
"Jessa akan pulang ke daerah yang sama denganku, jadi kalian tidak perlu kawatir.. aku akan pulang dengannya," kata Taejun tiba tiba datang menyelinap dari krumunan.
"Apa itu benar Jessa? tempat tinggalmu satu daerah dengannya?" tanya Ga In.
"Iya kami tinggal di satu daerah," jawabku.
"Ayo," ajak Taejun, menarikku keluar dari kerumunan, oh yaampun... semoga saja tidak ada yang curiga kalo kami ini sebenarnya suami istri.
"Aku tidak suka menyembunyikan status pernikahan kita.. kita beri tahu saja mereka semua.. karna aku tidak suka jika semua cowok-cowok itu mendekatimu," keluh Taejun sesampainya di rumah.
"Tidak Taejun.. pokoknya apapun yang terjadi jangan pernah beritahu siapa pun tentang status pernikahan kita," tolakku tak setuju.
"Tidak Jessa.. pokoknya aku akan beritahu," kata Taejun keras kepala.
"Taejun please... jangan... " rengekku dengan wajah memelas, Taejun menatapku lalu menghembuskan nafas menyerah.
"Baiklah aku tidak akan bilang, jangan memasang muka sedih seperti itu.. kau tau aku paling tidak tahan melihatmu sedih," kata Taejun cemberut, aku tersenyum bahagia.
"Terima kasih Taejun," kataku memeluknya, Taejun membalas pelukanku dengan erat.
Ke'esokan harinya di kampus saat jam istirahat Taejun berkelahi dengan seorang senior, aku kaget melihat Taejun berkelahi dengan seorang senior, aku buru buru melerai mereka dengan di bantu beberapa orang, dan yang membuatku kesal.. bisa-bisanya cowok-cowok yang ada di tempat kejadian tidak mencoba melerai mereka tapi malah menonton mereka berkelahi,
"Kau tidak apa apa?" tanyaku melihat luka kecil di pinggir bibirnya yang sedikit berdarah.
"Aku baik baik saja," jawab Taejun terlihat kesal.
"Jadi kau lebih memilih membantu Taejun bukannya aku? apa sebenarnya Taejun itu pacarmu?" tanya senior yang berkelahi dengan Taejun itu, tentu saja aku lebih memilih membantu Taejun, memangnya siapa dia? kenapa aku harus membantunya? namanya saja aku tidak ingat.
"Maaf jika kakak merasa tersinggung.. tapi sebelum aku mengenal kakak.. aku lebih dulu mengenal Taejun, kita tinggal di daerah yang sama, jadi bukankah sudah sewajarnya jika aku memilih membantu Taejun," kataku merasa kesal, lalu memapah Taejun dam membawanya ke UKS untuk di obati, lukanya memang tidak terlalu parah.. tapi aku sangat kawatir.
__ADS_1
"Taejun apa yang kau pikirkan? kenapa kau berkelahi dengan senior? bisa bisa nanti kau di persulit di kampus ini," tanyaku memarahinya.
"Karna aku kesal pada mereka, terutama senior itu! kau tau.. mereka membicarakanmu, tak hanya membicarakan wajah cantikmu tapi juga tubuhmu, dan aku tidak suka itu, mereka juga bertaruh untuk memacarimu, " jawab Taejun dengan emosi meluap luap, aku buru buru memeluknya untuk meredam amarahnya.
"Kamu tidak perlu mendengarkan omongan mereka.. tenanglah ok," kataku mengusap usap punggungnya berusaha menenangkannya, semoga saja penjaga UKS tidak masuk ke ruangan ini, akhirnya Taejun sedikit tenang, aku melepas pelukannya, Taejun menunduk merasa mulai bersalah.
"Maaf karna sudah membuat masalah," kata Taejun merasa menyesal.
"Sudahlah, tidak perlu di pikirkan, sini ku obati lukamu," kataku, Taejun berbalik menghadapku, aku mendongakkan wajahnya mulai membersihkan luka di bibirnya, Taejun terus menatapku membuatku gugup, aku memalingkan wajah sedikit mengambil salep, saat aku hendak mengolesi salepnya ke bibir Taejun, tiba tiba saja Taejun mecium bibirku kedua tangnya merengkuh wajahku memperdalam ciumannya, aku membeku kaget, Taejun berhenti, perlahan melepas rengkuhan tangannya di kedua pipiku, kenapa.. kenapa Taejun menciumku? wajahku memanas dan jantungku rasanya mau melompat dari dalam, dia tidak mungkin mencintaikukan? tidak tidak.. itu tidak mungkin, lalu kenapa dia mencium bibirku? aku ingin bertanya ingin mengatakan sesuatu tapi Taejun memotong apapun yang hendak ku tanyakan.
"Ayo cepat kita balik ke kelas, kita sudah hampir terlambat di jam kuliah ke2," kata Taejun buru-buru menarikku keluar dari UKS dan langsung ke kelas, hampir saja kita terlambat dosen masuk ke kelas setelah kita berdua masuk, Taejun duduk sejauh mungkin dariku, aneh padahal biasanya dia selalu duduk di dekatku, lalu kenapa sekarang dia malah duduk menjauh dariku? padahal aku ingin menanyakan sesuatu padanya, aku ingin bertanya kenapa dia menciumku, apa karna dia mencintaiku? tapi bagaimana kalo dia menjawab tidak? akan sangat memalukan bagiku, aku harus memastikannya dulu sebelum menanyakan hal itu.
"Emm Jessa," kata Soo Hyeon membuyarkan lamunanku, aku menoleh padanya yang duduk di sampingku, aku menunggunya melanjutkan omongannya,
"Jadi Jessa apa kau tau apa penyebab Taejun sampai berkelahi dengan senior itu? kau kelihatannya sudah mengenal Taejun cukup lama, Taejun pasti cerita padamu," tanya Soo Hyeon terlihat ingin tau, kenapa dia selalu mau tau urusan Taejun sih.. dia pasti menyukai Taejun, menyebalkan!.
"Aku tidak tau, aku hanya membantu mengobati lukanya," jawabku tak sepenuhnya jujur, dia tersenyum terlihat senang mendengar jawabanku, dasar aneh.
"Apa?" tanyaku ingin memastikan.
"Tidak ada," jawab Soo Hyeon datar, dasar!! dia bersikap manis padaku bila hanya ada perlunya saja, aku mengalihkan mataku ke depan kelas dengan kesal, gara gara Soo Hyeon moodku jadi tambah jellek, ku lihat Ga In terlamat, dosen melototinya tapi karna pelajaran belum di mulai dosen menyuruhnya untuk cepat cepat duduk, dan Ga In langsung duduk di sampingku, Ga in tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya, lalu dosen memulai pelajaran.
Saat akhirnya pelajaran kuliah selesai aku buru buru memasukkan semua buku bukuku ke dalam tas, Taejun menghampiri mejaku, tersenyum padaku, tapi expresinya langsung berubah tidak suka saat melirik Ga In yang duduk di sampingku.
"Jessa, kau pulanglah dulu aku masih ada perlu," kata Taejun memberitahu.
"Apa? memangnya kamu mau ke mana?" tanyaku tak suka, Taejun tersenyum melihat reaksiku.
"Aku harus pergi ke suatu tempat, jadi kamu pulanglah dulu dah... " kata Taejun melambai lalu pergi, terlihat terburu buru, apa sekarang Taejun sedang menghindariku?.
__ADS_1
"Jessa tenanglah.. aku akan pulang denganmu," kata Ga In tersenyum.
"Apa?" tanyaku.
"Yeah.. perhentian bus kita memang beda tapi bus yang kita naiki sama," kata Ga In aku diam menatapnya, menggigit bibir, jadi bus kita sama? tapi kenapa aku tidak tau.
"Kenapa? kau tidak mau pulang denganku," tanya Ga In memasang wajah sedih.
"Bukan seperti itu.. baiklah ayo pulang," kataku, takut menyinggung perasaannya jika menolak.
"Kau pasti sudah lama mengenal Taejun, kalian terlihat cukup dekat," kata Ga In saat kami duduk di dalam bus,
"Yeah, aku sudah lama mengenal Taejun," kataku mengiyakan.
"Kau tidak terlihat seperti orang korea," tebak Ga In.
"Aku orang Indonesia, aku pindah ke Korea sekitar setahunan yang lalu," kataku memberitahu.
"Jadi kamu belum lama tinggal di Korea.. tapi bahasa Korea mu sangat bagus dan lancar," kata Ga In kagum.
"Yeah.. karna aku belajar sangat keras," sahutku tersrnyum tipis.
"Ku dengar Indonesia itu adalah negara yang indah, dan penduduknya ramah juga murah senyum," puji Ga In.
"Hmm jadi seperti itu pandangan orang asing tentang Indonesia," kataku tersenyum senang.
"Yeah begitulah yang ku dengar," kata Ga In, aku tersenyum mengangguk anggukkan kepala.
"Tahukah kau, jika senyummu itu sangat indah," kata Ga In menatapku, aku mengalihkan mataku darinya, merasa malu.
__ADS_1
"Dan suaramu itu mengingatkan aku pada seseorang yang pernah aku temui," kata Ga in memberitahu.