
"Apa apa'an ini? kenapa aku bisa tidur di pelukanmu?" tanyaku kesal.
"Kamu sendiri yang datang ke pelukanku saat tertidur, mungkin kamu kira aku ini guling," jawab Taejun tertawa, dia malah tertawa? dan dia bilang aku sendiri yang datang ke pelukannya? tidak mungkin, lalu kenapa dia yang malah memelukku tadi? aku tidak memeluknya, tapi dia yang memelukku.. sebenarnya apa yang terjadi tadi malam? apa yang Taejun lakukan padaku sementara aku sedang tidur? apa mungkin aku sendiri yang datang ke pelukannya? mustahil.
"Lalu kenapa kau tidak mendorongku menjauh? tapi malah memelukku," tanyaku curiga.
"Bagaimana mungkin aku tega mendorongmu, mungkin jika itu kamu, kamu tega mendorongku karna kamu sama sekali tidak peduli padaku kan?" tanyanya sok sedih, membuatku tidak enak dan merasa bersalah.
"Aku peduli padamu.. sungguh! jangan salah faham, hanya saja aneh rasanya bila kita tidur sambil berpelukan," kataku menjelaskan.
"Apanya yang aneh, itu wajar kitakan sudah menikah," kata Taejun tersenyum.
"Tapi pernikahan kita tidak sama seperti pernikahan pada umumnya, kita tidak saling mencintai," kataku, entah mengapa expresi Taejun terlihat terluka.
"Tapi kita saling menyayangi dan saling peduli," debat Taejun.
"Tapi rasa sayang kita tidak seperti rasa sayang sepasang kekasih," kataku beralasan.
"Lalu apa masalahnya? tidak ada bedanya bagiku, sudahlah.. apa kita perlu mendebatkan masalah ini? aku ingin mandi dan siap siap, kamu juga, ingat.. kita akan jalan jalan hari ini." kata Taejun menyudahi perdebatan, aku menghembuskan nafas menyerah, dia tersenyum lalu masuk ke kamar mandi, tapi lihatlah baju tidurku yang sexi dan terbuka ini, kami tidur sambil berpelukan dengan aku mengenakan baju tidur ini,, oh.. rasanya aku merinding memikirkannya.
Setelah selesai bersiap siap kita keluar untuk jalan jalan dan ternyata sangat menyenangkan, kita memetik jeruk langsung dari pohonnya, lalu kita berjalan di tengah tengah yang sisi kiri dan kanan nya terdapat pohon pohon yang berguguran, lalu kita juga jalan jalan di pinggir pantai, sangat menyegarkan dan indah, Taejun sangat baik dan peduli padaku sebisa mungkin dia selalu ingin membuatku bahagia dan dia sangat perhatian padaku, seharusnya bukan hanya dia yang peduli padaku, tapi aku juga harusnya peduli padanya, saat telah malam dan lelah berjalan jalan, dan makan makan, kami pulang ke hotel, Taejun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti pakaian, setelah Taejun selesai dan keluar dari kamar mandi, aku masuk ke kamar mandi menanggalkan semua pakaianku, aku menyalakan pancuran air lalu mulai mandi, setelah selesai mandi aku hendak mengambil handuk untuk mengeringkan badanku, tapi aku malah ke pleset, aku hendak berpegangan ke gantungan handuk tapi peganganku meleset dan malah menarik handuk ikut jatuh bersamaku.
"aaa... aduh," keluhku, jatuh berdebam ke lantai, merasa sangat kesakitan.
__ADS_1
"Jessa? kau kenapa? apa kau jatuh?" tanya Taejun terdengar kawatir.
"Iya aku jatuh," rengekku, aku berusaha bangun, tapi tidak bisa, pinggangku sakit sekali, aduh aduh.. pinggangku...
"Cepat buka pintunya," suruh Taejun menggedor pintunya.
"Pinggangku sakit sekali aku tidak bisa bangun..." keluhku menangis.
"Kau tenang ok, jangan menangis, aku akan mendobrak pintunya," kata Taejun berusaha menenangkanku, apa? Taejun akan mendobrak pintunya? aku berusaha mengambil handuk yang jatuh di samping kepalaku, lalu menutupi tubuhku yang telanjang dengan handuk itu, tapi aku tidak bisa melilitkan handuknya hingga ke belakang karna pinggangku sakit sekali, tidak bisa ku angkat, sedangkan Taejun terus berusaha mendobrak pintunya, setelah pintunya berhasil di dobrak Taejun langsung menghambur padaku.
"Taejun tunggu, handukku tidak terlilit dengan benar," kataku buru buru, tapi Taejun sudah ke buru menggendongku mengangkat tubuhku yang sebelumnya terkapar di lantai, bagian tubuh belakangku tidak tertutupi dan ke dua tangan Taejun memapah bagian tubuhku yang telanjang.. ya.. setidaknya bagian depan tubuhku tertutupi.. tapi oh yang benar saja! menyebalkan! Taejun berusaha membuka pintu kamar.
"Taejun tunggu! apa yang kau lakukan!" bentakku, langkah Taejun terhenti di ambang pintu.
"Demi tuhan, aku tidak berpakaian! apa kau tidak lihat? apa kau akan membawaku ke rumah sakit dalam keadaan telanjang?" kataku kesal.
"Oh," kata Taejun mulai sadar, ke dua tangan Taejun yang memapah tubuhku sontak memanas, dia menelan ludah, apa Taejun sebegitu paniknya hingga dia tidak sadar bahwa aku tidak berpakaian, hanya sehelai handuk yang menutupi bagian depan tubuhku, lalu dengan hati hati Taejun membaringkan aku di atas kasur, lalu menutupi tubuhku dengan selimut.
"Tapi kau harus di periksa, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," kata Taejun kawatir.
"Baiklah, tapi aku tidak mau ke rumah sakit, panggil saja dokternya ke sini, dan jangan lupa harus dokter cewek," kataku, sambil meringis kesakitan,
"Baiklah," kata Taejun, lalu menelfon staf hotel meminta tolong untuk untuk di panggilkan dokter.
__ADS_1
" Taejun bisakah kau ambilkan pakaian dalam dan baju tidurku di kamar mandi," pintaku.
"Baiklah," kata Taejun, biasanya aku sangat malu bila pakaian dalamku di lihat orang, apa lagi di pegang orang, tapi sekarang aku malah menyuruh Taejun untuk mengambil pakaian dalam dan juga baju tidurku di kamar mandi, apa benar kata orang itu, rasa malu akan berkurang setelah kita menikah?.
"Ini pakaianmu, sini akan ku pakaikan," kata Taejun.
"Apa kau sudah gila? kau kehilangan akal? kau bilang kau akan memakaikan bajuku?" tanyaku tak habis pikir.
"Lihatlah dirimu bergerak saja kau susah, memangnya kau bisa memakai pakaian ini sendiri saat melilitkan handuk saja kau tak bisa, sebentar lagi dokter datang, kau mau di periksa dalam keada'an telanjang?" jelas Taejun, ku rasa yang Taejun katakan ada benarnya.. oh.. brengsek!.
"Baiklah, berikan braku, kau hanya perlu membantuku," kataku, Taejun memberikan braku padaku.
"Berbaliklah, jangan melihat ke arahku sampai ku suruh," kataku, Taejun langsung berbalik, aku menarik ke bawah selimut yang menutupi dadaku menariknya hingga sepinggang, lalu aku menutupi buah dadaku dengan bra itu memakainya.
"Berbaliklah, tolong bantu aku mengaitkan kaitan belakang braku," suruhku, Taejun berbalik, dia melihatku lalu jadi salah tingkah berusaha tidak nanar melihat ke arah bra yang menutupi buah dadaku, Taejun mendekatiku lalu dia memapah punggungku, Taejun terlihat sangat gugup, dia memasukkan ke dua tangannya di bawah ketiakku seperti hendak memelukku, wajahnya begitu dekat membuatku tidak nyaman, sedangkan ke dua tanganku berpegangan ke bahunya, meringis menahan rasa sakit di pinggangku, kedua tangan Taejun meraba raba punggungku berusaha mengaitkan braku dengan benar, setelah dia berhasil mengaitkan kaitannya, dia membaringkan lagi kepalaku ke bantal.
"Kau masih muda, tapi bagai mana bisa payudaramu sebesar itu," komenrar Taejun, aku memukul kepalanya dengan tanganku, Taejun mengaduh.
"Apa kamu bilang? dasar otak mesum," teriakku kesal, wah... bisa bisanya di saat seperti ini dia malah berkomentar tentang payudaraku, benar benar minta di hajar.
"Hey aku hanya bercanda, asal ngomong saja," kata Taejun tertawa.. sudah ku duga dia akan terus mengejekku, walaupun aku sedang kesakitan, dasar!.
"Tolong pakaikan celana dalamku," pintaku, tak ada pilihan,
__ADS_1