian di kamar ini aku akan memakai baju tidurnya tapi ada Taejun disini..., lalu apa masalahnya kalo ada Taejun? lagi pula aku dan Taejun sudah menikah, dan dia bilang dia tidak akan melakukan apapun padaku, aku percaya Taejun tidak akan macam macam padaku, anggap saja dia penjagaku yang tak kasat mata, anggap seolah olah dia tidak ada disini, setidaknya lebih baik pakai baju tidur ini untuk tidur dari pada pakai dress atau gaun, aku akan terlihat konyol dan aneh jika memakai dress atau gaun saat tidur, aku kan bukannya mau ke pesta, aku mengambil baju tidur terawang sexi berwarna hitam itu, terserah! aku akan memakainya yang penting tidak telanjang, Taejun keluar dari kamar mandi lalu berbaring di atas tempat tidur menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya, lalu tersenyum mengejek, aku memutar bola mataku, lalu masuk ke kamar mandi membawa baju tidur itu, saat aku keluar dari kamar mandi memakai baju tidur itu Taejun menganga menatapku, expresinya jadi aneh wajahnya memerah, Taejun berdehem, kenapa dia kelihatan salah tingkah? dasar aneh, aku pergi ke sisi tempat tidur lalu berbaring di atas kasur, menarik selimut menutupi tubuhku, lalu aku berbalik menyamping memunggungi Taejun, baiklah mengapa harus tidak nyaman tidur di sampingnya, anggap saja dia guling atau hewan pelihara'an, lalu aku mematikan lampu tidur yang ada di sampingku.
Ke'esokan paginya saat aku bangun dan membuka mata sesuatu yang ku lihat pertama kali adalah leher dan rahang seseorang membuatku kaget dan orang itu tak lain adalah Taejun, kenapa aku bisa tidur di pelukan Taejun? aku mendorong dada Taejun berusaha melepaskan diri dari pelukan Taejun.
"Oh Jessica eh maksudku Jessa kau sudah bangun?" tanya Taejun terbangun, aku menggeser dudukku sedikit menjauhinya, menatapnya marah.
__ADS_1
"Apa apa'an ini? kenapa aku bisa tidur di pelukanmu?" tanyaku kesal.